Perangi Intoleransi, UMM-Komunitas Tionghoa Rawat Persaudaraan

Di tengah maraknya isu intoleransi yang mengancam Kebhinekaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdepan memerangi akar perpecahan ini. Berlangsung hangat, kegiatan silaturahim dan berbuka puasa bersama Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) Malang dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjadi energi ekstra bagi UMM untuk membangun kekuatan di tengah keberagaman Indonesia. Masih dalam nuansa indahnya bulan Ramadhan 1440 H, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan acara dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan tahun ini. Kali ini UMM mengadakan silaturrahmi sekaligus buka bersama dengan berbagai etnik Tionghoa di Malang (26/5). Acara yang berlangsung di GKB IV lantai 9 UMM ini dihadiri Wakil Walikota Malang Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko. Selain dihadiri oleh Wakil Walikota Malang, acara ini dihadiri pula oleh Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., selaku Badan Pembina Harian UMM sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Widodo Harsono selaku perwakilan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dalam acara tersebut diisi dengan beberapa sambutan yang menekankan tentang mengedepankan nilai toleransi. Dalam sambutannya Malik Fadjar mengungkapkan, setiap manusia pasti memiliki perbedaan. “Indonesia memiliki masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita harus mempunyai rasa saling menghormati dan menjaga satu sama lain agar ke-Bhinnekaan kita tetap terjaga dan dapat menjadi kekuatan bagi bangsa,” ungkap mantan rektor UMM periode 1983 – 2000 itu. Widodo Harsono juga memaparkan bahwa dirinya telah melakukan kerjasama dengan UMM selama 36 tahun. Ia juga menceritakan bagaimana rahasianya bisa menjalin kerjasama yang begitu lama dengan UMM. “Rahasianya adalah saling menghormati, saling toleransi dan selalu menjaga kekompakan,” ungkapnya. Selain itu, Harsono juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan. (Zak/Can)
Prodi Peternakan UMM Pamerkan Produk Pakan Ternak Inovatif

Program Studi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran sejumlah produk pakan dan formula ternak inovatif, Sabtu (25/5). Mulai dari formula penggemuk sapi, permen sapi, penggemuk unggas, hingga pakan yang dapat meningkatkan produktivitas susu sapi. Berbagai inovasi ternak ini dapat dijumpai di gelaran “Pameran Pakan Ternak” Fakultas Pertanian dan Peternakan. Kegiatan yang terintegrasi dengan mata kuliah Ilmu Teknologi Pangan ini berangkat dari keresahan yang dialami oleh para mahasiswa dan peternak terhadap pakan yang beredar di pasaran yang kurang efektif. Selain faktor tersebut, produk pakan ternak karya mahasiswa ini juga sudah dilakukan beberapa tes dan pengujian langsung kepada hewan ternak yang bersangkutan. Hasilnya cukup memuaskan. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Meskipun saya baru menginjak semester 4, tapi saya sudah mempu membuat produk pakan ternak yang dapat sedikit menjawab keresahan yang dialami masyarakat mengenai hewan ternaknya,” tutur Bambang Sugiono yang sekaligus inisiator produk formula penggemuk hewan, Murcel (Murah Cepet Lemu) yang diperuntukkan bagi hewan ternak sapi. Memberikan Murcel dua kali sehari, berat badan sapi mampu meningkat 1 kg per harinya. Selain itu ia juga mematok harga yang tergolong cukup murah yakni Rp. 6000 saja per kilonya. Bambang juga mengaku, ia memanfaatkan momentum hari raya Idul Adha untuk memasarkan produknya. Sekaligus membantu mengatasi masalah hewan yang akan dijadikan qurban. Terutama dalam masalah ukuran dan berat. Menurut Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP. selaku dosen pengampu mata kuliah dan pencetus pameran karya inovatif mahasiswa untuk terus melakukan riset dalam pengembangan produk. Selain itu, tujuan pameran ini adalah sebagai sarana agar serius dalam membuat produk sekaligus belajar berwirausaha. Ia mendorong berbagai produk ini untuk diikutkan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kegiatan tahunan yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini memang selalu menyita perhatian. Bagaimana tidak? Meski baru berstatus mahasiwa semester empat, mereka mampu menciptakan produk pakan ternak yang inovatif dan memiliki harga jual yang berada di bawah harga pasaran. Tak boleh ditinggalkan, berbagai produk buatan mahasiswa ini punya kualitas yang tidak kalah, bahkan cenderung lebih baik. Selain memperkenalkan beberapa produk, para pengunjung juga dapat memberikan penilaian secara langsung terhadap produk yang mahasiswa pamerkan. Nantinya nilai tersebut diakumulasi dan akan menjadi nilai dari tugas akhir mereka untuk mata kuliah Ilmu Teknologi Pakan. Selain itu, kegiatan ini juga secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk dapat belajar bagaimana cara berwirausaha dengan baik. (Zak/Can)
Mahasiswa UMM Bikin Roti Aman Buat Penderita Diabetes Mellitus

SIAPA yang tak suka roti? Walaupun bukan makanan pokok masyarakat Indonesia, roti menjadi makanan yang cukup digemari. Namun siapa sangka kalau roti memiliki kandungan gula yang tinggi. Hal ini menjadi masalah bagi penderita Diabetes Mellitus yang gemar mengonsumsi panganan berbahan dasar tepung ini. Hal tersebutlah yang melatari Novitasari Dwi Mar’atusholihah, Anggun Nurani, Rehan Almira mahasiswa prodi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan roti yang ramah bagi para penderita Diabetes Millitus. “Kami campur bahan rotinya dengan ekstrak Okra atau Abelmoschus Esculentus,” tutur Novitasari Dwi Mar’atusholihah, Ketua Kelompok. Tanaman asli Afrika ini menjadi bahan tambahan untuk menekan kadar gula pada roti. Produk tersebut dinamai Rita Ok (Roti Tawar Okra). Buah okra merupakan salah satu tanaman yang tinggi serat dan kandungan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan kimia dari okra diantaranya adalah 67,50% α-selulosa, 15,40% hemiselulosa, 7,10% lignin, 3,40% komponen pektik, 3,90% komponen lemak dan linin serta 2,70% ekstrak air. Efek kimia tersebut memiliki guna sebagai antidiabetes. Mahasiswa semester enam ini juga menerangkan, temuannya sudah disusun sejak awal April lalu. Bukan tanpa sebab, Novita dan kawan-kawannya menggagas Rita Ok dalam rangka diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Penelitian tersebut telah dan sedang dalam masa uji. “Ada dua tahap pengujian. Satu sudah, yakni uji infifo. Tinggal satu lagi, uji serat,” jelas Novita. Buah Okra nantinya akan diekstrak dan akan berbentuk gel. Gel tersebutlah yang akan dicampurkan dalam bahan pembuatan roti. Setelah itu roti akan melalui proses pembuatan roti pada umumnya. “Ada sedikit perbedaan dengan roti pada umumnya, hanya teksturnya agak sedikit lembek. Lainnya sama dengan roti biasanya,” ungkap Novita. Dalam kurun waktu empat bulan, Novita akan memaksimalkan penelitannya. Melalui penelitian ini pula, penelitian bimbingan Dr. Ir. Warkoyo, MP. ini berharap mendapatkan informasi produk ekstrak buah okra yang mampu menurunkan kadar gula dalam darah. Ini dimaksudkan agar dapat dijadikan alternatif produk pangan aman untuk dikonsumsi penderita Diabetes Mellitus. (mir/can)