UMM Siapkan Skema KKN Dampingi TKI di Kinabalu

SEBAGAI salah satu kota utama di Malaysia, Kota Kinabalu menjadi tempat bertandang bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tidak heran, juga terdapat banyak TKI ilegal ikut mengadu nasib di kota ini. Ketidakmilikan kewarganegaraan membuat anak mereka tidak dapat mengenyam pendidikan formal di sekolah resmi Negeri Jiran ini. Melihat kondisi ini, Direktorat Penelian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM) akan mengirim mahasiswanya ke wilayah Kinabalu khususnya daerah perkebunan kelapa sawit. Pengiriman mahasiswa ini dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang difokuskan pada pendidikan dan psikologis. “Mereka hanya bisa bersekolah di Community Learning Center (CLC), tempat pusat pembelajaran warga Indonesia bentukan pemerintah Indonesia. Sementara, sedikitnya tenaga pengajar di CLC dirasa belum mencukupi untuk menjamin pendidikan yang layak,” terang Prof. Dr. Yus Mochammad Cholily, direktur DPPM UMM, Selasa (30/7) Selain di aspek pendidikan, terdapat banyak masalah lain ditemukan. “Pelaksanaan CLC di sana masih sangat kurang layak. Bangunannya saja terbuat dari gedek dan seng. Pengajarnya juga hanya satu orang. Mereka perlu diedukasi dari segala macam hal seperti pendidikan, kesehatan, psikologis dan administrasi,” tambah Yus. Kegiatan ini telah dijembatani oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kinabalu. DPPM juga merencanakan KKN internasional ini akan dimulai pada tahun ajaran periode 2019/2020 semester mendatang. Sejauh ini, pihak DPPM UMM sedang menyusun pedoman-pedoman dan mencari dana sponsor untuk KKN ini. KKN Internasional UMM tahun ini saja sudah diikuti 97 mahasiswa. Dilaksanakan di enam negara yakni Turkey, Thailand, Malaysia, China, Kamboja & Taiwan. Para mahasiswa yang terseleksi ini akan mengabdi selama enam minggu dan menjalankan program di tiga bidang. Yakni bidang lingkungan, pendidikan dan kesehatan. (bel/can)

Lewat Outbond, Mobil Pintar UMM Bikin Dua Sekolah Ini Kompak

Mobil Pintar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (30/7), kali ini mengaspal ke Desa Kademangan. Yakni desa di wilayah Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Mobil berkonsep literasi inklusi ini, selain membuka lapak baca, juga menggelar psikotes dan outbond yang diselenggarakan khusus bagi para siswa SMP Dharmawanita 10 dan MTS NU GP Kademangan. Meski letaknya bertetangga dusun saja, keduanya teramat jarang melakukan kegiatan bersama. Hadirnya Mobil Pintar UMM melalui kegiatan outbond dan psikotes membuat keduanya kompak dalam kerja tim. Beberapa permainan yakni Bola Ranjau, Langkah Door dan Janggut Manis berhasil memacu kekompakan dan kebersamaan antara kedua sekolah ini. Kegiatan luar ruangan ini dipandu Lutfi Nurul Rosyidah. Azwa Hilwa Naqiya, mahasiswa Psikologi UMM yang memandu jalannya psikotes  mengungkapkan, dari hasil asesmen (psikotes) bersama enam puluhan siswa, rata-rata siswa memiliki masalah di karir dan pendidikan. Menurut mahasiswa angkatan 2015 ini, hal ini disebabkan akses wilayahnya yang terbilang pinggiran. Sebagian dari siswa ini belum menentukan kemana dan akan bagaimana mereka di masa depan. Dari hasil asesmen ini, kata Azwa, pihaknya siap jika diminta untuk melakukan konseling kepada kedua sekolah. Sementara ini, laporan hasil asesmen akan diserahkan kepada bagian Bimbingan Konseling (BK) masing-masing sekolah dengan harapan ditindaklanjuti. “Meski laporan hasil asesmen ini sederhana, tapi bisa digunakan untuk penggalian dan penyelesaian masalah siswa,” katanya. Rian Aji selaku koordinator Bidang Pendidikan KKN 35 UMM menyatakan, dihadirkanya Mobil Pintar di tempat pengabdiannya bertujuan menumbuhkan minat baca. Sebab, keterbatasan anak-anak mengakses buku amatlah minim. Kalupun ada perpustakaan di sekolah, sebagian besar diisi oleh buku-buku tekstual pelajaran juga buku-buku sejarah yang sudah usang tak menarik minat siswa membaca, terlebih ke perpustakaan. Seperti pengakuan Ikhsan Nawawi, siswa kelas 11 MTs Nahdlatul Ulama’ GP Kademangan. Kehadiran Mobil Pintar di sekolahnya mampu menjawab pencariannya pada buku-buku baru dan bernuansa hiburan. Seperti novel dan buku-buku ensiklopedi berwarna. “Saya malas ke perpustakaan karena buku-buku di sana sekedar buku pelajaran. Tidak selengkap yang ada di Mobil Pintar ini,” begitu kata Ikhsan. Tak cuma sampai di sini, mobil yang dikenal juga dengan Mobil Kamis Membaca (KaCa) ini akan ekspedisi ke tempat dan lokasi khusus. Di antaranya ke lembaga pemasyarakatan (LP), wilayah dengan resiko bencana, daerah termarjinalkan, serta wilayah dengan tingkat literasi dan akses pendidikan terbatas. “Hal ini sebagai wujud bakti kami kepada bangsa melalui literasi,” sebut Ridho, koordinator Mobil KaCa. (can)