UMM Hadirkan Ilmuan Diaspora dari Swinburne Australia, Bagi Kiat Songsong World Class University

Di era industri 4.0 ini, berbagai dimensi kehidupan musti berbenah. Pola lama yang dipakai, musti diubah dengan mengintegrasikan dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ditelurkannya. Termasuk perguruan tinggi juga tidak boleh ketinggalan melakukan penyesuaian. Salah satunya dengan memberikan kuliah yang berbasis dalam jaringan (daring/online). “Metode tersebut sudah diterapkan dengan baik di Swinburne University of Technology,” jelas Dr. Dina Wahyuni, dosen Swinburne University of Technology Australia saat menghadiri Penguatan Program Internasionalisasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuju World Class University, Rabu (21/8). Dina adalah salah satu ilmuan diaspora dari Indonesia yang menjadi dosen tetap di luar negeri. Lulusan S1 Universitas Negeri Jember, Jawa Timur ini membagikan pengamatan lingkungan akademik universitas kelas dunia di Australia, khususnya di mana dirinya mengajar sebagai seorang diaspora Indonesia. “Di sana, seluruh kualitas perguruan tinggi dinilai oleh customer, yakni mahasiswa,” tuturnya. Hal tersebut meliputi pengajaran di kelas, kompetensi dosen dan kualitas bahan ajar. Perguruan tinggi tempat Dina mengajar selalu mendapat urutan pertama dalam pelayanan pendidikan. Ia pun juga menjelaskan betapa ketatnya suasana akademik di Swinburne. “Jika dosen berhalangan hadir, ia tak bisa mengganti kelas sesuai kehendak,” katanya. Dosen, lanjutnya, harus menghubungi partner mengajarnya dan kelas harus tetap berlangsung karena semua sudah tersistem. Setiap proses belajar mengajar berlangsung, secara otomatis akan direkam dan mahasiswa dapat memutar ulang setelah kelas berlangsung. Ada tiga macam dosen di Swinburne. Teaching Only, Research Only dan Conventional. Teaching Only tidak memiliki kewajiban untuk meneliti, tugasnya hanya mengajar. Sedang, dosen konvensional berkewajiban meneliti dan mengajar. Pembedaan ini adalah upaya untuk tetap memfokuskan lembaga pendidikan dalam melaksanakan cita-cita dan kewajibannya. Ekosistem riset yang ada di tempat Dina mengajar juga tak jauh-jauh dari keadaan di Indonesia. Sedikit bedanya adalah penelitian besar-besaran yang diprakarsai oleh Pemerintah. “Tahun ini, kami sedang meneliti emisi karbon,” ungkap Dina. Menurut Dina, untuk menuju World Class University butuh keseriusan membentuk budaya akademik yang baik. Mulai dari riset hingga pelayanan pendidikan pada para mahasiswa. Dirinya pun mencontohkan, saat ia mengajar, memiliki tanggung jawab mengajar 1000 mahasiswa pada satu mata kuliah. Kemudian ia bagi menjadi dua kali pertemuan yang artinya, satu kali pengajaran ada 500 mahasiswa yang diajar dalam kelas besar. Kelas teori hanya berlangsung 2 jam. Selanjutnya adalah kelas tutorial yang dibagi dalam kelas-kelas kecil bersama para instruktur masing-masing. Selain kelas secara langsung, ada juga kelas online. Kelas online tidak berarti sepenuhnya online. Tetap ada 12 kali pertemuan tatap muka yang dilakukan. Rupa kelas online ini hampir sama seperti yang diterapkan Universtias Terbuka di Indonesia. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, Wakil Rektor I UMM menerangkan jika World Class University (WCU) adalah ikhtiar UMM. Jalan menuju visi itu perlu ditempuh dengan baik. Salah satunya melalui kesungguhan memberikan outcome berupa publikasi ilmiah. Telah banyak wadah-wadah untuk publikasi ilmiah dan harus bisa di manfaatkan dengan baik. Selain itu, bagi Syamsul, universitas-universitas di Indonesia perlu juga belajar dari beberapa universitas-universitas yang telah menjadi rujukan perguruan tinggi-perguruan tinggi dunia. “Kita punya peluang besar untuk menjadi salah satu universitas terbaik di dunia,” tuturnya. (mir/can)
Rawat Spirit Toleransi, Mahasiswa UMM Inisiasi Rumah KeBhinnekaan

Bertepatan dengan momen bersih desa Pandesari Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 114 meresmikan Rumah KeBhinnekaan yang berada di daerah Punden Ki Hajar Seguh selaku pembedah kawasan Dusun Sebaluh. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan ini didasari perbedaan agama di Dusun Sebaluh dan selama ini warga bisa hidup rukun dengan memegang teguh toleransi antar umat beragama. Peresmian Rumah KeBhinnekaan berlangsung bersamaan dengan prosesi tasyakuran di area Punden, Selasa (13/8) yang dihadiri warga Dusun Sebaluh serta para sesepuh. Koordinator KKN 114 UMM Wildan Arif menegaskan, pembangunan Rumah KeBhinnekaan oleh mahasiswa KKN 114 UMM didasari pada keberadaan beragam agama yang hidup rukun, tanpa pernah terjadi konflik. “Selain itu, wargapun masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, tanpa membedakan agama,” ungkap Wildan saat diwawancarai, Rabu (21/8). Di dalamnya, selain bisa digunakan sebagai ruang pertemuan, juga terpasang gambar dan simbol dari masing-masing keempat agama, kitab dan buku referensi setiap agama, serta prasasti yang sudah ada sebelumnya. “Di tengah mengerasnya hubungan antar elemen di Indonesia , kehadiran Rumah KeBhinnekaan diharapkan bisa membantu meredam ketegangan ini. Selain itu juga, diharapkan menjadi contoh sekaligus inspirasi perwujudan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” lanjut Wildan. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan diharapkan bisa menjadi tempat pertemuan para tokoh agama di Dusun Sebaluh, agar toleransi beragama di Dusun Sebaluh tetap terjaga. Di Dusun Sebaluh sendiri terdiri dari 4 agama yakni Islam, Hindu, Kristen, dan aliran kepercayaan Sapta Dharma. “Di dusun ini, empat agama ini bisa hidup rukun-guyub. Misalnya, ketika masyarakat beraga Islam membangun masjid, masyarakat agama lain juga turut membantu mendirikan. Demikian juga dengan pendirian tempat ibadah lainnya,” tutur Wildan. Kepala Dusun Sebaluh Imam Bashori mengapresiasi gagasan para mahasiswa kelompok KKN 114 UMM yang telah menginisiasi sebuah wadah berupa Rumah KeBhinnekaan. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan ini nantinya bakal dijadikan sebagai tempat pertemuan kegiatan warga, baik itu rapat ataupun pertemuan lainnya. “Dengan adanya gagasan dari teman-teman KKN UMM ini, warga Dusun Sebaluh berterimakasih sekali. Rumah ini bisa jadi tempat memediasi kalaupun suatu saat ada masalah,” ungkap Imam di sela acara peresmian. Tak hanya pendirian Rumah KeBhinnekaan, selama 30 hari mahasiswa kelompok KKN 114 yang didampingi Ianatut Thoifah, S.Pd.I, M.Pdi. telah melakukan pengabdian lainnya. Antara lain melakukan penyuluhan pencegahan struk di Posyandu, menghiasi jalan dengan papan penunjuk jalan di wilayah Dusun Sebaluh, memberikan les sekolah gratis bagi anak-anak, memberikan bimbingan belajar mengaji bagi warga muslim, serta menyelenggarakan lomba tradisional di momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia. (*)