Dosen UMM Kembangkan Zat Pewarna Alami Pangan dari Bunga Mawar

Penggunaan pewarna bukan untuk makanan masih menjadi pelanggaran yang terbanyak kedua pada produk pangan setelah pemanis buatan. Adapun pewarna non-pangan yang masih digunakan dan beredar bebas di pasaran seperti Rhodamin B, Methanyl yellow dan Pounceau. Hal ini tentu mengancam kesehatan masyarakat. Latar belakang ini mengunggah kepedulian Kepala Laboratorium Sentral dan Halal Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP untuk mengangkat penelitian berjudul Potensi Pigmen sebagai Zat Pewarna dan Antioksidan Alami untuk Mendukung Penyediaan Pangan Sehat dan Pemberdayaan Daerah. Elfi memang saat ini tengah fokus mengambil sampel bunga mawar sebagai zat pewarna alami berbasis pigmen (antosianin, karotenoid, klorofil). Pigmen yang dijadikan sampel Elfi dari organ tanaman yang terdapat pada bunga, buah dan umbi, maupun rumput laut sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan zat pewarna sintetis. ”Penggunaan bahan pewarna berbahaya secara berlebih pada makanan dapat membahayakan kesehatan manusia. Masalah yang diakibatkan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai aturan kadar dan jenis pewarna buatan yang diizinkan, membuat saya sadar akan kekayaan hayati lokal,” ungkap Elfi saat diwawancarai, Senin (12/8). Penelitian ini dibagi kedalam 3 tahap, yakni eksplorasi kekayaan hayati lokal sebagai sumber pigmen penyumbang warna merah-keunguan, Karakterisasi pigmen beberapa kekayaan hayati lokal, sebagai pengganti Rhodamin B, dan uji efektivitas kadar penggunaannya  pada beberapa produk pangan seperti sari buah, jam, dan yoghurt Perempuan kelahiran Pasuruan ini mengaku penelitiannya diilhami dari Alquran surat An-Nahl ayat 68-69 dimana minuman yang dikeluarkan dari perut lebah atau yang biasa kita sebut madu itu berasal dari bermacam-macam warna yang akhir-akhir ini biasa kita sebut sebagai pigmen terbukti bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit. Melalui penelitiannya, Elfi mampu meraih predikat Juara Kedua mewakili Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Malang dari 14 usulan calon penerima PATPI Award 2019 oleh Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia pada Forum Seminar Internasional PATPI tahun 2019 di Kota Bandung, Jawa Barat. (riz/can)

Begini Penjelasan Islam yang Berkemajuan

Islam yang berkemajuan merupakan bentuk transformasi Al Maun untuk menghadirkan dakwah dan tajdid dalam pergulatan kehidupan keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Agama Islam yang bercorak maju dan mencerahkan merupakan wujud dari pandangan keagamaan yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah kehidupan modern di abad ke-21 yang kompleks. “Islam yang berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan dan kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh ummat manusia,” demikian pesan utama yang diuraikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M. Ag. dalam kesempatan menjadi khatib pelaksanaan shalat Idul Adha di lapangan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (10/8) pagi. “Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan anti perang, anti terorisme, anti kekerasan, anti penindasan, anti keterbelakangan, dan anti dalam segala bentuk pengrusakan di muka bumi, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan ummat manusia,” urai Agung.Islam yang secara positif, lanjut Agung, melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku, ras, bangsa, golongan dan kebudayaan ummat manusia di muka bumi. Karakter Islam yang berkemajuan telah memberikan kekuatan yang dinamis, dalam menghadapkan Islam dengan perkembangan zaman. Dalam penghadapan Islam atas realitas zaman itu dikembangkan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Islam dalam pergumulan dengan kehidupan sepanjang zaman, sambung Agung, harus diwujudkan dalam amal. Islam sangat menjunjung tinggi amal, sejajar dengan iman dan ilmu. Sehingga Islam hadir dalam paham keseimbangan sekaligus membumi dalam kehidupan. Dalam kehidupan yang konkrit, tidak ada manisfestasi lain dari Islam, kecuali dalam amal shaleh. “Islam memiliki pandangan tentang masyarakat yang dicita-citakan, yakni masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam pesan Al Qur’an, masyarakat Islam diidealisasikan sebagai perwujudan khaira ummah (ummat terbaik) yang memiliki posisi dan peran sebagai ummatan washatan (ummat tengahan), dan syuhada alannas (pelaku sejarah) dalam kehidupan manusia,” papar Agung. Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang di dalamnya ajaran Islam berlaku dan menjiwai seluruh bidang kehidupan yang dicirikan oleh pertama, bertuhan dan beragama. Kedua, berpersaudaraan atau ukhuwah. Ketiga, berakhlak dan beradab. Keempat, berhukum syar’i. Kelima, kesejahteraan. Keenam, bermusyawarah. Ketujuh, berikhsan. Kedelapan, berkemajuan. Sembilan, berkepemimpinan. Kesepuluh, berketertiban. Dengan demikian masyarakat Islam menampilkan corak yang bersifat tengahan yang melahirkan format kebudayaan dan peradaban yang berkeseimbangan. “Masyarakat Islam yang dicita-citakan tersebut, memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat Madani atau civil society yang maju, adil, makmur, demokratis, mandiri, bermartabat, berdaulat dan berakhlak mulia, yang dijiwai nilai-nilai Ilahiyah,” terang Agung. Masyarakat Islam sebagai kekuatan Madani, menjunjung tinggi kemajemukan agama, dan pemihakan terhadap kepentingan seluruh elemen masyarakat, perdamaian dan nir-kekerasan. “Serta menjadi tenda besar bagi golongan dan seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi,” tandas Agung. Sementara itu, terkait dengan penyediaan hewan kurban, UMM telah menyiapkan 7 sapi dan 13 kambing. Hewan kurban ini didistribusikan ke beberapa titik, seperti di wilayah dakwah UMM yang ada di Malang Selatan, serta sejumlah titik di penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Selain itu, tentunya di bagikan ke sekitar masyarakat Kampus III UMM. Kampus Putih sendiri melaksanakan shalat Idul Adha di dua tempat berbeda. Shalat Idul Adha di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas diimami oleh Ustadz Anry Oktapiansyah, S.Sy. Sementara di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami yang berlaku sebagai khatib, ialah Azhar Muttaqin, M.Ag, sementara imam Ustadz Wahyu Hidayat. (riz/can)

Tiga Persepektif tentang Indonesia Berkemajuan menurut Muhammadiyah

Dalam rangka menerjemahkan masyarakat Islam dalam konteks Indonesia kontemporer, maka Muhammadiyah merumuskan konsep Indonesia Berkemajuan sebagai sumbangsih Muhammadiyah terhadap konsep Indonesia ke depan. Indonesia Berkemajuan dimaknai sebagai negara utama atau Al Madinatul Fadhillah atau negara berkemakmuran dan berkeadaban dan negara yang sejahtera. Demikian pesan utama yang diuraikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M. Ag. dalam kesempatan menjadi khatib pelaksanaan shalat Idul Adha di lapangan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (10/8) pagi. Dihadiri oleh ribuan jamaah dari seantero Malang Raya. Shalat pun berlangsung penuh khidmat. Karenanya negara yang Berkemajuan, lanjut Agung, adalah negara yang mendorong terciptanya fungsi kerisalahan dan kerahmatan yang didukung sumberdaya manusia yang cerdas, berkepribadian, dan berkeadaban mulia. Karena itu, negara berkemajuan harus mampu menegakkan kedaulatan. “Baik di bidang wilayah, politik, hukum, ekonomi dan budaya; bisa mendatangkan kemakmuran; terpenuhinya sandang, pangan dan papan; mewujudkan kehidupan material dan spiritual;  menjamin kebebasan berpikir, berekspresi dan beragama; menghormati hak asasi manusia, dan; menciptakan keamanan dan jaminan masa depan,” ungkapnya. Pertama, dalam perspektif politik Indonesia Berkemajuan adalah negara demokrasi yang dijiwai oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, berdasarkan hukum yang berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban. Demokrasi dalam kehidupan kebangsaan yang berkemajuan harus beretika tinggi yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, pemusyawaratan, dan keadilan. “Etika politik berdemokrasi ini ditunjukan dalam sistem tindakan yang mengedepankan perilaku jujur, damai, kesatria, dan saling menghormati. Dan menolak tindakan-tindakan anarkis, praktik menghalalkan segala cara, kekerasan dan kecurangan,” ungkap pendakwah yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Kedua, dalam perspektif ekonomi. Disambung pria kelahiran Kulonprogo, 24 Januari 1968 ini, Indonesia Berkemajuan dicirikan oleh terciptanya sistem ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan yang berkedaulatan, berkeadilan, dan berkelanjutan dengan keseimbangan pendayagunaan potensi darat, laut dan udara. “Indonesia Berkemajuan harus berdaulat secara ekonomi,” katanya. Hal ini terutama berkaitan dengan upaya untuk menciptakan keadilan distributif bagi warga negara guna memperoleh akses dan kepemilikan serta pengelolaan sumber daya ekonomi dan menyediakan sumber kehidupan dan lapangan pekerjaan untuk seluruh rakyat Indonesia yang layak. Paradigma pembangunan ekonomi yang dianut dan dilaksanakan merupakan sistem ekonomi yang mengupayakan keadilan dan kedaulatan bangsa. Serta, pada saat yang sama mampu membawa kemakmuran bagi seluruh warga negara. Sementara, lebih jauh lagi, di persepktif ketiga atau perspektif sosial-budaya, Indonesia Berkemajuan ditandai oleh berkembangnya budaya nasional yang merupakan puncak-puncak budaya daerah dan terbuka pada budaya baru yang sesuai dengan kepribadian bangsa. “Untuk dapat mewujudkan konsep Indonesia Berkemajuan, yang merupakan tafsir kontemporer ke-Indonesiaan atas konsep baldatun thoyibatun warabbun ghafur tersebut, dibutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh warga masyarakat,” tegas Agung. Indonesia Berkemajuan adalah cita-cita kita bersama sebagai realisasi tugas kerisalahan ummat manusia sebagai abdi dan hamba Allah di muka bumi. “Menjadi tugas kita bersama Bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin, untuk merealisasikannya,” tandas Agung. Sementara itu, terkait dengan penyediaan hewan kurban, UMM telah menyiapkan 7 sapi dan 13 kambing. Hewan kurban ini didistribusikan ke beberapa titik, seperti di wilayah dakwah UMM yang ada di Malang Selatan, serta sejumlah titik di penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Selain itu, tentunya di bagikan ke sekitar masyarakat Kampus III UMM. Kampus Putih sendiri melaksanakan shalat Idul Adha di dua tempat berbeda. Shalat Idul Adha di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas diimami oleh Ustadz Anry Oktapiansyah, S.Sy. Sementara di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami yang berlaku sebagai khatib, ialah Azhar Muttaqin, M.Ag, sementara imam Ustadz Wahyu Hidayat. (riz/can)

Satu-satunya Perwakilan PT Swasta, Luthfin Belajar Industri Peternakan Ke Australia

Dua puluh mahasiswa Indonesia yang berasal dari 14 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 1 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), terpilih untuk mengikuti program dari  NTCA Indonesia Australia Pastoral Program (NIAPP) 2019 di Australia. Mahasiswa yang terpilih berkesempatan untuk belajar industri peternakan di Australia. Salah satunya, mahasiswi Prodi Peternakan UMM angkatan 2016, Luthfin ‘Abidah, yang merupakan satu-satunya mahasiswi dari PTS yang lolos serangkaian tes seleksi program NIAPP 2019 yang ketat. Terdiri dari seleksi administrasi, tes tulis mengenai pengetahuan industri sapi potong Indonesia dan Australia serta tes fisik. Luthfin mengaku sangat bersyukur dan bangga bisa terpilih menjadi salah satu dari 20 peserta terpilih. Terlebih lagi yang menjadi saingannya adalah mahasiswa dari universitas bergengsi di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran dan lainnya. “Selain tes fisik, kami juga harus presentasi dan interview di hadapan profesor juga dosen bidang industri sapi potong dan para alumni NIAPP 2018. Di Seleksi akhir, presentasi dan wawancara dengan perwakilan NTCA dari Australia, PD 3 FAPET UB, ISPI, dan alumni NIAPP 2018,” ungkap mahasiswa asal Ponorogo, Jawa Timur. Setelah dinyatakan lulus, Luthfin dan 19 peserta lainnya harus mengikuti pelatihan pre-departure terlebih dahulu. Pelatihan akan dilaksanakan di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 12-16 Agustus 2019 mendatang. Pada sesi ini peserta dibekali terkait pengendalian ternak, kesejahteraan hewan, hingga sejarah program NIAPP. Selanjutnya, Lutfin juga akan berada di Kementrian Pertanian RI untuk melaksanakan acara pelepasan oleh Dirjen Peternakan. Perjalanan Luthfin di Australia akan berlangsung selama 10 minggu yang berisi pelatihan dan magang di Nothern Territory, Australia terhitung mulai tanggal 25 Agustus hingga 31 Oktober 2019 nanti. Ternyata, keputusan Luthfin berangkat ke Australia harus meninggalkan kesempatan lainnya. “Sebenernya aku sedikit dilema waktu diterima NIAPP. Pasalnya tiga minggu sebelumnya aku dinyatakan lolos TF Scale (Temasek Foundation Specialists’ Community Action and Leadership Exchange) ke Singapura,” ungkapnya. “TF Scale adalah mimpiku sejak semester dua, pun program NIAPP juga mimpiku sejak semester tiga. Akhirnya setelah ku fikirkan matang-matang, NIAPP agaknya akan banyak memberiku ilmu tentang peternakan dan pengalaman skala internasional, maka aku putuskan untuk mengundurkan diri dari TF Scale,” katanya Sabtu (10/8). Beruntungnya, Luthfin mendapatkan pembiayaan akomodasi program ini secara penuh (full funded). NTCA, pemerintah Australia dan Indonesia-Australia Red Meat and Cattle Partnership akan membiayai seluruh kegiatan sejak keberangkatan dari Bali menuju Darwin, Australia serta akomodasi selama sepuluh pekan di Australia. Luthfin berharap perjalanannya sejak seleksi hingga selesai program NIAPP 2019 dapat menginspirasi semua pihak, utamanya mahasiswa jurusan peternak UMM sehingga dapat terus berkiprah di dunia peternakan hingg ke skala internasional. “Tak ada usaha yang sia-sia, gemparkan langit dengan doa-doa,” tandasnya.  (*can)