Roadshow Bioling di Pesta Film Anak 2019

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara Pesta Film Anak (PFA) di lapangan volly Perumahan Permata Regency, Karangploso, Malang (6/3). Acara ini menyuguhkan 12 film anak karya anak Malang. Pemutaran film ini menggunakan bioskop keliling (bioling) untuk menayangkan filmnya. Acara ini berhasil menyedot antusiasme 300an penonton Andi selaku Humas RW 12 menuturkan bahwa acara ini sangat luar biasa. “Karena sebelumnya belum pernah ada acara seperti ini, kita lihat bahwa ini sangat berguna di lingkungan kitam” kata Andi. Selain itu, pemutaran film ini menjadi ajang hiburan dan edukasi untuk anak-anak agar tidak hanya sinetron yang dipertontonkan di televisi. Harapan Andi, agar anak-anak mendapatkan porsi film yang sesuai dengan usianya. Begitupula dengan Anang Fachrudin Rahman (23) selaku perwakilan Karang Taruna yang turut meramaikan acara ini, ia mengatakan bahwa antusiasme pengunjung untuk datang begitu besar meski cuaca tak menentu. “Suksesnya acara ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang datang. Selain itu, sosialisasi film yang mengedukasi ini dapat sampai ke anak-anak dengan adanya pemutaran film ini,” ujar Anang. Film yang diputar diantaranya yaitu berjudul Slirit, Kim Soo Ri, Darah Biru Arema, Asa Angkasa, Superheru, dan lain sebagainya. Para penonton juga dihibur dengan pembagian doorprize di sela acara pemutaran film. “Seperti yang kita ketahui bahwa minat terhadap film anak di Indonesia sangat rendah. Selain itu, dengan adanya PFA ini semoga dapat memotivasi mereka dan kontennya dapat dijadikan referensi untuk kegiatan positif sehari-hari. Harapan kedepan yaitu agar anak-anak Indonesia tidak hanya berperan sebagai penonton, namun juga menghasilkan karya-karya,” pungkas Novin Farid Styo Wibowo selaku Kepala Laborarorium Ilmu Komunikasi UMM. (afr/can)

Wagub Emil di UMM: Potensi Perempuan Merupakan Aset Nasional yang Besar

“Keterlibatan perempuan dalam segala aspek kehidupan menjadi salah satu syarat dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berkeadilan. Karena potensi perempuan merupakan aset nasional yang besar yang harus terus menerus dikembangkan untuk membangun Negara Indonesia,” demikian disampaikan mantan Bupati Trenggalek yang kini Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. Rabu (6/3). Emil hadir di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengisi kuliah umum menjelang Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret mendatang. Disebutnya, pada tahun 2016 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) laki-laki memiliki angka yang lebih tinggi dibandingkan IPM perempuan. IPM laki sebesar 74,23 dan IPM perempuan sebesar 67,34. “Artinya belum setara,” ungkapnya. Pemerintah Daerah, sambung Emil, dalam hal ini pemerintah Jawa Timur berada pada garis terdepan dalam pembangunan yang berkeadilan. “Karena salah satu urusan pemerintahannya adalah meningkatkan kedudukan dan peran serta perempuan dalam pembangunan serta program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan,” ujar Emil di hadapan ribuan mahasiswa UMM berbagai jurusan. Budaya bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya budaya Jawa Timur, dilanjutkan Emil, masih menganut budaya Patriarki, yaitu berdasar garis keturunan dari Bapak. “Dari sisi inilah, Pemerintah Provinsi Jatim berusaha menyeimbangkan peran perempuan dan laki-laki, namun tanpa menghilangkan budaya yang ada, dan tentunya hal ini tidaklah mudah,” kata Emil yang juga memaparkan program Nawa Bhakti Satya. Kesetaraan gender, katanya, merupakan hak asasi sebagai manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya. Sehingga menurutnya dapat diseimbangkan dari beberapa segi. Yakni dilihat dari pendidikan, politik, kesehatan, ekonomi maupun ketenagakerjaan. Untuk meningkatkan kesadaran perempuan akan isu kesetaraan gender ini dan mengedukasi pekerja perempuan mengenai hak-haknya sebagai pekerja perempuan, program kampanye Labour Rights for Women yang ditujukan bagi pekerja perempuan muda tidak ada henti-hentinya menyuarakan dan mengedukasi perempuan. Lewat event dan pelatihan Labour Rights for Women yang bertema “Gender Equality”. Kesetaraan gender tidak harus dipandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan selanjutnya. “Malu rasanya apabila perempuan berteriak mengenai isu kesetaraan gender apabila kita artikan segala sesuatunya harus mutlak sama dengan laki-laki. Karena pada dasarnya, perempuan tentunya tidak akan siap jika harus menanggung beban berat yang biasa ditanggung oleh laki-laki,” ungkapnya. Dalam kesempatan ini juga turut diadakan Talk Show seputar isu gender dan keperempuanan. Agenda ini menghadirkan Walikota perempuan pertama Kota Batu Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si. yang dipanel dengan pemerhati gender yang juga akademisi program studi Ilmu Pemerintahan UMM. Sementara hadirnya Emil menggantikan Gubernur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. (mir/bel/usa/can)

Di Era Industri 4.0, Perempuan dan Laki-Laki Punya Kesempatan yang Sama

MENURUT Badan Pusat Statistik (BPS), hanya ada 30 persen pekerja perempuan di bidang industri sains, teknologi, teknik, dan matematik. Data ini disampaikan Walikota Batu Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si. di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (6/1). Dewanti didapuk sebagai pembicara talk show peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret mendatang. Disebut Dewanti, di era Industri 4.0, laki-laki dan perempuan sebetulnya memiliki peran dan kesempatan sama besarnya untuk maju. “Tantangannya sekarang, bagaimana mengubah sikap permisif dan praktek budaya yang membatasi kemajuan perempuan melalui pendidikan untuk memperkecil kesenjangan antara kaum perempuan dan laki-laki. Perlu program-program pemberdayaan bagi kaum perempuan,” ungkapnya. Hadirnya Revolusi Industri 4.0, disebutnya harus dapat dikelola dengan baik oleh kaum perempuan, karena memiliki prospek yang menjanjikan bagi posisi perempuan sebagai bagian dari peradaban dunia. “Karena perempuan memiliki peran yang sangat strategis, sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus juga memiliki peran dalam masyarakat,” sambung Dewanti yang sekaligus memamerkan kesuksesannya memimpin Kota Batu. Bagi Dewanti, perempuan harus kreatif dan berpendidikan tinggi. Agar luaran  kebermanfaatannya dapat terasa secara nyata. Dalam dunia pendidikan, lanjutnya, perempuan juga harus memiliki orientasi pendidikan setinggi mungkin. Supaya ketika menjadi seorang ibu, perempuan dapat menjadi tempat pertama untuk memperluas wawasan anaknya. “Jangan kalah dengan laki-laki, perempuan juga bisa!” serunya. Sementara, kembali ditegaskan pemerhati gender dan akademisi program studi Ilmu Pemerintahan UMM Dr. Tri Sulsityaningsih, M.Si. bahwa di era Industri 4.0, peran perempuan di dunia kerja semakin penting. Di sisi lain, Tingkat  Partisipasi  Angkatan Kerja (TPAK) pada awal tahun 2018, berdasarkan data BPS, TPAK laki-laki sebesar 83,01 persen, sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 55,44 persen. Sayangnya, sambung Tri, untuk mencapai kesetaraan peran perempuan dan laki-laki masih menemukan banyak hambatan. Utamanya, kesenjangan akses dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi antara perempuan dan laki-laki masih cukup besar. Mengutip data International Telecommunication Union (ITU), menunjukan prosentase pengguna teknologi informasi dan komunikasi perempuan masih lebih rendah. “Faktor-faktor penghambat perempuan di negara berkembang dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi adalah pendidikan, keaksaraan, bahasa, waktu, biaya, norma sosial dan budaya. Perempuan Indonesia merupakan pengguna Internet yang aktif, namun memiliki literasi digital yang rendah, hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan, latar belakang pendidikan yang rendah, dan lainnya,” katanya. Perempuan sebagai partner dalam pembangunan dewasa ini harus meningkatkan kemampuannya di segala aspek, termasuk dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. “Kemampuan individu untuk bisa mengakses informasi di era digital merupakan hal penting, termasuk bagi perempuan. Berbagai usaha ini sebagai bagian dari peningkatan kapasitas perempuan agar ikut berperan secara aktif,” tandasnya. Di saat bersamaan, wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. rawuh di UMM untuk mengisi kuliah umum. Dalam kesempatan ini, ia memaparkan strategi dan implementasi Nawa Bhakti Satya atau sembilan program unggulan kepemimpinan Khofifah-Emil. Emil hadir mewakili Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. yang berhalangan hadir pada kesempatan ini. (mir/bel/usa/can)