Puluhan Tim Bersaing Perebutkan Gelar di FISIOKER UMM

SEBANYAK 32 Tim dari sejumlah perguruan tinggi seluruh Indonesia saling memperebutkan gelar juara di olimpiade nasional Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); FISIOKER. Digelar di Auditorium BAU, Jumat (22/3) Menurut ketua pelaksana Muhammad Shohibul Ridho, Olimpiade Nasional Fisioker kali ini mendapat antusias yang cukup banyak. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah peserta yang turut meramaikan olimpiade pada tahun ini. “Alhamdulillah, jumlah peserta pada Olimpiade Nasional FISIOKER tahun ini meningkat, dari jumlah perguruan tinggi yang ikut tahun lalu yakni 11 perguruan tinggi. Sekarang menjadi 15 perguruan tinggi,” ungkapnya. Olimpiade nasional Fisioterapi tahunan kali ini mengusung tema “PESONA FISIOTERAPI”, PESONA sendiri merupakan singkatan dari 3 kategori lomba yang diperlombakan, yakni Pediatri, Sport, dan Neuromuscular. Dewan juri yang hadir dalam kompetisi ini diantaranya Amin Rochmat Hidayat, Sst.Ft. Dan Khabib abdullah, Sst.Ft, M.Kes dari Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI) untuk kategori lomba Pediatri. Untuk Sport dijuri oleh Syahmirza Indra Lesmana, SKM., Sst.Ft., M.Or. Dan Muhammad Said Abdullah, AMF dari Perhimpunan Fisioterapi Olahraga Indonesia (PFOI). Untuk kategori Neuromuscular ada Safun Rahmanto, Sst.Ft., M.Fis dan Ali Multazam, S.Ft, Physio, M.Sc dari Dosen Fisioterapi UMM. “Saya rasa kalau untuk persaingan olimpiade kali ini cukup ketat, karena melihat perolehan nilai dari masing-masing tim perbedaannya sangat tipis,” ungkap Amos Bagus mahasiswa Politeknik Kesehatan Surakarta yang meraih juara umum. Selain Olimpiade, acara ini juga menggelar Seminar dan Workshop Nasional yang menghadirkan beberapa pembicara ahli. Seperti Syahmirza Indra Lesmana, SKM., Sst.Ft., M.Or. (Perhimpunan Fisioterapis Anak Indonesia), Dr. Krisna Yuarno Phatama (Dokter Spesialis Orthopedi dan Anggota ASEAN Society for Sport Med & Arthoscopy), serta Wahyuddin, Sst.Ft.,M.Sc., Ph.D (Fisioterapis S3 Pertama di Indonesia). (*)

UMM dan 7 Universitas Dunia Godok Kompetensi Modern Dosen

Sebagai bentuk penguatan rekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melebarkan sayapnya di dunia internasional dengan turut serta menggodok kompetensi modern dosen dengan sejumlah perguruan tinggi dunia. Dari delapan universitas yang terlibat, UMM menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bahkan Asia dalam Modern Competences of Academic Teachers (MOCAT) Project. “MOCAT Project merupakan kerja sama internasional dari universitas di sejumlah negara untuk bersama-sama mengembangkan solusi berkelanjutan yang meningkatkan kualitas pendidikan di universitas. Proyek ini dijalankan melalui pengembangan metode modern, alat dan bahan untuk staf akademik di bidang metodologi pengajaran,” terang Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. ditemui di ruangannya, Jumat (22/3). Tujuh universitas yang terlibat dalam gawe program kemitraan akademik internasional ini yakni WBS University dari Polandia, Kütahya Dumlupınar Üniversity dari Turki, Kenyatta University dari Kenya, SpluHaret university dari Romania, University of Georgia dari Georgia, University of Akureyri dari Islandia, dan University of Salerno dari Italia. Sementara project manager dari proyek ini yakni Lucyna Sobkowiak dari WBS University. Dilanjutkan Syamsul, tujuan proyek ini tak lain melakukan pengembangan pengetahuan dan berbagi pengalaman di antara 8 universitas mitra, serta pengembangan dan implementasi model kompetensi dosen. Termasuk materi pelatihan untuk 10 modul online dan campuran, yang penggunaannya akan mendorong kompetensi metodologi, pengajaran, dan multikultural dari staf pengajar universitas. Keberangkatan Syamsul ke Universitas of Salerno (UNISA) di Italia beberapa waktu lalu, tak lain untuk merumuskan bersama solusi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di universitas. “Secara berkala, tim perumusan dari UMM akan bertandang ke universitas mitra yang dipergilirkan sebagai tuan rumah perumusan berbagai perangkat yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek ini,” katanya. Keberangkatan tim UMM di antaranya menyiapkan model kompetensi multikultural guru akademik; pengembangan lingkup pengajaran yang terperinci dan kompetensi multikultural dari seorang guru akademis, serta hasil pengajaran, cakupan materi pelajaran dan kerangka kerja metodologi – modul online dan campuran; mempersiapan konten pelatihan; dan diakhiri dengan konferensi dan workshop internasional. (usa/mir/can)