Begini Kiat Menjadi Perawat yang Mendunia

Ahli keperawatan dari Universitas Negeri Jember, Ns. Tantut Susanto, M.Kep., Sp. Kep. Kom., PhD. menyebut, agar bisa menjadi perawat muda dan mendunia, mahasiswa harus mengenali talent dan passion. Ketika keduanya telah ditemukan, mereka perlu motivasi dan penyusunan goal atau tujuan apa saja yang ingin mereka raih. Selanjutnya, mereka juga harus melakukan aksi yang dibarengi dengan pembelajaran sepanjang hidup. Demikian disampaikan Guest Lecture di San Carlos University Filipina ini dalam gelaran kuliah tamu Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES-UMM) dengan tema “Perawat Muda, Mendunia”, Sabtu (7/9). Jika seseorang dapat menemukan talent dan passionnya, maka orang tersebut pasti akan memiliki nilai atau value yang berbeda dibandingkan dengan yang lain. Tantut juga menambahkan perlunya maintenance long life learner, di mana mahasiswa generasi Z, harus berkarya dan aktif untuk memajukan keperawatan. Tantut juga menyampaikan mengenai bagaimana perjalanan hidup dan karir sebagai seorang akademisi di bidang keperawatan. Tantut sendiri menyelesaikan jenjang pendidikan sebagai perawat diawali dari program diploma III Keperawatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 1998. Setahun setelah mendapatkan pengalaman bekerja, Ia melanjutkan pendidikan kembali di Program Studi Sarjana dan Ners Keperawatan di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 2005, Ia kemudian memulai karir nya sebagai akademisi di Universitas Negeri Jember. Program Magister Keperawatan dan Spesialis Keperawatan Komunitas telah Ia selesaikan dari Universitas Indonesia pada tahun 2011. Di tahun 2014, Tantut juga mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri di jenjang Doktoral, yakni di Kanazawa University, Jepang. (*/can)
Ajak Anak-anak Diet Sampah Plastik Pakai Totebag

Banyak cara untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. Salah satunya dengan mengkampanyekan penggunaan totebag atau kantung berbahan kain yang dapat digunakan berkali-kali. Kampanye yang dilakukan mahasiswa prodi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut dicontoh. Dengan tema “Revitalisasi Gerakan Berliterasi, Bersosial, dan Berbudaya” sekelompok mahasiswa yang tengah menjalankan praktikum melakukan kampanye anti kantong plastik melalui penggunaan kantung berbahan kain atau totebag. Sejak 5 hingga 6 September 2019 kemarin, anak-anak menjadi target kampanye peduli lingkungan ini. Berbeda dengan totebag pada umumnya, mahasiswa bersama Komunitas “Kampung Sinau” memberikan sentuhan seni pada desain, gambar juga tulisan. Sementara, untuk gambarnya, mahasiswa menggunakan teknik cukil. Tulisannya menggunakan tiga bahasa yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Teknik cukil dipilih karena mudah saat pengaplikasiannya ke media totebag yang bakal dilukis dan ditulis. Tidak hanya itu, teknik cukil juga dipilih lantaran mempermudah anak-anak dalam membuatnya. Karena sasaran kegiatan ini melibatkan secara langsung anak-anak didik Kampung Sinau, Kelurahan Cemorokandang, Malang. “Kegiatan ini merupakan sebuah gerakan kepedulian kami terhadap bahaya sampah plastik. Sekaligus mengajak masyarakat terutama anak-anak untuk menyebarkan semangat mengurangi kantong plastik” ujar Wenty selaku wakil ketua di Perpustakaan Kampung Sinau, usai melakukan kegiatan ini. (*/can)