Ke Amerika, Ken Dedes UMM Ini Siap Harumkan Nama Indonesia

Ken Dedes Maria Kunthy adalah salah satu dari tiga mahasiswa anggota Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pada tanggal 10 April mendatang akan berlaga di Amerika Serikat. Hebatnya, mahasiswa yang akrab disapa Ken Dedes ini menjadi perempuan pertama yang turut berlaga dalam ajang robot internasional dari UMM. Tiap kali berlatih menguji robot kategori beroda rancangannya; MuForIna, Ken Dedes hampir selalu menghabiskan waktu seharian penuh. “Sebelum bahkan mendekati kompetisi begini, latihan yang kami lakukan semakin masif,” ungkap mahasiswa teknik elektro angkatan 2015 yang merupakan putri pasangan Totok Hadi Purwanto dan Maria Wigati tersebut. Saat ditanya prosesnya hingga berkesempatan berlaga di Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) ini, Ken Dedes menceritakan perjalanannya tak mudah. “Sebelum bergabung dengan Tim Robotika, saya diminta untuk mendampingi sekaligus mengajar anak-anak Sekolah Dasar Muhammadiyah untuk belajar robot,” tutur saat diwawancarai, Senin (8/4). Setelah melewati masa panjang itu, dengan tekad kuat dan kesungguhan akhirnya Ken Dedes memutuskan bergabung dengan tim yang notabene beranggotakan para laki-laki ini, dan berkesempatan untuk mendesain robotnya sendiri. Dalam merancang robot MuForIna, Ken Dedes mengaku didukung penuh oleh pembimbing dan kawan-kawan seperjuangannya di LSO Robotik. Di Amerika nanti, Ken Dedes akan melawan 32 tim dari berbagai negara. Tim-tim itu terdiri dari berbagai negara diantaranya dari Israel, Kanada, Tiongkok, Uni Emirate Arab, Portugal dan tentu saja tuan rumah Amerika Serikat. Dengan robot rancangannya, ia optimis dapat mengukir prestasi layaknya pendahulunya. “Harus optimis menang seperti pesan Pak Rektor saat pelepasan,” tuturnya. Saat gelaran pemeran akademik Festival Kabangsaan II 6 April lalu, Ken Dedes berkesempatan berbincang singkat dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK). Ia mendapatkan dukungan penuh. JK menaruh harapan besar pada tim robot UMM yang akan berlaga di Amerika. “Seneng banget dapat dukungan moril dari Pak Wapres, makin semangat,” ungkapnya. Menjadi perempuan pertama yang ikut kontes internasional, Ken Dedes berhasil membuktikan bahwa perempuan juga dapat berprestasi layaknya laki-laki. Ia berharap, ke depan para perempuan dapat memiliki kemauan dan tekad kuat untuk mengukir prestasi. “Mumpung masih kuliah. Ayo! Tentu nanti yang bangga bukan hanya orang tua, tetapi kampus dan Indonesia,” tandasnya. (mir/zak/can)
Tim Robotika UMM Kembali Berlaga di Amerika

Tim Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan kembali bertanding di tingkat internasional pada 13-15 April 2019 di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat. UMM mewakili Indonesia karena berhasil keluar sebagai juara nasional berdasarkan surat penugasan dari Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Republik Indonesia nomor T/274/B3.1/KM/02.04/2019. Tak tanggung-tanggung, UMM memberangkatkan tiga tim jagoannya di kompetisi yang juga pernah dimenanginya pada tahun 2017. Yakni Zhafarul (robot kaki 4), Dome_Ina (robot kaki 6), dan MuForIna (robot beroda). Masing-masing robot membutuhkan waktu pembuatan 4 bulan, dimulai dari proses perakitan hingga siap berkompetisi di ajang kontes robot bergengsi tingkat dunia ini. Kompetisi robotik internasional bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) ini mempertandingkan dua jenis kategori, yakni robot berkaki dan robot beroda. Dengan membawa status juara bertahan, tim robotik UMM optimis mendapat hasil terbaik di kompetisi robot pemadam api tingkat dunia. Yakni dengan mengusung beberapa teknologi andalan dan inovasi terbaru. Di tahun 2017, dua tim dari UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang sebagai juara 2. Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik. Atas pengalaman inilah, mereka optimis akan kembali menang, tentunya melalui penyesuaian beberapa teknologi dan mengusung inovasi baru. Kontes diikuti 32 tim dari berbagai negara, seperti Israel, Tiongkok, dan lainnya. Adalah Alfan Achmadillah Fauzi, Rohmansyah, Ken Dedes Maria Khunty yang kesemuanya merupakan mahasiswa Prodi Teknik Elektro. Selain itu mereka juga dibantu anggota WS Robotika yang berperan mengerjakan mekanik, penyediaan hardware, algoritma, hingga menguji performa robot. Semua robot memiliki misi memadamkan api dengan cepat di titik pada satu ruangan atau kamar yang menyerupai rumah. Posisi titik api diletakan secara acak oleh dewan juri sehingga robot dituntut harus cerdas untuk mencari api tersebut. Setelah memadamkan api, robot dituntut untuk kembali ke titik start. Robot dengan catatan tercepat bakal keluar sebagai pemenang. “Robot yang telah berhasil memadamkan api berhak bertanding pada level berikutnya. Pada level ini, selain memadamkan api, robot juga dituntut untuk menyelamatkan boneka dan memindahkannya ke zona aman,” terang Alfan, mahasiswa prodi teknik elektro angkatan 2015, selaku ketua tim. Alfan yakin kawan setimnya akan mengulang kesuksesan para seniornya terdahulu. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutan pelepasannya menyatakan bakal membebaskan skripsi jika berhasil memenangi kontes ini. Fauzan lantas berpesan kepada para delegasi dan mahasiswanya yang hadir ketika itu untuk berhenti menjadi penonton. Sebaliknya, jadilah pemain. “Saya tidak menarget harus juara satu, tetapi yang terbaik sajalah yang saya minta,” ungkapnya. Dua tim lainnya yang dimotori Bayu Irawan Nugroho mahasiswa teknik elektro dan Dwi Nur Fajar mahasiswa teknik informatika juga akan unjuk gigi di Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional IV pada 21-23 April 2019 di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rombongan ini mempertandingkan dua jenis robot, yakni satu robot pemadam api (DOME), dan tiga robot sepak bola (Zhafarul). Robot sepakbola pada kompetisi ini harus memiliki spesifikasi yang wajib dipenuhi. Yakni mendeteksi objek, menggiring bola, menendang, hingga lokalisasi. Pendeteksian objek tersebut agar robot dapat membedakan bola, lawan, garis, dan gawang. Robot akan dinyatakan memenangkan pertandingan ketika robot lebih banyak memasukan bola ke gawang lawan. (zak/riz/can)
Replika Dinosaurus Terbesar dari Tempe Masuk MURI

KELOMPOK mahasiswa praktikum event management “Prospero” Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukir Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu, (6/4) siang ini. Rekor yang diukir adalah pembuatan replika dinosaurus terbesar yang terbuat dari tempe. Replika dinosaurus berukuran 7×5 meter ini ‘disembelih’ oleh Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. Hal ini sekaligus menandai peresmian destinasi wisata baru di Kota Batu, Kampung Hijau Tempenosaurus. Kehadirannya menyusul kesuksesan Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) sebelumnya. “Dilaunchingnya Kampung Hijau Tempenosaurus sesungguhnya menginisiasi bangunan peradaban kemanusiaan. Karena yang diharapkan dari pembangunan di manapun adalah people center development; pusat dari seluruh pembangunan adalah pembangunan manusia yang ada di dalamnya,” kata Khofifah. Disebut Khofifah, membangun perkampungan adalah membangun peradaban. Membangun peradaban adalah membangun tatanan sosialnya, budayanya, serta estetikanya. “Partnership ini terbangun dengan sangat baik, antara korporasi yakni PT. Indana dan UMM sebagai perguruan tinggi,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut, proses pembangunan kampung ini tidak cukup berhenti pada pengecetan. Pihaknya juga akan mulai memikirkan perencanaan tatanan sosial, ekonomi, bahkan pendidikannya. “Utamanya pada upaya peningkatan kompetensi masyarakatnya,” sebutnya. Upaya pembangunan dari segala aspek oleh UMM juga dilakukan di wilayah lainnya. Selain tentunya KWJ, lainnya yakni Wisata Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang, serta sejumlah wilayah lainnya. UMM juga akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Turen, Kabupaten Malang. Proses pembuatan tempe dinosaurus ini sudah mulai dilakukan, Selasa (2/4). Hal ini dikarenakan proses pembuatan tempe membutuhkan waktu cukup lama, yakni 3-4 hari. Tak sampai mubadzir, nantinya replika ini dibagikan kepada pengunjung dan juga masyarakat yang melintas di sekitar kawasan wisata Jawa Timur Park 3. Jamroji selaku dosen pembimbing praktikum mengungkapkan, untuk mewujudkan pemecahan rekor MURI tersebut, Jamroji dan mahasiswa bimbingannya melibatkan baik warga sekitar maupun perusahaan penyedia cat KWJ PT. Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana), dan juga Jawa Timur Park Group. “Untuk membuat replika tempe dinosaurus tersebut dibutuhkan kurang lebih 12-15 orang dan menghabiskan biaya hampir 20 juta rupiah untuk menyiapkan alat dan juga bahan yang diperlukan,” ungkap dosen yang juga sukses mendampingi kelompok mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi “Guys Pro” menggarap KWJ. Untuk tercapainya pemecahan rekor ini, usaha yang tentu dilakukan tidaklah mulus. “Banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama. Karena proyek ini melibatkan berbagai pihak. Sehingga dalam membuat suatu keputusan harus di musyawarahkan bersama,” sambung Jamroji di sela acara. Ketika pengajuan pemecahan rekor MURI ini ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Rencana awal replika tempe dinosaurus itu akan diberi formalin dan hendak dipamerkan di Jawa Timur Park 3. Namun begitu, untuk kategori makanan, tempe yang dibuat replika disyaratkan untuk dikonsumsi dan tidak boleh tersisa. (*/mir/can)
Wapres Jusuf Kalla: Bangsa Tak Memiliki Batas

“Apa beda negara dengan bangsa?” demikian Wakil Presiden RI melempar pertanyaan kepada ribuan peserta Festival Kebangsaan II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/4). Seringkali, katanya, kita sulit membedakan keduanya. “Negara jelas ada batasnya, tetapi bangsa tidak memiliki batas. Batasnya adalah kesamaan, perasaan, sejarah, juga tujuan,” tegasnya. Batas-batas inilah, sambung Jusuf Kalla, yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Walaupun kita berbeda-beda. “Indonesia memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh negara atau bangsa lain. Kita memiliki negara kepulauan terbesar di dunia, yakni sekitar 17 ribu pulau. Penduduknya adalah modal utama. Meski begitu hanya kuantitasnya, melainkan dari kulitasnya. Penduduk itu aset,” ungkapnya. Pola pikir inilah yang diadopsi China dengan jumlah 1,4 milyar penduduk. Bagi China, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tak dipandang sebagai beban. serta memunculkan anggapan bahwa negaranya tak bisa maju. “Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar, dan alhamdulillah juga damai dibanding dengan negara berpenduduk Islam lainnya. Inilah potensi kita,” kata Jusuf Kalla. Semua hal yang terdapat di Indonesia itu, disebut Jusuf Kalla, sebagi modal bagi Indonesia untuk maju. Kita menghargai kebangsaan kita dengan Kebhinekaan. Perbedaan bukanlah kelemahan, tetapi perbedaan adalah kekuatan. “Apa yang dilakukan UMM hari ini (menggelar Festival Kebangsaan, red.) ialah bagaimana usaha untuk membina bangsa yang besar,” ujar Jusuf Kalla. Sementara, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak boleh hilang dari Republik ini. “Diadakannya Festival Kebangsaan di kampus ini, karena memang UMM telah bertekad menyatakan dirinya ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” kata Badan Pembina Harian UMM ini. Lebih jauh lagi, Bhineka Tunggal Ika disebut Malik, bukanlah suatu kebetulan. Tapi lahir dari kesadaran, penghayatan, serta kecermatan para pendiri bangsa ini, bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk. “Bahkan sadar betul, kemajemukan bangsa Indonesia itu multi dimensi. Yakni dengan perbedaan latar belakang agama, suku, sosial-ekomini, termasuk dalam pilihan politik,” ungkapnya. Komitmen bangsa ini, ditegaskannya, bahwa Pancasila merupakan puncak kesepakatan bangsa, tidak boleh diganti oleh paham kebangsaan lain. “Pancasila adalah ideologi bangsa. Pancasila adalah dasar negara. Pancasila sudah sangat final dan tidak boleh digeser. Tapi Pancasila, sangat terbuka untuk ditelaah, dikembangkan, dan direaktualisasikan sesuai dengan zamannya,” tambah Malik. Di sisi lain, pendiri Institute for Syriac Cristian Studies (ISCS) Bambang Noorsena dalam orasi kebangsaannya juga menekankan, perbedaan bukan alasan untuk kita saling menafikkan, saling meniadakan, bahkan saling berhadap-hadapan dalam sebuah konflik. “Melainkan justru menjadikannya suatu kekayaan bersama yang harusnya kita rayakan, bahkan sejak awal perkembangan bangsa ini,” ungkapnya. Negara Indonesia. disebutnya, mampu menjaga segala perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai kekuatan dan juga kekayaan bangsa. “Sudah bukan saatnya lagi Indonesia memperdebatkan masalah agama, suku, maupun bahasa. Karena karena Pancasila sudah berjalan bersama berdasarkan relnya masing-masing. Pancasila adalah sarana untuk mempersatukannya,” pungkasnya. (*/can)