MAFI Fest 2019: Sorot Isu Perceraian lewat Sinematografi

Pada tahun 2015, Kabupaten Malang menjadi daerah dengan angka perceraian tertinggi kedua di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian kelompok sinematografi Kine Club Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam garapan film produksi bersamanya, “Kisah dalam Ruang Gelap” di Gala Primere yang ditayangkan perdana pada perhelatan Malang Film Festival (MAFI Fest) 2019, Kamis (11/4). “Perceraian kini menjadi isu yang paling dekat dengan masyarakat. Hal inilah mendasari terangkatnya tema sosial ini. Film ini mencoba menyampaikan bahwa perceraian bukan merupakan solusi satu-satunya yang bisa ditempuh,” ungkap Adik Fitria selaku produser. Rencananya, tahun ini Kine Club akan roadshow ke sepuluh titik di lokasi dengan tingkat perceraian tertinggi di Kabupaten Malang. Tokoh bapak dan ibu dalam film yang disutradarai Hafidz Alamudi ini menceritakan tentang harmonisasi kehidupan berumah tangga. Dikisahkan, sang istri rela menjadi tulang punggung keluarga karena keterbatasan fisik sang suami yang tuna netra. Sayangnya, kesediaan sang istri akhirnya membuat sang suami meminta perceraian karena merasa menjadi beban untuk keluarga terkhusus sang istri. Pengembangan cerita berlangsung selama 2 bulan. Dalam kurun waktu ini, survei data dan wawancara dilakukan untuk memperkokoh landasan cerita. Menurut Hafidz, yang paling menantang adalah scene hujan dan saat pegambilan gambar di rel kereta api. “Dibutuhkan manajemen waktu karena damkar dan kereta api hanya memiliki waktu yang sangat singkat,” tutur Adik, mahasiswa Ilmu Komunikasi ini. Sementara Direktur MAFI Fest Aliya Dwi Citra menyebut, Kine Club UMM terus konsisten memberikan ruang kepada sineas muda Indonesia dalam rangka mempertemukan filmnya kepada penonton melalui Malang Film Festival (Mafi Fest). Tahun ini, Mafi Fest 2019 kembali memberikan program Ruang Apresiasi untuk menjadi ruang gala premiere film produksi bersama (Prodber) Kine Klub UMM. Selain pemutaran gala primere film produksi bersama, MAFI Fest mengundang salah satu film tamu bertema sosial, yaitu “Nyanyian Akar Rumput”. Sebuah film indie yang berkisah tentang seorang istri dan kedua anak dari aktivis pergerakan Widji Thukul dalam menjalani hidup, setelah suami dan ayah mereka dinyatakan hilang. Penayangan film disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei 1998. MAFI Fest tahun ini memiliki 4 kategori lomba, terdiri dari Fiksi Pendek Mahasiswa, Fiksi Pendek Pelajar, Dokumenter Mahasiswa dan Dokumenter pelajar. Jumlah film yang masuk tahun ini mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 477 film. Hanya akan tersisa 23 film yang lolos kurasi. Masing-masing pemenang kategori diumumkan sebagai juara pada malam penganugerahan, Sabtu (13/4). Sejak tanggal 10-13 April, MAFI Fest juga diisi berbagai rangkaian acara yang tak kalah menarik. Adapun program non kompetisi yang diadakan diantaranya Malam Penghargaan, Sesi Malangan, Program Penayangan Khusus, Program Penayangan Perdana, Diskusi Umum dan Kelas Kritik. Acara dapat terselenggara dengan baik berkat dikerjasamakan dengan VIU Indonesia dan Pusbang Film Kemdikbud RI. (*/can)
MAFI Fest 2019 Jadi Ajang Unjuk Gigi Sineas Muda Indonesia

Tahun 2019 ini merupakan kali ke-15 terselenggaranya kompetisi film bagi para sineas muda berbakat Indonesia; Malang Film Festival (MAFI Fest). MAFI Fest sendiri merupakan festival film mahasiswa tertua di Indonesia. Acara ini merupakan acara tahunan yang digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub UMM. Gelaran ini akan dibuka Rabu (10/4) malam lalu di Teater Dome UMM yang dihadiri Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dan Pusbang Film. MAFI Fest kali ini mengusung tema “Sintesa”. “Sintesa sendiri berarti gabungan dari beberapa elemen sehingga membentuk suatu yang selaras,” ungkap Direktur MAFI Fest Aliya Dwi Citra. Filosofi ini bisa diinterpretasikan di dunia perfilman dalam bentuk program-program yang sifatnya kolaboratif, seperti roadshow pertama tahun ini berkolaborasi dengan Teras Baca Masyarakat, Teras Literasi dan roadshow kedua yang berkolaborasi dengan Parade Film Malang guna memperingati Hari Film Nasional. MAFI Fest mengundang salah satu film tamu yaitu “Nyanyian Akar Rumput”. Sebuah film indie yang berkisah tentang seorang istri dan kedua anak dari aktivis pergerakan Widji Thukul dalam menjalani hidup, setelah suami dan ayah mereka dinyatakan hilang. Film akan disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei 1998. Persiapan MAFI Fest ini dilakukan sejak terbentuknya panitia inti pada Agustus 2018 lalu, dengan menyusun program-program, tema itu sendiri, pengisi acara, hingga film apa saja yang akan ditayangkan. Hingga pada November 2018 terbentuklah panitia besar setelah mengadakan open recruitment panitia MAFI Fest 2019. MAFI Fest tahun ini memiliki 4 kategori lomba, terdiri dari Fiksi Pendek Mahasiswa, Fiksi Pendek Pelajar, Dokumenter Mahasiswa dan Dokumenter pelajar. Jumlah film yang masuk tahun ini mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 477 film dalam program kompetisi hingga tersisa 23 film yang lolos kurasi. Adapun program non kompetisi yang tidak kalah menarik, diantaranya Malam Penghargaan, Sesi Malangan, Program Penayanga Khusus, Program Penayangan Perdana, Diskusi Umum dan Kelas Kritik. Semua program dirangkum di empat hari pelaksanaan yaitu pada tanggal 10 hingga 13 April 2019. Terlebih lagi, di tahun ini MAFI Fest didukung oleh penyedia layanan streaming Viu Indonesia melalui program kerjasama yaitu Pitching Forum. Program tersebut merupakan bentuk dukungan Viu Indonesia bagi para filmmaker muda khususnya di Malang Raya yang memiliki ide cerita untuk diproduksi. “Selain itu juga sebagai wadah bagi para filmmaker mahasiswa, pelajar maupun umum untuk mengembangkan pola distribusi film yang tidak hanya terhenti di festival maupun kompetisi, tetapi juga platform digital,” ungkap Senior Vice President – Marketing Viu Indonesia saat hadir di konferensi pers di Teater Dome UMM. (*/can)
Pakar Psikologi UMM: Pola Asuh Orang Tua Menjadi Penentu Karakter Anak

Maraknya praktik intimidasi hingga perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini menjadi warning bagi Pemerintah. Tentu saja, berbagai daftar kejadian tersebut membuat sebagian masyarakat geram sambil mengelus dada. Salah satunya yang sedang hangat dibicarakan ialah kasus pengeroyokan dan bullying terhadap Audrey, siswi sekolah SMP di Pontianak, Kalimantan Barat. Pertanyaannya, bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya? Diana Savitri Hidayati, S.Psi., M.Psi., pakar Psikologi Klinis Anak & Ketahanan Keluarga Fakultas Psikologi (FaPsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan, dari sisi tersebut kejadian tersebut sangat berkaitan dengan pola asuh orang tua mereka. “Karena masih di bawah umur semua, jadi tanggung jawab ada di orang tua,” tutur Diana. Terkait dengan bagaimana orang tuanya mengasuh juga melakukan pengawasan ke grup bermain yang menjadi tempat di mana si anak bertumbuh kembang. “Jangan-jangan pelaku tak menemukan kenyamanan di rumah, dan menemukan kenyamanan di luar,” jelasnya. Kebetulan, lanjut, grup pelarian mereka di mana tempatnya bermain cenderung negatif. Yang perlu dipahami, jika kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan dilakukan berulang terhadap orang yang sama, maka baru dapat dinamakan bullying. Jika sekali, belum bisa dikatakan bully tetapi intimidasi. “Kalau sudah masuk ke tindakan kriminal, itu ranah hukum. Dalam kasus Audrey, Psikologi memandang ada yang salah dengan pola asuh yang diterima pelaku dari orang tua mereka,” ungkapnya, Jumat (12/3). Diana turut prihatin dengan aksi pengeroyokan terhadap Audrey. Menurut Diana, fase usia sekolah menengah pertama dan atas adalah masa di mana anak-anak mencari pengakuan dan jati diri. Masa-masa tesebut perlu dampingan intensif orang tua. Bahayanya, bila tak didampingi, anak akan menafsirkan berbagai hal dengan kemampuan terbatasnya. Keluarga ideal adalah keluarga yang demokratis. Orang tua, kata Diana, harus berperan sebagai sosok pendengar yang baik. Anak juga selayaknua diberi kesempatan untuk berkontribusi di setiap pengambilan keputusan di keluarga. Orang tua dapat membebaskan anaknya untuk berbuat apapun, namun tetap di bawah kontrol orang tua. Juga, melarang disertai dengan alasan yang dapat dipahami anak. Pola pengasuhan demikian, disebut Diana, cukup untuk membuat anak nyaman di rumah. Dengan mengkontrol perkembangan anak oleh orang tuanya, bukan berarti tidak menaruh kepercayaan kepada anak. Namun, pungkas Diana, sebagai orang tua sudah menjadi kewajiban untuk memahami bagaimana anak bertumbuh kembang. “Sayangnya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua,” tandas Diana. (mir/can)
UMM Runner Up Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia

Setelah melakukan persiapan sangat matang, tim debater Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menyabet runner up dalam Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) Rayon II LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Rabu (10/4) lalu. Kompetisi kali ini mempertemukan 18 tim dari 18 perguruan tinggi. Awalnya, tim debater UMM yang beranggotakan M. Fitrah Ashary Bangun, Ibnu Sofyani dan diketuai oleh Wildan Arif ini melakukan tahap seleksi tingkat internal (UMM) sebelum akhirnya terpilih menjadi perwakilan UMM untuk maju di kompetisi debat yang diadakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) ini. ”Alhamdulillah, pihak kampus sangat mendukung kami. Bahkan kami juga sering diberikan masukan dan juga evaluasi untuk memperbaiki beberapa kekurangan kami,” ungkap Wildan menceritakan pengalamannya mengikuti perlombaan bergengsi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMP), Kamis (11/4). Meskipun kompetisi tersebut diselenggarakan bersamaan dengan Ujian Tengah Semester (UTS), Wildan CS mengaku masih bisa fokus pada kompetisi yang dilakoni. Hal ini terjadi lantaran, diakuinya, pihak UMM memberikan dukungan penuh terhadap tiga mahasiswa yang mengharumkan nama besar Kampus Putih tersebut. Wildan yang merupakan ketua Komunitas Riset dan Debat (KRD) ini menuturkan, selain rajin latihan, membangun chemistry adalah salah satu faktor yang tidak kalah penting. ”Kami latihan sehari tiga kali dan itu hampir kita lakukan setiap hari, terkadang di kampus, kontrakan, atau bahkan warung kopi,” tuturnya. KDMI kali ini membahas beberapa tema seperti pendidikan, ekonomi, pembangunan, politik, olahraga serta hukum. Setelah berjuang selama 2 hari di UMP, akhirnya tim debater UMM harus menghadapi Universitas Katholik Widya Mandala di semifinal sebelum akhirnya harus menghadapi tuan rumah di partai final. Selanjutnya, UMM akan menjadi tuan rumah pada akhir bulan April mendatang. Penunjukan ini didasarkan pada kiprah delegasi UMM yang kerap memenangi berbagai kompetisi debat di berbagai wilayah, baik regional maupun nasional. Wildan dan kawan satu timnya menyambut optimis agenda bergengsi ini. ”Harapan saya tentunya dapat memberikan yang terbaik untuk UMM pada tanggal 28 sampai tanggal 30 April mendatang. Karena kami memiliki kepercayaan diri cukup tinggi, mengingat kelompok kami sudah kompak, ditambah lagi kita sebagai tuan rumah,” imbuh mahasiswa hukum semester enam ini. (zak/can)