Universitas Tanjungpura Berguru ke FKIP UMM

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM) Dr. Poncojari Wahyono M.Kes menerima delegasi senat dari Universitas Tanjungpura (27/6). Lawatan itu dimaksudkan untuk berguru kepada FKIP-UMM terkait penyelenggaraan akademik. “Dekan menyampaikan bahwa FKIP UMM senantiasa berkomintmen untuk berkembang, sesuai visi- misi FKIP UMM,” kata Poncojari. FKIP-UMM saat ini memiliki 7 program studi (Prodi) yang kesemuanya terakreditasi BAN-PT, kecuali Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganaan (PPKN). Yakni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Prodi Pendidikan Biologi, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi Pendidikan Matematika, , Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Prodi baru di lingkungan FKIP-UMM Program Profesi Guru (PPG). Poncojari menyampaikan, dalam mekanisme akademik yang dijalankan, pihak dekanat memberikan kesempatan bagi yang muda-muda dalam mengakomodasi kesempatan kerjasama di luar negeri. “Supaya secara kognitif, afektif serta presentasi seminar baik dalam negeri maupun dan luar negeri. Mahasiswa di FKIP UMM juga menempuh mata kuliah FLSP serta membekali dalam TOEP dan TOEFL yang setara Diploma 1. “Mahasiswa kita di tahun 2018, alhamdulillah, diberikan penghargaan dari Negara Thailand saat magang Internasional. Inilah bentuk bukti dan sekaligus promosi kualitas mahasiswa kita,” tutur Poncojari. Sebagai laboratorium lapang, UMM mempuyai Taman rekreasi sengkaling, rumah sakit, hotel, dan unit bisnis launnya, sektor bisnis dapat memberikan sumbangsih kepada mahasiswa juga membatu operasional kampus. Wadek I FKIP-UMM Dr. Sudiran M.Hum  juga menyampaikan nasehat secara periodik, bagaimana terus melakukan inovasi dan kebaharuan serta memberikan pelayanan untuk meningkatkan prestasi.  Diceritakan Sudiran, di tahun 1992 FKIP-UMM berjuang mencari mahasiswa hingga kini tengah bekerja keras menuju International Recognition, kerjasama dengan Tiongkok untuk student exchange dan Thailand untuk internship. Pada level penelitian dan pengabdian, FKIP-UMM memberikan fasilitas blockgrant, yang diimplementasikan baik dalam negeri dan luar negeri, serta hasil tersebut dimasukkan dalam jurnal JINOP (sudah terakreditasi Sinta), JPBI (Sinta 2), dab Kembara (Sinta 3). FKIP UMM  diberi kuota hampi 1000 kuota PPG, dan setelah ini FKIP UMM mendapat kesempatan untuk mendiklat Kepala Sekolah Se-Indonesia. “Untuk mendukung mahasiswa agar bekerja lebih cepat, maka dilaksanakan Magang Industri dan BUMN, sehingga di akhir program dan ketika lulus mereka akan mendapatkan kesempatan kerj. Selain itu, dalam perkuliahan kita hargai 1 semester dalam magang ini. Pimpinan fakultas mengakomodasi serta menyelaraskan dalam renstra tiap prodi,” kata Poncojari di Ruang Pertemuan Gedung Kuliah Bersama 1. Sementara, Wadek II Drs. Marhan Taufik, M.Pd, mengatakan bahwasannya FKIP memfasilitasi dari segi DPK (Dosen Perjanjian Khusus), baik DPK PNS, DPK Universitas, dan Dosen tetap Universitas. “Secara laporan kita mengisi LLDIKTI dan Universitas Muhammadyah Malang Pengelolaan yayasan terbuka untuk umum tiap tahun disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing,” kata Marhan menjelaskan. Sebagai kampus di bawah persyarikatan Muhammadiyah, mahasiswa dari berbagai latar belakang wajib menempuh Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Tes TPA, dan tes microteaching. Secara kepangkatan juga harus menyesuaikan Peraturan Negara. Pendanaan diperoleh dari Pusat/ LLDIKTI dan juga dari pengelolaan yayasan. Penulisan buku ajar digenjot dengan memberikan dana fakultas maupun universitas. Di sisi lain, Wadek III Drs Rohmad Widodo M,Si mengatakan tentang adanya semboyan, “Tiada hari tanpa prestasi,  Tidak ada prestasi yang tidak dihargai, tidak ada pelanggaran yang tidak diberi sanksi”. Selain itu, mahasiswa dibekali kemampuan Seminar, lokakarya dan pelibatan mahasiswa dalam penelitian dosen, pembinaan mahasiswa AIK, pembinaan minat mahasiswa dan bina lingkungan, dan lainnya. Selain itu, Senat Universitas Tanjungpura, Drs. Abdus Somat mengucapkan terimakasih atas silaturahmi ini, dan berbagi pengetahuan, ilmu, baik dari segi pengolahan yayasan yang cukup besar dan berkembang pesat. Selain itu, ia memberikan apresiasi setiggi atas kiprah FKIP- UMM sebagai inspirasi pada pendirian Prodi PPG, dan sebagai kiprah pendidikan untuk mewadahi prodi keguruan. (*/can)

Profesor Hukum Asal Amerika Serukan Kembali Deklarasi Universal HAM

“Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu The Most Beautiful Campus karena pemandangan sekitarnya sangat indah,” setidaknya itulah kalimat pembuka yang diungkapkan oleh Prof. Brett G. Scharff di hadapan civitas akademika Fakultas Hukum (FH) UMM saat mengisi kuliah tamu, yang disambut dengan riuhnya tepuk tangan para peserta di Aula GKB 4 Lantai 9 UMM, Rabu (26/6) siang. Dalam kuliah tamunya, pria yang merupakan Profesor Hukum di Law School of Bringham Young University, Amerika Serikat ini ingin menyampaikan pesan yang sangat penting dalam rangka menguatkan kembali Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (HAM) pada tahun 1948 dihadapan ratusan mahasiswa. “Kita semua hidup dalam dunia yang memandang HAM dari sisi yang terkesan politis,” ungkapnya. Selain itu, Brett juga menyatakan bahwa dirinya kurang melihat HAM sebagai hak yang harus dipenuhi secara universal. “Deklarasi seperti ini sebenarnya memiliki tujuan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui cara yang mengingatkan kembali kepada kita tentang nilai dan manfaat dari konsep martabat manusia,” ujar Brett yang juga sekaligus menjadi pembicara di gelaran Master Level Course UMM. Dilanjutkan kembali oleh Brett, bahwa setidaknya deklarasi Universal HAM bisa memberikan gambaran tentang bagaimana kekuatan yang telah dimiliki. Dalam hal ini yaitu konsep martabat manusia di berbagai macam situasi dan kondisi. Seperti menyeimbangkan antara hak dan kewajiban, memajukan pendidikan tentang HAM, serta berbagai hal yang mengacu pada proses legislasi dan proses pengadilan. Selain itu, Brett menjelaskan bahwa saat ini kedudukan HAM selalu mendapatkan banyak tekanan dari berbagai pihak yang memiliki paham tertentu. Empat paham yang disebut Brett diantaranya yaitu, “Pertama ialah Maksimalism, paham Hak Asasi Manusia yang menganggap bahwa semua hal itu adalah hak asasi manusia sampai seperti hak untuk berlibur, hak untuk rekreasi dan hak-hak lainnya,” lanjutnya. Kedua, lanjut Brett menjelaskan, ialah Skeptisme terhadap Hak Asasi Manusia. “Sebagian besar penganut faham ini menganggap bahwa hak asasi manusia itu bukanlah hak karena ia sebagai sesuatu yang abstrak dan cenderung dipaksakan untuk keperluan. Ketiga Monism/Spesial Pleading atau hanya sebagai suatu permohonan khusus yang berkaitan dengan kelompok kepentingan,” katanya melanjutkan. “Terakhir ialah Politisasi Hak Asasi Manusia. Pada paham ini mereka menganggap bahwa Hak Asasi Manusia itu digunakan sebagai senjata untuk menyerang kelompok lain dengan dalih menegakkan Hak Asasi Manusia,” kata Direktur International Center for Law and Religion Studies (ICLRS) yang pada MLC mengisi materi The Universal Declaration of Human Right: a Basic Intrduction to its History and Drafting. Pada gelaran kuliah dengan tema “Restoring Human Dignity for Everyone Everywhere : The Possible Contributions of Indonesia”. “Terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Proffesor Brett. Semoga mampu menginspirasi mahasiswa kami yang ada di fakultas hukum ini,” Pungkas Dr. Tongat, SH., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum UMM. Acara juga dihadiri Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (riz/can)

Guangxi Normal University dan UMM Kembali Jajaki Kerjasama

Sejumlah jajaran petinggi Guangxi Normal University, Republik Rakyat Tiongkok berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (26/6). Lawatan tersebut dimaksudkan untuk menemui pimpinan Kampus Putih guna menegosiasikan tawaran sejumlah program akademik bagi mahasiswa dan dosen kedua pihak. Beberapa program yang dinegosiasikan di antaranya pemagangan dan pendidikan doktor atau setara S3. Kerjasama antara UMM dan Guangxi Normal University sudah dijalankan sebelumnya lewat skema kursus bahasa Mandarin melalui Confucius Institute. Kursus ini bahkan telah diwajibkan di sejumlah program studi (prodi). Dr. Ir. Listiari Hendraningsih selaku sekretaris International Relation Office (IRO) UMM menyatakan, pertemuan ini sedianya terbatas hanya untuk beberapa program studi saja. Demikian Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin yang membidangi akademik menginginkan kesempatan ini juga dapat dijangkau prodi lain. “Secara garis besar kerjasama ini baik, serta dibutuhkan oleh kedua belah pihak. Baik Guangxi Normal Universityu dan pihak UMM. Kedepan, memang akan diadakan student exchange, juga hubungan bilateral dengan berbagai skema yang akan dijalankan oleh  perwakilan dosen dari masing masing prodi,” ucap Ibu Listiari usai acara. Namun demikian, diakui Listiari permasalahannya ialah di setiap subjek mata kuliah diwajibkan untuk menulis dengan menggunakan huruf Hanzi dan bahasa Mandarin. “Inilah faktor tersulit. Tetap harus kita dorong agar dapat meningkatkan semangat para dosen dalam terus berlatih menulis huruf Hanzi,” tambah Listiari usai acara. Ditambah Djoko Sigit Sayogo, S.E., M.Acc., Ph.D. Ka. dari divisi Kerjasama dan Penerapan IPTEK DPPM menyatakan, UMM hendak menjalin kerjasama berupa Community Service, yang terkait dengan KKN dan magang. Bagi dosen, skema yang dijalankan yakni pemberian beasiswa strata tiga atau doktoral di Tiongkok. Kerjasama yang akan dilakukan juga berupa short term selama 2 bulan untuk beberapa prodi. Beasiswa 6 bulan juga ditawarkan dari prodi bahasa Inggris, namun masih dirundingkan kebijakannya mulai dari biaya dan hal hal lain. Tak kalah penting, UMM juga menawarkan research collaboration yang dikerjakan bersama. (yas/can)

UMM dan USAID Teken Perjanjian Pelatihan KKN-KWU

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) baru-baru ini bekerjasama dengan sebuah lembaga di bawah pemerintah Amerika, USAID-Mitra Kunci. Kerjasama ini dilakukan dalam rangka melaksanakan Training of Trainers (ToT) Modul Kuliah Kerja Nyata Tematik Kewirausahaan (KKN-KWU) dan Keterampilan Non-Teknis bagi mahasiswa UMM. Para mahasiswa mendapatkan pelatihan kewirausahaan untuk diterapkan di masing-masing desa yang sudah ditentukan. USAID yang fokusannya juga mendukung pengembangan ketenagakerjaan di Indonesia melalui USAID-Mitra Kunci Initiative. Dalam seluruh aktivitasnya, Mitra Kunci USAID selalu mengintegrasikan prinsip pemberdayaan kaum muda dan kaum rentan, inklusivitas dan kesetaraan gender. Lima puluh koordinator desa tiap-tiap kelompok hadir untuk mengikuti pembekalan ini. Para mahasiswa ini akan memimpin rekan-rekan mahasiswa lainnya dalam kelompok kerja KKN-KWU guna merencanakan pendampingan kelompok-kelompok masyarakat dalam mengembangkan dan memperluas kegiatan wirausaha di desanya. KKN-KWU dilaksanakan juga dalam rangka melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi. “Pembekalan kewirusahaan oleh USAID-Mitra Kunci ini adalah langkah nyata untuk mewujudkan segala teori yang sudah dididapatkan di dalam kelas. Pada program KKN-KWU, nantinya akan diikuti oleh 180 mahasiswa di 16 desa yang terletak di Malang Raya,” kata Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Prof. Dr. Yus Mochammad Cholily, M.Si. saat memberikan sambutan dalam pembekalan sehari di Aula GKB 4 UMM ini (26/6). Tepat pada 10 Juni 2019 lalu, sepuluh perguruan tinggi yang tergabung dalam konsorsium Kuliah Kerja Nyata Kewirausahaan menandatangani nota kesepahaman dengan USAID Mitra Kunci Initiative, dengan disaksikan Prof. Ismunandar Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan DR. Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran. Selain UMM, sembilan universitas lain ini adalah Universitas Padjajaran, Universitas Suryakancana, Universitas Siliwangi, Universitas Kuningan, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Jember, Universitas Negeri Surabaya, Universitas dan Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Sebanyak 40 ribu mahasiswa akan melaksanakan program KKN-KWU ini sampai tahun 2021. (*/mir/can)

Kemenag RI di UMM: HAM Memuat Nilai Keagamaan yang Universal

Kepala Badan Litbang serta Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A. menyatakan, secara hukum, Indonesia ini sangat pro-HAM. “Konstitusi kita, mengakomodir nilai-nilai penting mengenai HAM. Di samping itu, kita juga meratifikasi pelbagai instrumen hukum HAM internasional sehingga menjadi hukum nasional yang berlaku,” ujar Mas’ud. Hal itu disampaikan Mas’ud dalam forum ilmiah tiga hari bertajuk “Compatibility between Sharia and International Human Rights Law” di Hotel Kapal Garden Sengkaling, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (26/6) siang. Para akademisi, aktivis, serta pegiat HAM dari Indonesia dan luar negeri secara intensif mendiskusikan masalah HAM dan Syariah, serta isu-isu mutakhir yang menyertainya. Sementara itu, tambah Mas’ud, menurut perspektif sosial keagamaan, HAM dianggap sebagai nilai-nilai keagamaan yang universal. Dalam Islam misalnya, HAM adalah bagian dari Maqasid al-Syariah (tujuan-tujuan syariah) yang fundamental. Secara praktis hukum fikih yang ada harus berlandaskan Maqasid tersebut. Dalam konteks HAM, hukum fikih harus menghormati, melindungi dan memenuhi nilai-nilai HAM. “Secara sosiologis, sangatlah menguntungkan bagi bangsa Indonesia, oleh karena masyarakat Muslim sebagai mayoritas menjunjung nilai-nilai agama Islam yang berwajah ramah (smiling), bahagia (happy), multikultural, dan rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, dalam hal penerimaan HAM, masyarakat kita sangat apresiatif, konformistik dan inklusif (open-minded),” dihadapan puluhan peserta dari seluruh Indonesia. Kendati demikian, sambung pria lulusan Islamic Studies, Univ. California, USA ini, pelbagai kasus pelanggaran HAM masih sering terjadi, meskipun intensitasnya rendah. Sebagai konsekuensinya, seluruh elemen bangsa, baik itu state apparatus maupun masyarakat sipil memiliki kewajiban untuk saling bekerjasama sebaik-baiknya. Dengan soliditas sosial yang kokoh, kita akan mampu menghadapi segala rintangan yang ada. Prof. Dr. Syamsul Arifin, selaku Wakil Rektor 1 UMM Bidang Akademik menyatakan bahwa agenda ini adalah upaya untuk memperkuat perspektif HAM dalam rangka memahami Syariah. Hal ini adalah salah satu aspek penting dalam mendukung penegakan HAM secara jangka panjang. Mereka mendapatkan kesempatan secara khusus untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan HAM hasil kerjasama ini. Kerjasama itu yakni antara Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) dan Fakultas Hukum  UMM, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama Republik Indonesia, Norwegian Centre for Human Rights (NCHR) University of Oslo dan International Center for Law and Religion Studies (ICLRS). Program yang diadakan tiap tahun ini bertujuan untuk mengasah abilitas dan kapabilitas para peserta dalam bidang HAM dan Syariah. Salah satu penyaji, Hasnan Bachtiar, membandingkan argumentasi dan praktik elaborasi HAM dan Syariah di negara-negara Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara. Pada kasus Sudan misalnya, HAM sangatlah penting karena negara tersebut syarat dengan sejarah pelanggaran HAM, kudeta dan perang sipil. Sementara di Indonesia, HAM berlaku baik meskipun tidak bebas sepenuhnya dari masalah yang ada. Sebelumnya, seluruh partisipan melakukan riset selama 2 bulan, baik riset pustaka maupun riset lapang pada pilihan topik Syariah dan HAM di Indonesia. Di sesi seminar, para partisipan akan mempresentasikan, mendiskusikan, dan mendebat hasil penelitiannya. Hasil naskah penelitan para peserta akan dibukukan dan akan dipublikasikan di bulan Agustus hingga September 2019 mendatang. (*/can)

Bersama Entrepreneur Muda, UMM Cetak Mahasiswa Pengusaha

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus yang lekat dengan entrepreunership semakin popular. Ini terbukti dengan dipilihnya UMM sebagai mitra kerja sama dalam perhelatan Diplomat Success Challenge ke-10 tahun 2019 / (DSC|X) yang digagas oleh Wismilak Foundation bekerja sama dengan Ngalup.co coworkingspace. “Selain kerjasama yang baik dan fasilitas yang lengkap banyaknya jumlah mahasiswa dan alumni yang sukses berwirausaha jadi alasannya,” ujar Kabag. Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) UMM Dr. Fien Zulfikarijah, MM, di UMM Rabu (26/6). Menghadirkan beberapa entreprener muda yang sukses di bidang masing-masing seperti Yoga Surya Pratama Founder DeKonco Coklat Tempe dan Rizky Boncel seorang Contentpreneur, acara berlangsung interaktif. Menyuntikkan semangat pada para mahasiswa, Yoga menceritakan bagaimana ia mendapat penolakan saat awal memasarkan produknya. “Awal-awal saya juga ditolak.  Customer juga sedikit.  Sehari satu itu pernah,” ujar pria kelahiran Malang, 28 September 1993 ini. Tidak patah arang, berbagai kegagalan atau kekurangan yang muncul pada perjalanan usahanya, justru membuat Yoga belajar banyak hal. Dari situ ia sadar pentingnya sebuah metamorforsis dalam dunia usaha. “Jadi harus dijalani dengan berproses.  Misal ini rasanya kurang, ini tambahin. Variannya kurang, ini juga tambahin. Proses ini yang buat kita jadi sempurna,” ungkapnya. Selain belajar memaksimalkan produk yang dimiliki, hal lain yang tidak kalah penting menurut Yoga adalah motivasi yang dipegang oleh seseorang saat menjalankan sebuah usaha. “Kalau motivasi saya waktu itu butuh uang. Saya punya mimpi dan keinginan yang besar.  Kalau saya tidak kerja,  susah ini untuk dapat impian saya. Jadi kita harus punya target yang jelas.  Selain target bisnis, target pasar, juga target hidup,” tegasnya. Memercik semangat menjadi pengusaha muda, Rizky Boncel mengajak  para mahasiswa yang hadir untuk segera memulai langkah dan merealisasikan gagasan usahanya. “Kalau belum mulai ayo dimulai.  Kalau sudah dimulai ayo kita kembangkan, bareng-bareng kita kolaborasi. Yang belum punya keinginan usaha semoga dibukakan punya keinginan mendirikan usaha.  Setelah punya usaha nanti semoga punya karyawan setelah punya karyawan dapat doa-doa baik dari karyawannya,” tambah Rizki. Selain berbagi kiat dan solusi berwirausaha dengan para entrepreuner muda, DSC|X 2019 juga mensosialisasikan kiat pengajuan proposal bagi kaum muda Indonesia untuk mengembangkan ide-ide bisnis yang kreatif dan inovatif. Konsep usaha yang terpilih akan mendapatkan hibah modal total Rp 2 Miliar untuk mewujudkan bisnisnya. Dr. Fien Zulfikarijah menyampaikan, ajang ini mendapat dukungan penuh dari kampus dan sejalan dengan usaha pemenuhan jumlah mahasiswa pengusaha yang harus dimiliki perguruan tinggi. “Sekarang ini Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.red) mendorong atau mewajibkan setiap perguruan tinggi agar jumlah mahasiswa yang berwirausaha meningkat, maka kita juga akan melakukan hal seperti itu. Sekarang minimal 10 persen mahasiswa di setiap perguruan tinggi harus wirausaha,” pungkasnya. (sil/can)

Mahasiswa UMM Dirikan Rumah Kreatif Berbasis Literasi dan Kewirausahaan

Kelompok Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) 150 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi lahirnya Omah Kreatif Wagir, Kabupaten Malang. Semboyannya, “Never Stop Reading”. Uniknya, proyek literasi berupa Rumah Baca ini juga berbasis kewirausahaan. Di antaranya bakal diadakan seminar dan penyuluhan kewirausahaan kepada kelompok ibu-ibu dan elemen masyarakat lainnya. Seperti pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA), sistem pengolahan sampah dan barang bekas, sampai pelatihan membuat kopi. Rumah Baca ini juga dijadikan kedai kopi warga. “Masyarakat sekitar sini banyak yang kerja di pabrik, jadi tidak banyak waktu untuk mencoba berwiraswasta. Harapannya, program penyuluhan dan seminar ini dapat memberikan alternatif pendapatan baru untuk menunjang perekonomian masyarakat,” kata kordes KKN-PPM 150 UMM, Dimas Adi Yusuf. Berbagai judul buku, dari mulai buku cerita, anak-anak, kewirausahaan disediakan. Masih ada beberapa program kerja yang masih dikerjakan secara bertahap setelah peresmian rumah baca ini. “Karena itu, diharapkan masyarakat Wagir tetap antusias untuk mengikuti acara yang akan kami rangkai,” ungkap Dimas (25/6). Dengan adanya Omah Kreatif Wagir ini diharapkan masyarakat dapat antusias lagi untuk meningkatkan literasi.  “Omah Kreatif Wagir ini sangat layak diapresiasi. Kami sangat berterima kasih. Semoga apa yang ditanam hari ini akan bermanfaat bagi kita semua,” kata Santoko, pemilik kedai Kopi Belik-Rumah Baca. Proyek ini selesai digarap pada bulan Juni ini oleh Kelompok KKN PPM 150 dan Karangtaruna Wagir. Harapan kita, karena anak jaman sekarang lebih aktif bergadget daripada membaca. Mari kita bersinergi untuk membuat masyarakat menjadi aktif membaca,” imbuh Ketua Umum Karangtaruna Wagir. Moh. Isnaini, M.Pd, dosen pembimbing lapangan Kelompok KKN-PPM 150 UMM menyampaikan, kehadiran Omah Kreatif Wagir ini sedianya dapat membantu menumbuhkan perekonomian dan kualitas literasi membaca masyarakatnya. “Mari ramaikan. Karena ini sudah menjadi milik Desa Parangargo Wagir,” pungkasnya. (*/can)