Pendidikan Kebencanaan: Bukan Cuma Harus, Tapi Mendesak!

PENDIDIKAN kebencanaan di Indonesia masih sangat minim digalakkan. Buktinya, nilai kerugian relatif tinggi di setiap kali terjadi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat, selama kurun waktu 2018, telah terjadi 3.466 peristiwa bencana di Indonesia dengan 4.814 orang meninggal dunia. Melihat hal tersebut, Zakarija Achmat, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merupakan pengurus pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan hanya harus, tapi mendesak. “Pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan lagi bagaimana bersikap pada saat bencana saja. Tapi sudah mengarah pada bagaimana pengurangan risiko bencana,” tutur Zakarija. Seharusnya, lanjutnya, masyarakat perlu terus belajar, terutama mempelajari potensi bencana dan antisipasi di lingkungan sekitar tempat tinggal. Yang paling dasar, lanjutya, kebiasaan memarkir kendaraan. “Masih banyak kita jumpai kesalahan dalam memarkir kendaraan. Arah mermarkir kendaraan harusnya menghadap keluar. Tujuannya, agar ketika terjadi bencana tidak perlu lagi memundurkan kendaraan,” terangnya saat ditemui di ruangannya, Selasa (26/3). Berkaca dari negara Jepang, yang juga sering terjadi bencana, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bencana masih jauh berbeda. “Masyarakat Jepang sudah siap menghadapi bencana. Edukasi tentang konstruksi bangunan hingga penanganan bencana sering dilakukan, baik di sekolah maupun media,” ungkapnya. “Sudah saatnya pusat-pusat studi menggaungkan dan menyiapkan kurikulum pendidikan kebencanaan juga mengadakan workshop berdasarkan kajian-kajian yang sudah dilakukan. Harapannya usaha ini dapat mengurangi resiko dan kerugian yang dapat ditimbulkan dari dampak bencana di Indonesia,” tuturnya. (bel/can)

Empat Warga Jerman Belajar Energi Alternatif ke PLTMH UMM

Empat warga Jerman, Senin (25/3) lalu belajar pemanfaatan energi alternatif ke Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Empat mahasiswa ini tengah mengikuti program internship dari Hochschule Rhein Main, Jerman di PPPPTK BOE-VEDC, Malang. Mereka ingin tahu sumber pembangkit alternatif yang ada di UMM untuk mendukung Proyek Elektrolisis dari Gas Hidro yang menjadi tugas akhir. Mereka hendak melihat konsep Mikro Hidro lalu ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mempelajari konsep turbin yang menjalankan sumber air menjadi listrik. Adalah Maximillian Grimm, Dena Makaremi, Manuel Miezal, Sauhel Chabra dengan dua orang pembimbing dari dari VEDC yaitu Dr. Agung Suprihatin, S.Pd.,M.si dan Dra. Mundiatun, M.si. ”Tugas proyeknya berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup,” terang Dr. Agung Suprihatin, S.pd.,M.Si ditemui usai kunjungan. “Setidaknya UMM memiliki 2 pembangkit listrik, jadi kita bawa ke PLTMH 1 yang menjadi satu dengan bendungan. Sedangkan PLTMH 2 tidak menjadi satu dengan bendungan, di sana kita menjelaskan bahwa dari sungai kecil yang keruh bisa menghasilkan listrik,” terang operator PLTMH Nanda Ardiansyah. PLTMH-1 UMM memiliki tiga saringan. Saringan pertama bertujuan menyaring kotoran serta sampah-sampah, pada saringan kedua sampah yang masih lolos dari saringan pertama disaring kembali dan airnya bisa di taruh di bendungan dengan ruas satu ruas jari atau sekitar 2 cm. Serta, saringan ketiga, air diproses untuk sumber listrik. Saat ini, daya listrik terbangkit adalah 100 KW pada musim penghujan dan akan menurun sekitar 80 KW pada 2 bulan kemarau. Dengan daya listrik terbangkit sebesar itu sudah bisa menghemat 25-30 % dari kebutuhan kampus serta mampu memenuhi kebutuhan energi listrik untuk sebagian gedung perkuliahan kantor. “Mereka sedang mencari konsep yang bisa digunakan untuk tugas akhir mereka yang berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Elekrolisis Air Mikro Hidro. Sebagai energi alternatif dengan penghematan seperti itu sudah sangat bagus. Mereka sangat antusias belajar di sini,“ pungkas Nanda. (riz/can)