Saatnya Indonesia Investasi Pengembangan SDM Unggul

NEGARA yang maju, nyatanya tidak hanya memprioritaskan pembangunan fisik semata. Pembangunan sumber daya manusia juga musti dimasifkan. “Kita punya bermacam-macam sumber daya alam yang tidak semua negara-negaramaju miliki. Manusianya musti mampu mengolahnya untuk kemajuan negara,” tutur Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., saat keynote speech pada Konvensi Nasional Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Rabu (7/8) sore. Di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menurut salah satu perintis HIPIIS ini, Indonesia sudah saatnya berani berinvestasi pada target pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal ini dapat dilakukan dengan bercermin pada negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang. Dua negara ini jelas tidak memiliki banyak sumber daya alam, namun mampu menaklukan dunia. Mereka dapat berkembang pesat karena berani berinvestasi besar untuk SDM. Majunya negara-negara besar saat ini juga dilatari penguatan identitas yang telah dilakukan melalui budaya. “Betapa kuatnya kultur Jepang mempengaruhi dunia seiring dengan perkembangan kecanggihan teknologinya. Indonesia yang memiliki beragam budaya sebenarnya punya kesempatan besar lebih maju daripada negara-negara yang hanya memiliki satu macam budaya saja,” ujarnya di hadapan pengurus HIPIIS, guru IPS se-Malang Raya, dan civitas akademika UMM. Pembangunan fisik memang harus dilakukan. Tetapi, sambung Malik yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM, jangan sampai melupakan SDM yang akan menjalankan hasil pembangunan tersebut. HIPIIS, ungkap Malik menegaskan, memiliki peran yang strategis untuk berkontribusi melalui ilmu-ilmu sosial. Keanekaragaman sosial yang ada di Indonesia menjadi peluang besar meraih Indonesia yang berkemajuan. Yakni maju manusianya dan maju negaranya. Momentum peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-74 ini, bagi Malik menjadi titik puncak untuk melihat betapa besarnya Indonesia. Fokus pembangunan SDM unggul sudah tepat bila menjadi agenda besar negara. “Cita-cita menjadi negara yang maju dan dapat memaksimalkan SDMnya sudah di depan mata. Semoga HIPIIS terus dapat berkontribusi melalui gagasan-gagasannya untuk mewujudkan Indonesia yang unggul,” tandas Malik. (mir/can)

Ketua Umum HIPIIS: Pembangunan SDM Adalah Bentuk Pembangunan Sesungguhnya

KONVENSI Nasional pertama Himpunan Indonesia untuk Perkembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (7/8) hari ini. Ketua Umum pengurus pusat HIPIIS Prof. Dr. Muhadjir Effendy menyatakan, tema yang diangkat “Sumbangan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia bagi Kemajuan Bangsa” sengaja disinkronkan dengan program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode 2. “Saya kira ini momentum bagus, mumpung pembangunan insfrastruktur sedang berjalan. Sebaiknya kita (HIPIIS) juga segera memberikan masukan terhadap perkembangan-perkembangan yang sudah terjadi. Dan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dengan adanya pembangunan infrastruktur yang, bisa dibilang, besar-besaran pada periode kepemimpinan Bapak Jokowi yang pertama,” ungkap Muhadjir yang juga Mendikbud RI di Hall Dome UMM. Tentu saja, sambung Muhadjir, pembangunan sumber daya manusia yang diharapkan pada era pemerintah Joko Widodo yang kedua adalah dalam konteks bagaimana mengoptimalkan, mengapitalisasi, memultiplayerkan, serta melipatgandakan manfaat infrastruktur yang sudah ada. Karena infrastruktur, katanya, pada dasarnya baru prasyarat pembangunan. Adapun pembangunan sesungguhnya, ketika sudah menyentuh dan menangani manusianya itu sendiri. “Karena itu kita bisa katakan bahwa pembangunan infrastruktur adalah prasyarat dari pembangunan yang sesungguhnya. Ibarat shalat, infrastruktur itu baru wudhunya, baru menutup auratnya, tapi belum shalat itu sendiri. Dan shalatnya itu, ketika membangun sumber daya manusia itu sendiri,” ungkap Muhadjir di hadapan para tamu undangan yakni pengurus HIPIIS dari 13 wilayah di Indonesia, guru ilmu pengetahuan sosial (IPS) se-Malang Raya, serta civitas akademika UMM. Fokus pembangunan SDM, menurut Muhadjir, taruhannya lebih besar. Lebih besar ketimbang pembangunan infrastruktur itu sendiri. Karena membangun manusia, tidak bisa “dipanen” dalam waktu yang singkat. Tapi, mungkin, baru akan bisa dipanen satu atau dua dekade ke depan. “Tentu saja pembangunan ini akan menjadi masalah ketika, pembangunan sumber daya manusia ini ditunggu-tunggu didak ada umpan balik atau feedback dari apa yang kita lakukan,” terang Muhadjir. Sehingga, Muhadjir yang juga wakil ketua Badan Pembina Harian UMM ini berharap, Konvensi yang diselenggarakan ini betul-betul bisa intens memberikan masukan, kritik, dan saran yang sifatnya konstruktif untuk masyarakat Indonesia, khususnya masukan untuk Kabinet Kerja periode kedua agar betul-betul bisa sejalan seiring dengan cita-cita nasional kita. Yaitu, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, sesuai dengan cita-cita dari kemerdekaan kita,” ungkapnya.  (riz/can)