Persembahkan Kursi Wisuda VIP untuk Orang Tua

Bercita-cita mengantarkan kedua orang-tuanya untuk duduk di kursi VIP wisuda, Siti Malikatul Mushowwiroh mahasiswi angkatan 2015 Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) terbaik dengan angka 3.98 pada gelaran wisuda ke-93 periode III UMM. Selain ingin membanggakan orangtua, wanita yang akrab disapa Malika ini memiliki motivasi lain yang ingin ia capai, yakni dengan mencatatkan namanya sebagai wisudawan terbaik asal Lombok. Seperti yang telah diraih oleh seniornya yakni Alhamdu Ramadhan (IPK 3,99). Selain itu ia juga disupport oleh senior lain yang tak kalah berprestasi seperti Lutfiya Al Qarani dan Alwafi Ridho Subarkah. Menjadi mahasiswi yang awalnya hanya kupu-kupu (kuliah-pulang), membuatnya bosan dengan ruitinitas yang hanya itu-itu saja. Hingga akhirnya ia aktif di beberapa organisasi seperti Indonesia International Studies Academic Utilization Community (IISAUC) UMM, English Debating Society-International Language Forum, Centre of Intermestic Studies, dan Model United Nation Club UMM. “Untuk siklus perkuliahan, aku termasuk orang yang biasa-biasa aja. Kayak, ada kan, orang yang siklus perkuliahannya dia rajin banget terus ulet banget atau yang males banget atau yang sedang-sedang saja. Nah, aku adalah orang yang sedang-sedang. Karena dari awal perkuliahan itu, aku enjoy aja nggak terlalu sampe yang rajin banget,” cerita Malika saat diwawancarai Selasa (27/8) siang. Malika lantas membagi tips manajemen waktu. ”Seenggaknya kita harus ada prioritas sendiri dalam perkuliahan, bahwa aku ini di kelas keaktifannya bagaimana di luar kelas keaktifannya bagaimana. Jadi, aku membagi waktuku menjadi 60-40. 60% di kelas sedangkan untuk 40%-nya aku aktif di luar kelas, karena kita juga harus menyeimbangkan antara akademik dan non-akademik,” tuturnya. Selama kuliah, banyak pengalaman yang Malika peroleh. Utamanya pengalaman internasional. Di tahun 2017, Malika menjadi University’s delegation untuk Asia-Pasific Model United Nations Conference (AMUNC) di Hongkong University, Hongkong; peraih juara pertama Essay Competition di Asia –Oceania Symposium, serta; salah satu dari 20 pemenang dari Write to China Essay Competition di Beijing. “Dari awal saya sudah memiliki set prioritas agar bisa lulus dengan nilai sempurna dan menjadi yang terbaik. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara, sehingga saya minimal wajib memberi teladan yang baik untuk kedua adik saya nantinya,” pungkas putri pasangan Muhammad Zaini M.Sy dan Khairul Bariyah S.Pd ini. Malika mengaku bangga mempersembahkan gelar wisudawan terbaik ini untuk keduanya. (riz/can)
Kunci Kemajuan Bangsa Ada di Kebudayaannya

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) Hilmar Farid menyebut, kunci kemajuan setiap bangsa sesungguhnya terletak pada kebudayaannya. “Percuma saja kita menggunakan teknologi yang maju. Akan tetapi, ketika kebudayaannya tidak maju, tidak ada gunanya kita menggunakan smartphone tercanggih tapi masih percaya kepada hoax. Ini adalah salah satu problem kebudayaan,” kata Hilmar. Hilmar hadir saat didapuk mengisi orasi ilmiah pada gelaran wisuda ke-93 Periode III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Sabtu (31/8) siang. Prosesi wisuda juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, Ketua Badan Pembina Harian UMM yang Juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., perwakilan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafri Syairin, Ph.D. “Kita bisa melihat persoalan seperti ini dalam kehidupan sehari-hari banyak fasilitas publik yang dirusak, karena kemungkinan besar penggunanya dan tidak ada informasi yang cukup untuk orang mengupgrade pengetahuannya,” ungkap Hilmar. Dalam setiap menyelesaikan permasalahan, diperlukan pemimpin di era Industri 4.0 yang punya kemampuan berkomunikasi, kecepatan mengambil keputusan, serta kolaborasi. Dan di tiap tingkatan ini sangat diperlukan kerjasama. Sementara itu, Menteri Muhadjir juga turut berpesan kepada para wisudawan. Bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah bukan sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi juga kemampuan beradaptasi untuk menguasai situasi yang terus berubah dan situasi yang terus berkembang. “Pesan saya kepada wisudawan dan wisudawati agar memiliki kemampuan tingkat adapatasi itu, jangan sampai terdistrupsi karena gagal dalam beradaptasi,” ujar Muhadjir. Tak kalah penting, Ketua Badan Pembina Harian UMM yang merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI, Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. juga turut berpesan. Saya harapkan seluruh wisudawan dan wisudawati menjadi sarjana-sarjana di era digital sekaligus, yang mampu menyongsong, mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Yang selalu menjaga Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan selalu teguh berpegang ideologi falsafah Negara Pancasila,” kata Malik. Wisuda kali ini mengukuhkan kelulusan bagi Program Pendidikan Doktoral, Magister, Sarjana, Diploma III dan Program Pendidikan Profesi. Keputusan ini berdasarkan yudisium serta hasil rapat pimpinan 15 agustus 2019. Jumlah lulusan wisuda 93 periode III sebanyak 2461 orang, terdiri dari 1084 wisudawan 1377 wisudawati. Pada gelaran akhir wisuda juga diserahkan kartu alumni yang diserahkan secara simbolik oleh Rektor UMM Fauzan. (riz/can)