2019 Jadi PEMIRA UMM Pertama yang Gunakan E-Voting

Semarak Pemilu Raya (PEMIRA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai terdengar. Ada hal baru pada penyelenggaraan PEMIRA tahun 2019 ini. Yakni dengan menggunakan metode Electronic Vote (E-Vote). Pemungutan suara melalui metode E-vote ini akan dilangsungkan pada 20-21Juni mendatang. Debat para kandidat juga sudah dihelat di masing-masing fakultas dan tingkat universitas. Seperti pada tingkat universitas, debat dihadiri langsung oleh dua pasangan calon BEM-U  yakni Sufyan Indra Jayadi – Ayu Nurlaila Catur dan Abdul Aziz Pranata – Diki Wahyudi. Debat berlangsung di Auditorium BAU, Selasa (19/6). Mereka yang akan memilih diwajibkan menggunakan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) dan Personal Identification Code (PIC) sebagai akses login. Para mahasiswa bakal menggunakan hak pilihnya untuk menentukan Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U), Anggota Senat Universitas (SEM-U), Ketua dan Wakil BEM Fakultas (BEMFA), Anggota Senat Fakultas (SEFA), hingga calon Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Sulfian Ade Nur Rochim, Ketua Komisi Pemilihan Raya Universitas (KPRU) mengatakan jika proses pemilihan dengan metode E-vote adalah langkah untuk mengefesien dan mengefektifkan proses PEMIRA. “Lebih hemat kertas tentu saja. Penghitungan lebih akurat dan tersistem dengan baik,” tutur Sulfian ditemui di sela debat. Sulfian bersama tim bekerja keras untuk mempersiapkan segala hal dengan baik. Hal itu dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi politik mahasiswa. Ia bersama timnya juga telah melakukan sosialisasi secara digital dan konvensional dengan cukup masif. “Sosialisasi terefektif adalah dengan teman-teman terdekat. Hal itu terus kami tekankan,” katanya. Metode anyar hasil kolaborasi KPRU dengan Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom) ini akan menjadi kali pertama UMM menggelar PEMIRA dengan metode E-voting. Sulfian mengklaim metode baru ini akan lebih meminimalisir jumlah kesalahan dan akan lebih aman dari berbagai permasalahan dibanding dengan metode coblos kertas. (mir/can)

Alumnus UMM Jadi Staf KBRI Indonesia di Fiji

Bekerja di salah satu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) jadi mimpi sebagian orang. Hal ini yang diwujudkan Ummul Hasanah, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bekerja sebagai Staf Lokal di KBRI Suva, Fiji sejak 2018 lalu. Amanah ini ia terima setelah melalui seleksi ketat Kementerian Luar Negeri. Kemantapan menjadi Local Staff di negara kepulauan di selatan Samudra Pasifik ini karena keinginannya untuk menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliah dan pengalamannya mendapat gaji dengan uang USD. Tidak hanya itu, jenjang karirnya saat ini ia gunakan sebagai batu loncatan menjadi Duta Besar nantinya. Seperti Indonesia, Fiji adalah sebuah negara kepulauan yang letaknya di sebelah barat Tonga, dan sebelah selatan dari Tuvalu. Fiji memiliki 322 pulau, 106 di antaranya berpenghuni. Selain itu, ada pula 522 pulau kecil. Kedua pulau terbesar adalah Viti Levu dan Vanua Levu yang penghuninya meliputi 82% dari keseluruhan penduduk negara bermata uang dolar Fiji (FJ$). “Kegigihan saya dalam memperjuangkan mimpi, dikarenakan rasa kekaguman saya pada tokoh-tokoh di Komunitas Akademos (komunitas belajar dan pemburu beasiswa di UMM) yang selalu gigih dalam menggapai mimpinya,” sebut Ummul, mahasiswa program studi Hubungan Internasional (HI) FISIP angkatan 2011 (19/6). Sebelumnya, ia sempat berstatus pegawai magang di Kementerian Luar Negeri Direktorat Multilateral Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup di tahun 2014. Berbagai tahap seleksi ia lalui selama kurang lebih satu tahun. Mulai dari tes administrasi, tes kemampuan bahasa dan pengetahuan, hingga wawancara. Negara Fiji ini tak pernah terbesit di benaknya. Hanya saja, hasil ujian tes masuk menghendaki Ummul ditempatkan di Fiji. “Saya ingin expert di bidang Sustainable Development, baik yang berhubungan pariwisata maupun ekonomi dan lingkungan. Hal itu didapatkan di Fiji sebagai Hub of Pasific dan kaya panoramanya,” jelas perempuan yang pernah aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah (FDI). Lebih lanjut, ia juga memberikan tips bagi lulusan yang ingin bekerja di Kemlu. Menurutnya yang terpenting adalah pantang menyerah dan memperbanyak rencana, serta strategi. “Kita harus tahu kemampuan apa yang kita punya. Komitmen dan kemauan, jadi kunci sampai di tujuan, menjadi bagian dari KBBI Suva,” ungkap Ummul. (mir/bel/can)