POMDA Futsal Jawa Timur Berlakukan Aturan Ketat bagi Pelanggar

“Kalian harus memberikan kebanggaan untuk institusi dan membawa nama baik wilayah yang kalian bawa dengan menelurkan prestasi serta tidak membuat kericuhan,” ungkap Dr. Fauzan M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Himbauan itu disampaikan Fauzan dalam sambutan pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Futsal Regional Jawa Timur 2019, Senin (22/7). Pada tahun ini, peraturan POMDA bidang Futsal lebih diperketat lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Haris Thofly, SH., M.Hum selaku ketua pelaksana dalam sambutannya di Hall Dome. Sesuai dengan surat tugas dari Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Timur, UMM ditunjuk sebagai pelaksana dan penanggung jawab Seleksi Daerah (Selekda) Futsal. Acara yang bakal berlangsung selama empat hari (22-25 Juli) ini tidak tanggung-tanggung untuk menerapkan aturan. “Saya tidak mau ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan tejadi seperti yang sudah-sudah, saya akan menegakkan sanksi yang tegas,” ungkap Haris saat turut memberi sambutan. Panitia telah membentuk Komite Disiplin (Komdis) dan Komite Banding (Komding) untuk menangani perihal tersebut. Ditegaskan dosen Fakultas Hukum UMM ini, bila ada peserta yang membuat pelanggaran hingga berbuat anarkis yang berujung pada kerusuhan, maka tak hanya diberlakukan sanksi berupa denda saja. Tetapi akan dilarang untuk bertanding di seluruh turnamen yang berafiliasi dengan PSSI maupun Asosisasi Futsal Jawa Timur. Haris lantas menyinggung kedudukan mahasiswa sebagai kaum intelektual. “Yang dimiliki mahasiswa itu integritas dan intelektualitas. Dengan latar belakang pendidikan itu, artinya kalian harus menunjukkan bahwa kalian ialah seorang permain profesional yang bermain suportif dan lebih mendahulukan otak bukan otot,” ungkap Haris. Lebih jauh, Haris menyerukan seluruh elemen lomba, baik official maupun pemain untuk mensukseskan kejuaraan yang bakal membawa nama baik Jawa Timur. Dari delapan zona atau rayon yang mengikuti, POMDA Jawa Timur kali ini diikuti oleh tujuh tim, baik kelompok tim putra maupun putri yang merupakan juara dari zona-zona Jawa Tim. Di tim putri terdiri dari Unesa, Unikama, Unej, UM, Unair, UTM, dan UB. Sedangkan tim putra beranggotakan tim yang juga berasal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta seperti UNP, UB, UMM, Unirow, Narotama, UTM, dan Unej. “Kami sangat mengapresiasi UMM, karena mampu menyelenggarakan 2 rentetan acara ini dengan baik, baik itu tingkat Zona atau Rayon maupun yang saat ini berlangsung yaitu tingkat Regional Jawa Timur,” kata Dr. Mahmud Yunus, M.Kes selaku perwakilan Bapomi Jawa Timur saat menyinggung persiapan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) yang akan berlangsung di Jakarta pertengahan September nanti. (riz/can)

Sinergi Elemen Masyarakat Aksi Bersih Sepadan Sungai Brantas

SEJUMLAH elemen masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Kesadaran Sinergitas Lintas Batas yang tergabung dalam Social Movement Alamku Hijau melakukan Apel Bersih, Minggu (21/7). Mereka terdiri dari unsur Instansi, TNI Polri, Akademisi Lembaga, Ormas / Komunitas dan Media se-Malang Raya. Kali ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) didapuk sebagai koordinator aksi bersih ini. Secara bersama-sama, aksi yang dimulai sejak pukul 07.30 hingga 11.00 WIB ini dimulai dengan Apel Bersih. Dilanjutkan dengan bersih sampah Sepadan sungai Brantas seputaran Landung Sari – Tlogomas. Dilanjutkan dengan penghijauan sepadan sungai, terakhir diadakan diskusi ekologi yang menghadirkan para pemateri dari Pembina Dimpa UMM, DLH, Kodim 0833, serta anggota dari Polres Malang Kota. Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM saat didapuk sebagai Pembina Apel mengungkapkan bahwa menjaga lingkungan adalah hal terpenting. Terlebih di Indonesia, tak terkecuali Malang Raya, banyak terjadi bencana tersebab manusia abai menjaga lingkungan. “Tak hanya kehidupan petani, rusaknya sungai Brantas akan berakibat buruk pada kelangsungan flora dan fauna sekitranya. Sementara, Harianto, ST, selaku founder gerakan Alamku Hijau yang merupakan ketua Bantuan Sosial Komunikasi Masyarakat (Baskomas) menerangkan, bahwa pihaknya berserta empat ratusan orang yang terlibat dalam aksi hari ini fokus mengurangi dampak sampah pada lingkungan. “Di Malang, baru hujan kecil saja sudah banjir. Kami menekankan, buanglah sampah pada tempatnya, jangan di sungai,” tekannya. Aksi yang sebetulnya dilakukan tiap minggu ini diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk melakukan kegiatan yang sama. Minimal di tingkan Rukun Warga (RW). “Kita kembalikan gotong royongnya, kita kembalikan kesadarannya, dan saya berharap semua pihak dapat berpartisipasi menjaga lingkungan. Saat ini kita fokus di Sungai Brantas dan sunga-sungai penyangga sungai Brantas,” ungkap Harianto. Joao Karvalho, Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang di sela kegiatan menyatakan, kebersihan itu bukan tanggung jawab Pemerintah. Kebersihan, disebutnya, menjadi tanggung jawab individu masing-masing. “Semua elemen masyarakat harus sadar akan kebersihan lingkungan. Meski kegiatan aksi bersih ini rutin, tidak akan berarti jika masyarakat tidak disadarkan,” kata Joao. (can)

Dari Sampah Plastik ke Furnitur Bernilai Jual

Bermula dari keprihatinannya pada sampah plastik yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), lima mahasiswa  Program Studi (Prodi) Kehutanan, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi pengolahan sampah plastik menjadi lempengan untuk bahan baku furniture. Ialah Ainun Fadillah, Agus Firmansyah, Dany Fiqrullah Jaki, Oktavian Dwi Sumbermanto dan Samsul sebagai ketua. “Karena keprihatinan kami atas hal tersebut (menggunungnya sampah), maka kami mencoba untuk mengolah sampah plastik sebagai bahan baku untuk furniture,” ucap Agus Dkk, saat ditemui Jumat (19/7). Dilanjutkan Agus, bahwa produk olahan mereka sangat ramah lingkungan serta tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal ini dilihat dari cara mereka mengolah sampah yang akan dibakar. Dimulai dari proses memilah sampah-sampah plastik seperti botol kemasan mineral, kresek ataupun bungkus jajanan plastik ke proses pembakaran. “Karena saat dibakar sampah plastik ditutup dan asapnya disalurkan ke dalam air melalui selang yang dipasang sebagai satu-satunya saluran untuk mengeluarkan asap. Ini tidak akan merusak lingkungan karena Karbon Dioksida kita salurkan kedalam sebuah wadah berisi air yang diletakkan di sebelah tempat pembakaran,” lanjut Agus. Cairan plastik hasil pembakaran dialirkan kedalam cetakan yang berbentuk kotak berukuran 50 x 50 cm. Menariknya dari lempengan itu, PKM hasil bimbingan Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, MP., IPM. Ini,  menghasilkan produk olahan berupa Dingklik, Meja, bahkan Lemari dengan kisaran harga dimulai dari 85ribu hingga 250ribu rupiah. Proyek ini, sambung mahasiswa 2015 ini, didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan. “PKM kami dimulai sejak tahun 2015 atau lebih tepatnya dari jaman kami mahasiswa baru. Kebetulan kami semuanya satu kelas, sehingga untuk koordinasi jadi lebih mudah. Sekarang tinggal fokus pemasaran,” ungkapnya. PKM garapan kelima mahasiswa ini sejalan dengan program yang tengah digalakkan UMM untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Kampanye ini dimulai dengan mendorong seluruh civitas akademika UMM melalui berbagai aksi kreatif. Misalnya melalui video berdurasi pendek di Instagram dengan hastag #dietsampahplastik. (riz/can)

Rayakan Milad ke-6, RSU UMM Adakan Peeling Gratis

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat pada kesehatan kulit, Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) menggelar peeling atau prosedur perawatan kulit yang dilakukan untuk mengangkat atau menghilangkan sel kulit mati masal gratis yang dipusatkan di Aula lantai 5, Sabtu (20/7). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian milad RSU UMM ke-6 dengan diikuti puluhan peserta. Mengusung tema “Healthy Inside, Beauty Outside”, RSU UMM ingin menjawab kebutuhan masyarakat saat ini, khsusnya kaum perempuan untuk sehat dari dalam dan cantik dari luar melalui tenaga dokter ahli. Terdapat 3 dokter spesialis kulit dan kelamin RSU UMM yang terjun langsung dalam perawatan, yaitu Dr. Ninin, Sp.KK, dr. Dwi Nurwulan Pravitasari, Sp.KK, dan dr. Ratna Wulandari, Sp.KK., M.Kes. Menurut Dr. Ninin, Sp.KK., masyarakat saat ini banyak yang merasa ragu dan takut melakukan peeling wajah. Alasannya pun beragam, salah satunya adalah ketakutan akan terjadi penipisan sel kulit wajah. Terlebih definisi peeling sendiri adalah pengelupasan kulit dari bahan kimia. Kendati demikian, Dr. Ninin, melalui kegiatan peeling massal mengungkapkan penipisan kulit wajah akibat peeling adalah mitos. “Sebenarnya yang mengalami pengelupasan adalah kulit matinya. Jika kita rutin menggunakan peeling sebulan sekali, maka akan mengalami regenerasi sel kulit,” tuturnya. Lanjutnya, kulit yang tidak dieksfoliasi atau proses pengangkatan sel kulit mati, maka sel kulit mati akan menumpuk dan tebal. Hal ini yang menyebabkan kulit akan terlihat kusam dan memunculkan banyak masalah seperti komedo dan jerawat. “Secara normal, 28 hari sekali kulit kita dari bawah ke atas berganti. Dengan peeling, kulit mati akan hilang, sehingga tidak akan menyumbat pergerakan kulit. Jadi bukan menjadi tipis, akan tetapi malah menjadi lebih muda,” sebutnya. Sementara itu Kepala Humas dan Kemitraan RSU UMM, Dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS. Pihaknya berharap dengan milad ke-6 ini RS UMM khususnya dokter kulit lebih dekat dengan masyarakat dan bisa melayani seluruh kebutuhan masyarakat. “Komunikasi dengan masyarakat itu penting, salah satunya kita terjun langsung untuk mengedukasi masyarakat dan kontak langsung dengan masyarakat,” sebutnya. Adapun rangkaian milad RSU UMM yang sudah berlangsung pada bulan Juli yaitu, Hand Hygiene Contest, peeling massal, turnamen futsal, lomba video edukasi, lomba tarik suara, lomba self make up, dan seminar kecantikan oleh selebgram, dr. Shabrina Aulia. (bel/can)

Punya Ratusan Reseller, Mahasiswa UMM Ini Raup Omzet Puluhan Juta

Menjadi pebisnis muda memang menjadi impian banyak orang. Tak terkecuali bagi Samsul Arifin, mahasiswa program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semester 5 ini. Samsul meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulannya berkat bisnis online yang ditekuninya sejak awal menjadi mahasiswa. Sadar tidak ingin menggantungkan beban terhadap kedua orang tuanya, mahasiswa asal Banjarmasin ini berusaha untuk membantu meringankan beban orang tua dengan memulai berbisnis online. Ia menjual salah satu produk masker wajah yang saat ini sedang digandrungi oleh kalangan mahasiswa, yakni masker wajah Spirulina. Dengan modal hanya satu botol masker Spirulina seharga tigaratusan ribu, saat ini ia bisa meraup rupiah di atas sepuluh juta rupiah setiap bulan. Samsul memang terlahir dari keluarga yang tergolong cukup. Akan tetapi Samsul sadar betul, bahwa dirinya tidak bisa selamanya harus menggantungkan kebutuhannya kepada orang tua. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, apa yang akan terjadi dengan pekerjaan orang tua kita. Bahkan kemungkinan terburuk pun ketika orang tua tiba-tiba tidak ada, Oleh karena itu saya ingin hidup mandiri, yakni dengan memiliki penghasilan sendiri dan turut membahagiakan mereka,” ungkap Samsul diwawancara (20/7). Mahasiswa yang sudah memiliki sekitar 400an reseller di seluruh Indonesia ini juga seringkali diundang di beberpa kegiatan dan juga seminar kewirausahaan. Samsul didapuk sekaligus sebagai mentor dalam membantu sekaligus mengajarkan beberapa teori kewirausahaan yang didapat di bangku kuliah kepada para resellernya. Meskipun saat ini sudah banyak penjual produk masker serupa, namun Samsul tetap merasa optimis. Ia mengklaim, kelebihan yang membedakan dirinya dengan seller (penjual) lain adalah ia selalu menerapkan teori manajemen yang ia dapatkan di bangku kuliah. Alhasil, ia menjadi salah satu distributor terbesar di Malang Raya. (zak/can)