Semarakkan Ramadhan, UMM Gelar Bhakti Sosial di Desa Pramuka

Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan 1440 Hijriah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melakukan kegiatan Bakti Sosial sebagai bentuk kepedulian Kampus Putih terhadap masyarakat. Kali ini lokasi yang dipilih adalah Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Desa yang dijuluki desa Pramuka ini memang sudah beberapa kali mendapat kepercayaan untuk mengadakan kegiatan internasional, terutama penyelenggaraan perkemahan Pramuka semenjak tahun 1970-an. Dibuktikan dengan sudah tiga kali even Pramuka tingkat dunia pernah digelar di desa ini. Selain bakti sosial, terdapat pula pengobatan gratis. Kegiatan ini turut didukung oleh Rumah Sakit UMM. Terdapat pula wisata edukasi bagi anak-anak dengan mendatangkan Mobil Pintar dukungan dari Humas UMM. Dalam kegiatan ini ratusan warga kurang mampu berbondong-bondong memanfaatkan kegiatan ini. Menurut salah satu warga, yakni Rumini mengungkapkan, dirinya sangat senang dan antusias dalam mengikuti kegiatan yang jarang diselenggarakan ini. “Ya senang, mas. Biasanya kalau berobat jauh dan bayar. Dengan adanya ini saya bisa berobat gratis, dapat sembako lagi,” kata wanita 67 tahun mengungkapkan kegembiraannya. Belum sampai disitu, dalam kegiatan ini juga diisi ceramah keagamaan yang disampaikan oleh Imamul Hakim, S.E., M.Sh., sekaligus menunggu waktu buka puasa tiba. Dalam ceramahnya Imamul menyampaikan bahwa maksud dan tujuannya kesini adalah untuk menyambung tali silaturrahmi dengan masyarakat. (zak/can)
Gubernur Jawa Timur: Muhammadiyah Berkontribusi Besar Pada Pembangunan Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. hadir dalam perhelatan Kajian Ramadhan 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (18/5). Khofifah menyampaikan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur saat ini 2000 Trilyun. Sementara APBD Jawa Timur hanya 31 Trilyun. Angka ini idak sampai 2% bisa menstimulir seluruh gerak pembangunan. Bahkan, sambung Khofifah di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), jika seluruh aset pemimpin daerah di Jawa Jimur digabungkan, hanya akan menambah 50 Triliun atau 2,5% dari total PDRB Provinsi. “Saya ingin menyampaikan bahwa betapa penting kekompakan seluruh elemen masyarakat yang ada di seluruh jawa timur,” ungkap di depan ribuan pasang mata. Dilanjutkan Khofifah bahwa pengukuran perbandingan dalam membangun masyarakat Jawa Timur adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk meningkatkan itu, seluruh keluarga besar Muhammadiyah Jawa Timur sangat berperan kuat dan signifikan. Diantaranya melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan melalui lembaga ekonomi yang menjadi komponen penting di dalamnya. “IPM Jawa Timur saat ini berada di urutan ke 15 dari 34 provinsi di Indonesia. Dan ini menjadi yang terendah dari seluruh Pulau Jawa. Kita ingin mendongkraknya. Mungkin tidak bisa dilakukan dengan APBD yang hanya 31 Triliun. Dengan demikian, pembangunan ini tidak akan terwujud tanpa kontribusi yang luar biasa, yaitu keluarga besar Muhammadiyah,” terangnya pada Sabtu (18/5) sore. Sementara disebut Ketua Umum PWM Jawa Timur Dr. KH. Saad Ibrahim, MA., di bawah naungan PWM Jawa Timur, Muhammadiyah saat ini telah memiliki 7 Universitas, 20 lebih Sekolah Tinggi, 82 buah Rumah Sakit dan Klinik, serta 1002 sekolah mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA, 120 rumah panti asuhan, serta 35 usaha di bidang ekonomi termasuk travel Jamaah Haji dan Umroh. Dalam gelaran bertema “Mewujudkan Khairu Ummah” ini, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. Prof A Malik Fadjar mengajak warga Persyarikatan untuk menjadikan Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah sebagai tonggak untuk menatap masa depan bahwa keluarga besar Muhammadiyah adalah keluarga Khairu Ummah. Malik menyerukan pada warga Muhamadiyah untuk berkiprah di berbagai bidang. “Semua itu penting untuk memberi makna guna memperkuat pergerakan Muhammadiyah dalam konteks menebarkan fastabiqul khairat untuk Indonesia,” terangnya. Malik menegaskan, Muhammadiyah tidak boleh berhenti untuk bergerak menebar kemanfaatan dan kebaikan untuk umat, bangsa dan kemanusiaan. Di sisi lain, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, M.A. mengingatkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Ada orang-orang yang melubangi dasar perahu. Maka, jika tidak dicegah dan dibiarkan, mereka akan binasa semua. Tapi jika dicegah, semua penumpang akan selamat. Maka, keharusan umat Islam untuk melakukan amar makruf nahi mungkar,” ujar Din. Sebagai Khairu Ummah, umat terbaik dan pilihan, umat Islam harus bisa menghindari konflik yang bisa merusak bangsa. “Jika terjadi political chaos atau kekacauan politik, harganya terlalu mahal. Bukan saja merusak Islam, namun juga merusak persyarikatan. Mengembalikan pada keadaan semula jelas tidak mudah,” ungkapnya (19/5). Islam, tegasnya, harus menjadi warna Khairu Ummah. Dalam gelaran Kajian Ramadhan kemarin, Jumat (18/5), juga diadakan buka bersama. Selain Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, acara juga dihadiri Wakil Bupati Malang Drs. HM Sanusi, MM., Walikota Malang Drs. H. Sutiaji, Pejabat Eselon 1 Provinsi Jawa Timur, jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan perwakilan jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (riz/can)
Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM Serukan Persatuan Bangsa

Sejumlah akademisi muda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seruan Kebangsaan, di UMM Dome, Senin (20/05). Mereka tergabung dalam Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM yang prihatin kondisi terkini. Juru bicara CMM UMM Pradana Boy menyatakan, sebagai cendekiawan muda pihaknya prihatin atas gejala politik saat ini. Mengutip presiden Sukarno, bahwa persatuan adalah sesuatu yang amat mahal dan terlalu mahal untuk dikorbankan. “Sekali persatuan dikorbankan maka pemulihannya akan sangat lama, bisa ratusan tahun, atau justru tak bisa dipulihkan,” kata Pradana. Pradana juga menyayangkan, saat ini kebenaran faktual tidak lagi merupakan kebenaran sejati. Sebaliknya, kebenaran telah digantikan dengan pembenaran atas opini, propaganda, pandangan, analisis, atau berita bohong. Tingkat kepercayaan kepada “yang dianggap benar”, dan bukan kepada “kebenaran faktual” telah menjadikan wibawa lembaga-lembaga negara yang berkompeten dalam memproduksi informasi pada bidang tertentu, menurun. Bahkan, lanjutnya, kini muncul kecenderungan bahwa lembaga-lembaga negara tak lagi dihormati dan bahkan dianggap sebagai bagian dari konspirasi jahat menghancurkan bangsa. Sebagai bangsa yang berpijak teguh kepada agama, agama dan tokoh-tokoh agama diharapkan memainkan peran dalam meminimalisir konflik, ketegangan dan fragmentasi yang melanda bangsa ini. “Sayangnya, tidak sedikit tokoh agama yang menjadi bagian dari pusaran konflik dan alih-alih menjadi kekuatan perekat, justru sering mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang tidak agamis,” ujar Pradana. Pradana menambahkan, kegiatan Seruan Kebangsaan ini juga memberikan beberapa pernyataan penting untuk mengingatkan kepada publik, di antaranya mengenai: (1) Menghormati setiap proses demokrasi, memandangnya sebagai mekanisme rutin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan tidak menjadikannya sebagai pemicu fragmentasi dan konflik antar anak bangsa; (2) Mengajak para tokoh masyarakat dan pemimpin agama untuk menjadi perekat umat, penyejuk situasi dan peredam ketegangan; (3) Mendukung pemerintahan sah saat ini untuk bersikap tegas dan kuat dalam menghadapi setiap upaya memecah belah bangsa. (*)