Dosen UMM Gagas Kaderisasi Petani Kopi Berbasis Literasi

KOMODITAS kopi dan aktivitas ngopi menjadi alat pemersatu utamanya kelompok milenial. Disamping itu, sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa komoditas kopi telah lama menjadi unggulan wilayah beriklim tropis, salah satunya yang berada di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bahkan, kecamatan dengan luas 135,57 kilometer persegi tersebut menyandang predikat sebagai Kota Kopi. Terhitung sudah tiga generasi melakukan budidaya kopi. Salah satu desa di wilayah Kecamatan Dampit yang memiliki keunggulan komoditas perkebunan kopi tersebut adalah Desa Amadanom dengan luas wilayah 6,11 kilometer persegi. Topografi desa yang berbukit ditambah dengan iklim yang mendukung, menjadikan Desa Amadanom sebagai primadona bagi komoditas tanaman kopi berjenis robusta. “Tetapi, meski begitu, potensi tersebut belum di dukung dengan komitmen generasi muda dalam melanjutkan proses regenerasi agar potensi perkebunan kopi robusta tersebut tetap eksis bahkan semakin ekspansif. Tidak sedikit diantara mereka yang lebih memilih menjadi pekerja migran bahkan sampai ke luar negeri,” ungkap M. Saprin Zahidi, akademisi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena tersebut yang kemudian menginspirasi tim Pengabdian Masyarakat UMM yang diketuai oleh M. Saprin Zahidi dan beranggotakan Hutri Agustino, Havidz Ageng dan Erfan Dani untuk mengajukan proposal Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) ke Ristekdikti untuk pendanaan Tahun 2019. Setelah melalui serangkain seleksi termasuk verifikasi lapang, proposal tersebut dinyatakan layak. Sebagai awal dari pelaksanaan program tahun jamak tersebut adalah launching kelas literasi kopi yang langsung dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Malang, Drs. Suwadji., S.IP. M.Si. Kelas literasi kopi tersebut terbagi dalam delapan sesi tematik dengan melibatkan 25 kader petani kopi usia produktif yang tersebar dari beberapa dusun di wilayah Desa Amadanom. Beberapa tema utama yang disampaikan oleh para narasumber mulai dari membangun mentalitas petani kopi kaum milenial sampai  pada pengolahan kulit biji kopi menjadi pupuk cair sebagai nilai tambah (value added). “Di akhir kelas, direncanakan akan digelar festival kopi robusta hasil dari proses kaderisasi yang sekaligus penyerahan sertifikat lulus pelatihan,” terang Saprin, Rabu (31/7). “Kegiatan PPDM yang dilakukan para dosen UMM ini diharapkan mampu memberikan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat lokal. Utamanya bagi mereka yang selama ini beranggapan bahwa menjadi petani kopi tidak memiliki prestis,” tandas Saprin. Kaderisasi petani kopi berbasis literasi ini, lanjutnya, tidak berhenti di sini. Melainkan akan digelar di sejumlah wilayah penghasil kopi lainnya. (*/Can)

BIPA UMM Latih PTN/PTS Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Asing

Sebagai salah satu lembaga yang terbilang senior di Jawa Timur, Lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Universitas Muhammadiyah Malang (BIPA UMM) kerap mendampingi pengajaran bahasa dan budaya Indonesia ke sejumlah instansi. Misalnya 24 orang mahasiswa asing dari berbagai negara mengikuti pembekalan Diplomatik Darmasiswa RI di BIPA UMM pada awal Juli lalu. Mereka berasal dari Papua Nugini, Vietnam, Thailand, Ukraina, Mesir, Yaman hingga Amerika. Para mahasiswa asing ini mengikuti Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KMB) dan Darmasiswa Kemdikbud RI yang diadakan di BIPA UMM. Rekam jejak baik ini yang membikin sejumlah instansi mempercayai BIPA UMM untuk mendampingi mereka. Hal ini juga yang mendasari beberapa PTN/PTS di Jawa Timur seperti Universitas Trunojoyo, Universitas Negeri Surabaya, Universitas PGRI Adibuana Surabaya datang ke UMM untuk mengikuti Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula, Senin (29/7). Pada acara pembukaan yang dihadiri oleh Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. selaku kapala BIPA UMM ini dihadiri oleh 20 peserta, jumlah ini sengaja dipilih karena dirasa lebih efektif dalam menangkap materi dan juga praktik mengajar yang diberikan. Selain itu turut hadir pula Dr. Ratih Juliati,M.Si. selaku Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama UMM yang sekaligus membuka acara Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula secara resmi di Ruang Kelas BIPA . Dalam sambutannya Ratih menyampaikan rasa bangganya kepada peserta yang hadir karena masih banyak yang peduli dan cinta bahasa dan budaya Indonesia. Ia harap semangat ini tidak pernah pudar untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia. Sementara, Arif menyatakan, pelatihan yang didiadakan tiga hari ini ditujukan untuk umum. Terutama untuk dosen dan juga mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap BIPA yang diproyeksikan bisa mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing. Dalam pelatihan yang baru pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019 ini, para peserta akan mendapatkan beberapa pembelajaran seperti teori dasar ke-BIPA an, Micro Teaching, dan juga sikap, serta pengetahuan kebudayaan Indonesia. “Karena BIPA kami baru berdiri satu tahun ini, kami perlu sekiranya untuk belajar lagi dan mengeksplore apa saja yang harus dikembangkan. Oleh karena itu kami datang ke pelatihan ini,” ungkap Ferra Dian Andanty, SS., M.Pd dari  Universitas PGRI Adi Buana. (can)