Kolaborasi UMM-Singapore Polytechnic Kembali Adakan Learning Express

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) kembali melakukan kolaborasi mengadakan proyek inovasi sosial, Learning Express (LeX). “LeX adalah bagian dari kerjasama kami untuk mejalin hubungan baik dengan negara tetangga. Setidaknya saat ini terdiri dari 8 negara pada 22 lokasi dan 29 partner. UMM salah satunya,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP. Setidaknya terdapat 56 mahasiswa yang terdiri 28 mahasiswa UMM dan 28 mahasiswa SP. Mereka terbagi kedalam 4 grup. “Masing-masing diisi oleh 7 orang dari UMM dan 7 dari SP, serta didampingi oleh 2 orang fasilitator ahli dan 1 koordinator dari SP. Juga 6 fasilitator ditambah 2 koordinator dari UMM,” ujar Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM, Selasa (12/3). LeX berlangsung selama 12 hari. Selama tiga hari pertama menetap di rumah penduduk yang memiliki usaha. “Tujuannya melihat situasi, proses, dan suasana tempat mereka ditempatkan. Utamanya membantu mengatasi ketidakefektifan kerja UKM di desa. Setelah tiga hari mahasiswa akan kembali ke universitas untuk pembuatan prototype di Lab Mesin dan Lab Industri,” papar Ambika. Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. Melainkan menggunakan acuan baku untuk menyelesaikan permasalahan di mana mereka ditempatkan. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika. Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (klien, red.) apakah ada masalah. Mau itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prosesing. Dari situ nanti bakal ada output-nya di closing ceremony,” ujar Ambika. Ada 3 Usaha Kecil dan Menengah yang menjadi tempat berkegiatan untuk program LeX. Yakni UKM Telur asin Basori yang terdapat di Kecamatan Batu, produksi Madu di Kecamatan Junrejo milik Roni, serta UKM sentra Kopi Los Karangploso milik Pandu. Hasil inovasinya bisa dikembangkan ke dalam beberapa hal, seperti dibuatkan mesin atau model pemasaran produk dengan packaging yang baru. Pada tanggal 20 Maret mendatang, tepatnya di closing ceremony para peserta akan memamerkan produk prototype-nya untuk diperlihatkan kepada para pelaku usaha kepala desa di Auditorium BAU UMM. “Semoga melalui model design thinking yang setiap tindakan yang dilakukan berpusat pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh user, segala permasalahan dapat ditemukan solusinya,” pungkas Ambika. (riz/can)

UMM Raih Most Popular Design di Ajang NTU Bridge Design Competition 2019

Tim jembatan ST Langgeng Jaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Most Popular Design pada ajang Nanyang Technological University (NTU) Bridge Design Competition 2019 di Singapura, (9-10/3) lalu. Tak hanya itu, tim yang digawangi Vicky Adjie Saputra dan Novan Surya Adityawan ini juga masuk peringkat 10 besar gelaran kompetisi jembatan bergengsi tingkat Asia Tenggara ini. Ajang internasional ini merupakan kali pertama yang diikuti oleh tim jembatan UMM. “Selama ini kita sudah mengikuti dan menjuarai berbagai ajang rancang jembatan di tingkat nasional. Sekarang saatnya kita belajar keluar untuk menancapkan bendera UMM di ajang internasional,” ujar Ir. Erwin Rommel, MT. selaku pembimbing Tim ST Langgeng Jaya yang merupakan dosen Teknik Sipil UMM ini. Jembatan diuji melalui kriteria efesiensi dan kekuatan. Penilaian ini mengacu pada tema kompetisi yakni Strength, Economic, Sustainability. ”Jadi pihak panitia memberitahukan apa yang harus dibuat, beberapa jam sebelum pertandingan. Yang dinilai dari sisi penggunaan bahan seefisien mungkin, serta mampu menahan beban uji seberat mungkin, sampai pada titik hancurnya,” paparnya. Setidaknya terdapat 38 tim yang ikut berlomba dalam ajang yang diikuti oleh berbagai Universitas di Asia Tenggara. Tak ketinggalan kampus-kampus bergengsi dalam negeri pun turut meramaikan. Seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan berbagai kampus yang kerap menjuarai ajang kompetisi jembatan tingkat nasional lainnya, termasuk Surya Team UMM. “Sebelum ajang ini dimulai ada beberapa persiapan dan kesiapan yang telah kita lakukan beberapa minggu sebelumnya. Di antaranya dengan menguji coba beberapa jenis desain jembatan, lalu kita evaluasi dan perbaiki sehingga kita mampu menemukan desain yang pas ,” lanjutnya. Terakhir, nilai kejujuran dan sportivitas dalam bertanding senantiasa ditanamkan kepada para anggota Surya Team UMM. (riz/can)