Cerita Alumnus UMM yang Diterima Kerja Di Perusahaan Multinasional

BEKERJA di sebuah perusahaan multinasional tentu menjadi dambaan bagi banyak orang. Pengalaman inilah yang dirasakan alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Safrilla Putri Camendini saat bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) Firma Ernst and Young (EY) Indonesia. EY yang berkantor pusat di London, Inggris ini dinobatkan sebagai The Big Four Accounting Firms oleh International Accounting Bulletin. Kantor Akuntan Publik (KAP) sendiri merupakan badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik memberikan jasanya. “Saya sebagai satu-satunya alumnus UMM yang saat itu mendaftar di EY merasa bangga dengan almamater saya, karena berhadapan dengan alumnus kampus-kampus ternama,” ujar Safrilla saat diwawancara via WhatsApp, Rabu (17/7) siang. Diceritakan putri dari Setu Setyawan M.M, yakni salah satu staff pengajar di UMM, saat mengikuti prosedur tes masuk ada begitu banyak alumnus dari kampus-kampus ternama lainnya yang turut mendaftar . Seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Pelita Harapan (UPH). “Bahkan ada juga yang berasal dari Singapura, namun saya tetap merasa optimis,” lanjut Safrilla. Safrilla akan diangkat sebagai staf Assurance/Junior Auditing setelah melewati masa Probation atau karyawan magang. Selama masa Probation di EY, Putri mengaku banyak kecakapan yang ia dapat selama berkuliah di UMM yang sangat membantu di lingkungan profesional. penanaman pendidikan karakter dan social skill. Selain itu,  sebagai seorang auditor, tentu pengetahuan dasar Akuntansi dan Audit. Anak ke kedua dari dua bersaudara ini saat lulus mendapat Indek Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Semasa berkuliah juga, Safrilla ikut organisasi kemahasiswaan yang mengasah bakatnya bernyanyi, yakni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gita Surya UMM. Putri juga menggembleng diri di organisasi internasional AIESEC UMM guna mengembangkan potensi kepemimpinannya. Aktif di organisasi, sambungnya, jadi modal terbesarnya diterima bekerja di EY. “Di AIESEC UMM misalnya, selain melatih kita berbicara bahasa Inggris, tetapi soft skill kita di situ juga benar-benar dilatih. Kompetensi ini sangat amat berpengaruh dan membantu saya saat (seleksi) wawancara. Selain soft skill, kita juga diajari cara berbicara dan menjawab berbagai pertanyaan wawancara dengan baik,” ujar Safrilla. “Sebagai bagian dari keluarga besar Kampus Putih, saya ingin teman-teman dari UMM untuk selalu terus mendalami hal yang ingin ditekuni serta belajar giat dan berikhtiar. Kedua, harus menjadi orang yang memiliki optimisme dan rasa percaya diri tinggi. Serta yang terakhir agar selalu mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa di setiap melakukan aktivitas apapun,” pungkas Safrilla yang lulus April 2019 lalu ini. (riz/can)

Brownies Jeruk Inisiasi Mahasiswa UMM ini Digadang Jadi Produk Unggulan Selorejo

Brownies jeruk? Mungkin namanya terdengar tak biasa. Tapi inovasi ciptaan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini patut diacungi jempol. Bukan cuma lantaran produknya yang inovatif, tetapi inisiasi mereka juga digadang mampu melejitkan ekonomi Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Berawal dari pengajuan pendanaan Program Hibah Bina Desa (PHBD), belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM sukses menembus pendanaan Kemenristek Dikti sebagai program pemberdayaan masyarakat di bidang produk inovatif. Baca juga: Sinergi Kebangsaan, INTI-UMM Teken Kerja Sama Komoditas buah jeruk yang melimpah di bagian Utara kabupaten Malang ini rupanya menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan. Selama ini Desa Selorejo hanya cukup manyandarkan perkonomian dari desa wisata petik jeruk. Kelompok mahasiswa ini ingin potensi keberlimpahan jeruk desa ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Jedi Prasetyo Ketua Himagri UMM bersama timnya segera mengadakan pelatihan pembuatan brownies. Bahkan warga desa juga sudah mengajukan proses izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Sambil menunggu proses, timnya terus berusaha untuk menyempurnakan produknya ini ke Prodi Agribisnis untuk diuji kelayakannya. Setelah melalui percobaan produksi selama enam bulan, sambung Jedi, barulah produk brownies jeruk atau diberi brand Browjer ini dinyatakan memenuhi kualitas pasar. Temuan mahasiswa ini tentu berpotensi jadi produk unggulan. “Penjualan nantinya bukan hanya di desa dan toko oleh-oleh,” kata pemuda asal Kalimantan Tengah. Kaprodi Agribisnis FPP UMM, Dr. Ir. Istis Baroh, MP, mengapresiasi anggota Himagri melaksanakan program ini. Namun beberapa hal perlu dibenahi agar konsep ini menjadi sempurna. Seperti harus ada modul pelatihan kepada warga secara lengkap. Mulai bagaimana manajemennya, menghitung biaya produksi, hingga pemasaran. Menurut Istis, selain brownies jeruk, buah jeruk juga bisa dibuat jadi minuman siap saji seperti sari buah. Hal ini akan menambah produksi komoditas melimpah ini akan berdampak keuntungan finansial.  Mahasiswa Himagri UMM yang proposalnya disetujui Ristek Dikti ini bebas Kuliah Kerja Nyata juga Praktik Kerja Lapangan. (can)