Presiden Maspion ke UMM, Kepincut Asri dan Sejuknya Kampus Putih

“Cintailah produk-produk Indonesia,” mungkin sepenggal kalimat ini melekat kuat di pikiran sebagian masyarakat Indonesia. Di iklan produk perusahaan manufaktur kenamaan Indonesia tersebut, ada sosok seorang Alim Markus sang Presiden Direktur Maspion Group. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini hadir menyapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (6/3). Alim mengaku ini adalah kali pertamanya berkunjung ke UMM. Dalam sekejab, UMM mampu membuat anak dari Alim Husin ini tersanjung. Pasalnya, UMM memiliki suasana asri dan udara yang sejuk. “Saya diminta Pak Rektor lain kali berkunjung lagi ke UMM,” tuturnya. Selain takjub dengan kemegahannya, ke UMM baginya sekaligus berwisata dan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kesibukan kota. Pada agenda Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan atas kerjasama Suluh Kebangsaan dan UMM ini, Alim membagi ceritanya sebagai anak bangsa yang sukses membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia membagikan kunci suksesnya. “Pendidikan jadi faktor penentu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya dihadapan peserta yang memadati Aula GKB IV lantai 9 UMM. Dalam gelaran bertajuk “Milenial Wujudkan Indonesia Emas 2045, Siapa Takut?” ini disebutkan Alim, bonus demografi Indonesia pada tahun 2030 menuju Indonesia Emas di tahun 2045, adalah peluang untuk tumbuh dan berkembangnya Indonesia secara ekonomi. Bila semua masyarakat milenial memiliki pendidikan yang baik, ke depan Indonesia punya peluang besar untuk memimpin ekonomi dunia. “Oleh karenanya, masyarakat milenial yang bakal meneruskan tampuk kehidupan saat Indonesia di masa keemasannya di usia seratus tahun, harus disipkan menjadi manusia-manusia terdidik. Karena orang berpendidikan akan memberi harapan nyata bagi sesamanya,” ungkapnya. Ia juga mengundang mahasiswa UMM untuk belajar langsung belajar berwirausaha di perusahaan yang ia pimpin. Selain Presiden Direktur PT. Maspion, hadir panelis lain yakni Ketua Suluh Kebangsaan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., Staf Khusus Presiden Bidang Agama Tingkat Internasional Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA., Savic Ali, serta dua putri Presiden Republik Indonesia keempat Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid dan Inayah Wahid. (mir/can)
Ini Harga yang Harus Dibayar Agar Indonesia Tetap Ada di 2045

Alissa Wahid, putri presiden keempat RI Gus Dur menyebut, pekerjaan rumah masyarakat Indonesia tidak mudah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tetapi sangat mungkin untuk diwujudkan. “Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” tegasnya, Selasa (9/4) pagi. Hal ini disampaikan Alisa dalam kesempatan menjadi panelis pada gelaran Dialog Kebangsaan di Aula GKB IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir tokoh lainnya, Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA., Savic Ali, serta putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. Untuk Indonesia bisa tetap bertahan hingga di usia seratus tahunnya, yakni di tahun 2045, ada harga yang harus dibayarkan. “Mau nggak kata Indonesia hilang dari peta? Tapi mau nggak membayar harganya supaya kata ‘Indonesia’ itu tetap ada di dalam peta. Harganya adalah, sebagai warga negara, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” bebernya dihadapan ratusan peserta gelaran sehari ini. Selain itu, sambungnya, ketika seseorang mau berkembang dan tumbuh menjadi orang yang mandiri dan berdikari. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kalau Indonesia juga ingin besar, maka manusianya juga harus sejahtera. “Sejahtera itu harus menjadi bagian dari kita. Yang mandiri dan berdikari. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar, kalau warganya mampu menyangga dirinya sendiri,” ujarnya. Tak cukup itu, pelibatan generasi penerus bangsa untuk menjadikan Indonesia sejahtera juga mesti dilakukan. “Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” tegasnya. Generasi milenial yang hidup di masa teknologi informasi berkembang pesat, membuat generasi ini memiliki keunggulan. Tahun 2012, diceritakannya, kita dikagetkan dengan kasus Satinah, TKI yang terancam dihukum pancung jika tidak mampu membayar diyat sebanyak 21 milyar. Pemerintah Indonesia ketika itu hanya menyanggupi sembilan milyar saja. Tentu belum cukup,” bebernya. Netizen Indonesia, anak-anak muda milenial ketika itu, berinisiatif saweran agar hukuman itu tidak terjadi. Jumlah yang terkumpul 2,8 milyar dalam kurun waktu sekian hari saja. “Itu kekuatan dunia digital dan itu kekuatan anak-anak muda Indonesia. Hal ini juga terjadi pada 2014, saat pengajuan perluasan gedung KPK. Lagi-lagi karena kekuatan netizen, kebijakan itu akhirnya disetujui,” paparnya. Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya. (can)
Pesan Mahfud MD Buat Milenial UMM: Mari Ikut Wujudkan Indonesia Emas 2045

Cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju, adil dan beradab dalam rangka menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045 akan terwujud, kata Prof. Dr. M. Mahfud MD., S.H., S.U., jika memenuhi sejumlah syarat. Yakni jika ideologi bangsanya kokoh, ekonominya baik, hukum dan keadilan ditegakkan, politik yang demokratis, budaya gotong royong, serta mengedepankan persaudaraan. Hal itu disampaikan Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini dalam gelaran Dialog Kebangsaan yang digelar di Aula Gedung Kuliah Bersama IV lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir para tokoh lain sebagai pembicara yakni Dr. Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA, serta Savic Ali. Dilanjutkan Hakim Konstitusi periode 2008-2013 ini, Indonesia Emas juga disokong oleh sejumlah indikator lain. Diantaranya pemanfaatan bonus demografi, bonus geografi, juga kesadaran hidup bernegara untuk terus bersatu. “Kalau beberapa indikator ini terpelihara sampai tahun 2045, artinya ketika Indonesia di usianya 100 tahun, barulah Indonesia sudah bisa dikatakan emas,” katanya, Selasa (9/4). Pertanyaannya, sambung Mahfud, kita bisa sampai ke sana ataukah tidak? Hati-hati, Mahfud mewanti-wanti ke seluruh peserta, banyak negara-negara besar yang tidak sampai ke sana. Dicontohkannya, Uni Soviet tidak sampai usia 100 tahun. Padahal pernah berjaya luar biasa. “Pernah menjadi negara menakutkan dunia karena kehebatannya. Bubar hanya dalam kurun waktu 87 tahun,” bebernya. Meski begitu, sambungnya, ada begitu banyak ancaman untuk cita-cita itu dapat terwujud. Di antaranya intoleransi. Makannya kita berkumpul seperti ini untuk mengingatkan bahwa sekali kita terpecah, karena intoleransi, sekali kita terpecah karena tidak sadar pentingnya pluralisme, mungkin kita tidak akan sampai Indonesia Emas 2045. Dan itu akan mengakibatkan kita rugi,” ujarnya. Sementara, menurut perspektif Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-22 ini, mulai dari sekarang masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial, harus bekerja secara sungguh-sungguh untuk menegakkan hukum dan keadilan agar Indonesia Emas di tahun 2045 itu dapat terwujud. “Karena biasanya negara hancur itu, utamanya, kalau hukum tidak ditegakkan dengan benar,” tegasnya. Rumusnya, ketika masyarakat diperlakukan tidak adil, pasti diakibatkan oleh praktik disorientasi dalam bernegara. Kalau disorientasi dibiarkan, sambungnya, akan menimbulkan distrust, atau ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. “Pada tingkatan berikutnya akan terjadi disobedience, atau pembangkangan,” kata Mahfud di gelaran dialog yang dimoderatori putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. “Jika pembangkangan ini terus dibiarkan, tidak segera ke orientasi awal, maka akan terjadi berikutnya disintegrasi. Disintegrasi ini akan terjadi, jika suatu bangsa kemudian sudah tidak tahan rakyatnya karena tidak diperlakukan tidak adil. Inilah yang menyebabkan negara hancur. Sehingga, untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 kita harus bagi-bagi tugas,” tuturnya. Ikhtiar berbagi peran ini, khususnya di kalangan milenial, dalam rangka menyiapkan kita untuk membangun bangsa yang beradab. Jangan sampai negara kita hancur karena kita terpecah belah. “Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia yang maju dan beradab dengan memanfaatkan segala kelebihan yang kita miliki. Agar Indonesia Emas di tahun 2045 dapat tercapai,” tandasnya. (can)