Seminar Internasional Komunikasi: Kupas Pemberitaan Media Pasca Teror Di Selandia Baru

Gambaran negatif sekaligus stereotip terhadap agama Islam seringkali kita jumpai pada pemberitaan sejumlah media. Hal tersebut disampaikan Budi Suprapto, staf pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Seminar Internasional “Pasca Teror Penembakan di Selandia Baru: Respon dan Cara Pemberitaan Media Mengenai Muslim” di Auditorium BAU, Kamis (18/4) pagi. Ironi sekali, sambungnya, melihat di Indonesia yang mayoritas penduduk memeluk agama Islam, tetapi belum memiliki kekuatan yang memadai saat berhadapan dengan pemberitaan yang merugikan umat Islam, maupun kelompok Islam. “Terdapat empat kunci dari wacana yang sering digunakan media Indonesia dalam memaknai kelompok Islam, yaitu ekstremis, fundamentalis, teroris, dan anti NKRI,” tuturnya. Tiga diantara wacana tersebut yakni ekstremis, fundamentalis dan teroris bahkan kerap dijumpai pada pemberitaan Barat. Sementara Tobias Hoheneder, staf pengajar University Erlangen Numberg, Jerman juga menyampaikan pembingkaian Islam di media. “Meskipun Jerman merupakan negara yang menerima imigran muslim, akan tetapi 80% pemberitaan menunjukkan sisi negatif dari Muslim,” tandasnya. Berbeda dengan di Indonesia, menurut Budi Suprapto, media tidak menunjukkan eksistensinya sebagai media di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Tidak banyak media di Indonesia yang menggunakan kata muslim dalam pemberitaannya. Bahkan, ia menambahkan, presiden Indonesia tidak begitu menunjukkan eksistensinya dalam menyatakan sikap terhadap terorisme. Jika dilihat, pembingkaian media Jerman mengenai muslim, misalnya berupa penindasan wanita, masalah integrasi, serta dikaitkan dengan stigma, kecurigaan dan stereotip tertentu, yakni sebagai agama yang pro pada kekerasan dan sarang terorisme. Tobias juga menceritakan bagaimana talkshow pada media di Jerman hanya mengundang penceramah dari kelompok yang dikenal radikal saja. Sementara, disampaikan Mustafa Selcuk, seorang kandidat PhD Aristoteles University of Thessaloniki, pasca aksi penembakan di Selandia Baru, dunia Barat mulai merubah cara pandangnya terhadap muslim. Dan mulai memandang sisi positif muslim. “Jerussalem yang negaranya memiliki permasalahan dengan negara muslim, media juga menyatakan penembakan tersebut sebagai aksi teror,” lanjutnya. (mir)
Rektor UMM: Rektor Cup Jadi Ajang Lahirkan Para Juara

Kompetisi tahunan Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dibuka oleh Rektor Dr. Fauzan, M.Pd Sabtu (20/4) pagi. Gelaran kompetisi di bidang penalaran, olahraga dan kreativitas bagi mahasiswa UMM ini diikuti oleh 24 Unit Kegiatan Mahasiswa yang berlomba di 64 cabang lomba. Beragam perlombaan tersebut sudah dimulai sejak awal April lalu, dan akan berakhir pada 4 Mei mendatang. Tahun ini, kembali sepuluh fakultas di tingkat strata 1 akan merebutkan piala bergilir bergengsi sebagai juara umum. Setahun lalu, piala ini bertengger di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dr. Rinikso Kartono, M.Si, Dekan FISIP UMM menyerahkan kembali piala bergilir ke Rektor UMM untuk diperbutkan kembali. Penyerahan ini disambut riuh tepuk tangan para peserta Rektor Cup 2019. Selain itu, dalam rangka mewadahi kreativitas, daya saing, serta ketangkasan mahasiswa, lanjut Fauzan, Rektor Cup menjadi ajang membuktikan diri bahwa segala hal dapat diraih dengan usaha yang keras. Menurutnya, banyak pelajaran yang dapat diambil dalam kompetisi tahunan memperebutkan piala rektor ini. “Rektor Cup sudah digelar sejak tahun 90-an, ini bukanlah waktu yang sebentar,” tutur Fauzan. Menurut Fauzan, ada manfaat yang sering kali luput dari penyelenggaraanya, bahwa para juara yang dimiliki UMM saat ini juga terlahir dari pembelajaran yang diberikan saat penyelenggaraan Rektor Cup. “Menang ataupun kalah tidaklah begitu penting. Menjadi seorang yang berjiwa besar harus mulai dipupuk sejak mahasiswa. Melalui Rektor Cup, semuanya akan dilatih untuk siap berkompetisi,” ungkapnya. Rektor Cup diharapkan dapat menjadi masa awal untuk melatih benih-benih juara UMM. “Semoga terlahir mahasiswa-mahasiswa yang dapat berprestasi di tingkat regional hingga nasional,” tandasnya. Fauzan bersama Wakil Rektor I, II dan III serta Direktur Utama Radar Malang melakukan kick-off yang menandai dimulainya gelaran ini. Dosen dan karyawan juga turut bertanding sepak bola dengan rekan jurnalis. (mir/can)
Teknik Informatika UMM Resmikan Laboratorium Riset 24 Jam

Keterbatasan waktu penggunaan laboratorium saat riset membuat Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini meresmikan laboratorium yang dapat digunakan 24 jam. Kelebihannya, tidak sekedar kelapangan waktu akses, laboratorium ini juga dilengkapi dengan banyak teknologi terkini untuk menunjang kegiatan praktikum maupun riset dosen dan mahasiswa. “Adanya laboratorium ini demi kenyamanan mahasiswa maupun dosen agar tidak mempunyai batasan waktu ketika melakukan riset di dalam laboratorium,” ungkap Dr. Lailis Syafa’ah, M.T. selaku Wakil Dekan 2 Fakultas Teknik saat ditemui di ruangannya Sabtu (20/4). Laboratorium praktikum dan riset yang terletak di GKB 2 lantai 6 ini diresmikan dan sudah mulai digunakan sejak 5 April 2019 lalu. Laboratorium ini mendukung kegiatan praktikum empat bidang minat. Yakni rekayasa perangkat lunak, sistem dan keamanan jaringan, sains data, dan game cerdas. Terlebih didukung tiga puluh orang asisten, seorang laboran, juga lima orang partime yang siap melayani. Selain itu, laboratorium ini juga telah terstandardisasi yakni melalui skema kerjasama sertifikasi dengan Oracle Academy dan Cisco Networking Academy. Menurut kepala Laboratorium Agus Eko, S.Kom, M.Kom, laboratorium riset ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang. Selain ruangan yang bebas diakses 24 jam, koneksi internet juga cepat, ruangan ber-AC, meeting room, 3D printing, neurosky, bahkan terdapat pula console game (Xbox 360 + Kinect) dan juga Coffee Bar untuk sekedar menghilangkan suntuk saat melakukan riset di dalam laboratorium. Selain itu Agus juga berharap dengan adanya laboratorium ini akan dimudahkannya akses kerjasama dengan para pelaku industri. ”Selain beberapa target tersebut saya juga berharap nantinya mahasiswa teknik informatika dapat menghasilkan produk-produk yang inovatif, dan yang paling penting bisa menciptakan sinergitas antara dosen dengan mahasiswa maupun sebaliknya dalam setiap riset,” ungkapnya Sabtu (20/4). Menurut Rama Daniswara, salah satu mahasiswa Prodi Teknik Informatika mengaku, kehadiran laboratorium riset ini dinilai sangat menunjang prestasi mahasiswa. “Saya harap dengan adanya laboratorium riset baru ini, nantinya dapat membuat kami nyaman dalam menggunakan dan juga memperdalam riset. Sehingga dapat menciptakan penemuan dan juga pengetahuan yang lebih berkembang,” ungkapnya. (zak/can)