Ramadhan Momentum Membangun Ummat Terbaik dan Bangsa Unggulan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si, menyebut, di usia kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun, perlu ada progres yang terus menerus. Hal ini disampaikan Haedar dalam kesempatan mengisi Kajian Ramadhan tahun 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5) siang. Selain itu, di tengah polariasi kehidupan bangsa Indonesia usai pelaksanaan Pemilu, Haedar menyatakan, Muhammadiyah mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Bawaslu dan semua pihak untuk mengedepankan asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luberjurdil) dalam proses penghitungan, sampai pada tahap pengumuman. Serta, berdiri tegak di atas konstitusi dan hukum yang berlaku. Sudah menjadi sikap resmi Muhammadiyah yang berlaku di Tanah Air, pada 18 April yang lalu, Muhammadiyah mengajak seluruh warga negara dan bangsa untuk berpijak di atas hukum dan konstitusi. “Harus menerima apa yang diputuskan KPU. Bagi yang tidak puas, bahkan jika ada kesalahan dan kecurangan, bawalah ke ranah hukum agar semuanya transparan. Tentu kita harus kawal juga,” ungkapnya. Pemilu itu jangan sampai membuat kita retak sebagai bangsa. Karena persatuan selama ini menjadi kekuatan. Sumbangan ummat Islam untuk bangsa ini besar. Yakni menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Tidak ada negeri muslim yang memberi toleransi yang begitu baik. “Artinya, ummat Islam itu menjadi penyangga persatuan Indonesia. Maka, jangan dirusak,” ujarnya. Sejak Indonesia mengamandemen Undang-undang Dasar tahun 1945, ada satu ayat yang ditambahkan, yang dulu tidak ada di UUD 45 asli. Yakni, “Indonesia negara hukum”. “Kepada mereka yang dulu terlibat dalam amandemen, mohon dibaca kembali. Bahwa Indonesia, negara hukum. Artinya, menyelesaikan segala masalah lewat hukum. Penegak hukum juga harus adil dan menegakkan hukum sebaik-baiknya,” ujarnya. Ketika kita menjujung politik nilai, kata Haedara, kita akan berhadapan dengan politik yang pragmatis-oportunistik. Dalam bahasa lain yakni politik Jahiliyah, atau politik ketertinggalan dan keterbelakangan secara nilai. “Kita ingin mengajak seluruh bangsa Indonesia dan ummat Islam untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk membangun ummat terbaik dan bangsa unggulan,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur DR. KH. Saad Ibrahim, MA. menyampaikan dalam sambutannya, di tengah dinamika kehidupan kebangsaan ini, Pimpinan Wilayah Jawa Timur menangkap momentum dengan mengangkat tema Kajian Ramadhan tahun ini yakni “Mewujudkan Khairu Ummah”. Agenda tahunan ini dihadiri Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Timur. Di sisi lain Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut dalam Kajian Ramadhan ini, melalui tema “Mewujudkan Kairu Ummah”, dijadikan sebagai ajang konsolidasi Peryarikatan Muhammadiyah. Lebih jauh lagi, Fauzan menyatakan dalam sambutannya, diselennggarakannya pengajian ini dalam rangka memperkuat Muhammadiyah menjadi aktor yang lebih mencerahkan di daerahnya. (Chan)

Mobil KaCa UMM Berbagi Senyum Ramadhan Bersama Puluhan Anak YPAC

Bulan Ramadhan kali ini, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berbagi keceriaan. Kali ini waktunya adik-adik dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang yang mendapat kesempatan untuk bermain sekaligus belajar bersama Mobil KaCa, Jumat (17/5). Bekerja sama dengan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, anak-anak YPAC diajak untuk bermain dan juga belajar bersama beberapa mahasiswa asing. Mahasiswa asing ini beberapa diantaranya berasal dari Kamboja, Korea, Mesir, Afganistan, bahkan Ukraina. Dalam acara ini juga ada beberapa kegiatan hiburan seperti membaca buku, menonton fil edukasitif, bermain dan bernyanyi, hingga acara buka bersama. Tidak cukup hanya di situ saja, ada penampilan spesial yaitu mendongeng yang ditampilkan oleh Indah Rahayuning Tyas mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut salah satu mahasiswa asing, Theng Chan Boramey, ia mengaku sangat senang karena bisa berbagi dengan teman-teman yang tidak seberuntung kita. ”Saya sangat senang dengan acara seperti ini, karena kita bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka,” ungkap mahasiswi asal Kamboja tersebut. Salah satu pengasuh YPAC, Edi Siswanto menyatakan, ia sangat senang dengan kehadiran Mobil KaCa. “Saya sangat senang karena bisa melihat anak-anak ceria dan antusias seperti barusan. Saya juga berharap semoga acara seperti ini lebih sering lagi, untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak di sini,” tururnya. Menyambung, Sekretaris Humas UMM Mohamad Isnaini menyebut, selain berbagi keceriaan, acara ini juga sekaligus memberikan pengalaman bagi mahasiswa asing untuk berinteraksi bersama adik-adik yang ada di YPAC. Acara ditutup dengan buka bersama dan juga bernyanyi bersama dengan para penghuni YPAC. “Acara ini sekaligus memperkenalkan pengalaman baru kepada mahasiswa asing untuk berbagi kebahagiaan dengan adik-adik difabel yang ada di YPAC. Karena di negara mereka rata-rata tempat seperti ini sangat tertutup. Berbeda dengan yang ada di indonesia,” ungkap Isnaini. (Zak/Chan)

Seniman Jabung di UMM: Lewat Budaya Kita Menjadi Kaya

Pendiri Gubuk Baca Lentera Negeri Fachrul Alamsyah mencurahkan keprihatinannya kepada anak-anak muda saat ini yang justru lebih mengenal tokoh-tokoh Super Hero dari luar negeri, ketimbang daerah asalnya atau lokal. “Oleh karena itu, kampus harus menjadi corong utama bagi generasi penerus bangsa untuk mengenalkan itu,” jelas Irul di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/5). Dijelaskan pula bahwa sebenarnya budaya bisa membuat seseorang menjadi sangat kaya. Bukan soal materi, tetapi menjadi kaya akan ide, imajinasi serta inspirasi. “Saat ini, di Jabung terdapat seorang maestro topeng yang bernama Mbah Suparjo yang karyanya telah memiki hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” tukasnya pada seminar dan workshop budaya yang berlangsung di Auditorium BAU. Pada gelaran workshop yang mengangkat tema menjadi “Enterpreneur Berbasis Budaya” ini, tak hanya mengajarkan proses pembuatan topeng dan gantungan kunci, pemateri juga memperkenalkan Tari Khas Jabung yakni Tari Wayang Topeng Gunung Sari sebagai pembuka. Tarian ini mengisahkan tentang sosok pangeran yang berasal dari kerajaan Kediri atau Doho yang sakti mandraguna, berhati mulia dan baik budi. “Ini adalah kali pertama bagi saya untuk memberikan workshop dalam lingkungan civitas akademika,” ungkap Fachrul Alamsyah yang kerap disapa Irul bersama sejumlah rekan Seniman Ukir Topeng, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Mereka mengajari para mahasiswa pembuatan topeng berbahan dasar Sterofoam serta gantungan kunci Resin atau bahan kimia berbentuk cairan kental seperti lem. “Saya yakin setelah adanya gambaran seperti ini, mungkin akan ada tangan kreatif yang mau mengembangkan dan terus menggerakkan kebudayaan, seiring dengan perkembangan dan kemajuan. Karena membangun entrepreneur yang berbasis budaya, terutama bagi para mahasiswa belum banyak,” pungkas Daroe Iswatiningsih selaku Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat memberikan sambutan. (Riz/Can)