Tes Masuk Profesi Apoteker dan Ners UMM Berbasis Komputer

Tak mau ketinggalan dengan pendaftaran Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tingkat strata 1, prodi Profesi Apoteker dan Ners Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuka pendaftaran untuk calon mahasiswa baru 2019. Berlokasi di Kampus II UMM di Jalan Bendungan Sutami diikuti oleh ratusan calon mahasiswa, (23-24/7). Kali ini, terdapat tiga jenis tes yang harus dilalui oleh calon mahasiswa baru. Yakni tes bidang keilmuan, psikotes dan tes wawancara. Seluruh rangkaian tes ini akan dilakukan dua hari berturut-turut. Hari pertama difokuskan pada tes bidang keahlian dan juga psikotes. Sedangkan hari kedua tes masuk difokuskan pada tes wawancara. Sedikit berbeda dari tahun lalu, untuk tes bidang keilmuan saat ini menggunakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Hal ini dilakukan agar pelaksanaan tes lebih efisien dan sekaligus sebagai modernisasi. Karena jumlah computer yang masih terbatas yakni 95 unit saja, maka untuk tes bidang keilmuan ini dibagi menjadi tiga sesi ujian. “Meskipun para peserta didominasi oleh lulusan S1 UMM, namun tak sedikit pula lulusan dari perguruan tinggi lain. Baik negeri maupun swasta. Seperti Universitas Negeri Malang hingga Universitas Hassanudin Makassar,” terang Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt. selaku ketua panitia UTBK Prodi Profesi Apoteker dan Ners. Prodi profesi apoteker sendiri masih menjadi favorit dengan ratusan peserta yang mendaftar. Hal ini dikarenakan di Indonesia hanya ada sekitar 43 institusi pendidikan yang membuka Prodi Profesi Apoteker dari 240 Perguruan Tinggi Farmasi (PTF) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tak terkecuali Jawa Timur sendiri. “Dengan adanya tes berbasis sistem UTBK ini diharapkan kami mendapat mahasiswa untuk lulusan apoteker dan Ners yang benar-benar berkualitas dan kompeten, karena memang yang menentukan kelulusan mereka adalah uji kompetensi,” terang Siti Rofida yang sekaligus menjabat sebagai wakil dekan 1 Fakultas Ilmu Kesehatan UMM. Untuk diketahui, bahwa tes gelombang III UMM juga akan dilakukan melalui sistem UTBK dan dilakukan dalam dua tahap. Tahap 1 yakni 14-18 Agustus, dan tahap 2 dilaksanakan 19-23 Agustus. Seluruh proses seleksi akan dilakukan di sejumlah laboratorium komputer di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas. (zak/can)
Spray Anti Nyamuk Alami untuk Cegah Demam Berdarah

Tingginya angka penderita demam berdarah di wilayah ini mendorong sekelompok mahasiswa ini ciptakan spray anti nyamuk alami. Adalah mahasiswa kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Jambesari, kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang meramu spray anti nyamuk dari bahan-bahan alami dan ramah lingkungan. “Ide kami membuat spray anti nyamuk dengan bahan alami ini untuk mencari solusi sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada lotion dan spray pembasmi nyamuk pabrikan. Yang notabene banyak mengandung bahan-bahan zat kimia yang cukup berbahaya bagi kesehatan. Di antaranya beresiko menyebabkan gangguan pernapasan,” terang Dinda Muni Nurhandini, anggota Divisi Kesehatan KKN 10 UMM. Diciptakannya spray ini juga sebagai solusi bagi masyarakat yang alergi dan sensitif terhadap lotion anti nyamuk. Spray ini terbilang alami, karena memanfaatkan potensi pembudidayaan buah jeruk di Desa Jambesari belum mampu termanfaatkan dengan baik. “Fogging dan program 3M plus juga belum cukup efektif untuk mengurangi penyebaran penyakit mematikan ini,” ucap Dinda Muji selaku pencetus ide. Bahannya sendiri terdiri dari serai, kulit jeruk dan cengkeh. Sereh terbukti dapat mengusir nyamuk. Sementara aroma kulit jeruk tidak disukai oleh nyamuk karena terdapat senyawa limonene di dalamnya. Juga bunga cengkeh yang terbukti mempunyai senyawa bioaktif terhadap adanya serangga. “Semua bahan mudah didapatkan dan harganya terjangkau,” ucap Refa Maulana selaku koordinator divisi kesehatan dan lingkungan. Pembuatan spray ini merupakan salah satu program kerja dari divisi kesehatan dan lingkungan kelompok KKN 10 UMM. Atik selaku kepala Posyandu Desa Jambesari yang lantas mengapresiasi langkah inovatif kelompok mahasiswa UMM ini. Menurutnya, produk ini berpotensi menjadi produk unggulan desanya. “Kami berterimakasih atas temuan berharga mahasiswa UMM di desa kami,” ungkap Atik. (zak/can)
Film Mahasiswa UMM Raih Ide Cerita Terbaik di FFMI 2019

Film pendek karya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih penghargaan dalam Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2019. Tim UMM memenangi kategori “Ide Cerita Terbaik” yang diselenggarakan di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung, Sabtu (20/7). Melalui film “Kim Soo Ri”, kelompok praktikum Route Cinema yang diproduseri Eka Aprilda Astrid ini berhasil maju di putaran final gelaran FFMI 2019. Dari ratusan film yang turut serta, Kim Soo Ri berhasil masuk ke 60 besar terbaik dan berlanjut ke tahap 20 besar. Di sana mereka mempresentasikan film yang dibuat tahun 2017. Selain itu, film ini berhasil masuk dalam 5 kategori nominasi dari 10 kategori penghargaan yang diperebutkan. Di antaranya Aktris Film Mahasiswa Terbaik, Penata Musik Film Mahasiswa Terbaik, Ide Cerita Film Mahasiswa Terbaik, Penyunting Gambar Film Mahasiswa Terbaik, hingga Film Mahasiswa Terbaik. Septiani Lukita, sutradara sekaligus script writer film mengungkapkan, pesan yang terkandung dalam film ini sesuai tema FFMI tahun ini yakni “Indonesia Gemilang”. Film berdurasi 10 menit menceritakan tentang betapa banyaknya kebudayaan Indonesia yang patut dilestarikan di tengah terpaan budaya luar (K-pop) di Indonesia. Sebelum diikutkan lomba, film Kim Soo Ri punya durasi 15 menit. Sementara, panitia FFMI mensyaratkan film berdurasi maksimal 10 menitan. Lukita mengaku syarat ini menjadi tantangan terbesar buat timnya. Alhasil, ia harus memotong beberapa scene, dengan tanpa mengurasi esensi yang ingin disampaikan. “Ini merupakan suatu kebanggaan untuk kami. Karena ini baru pertama kalinya kami mengikuti festival film di tingkat nasional. Semoga ini menjadi start awal yang bagus baik untuk Route Cinema dan juga dapat memicu mahasiswa lainnya untuk dapat menghasilkan sebuah karya film yang inspiratif,” ungkap Lukita (23/7). “Saya harap ini dapat menjadi pemicu untuk mahasiswa lain agar dapat melahirkan karya film yang berkualitas selanjutnya. Serta dapat memicu mahasiswa dalam melakukan riset yang sedang berkembang di masyarakat, sebelum diaplikasikan dalam sebuah film,” terang Rahadi M.Si selaku pembimbing. (zak/can)