#AussieBanget Corner UMM-Konjen Australia, Bandingkan Festival Film Indonesia dan Australia

#AussieBanget Corner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama tim Konsulat Jenderal (Konjen) Australia menggelar Australian Film Night, Rabu (20/3). Gelaran ini sekaligus roadshow Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 yang akan diselenggerakan tanggal 29-31 Maret di CGV Marvell City, Surabaya. Lailatul Rifah, M.Pd. selaku kordinator #AussieBanget Corner UMM berharap dengan kegiatan ini menjadi awal kerjasama dengan Australia untuk mengembangakan perfilman. “Sehingga teman-teman dapat meningkatkan kesadaran untuk lebih mengapresiasi film produksi Australia maupun produksi negara kita sendiri,” katanya. Hadir Mahesa Sadega, sutradara film Nunggu Teka yang juga pengajar audiovisual dan multimedia ini sebagai pembicara. Festival di Indonesia, katanya, dengan di Australia sangat berbeda. Dijelaskan, Indonesia masih kurang kesadaran untuk menonton film festival. Dilihat dari film festival yang hanya menjadi konsumsi komunitas film saja. Di Australia, sambung Mahesa, masyarakat sudah siap untuk mengakses film pada bulan festival. Publik di sana sudah akrab dengan film festival yang notabane bukan film populer yang biasa tayang di bioskop. “Publik sudah siap untuk hadir menonton film yang mempunyai bentuk dan konten berbeda dari film bioskop,” terangnya. “Kalau kita lihat di Indonesia, yang datang ke festival hanya anak muda saja. Ketika saya di Australia apalagi sedang menonton film festival produksi Australia, kakek-nenek bisa kita jumpai mengantri tiket festival. Mereka sangat mengapresiasi film produksi negaranya sendiri,” cerita Sineas yang filmnya banyak ikut festival luar negeri ini. Mahesa berharap, kedepannya di Indonesia semakin banyak lagi layar pemutaran alternatif (ruang pemutaran selain bioskop, red.) untuk mengapresiasi film produksi Indonesia. “Setelah itu, kita perlu mendorong publik untuk menjadi bagian dari festival kita. Jadi sudah tidak lagi komunitas saja yang mengapresiasi,” tambahnya. (bel/can)

Marching Band UMM Juara Kompetisi Nasional

Marching Band Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau dalam perhelatan kompetisi Delta Marching Open Festival Indonesia (DEMOFI) 16-17 Maret lalu. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang baru berdiri dua tahun ini, memborong banyak juara di berbagai mata lomba yang digelar di Gor Deltras Sidoarjo. Beberapa gelar yang diperoleh di antaranya Juara 2 Brass Ensemble, Juara 2 Colour Guard Contest, Juara 2 Individual Movement Analisys, Juara 2 General Effect, Juara 2 Ensemble Analisys, serta Juara 2 Analisys Equipment. Tim Marching Band UMM menggeser dominasi pemenang ajang tahunan tingkat Nasional ini. “Latihan kami cukup singkat, yakni dua bulan. Sejak Januari,” ungkap Trisna Harry salah satu pemain Brass. Dalam kurun waktu itu, UKM Marching Band ini disiplin di setiap sesi latihan. Trisna lantas membagi cerita perjalanan Marching Band UMM sebelum menyabet juara di lomba yang diikuti peserta seluruh Indonesia. Tantangan terbesar Trisna dan kawan-kawan ialah kepemilikan alat. Selama ini alat yang digunakan untuk latihan hingga perlombaan merupakan barang sewaan. “Kami masih sangat baru. Ketika kami mengajukan pengadaan alat, kami diminta untuk berprestasi terlebih dahulu oleh kampus,” tutur mahasiswa Manajemen ini. Bagi Trisna sendiri, tantangan ini tentunya dirasa sangat sulit bagi mantan Ketua Umum pertama UKM ini. Karena Marching Band harus terus berlatih, terlebih sebelum lomba. Namun ketersediaan alat terbatas. Namun, tantangan kampus kepada Trisna dan kawan-kawannya mampu dijawab dengan prestasi gemilang. Pada saat lomba, Juri terpukau dengan harmoni Brass dan gerakan Colour Guard atau penjaga bendera yang dimainkan oleh UKM Marching Band UMM. “Saat di lokasi, kami digadang-gadang akan menjadi salah satu Marching Band besar mendatang, tentu hal ini terus memotivasi kami,” ungkap mahasiswa angkatan 2014 ini. Trisna melanjutkan, tidak ada hal yang tidak bisa diraih. Meski alasannya berupa terbatasan peralatan sekalipun. Ia juga berharap agar UKM Marching Band dapat terus berprestasi dan tentunya mengaharumkan nama UMM di setiap kompetisi. “Semua bisa, asalkan ada niatan besar dan mau bergerak,” tandasnya. (mir/can)

LeX UMM Gelar Pameran Inovatif: Dari Alat Petik Kopi sampai Mesin Cuci Telur

Setelah hampir dua minggu mentabulasi banyak masalah dari sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Malang dan Batu, kelompok gabungan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan siswa Singapore Polytechnic memamerkan sejumlah prototype inovatifnya. Berbagai prototype ini dipamerkan dalam penutupan program Learning Express (LeX) di Auditorium UMM, Rabu (20/3). Untuk dapat membuat prototype yang efisien, mereka harus melakukan survey primer ke lokasi dan ikut serta berbaur dengan masyarakat. Bahkan mereka menghabiskan waktu 3 hari 2 malam untuk memperdalam riset yang mereka lakukan. Beberapa prototype yang dipamerkan pada acara ini di antaranya mesin pencuci telur asin, alat pemetik biji kopi serta prototype inovatif lainnya. Misalnya mesin pencuci telur yang dinilai efisien dari segi waktu. “Dengan menggunakan alat ini, estimasi waktu yang bisa dihemat mencapai 3 kali lipat. Biasanya proses pencucian satu telur asin memakan waktu 1 menit lebih. Namun  dengan menggunakan alat ini dapat mencuci 16 telur asin dalam waktu sekitar 5 menit saja,” ungkap Fitria A. Linna mahasiswa Prodi Hubungan Internasional. Ada pula alat yang dapat mempermudah petani memanen biji kopi. Menurut Ai Wei salah satu siswa Singapore Polytechnic, dengan menggunakan alat buatannya ini diharapkan menjadi solusi dari keluhan yang dialami oleh para petani kopi. Dengan alat ini, setidaknya dapat meringankan beban para petani kopi. Selain itu dengan alat ini pula dapat membantu menyingkat waktu untuk memanen biji kopi. Menurut Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, kerjasama ini akan sangat penting untuk ikatan kedua negara serumpun ini. “Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita dapat membangun menuju visi ASEAN. Saya yakin, program yang sudah berjalan selama hampir dua minggu ini akan menjadi pengalaman belajar yang luar biasa, baik untuk mahasiswa UMM maupun untuk siswa SP,” tuturnya. Sementara menurut Master Fasilitator Singapore Politechnic  Vadav Virendra Signh, meskipun di awal program ini siswa SP banyak yang mengalami gegar budaya, namun hal tersebut dapat teratasi dengan cepat berkat bantuan juga keramahan mahasiswa UMM dan warga setempat. “Sehingga semakin berjalannya waktu mereka menjadi jauh lebih nyaman saat mengikuti program ini,” ungkapnya. ”Saya sempat khawatir kalau siswa SP tidak dapat bersosialisasi dengan baik. Akan tetapi ketakutan itu tidak pernah terjadi. Itu benar-benar merefleksikan kerjasama ASEAN. Saya memegang keyakinan dan harapan besar pada genersasi masa depan, kerjasama UMM dan Singapore Polytechnic yang telah terjalin lama ini membuat wilayah ASEAN menjadi lebih baik dari hari ini,” pungkasnya. Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM. Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (klien, red.) apakah ada masalah. Baik itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prossesing. Semuanya dipamerkan di kegiatan penutupan ini,” ujar Ambika. (zak/can)