Ratusan Penari Flashmob di Taman Rekreasi Sengkaling

Dalam rangka memperingati Hari Tari Internasional yang jatuh tepat hari ini (29/4), Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar penampilan tari kolosal (flashmob) yang melibatkan lima ratus orang pada hari Minggu (28/4). Mereka membawakan enam tarian ciptaan PGSD UMM. Penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini disebar ke lima titik berbeda di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Diantaranya adalah pintu masuk Taman Rekreasi Sengkaling, kolam Kapal Misteri, kolam Bajak Laut, kolam Pesona Primitif hingga rooftop hotel kapal. Kesemuanya tampil dengan balutan kostum tari. Selain flashmob, tidak kalah menarik juga sajian tari kolaborasi antara mahasiswa Prodi PGSD dengan seniman Kajoetangan serta Sanggar Topeng Malangan. Tidak hanya itu UKM Sansekarta dan Lembaga Kebudayaan UMM juga turut serta dalam memeriahkan even yang kali pertama diadakan ini. Wahyu Intan Purnamasari, salah satu penari yang turut meriahakn Hari Tari Internasioanal ini mengaku sangat senang dengan diadakan acara ini. Menurutnya acara ini dapat melestarikan salah satu budaya Indonesia. Selain mahasiswa semester enam ini juga menyebutkan jika untuk dapat menampilkan suatu pertunjukan tari membutuhkan waktu yang cukup lama. “Persiapan yang kami lakukan kurang lebih tiga minggu, mulai dari menyusun cerita, kostum, sampai membuat kreasi tari yang akan dipertunjukkan,” ungkap peraih gelar penari terbaik tersebut. Selain itu, menurut salah satu pengunjung yakni Lutfia Asmari mengaku senang dengan diadakannya lomba maupun acara yang berhubungan dengan tari. Selain berkompetisi, dapat pula sebagai sumber untuk menambah pengetahuan menganai beberapa jenis tari dari berbagai daerah. (zak/can)

Ini yang Harus Dilakukan untuk Tetap Eksis di Era Distrupsi

Kepala Badan Litbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ir. Totok Suprayitno, Ph. D. pada orasi ilmiahnya di perhelatan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-92 periode II menyebut, para wisudawan yang lulus hari ini tidak boleh berhenti belajar pasca diwisuda. Akan tetapi harus kembali belajar. Terlebih dalam menghadapi fenomena ketidakpastian di era disrupsi ini. “Saat ini dunia sedang berubah, beberapa sektor pekerjaan mulai ditinggalkan. Oleh karena itu lulusan perguran tinggi dituntut untuk belajar mencari peluang di lingkungan sekitarnya,” sebutnya, Sabtu (27/4). Perhelatan ini juga dihadiri Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., serta perwakilan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag. Lebih jauh Totok menyebut,  di era disrupsi banyak pekerjaan tradisional yang bersifat manual, berulang dan rutin mulai ditinggalkan. Padahal, sambungnya, banyak universitas yang mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pekerja rutin. Sehingga saat ini universitas harus mampu memberikan bekal pada lulusannya, berupa kemampuan beradaptasi, memecahkan solusi, komunikasi, serta kolaborasi. “Saya yakin lulusan Universitas Muhammadiyah Malang sudah mempunyai kapasitas, keterampilan dan karakter sebagai pembelajar. Jika hari ini anda lulus, dan besok Anda berhenti belajar, lusa Anda akan menjadi manusia yang tak terpelajar. Jadi, mulailah untuk belajar,” tuturnya dihadapan 1270 wisudawan dari program Pendidikan Doktor (S3), Magister (S2), Sarjana (S1), Diploma  Tiha (D3), dan Profesi. Sementara, Malik Fajar yang juga Anggota Dewan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia dalam sambutannya turut bangga terhadap kemajuan UMM. UMM terus berikhtiar dan berusaha menghasilkan generasi baru yang tangguh, cerdas, dan mampu berperan di lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Yakni melalui pengabdian dan inovasi yang dilahirkannya. Sementara itu, Rektor UMM, Fauzan mengatakan UMM terus berpegang teguh pada semboyan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Sebagai upaya mewujudkan komitmen itu, menurut Fauzan, lulusan UMM harus mengambil peran strategis dan menebarkan manfaat untuk kepentingan masyarakat. “Jadilah manusia yang luar biasa. Itulah cara untuk mengantarkan hidup kita menjadi bermanfaat,” tegasnya. (bel/can)

Doa Orang Tua Bikin Syamsurijal Lulus dengan IPK Sempurna

Doa adalah senjata. Terlebih doa yang dipanjatkan orangtua kepada anaknya, pastilah mendobrak ke pintu langit dengan sempurna. Hal ini barangkali yang membuat Syamsurijal, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang pada gelaran wisuda ke-92 periode II UMM dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4.0. “Semua karena doa orang tua, bukan semata-mata usaha saya,” ungkapnya. Mahasiswa yang pernah meraih penghargaan Teacher of The Year 2018 dari Menteri Pendidikan Bidang Private School Thailand ini, gemar membaca setelah menunaikan salat subuh. Ia mengaku senang membaca segala hal terkait dengan pengetahuan umum. “Wawasan luas itu penting, apalagi bagi calon pendidik,” jelasnya. Mahasiswa kelahiran Desa Raioi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku tak pernah menargetkan dirinya untuk selalu meraih nilai sempurna. Ia hanya menempuh semua mata kuliah dengan usaha yang maksimal. “Tiap kali akan melakukan apapun saya selalu kabari orang tua,” tuturnya. Setelah itu, Anak dari pasangan M. Saleh dan Aisah, orang tua akan salat tahajud dan berdoa bagi kebaikan anaknya. Saat ditemui sebelum duduk di barisan wisudawan terbaik tingkat universitas, Syamsurijal juga ditanya tentang perasaannya meraih IPK sempurna. Ia mengaku terkejut dan tak percaya pada awalnya. “Saat nama saya dipanggil, saya tidak percaya bisa mendapatkan IPK 4,” tuturnya. Bersyukur, bagi Syamsurijal adalah kunci untuk melakukan dan memperoleh raihan lebih baik lagi di masa mendatang. Kegemaran di dunia penalaran membuatnya aktif di organisasi setingkat fakultas, LSO Cendikia FKIP. Agar seluruh informasi yang ia dapat dari membaca melekat kuat, ia juga menyebarluaskan pemahamannya melalui diskusi. Baginya, diskusi bukan hanya melatih kemampuan berpendapat, namun juga dapat menjadi media bagi kawan-kawannya memperoleh informasi baru yang ia tahu lebih dulu. Menurut Syamsurijal, keseimbangan hubungan dengan Allah dan sesama manusia sangatlah penting. Tiap usaha yang bersifat duniawi bagi Syamsurijal haruslah selalu melibatkan Allah agar segalanya lancar dan berkah. Kedepan, Syamsurijal berkeinginan kuat untuk melanjutkan studi Pascasarjananya di Jepang. “Jepang adalah negara impian saya, mudah-mudahan tercapai,” tandasnya. (mir/can)