Saat Mahasiswa Asing Juga Ikut KKN

Kevin, mahasiswa asing asal Amerika tak pernah membayangkan bisa merasakan menjalani kehidupan seperti warga lokal di Indonesia. Pengalaman langka ini ia dapati saat tengah ikut program Village Home Stay dari Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selama sepekan (6-11/7), mereka ikut menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selayaknya mahasiswa Indonesia. “Ini pengalaman pertama kali saya menjalani kehidupan bersama warga desa di Indonesia. Selama kami bersama-sama, kami saling menjelaskan budaya kami masing-masing. Di hari pertama di sini, saya sudah diajak membersihkan sungai. Mereka menjelaskan kenapa membersihkan sungai di Indonesia sangat penting. Mereka ingin lingkungan di sini bersih seperti sebelumnya,” ungkap Kevin, diwawancarai (11/7). Program Village Home Stay sendiri merupakan program unggulan BIPA UMM karena hanya dimiliki oleh UMM dari 64 Universitas di Indonesia yang menerima beasiswa Darmasiswa. Kedua belas mahasiswa asing ini ditempatkan di desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Mereka, hidup berdampingan dan menjalani kehidupan selayaknya warga desa dan menjalani kebiasaan orang tua asuh sebagai petani. “Menariknya, kami juga mengikuti kegiatan keseharian dari orang tua asuh kami yang berprofesi sebagai petani. Baik petani anggrek, apel, sayuran dan lainnya. Kami juga memasak makanan Indonesia, menari dan membuat bank sampah,” kata Kevin. Setelah program selesai, para peserta ditugaskan menulis buku tentang pengalaman dan juga komparasi antara beberapa kebiasaan di Indonesia dan negara asalnya. Kevin juga tertarik saat diajak warga desa untuk belajar budidaya jambu kristal di perkebunan organik. Menurutnya buah jenis ini tidak ditemui di negaranya, Amerika Serikat. Terlebih di negaranya kebanyakan buah yang ditanam menggunakan bahan kimia. “Meskipun saya tidak lahir dari keluarga petani, setidaknya sekembalinya saya ke Amerika dapat membagikan informasi teknik menanam buah yang baik,” terangnya. Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. Kepala BIPA UMM menjelaskan, tujuan dari program ini agar mereka dapat mengenal lebih dalam tentang budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia. “Tentunya ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka. Semoga dengan pengalaman ini, mereka sebagai duta budaya dan juga pariwisata Indonesia dapat menceritakannya di negaranya masing-masing,” tutur Arif. Program ini merupakan pengembangan dari program beasiswa Darmasiswa yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia untuk orang asing yang negaranya mempunyai hubungan diplomatik dengan negara Indonesia. Program yang sudah ada sejak tahun 1974 ini kemudian dikembangkan kembali oleh UMM dengan menambahkan program ini. (zak/can)

BIPA UMM Latih Mahasiswa Asing Jadi Duta Budaya dan Bahasa Indonesia

Sebanyak 24 orang mahasiswa asing dari berbagai negara mengikuti pembekalan Diplomatik Darmasiswa RI di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (5/7). Mereka berasal dari Papua Nugini, Vietnam, Thailand, Ukraina, Mesir, Yaman hingga Amerika Serikat. Mereka dibekali pengetahuan seputar bahasa dan wawasan budaya Indonesia, yang nantinya akan diperkenalkan di negaranya masing-masing. Mahasiswa asing ini tengah mengikuti Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KMB) dan Darmasiswa Kemdikbud RI yang diadakan di lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM. “Setelah lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang nantinya mereka akan menjadi duta Budaya dan Pariwisata Indonesia di negaranya masing-masing.” terang Dr. Arif Budi Wuryanto, M. Si selaku kepala BIPA UMM. Selama sepekan, mereka juga dikenalkan beragam alat musik, pakaian adat hingga belajar menari. Toni Dian Effendi, M.Si dosen Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM menjadi pemateri perdana dalam pembelakan. Dosen yang pernah tinggal di Jepang ini turut menyampaikan progress yang harus dilakukan sebagai calon diplomat kedalam tiga tahap. Tahapan ini tidak boleh dilewatkan para calon diplomat. Pertama yakni mengenal tentang Indonesia guna menunjukkan kesan positif. Selanjutnya, keikutsertaan dalam mempelajari Indonesia sehingga muncul sebuah ketertarikan dalam diri para pembelajar. “Yang terakhir ialah tahap pemahaman tentang Indonesia. Dan bentuk kontribusi terkecil sebagai seorang diplomat untuk Indonesia itu minimal harus bisa bercerita tentang Indonesia,” ungkap dosen HI UMM ini. “Selain sebagai duta bangsa Indonesia, nantinya mereka juga dapat menjadi duta untuk UMM. Sehingga saat mereka pulang kenegaranya masing-masing, mereka sudah siap menjadi corong (pusat informasi) seputar Indonesia sekaligus mengenalkan UMM di negara asal,” pungkas Dr. Ratih Juliati, M.Si Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama saat pembukaan program. Peserta asal Mesir, Rania, menyatakan kelas yang diikutinya sangat menarik karena ia banyak belajar tentang menjadi orang Indonesia yang berkarakter. Dengan menampilkan sikap yang demikian, sambung Rania, orang asing akan tertarik berkunjung dan mempelajari budaya dan bahasa Indonesia. “Dengan menjadi orang yang baik, maka persepsi tentang negara anda juga baik,” katanya fasih. Di tempat kelahirannya Mansoura, Mesir tidak banyak orang yang kenal Indonesia apalagi budayanya. “Saya ingin kirim budaya ini, budaya Indonesia, ke kota saya dan membuat mereka mau datang ke sini. Kalaupun bahasa kami berbeda, melalui keramahan orang Indonesia yang saya pelajari di sini, saya yakin orang-orang asing, terutama tempat di mana saya berasal tertarik datang ke Indonesia,” pungkanya. (riz/hel/can)