Tips Mendapatkan Beasiswa ke Amerika ala Alumni Fulbright

Siapa yang tidak kenal United States of Amerika (USA), apalagi jika berkesempatan untuk bisa kuliah di negeri Paman Sam ini. Dr. Ike Sari Astuti selaku alumni dari program Fulbright yakni sebuah program beasiswa untuk pertukaran pelajar internasional untuk sarjana, pendidik, mahasiswa pasca sarjana dan profesional, turut berbagi tips mendapatkan beasiswa bergengsi ini. “Pertama, kalian harus tau mau mengambil apa ingin belajar apa atau terkait dengan yang mau diteliti itu apa saat di USA. Selanjutnya atau yang kedua, yakni mempersiapkan berkas-berkas yang akan dikirim dan ketiga harus tahu banget subjek apa yang harus diambil dan kita bisa memperkirakan berapa lama jangka waktu kuliah kita di sana,” ucap Ike saat mengisi di Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (19/9). “Yang aku tahu, UMM ngasih tempat. Kalo fasilitas lain lebih dari American Corner (Amcor), US Embassy, dan American Indonesian Exchange Foundation (Aminef), dan yang pasti datang ke acara seperti ini turut memotivasi kita untuk melajutkan Master,” lanjutnya. Setidaknya ada empat pemateri yang menghadiri U.S Graduate Fair 2019 ataupun Educatian USA, yakni Austin Simon dari NYU-School of Professional Studies, Robert Coffey dari Michigan State University, Susan Carvalho berasal dari University of Alabama dan Dr. Ike Sari Astuti dari Fullbright Alumni. Sedangkan Susan Carvalho berasal dari University of Alabama menjelaskan tentang peluang kerja saat kuliah di Amerika, pekerjaan di kampus baik yang terkait dengan sesuai bidang maupun yang belum dirilis. Karena sebagian besar universitas memiliki daftar online (setidaknya gaji pekerjaan minimum US dengan upah 7,25 US Dollar/jam). “Dan ini adalah saat yang tepat untuk memulai perjalanan belajar ke Amerika serta memperkuat hubungan baik antara Amerika dan Indonesia,” tandas Mark McGovern, Konsul Jenderal di Konsulat Jenderal (Konjen) AS untuk Indonesia kawasan Timur, saat memberikan sambutan dalam pembukaan US Graduate Fair 2019. “Ini artinya kita memiliki tanggung jawab, tanggung jawab bersama. Tentu saja untuk dapat ke Amerika tidak bisa sembarangan. Kita harus memiliki persiapan yang matang agar mampu membawa nama Indonesia dan Unversitas Muhammadiyah Malang di kancah dunia,” pungkas Dr. Fauzan. M.Pd selaku rektor UMM dalam kesempatan yang sama. (riz/can)
Dosen Peternakan UMM: Bioteknologi, Solusi Ketahanan Pangan dan Pelestarian Lingkungan

Ketahanan pangan menjadi topik yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Tidak hanya di Indonesia saja, ketahanan pangan juga kerap kali menjadi pembahasan yang serius di kancah Internasional. Untuk itu mengharuskan adanya peningkatan hasil pangan, baik dari pertanian maupun peternakan. Akan tetapi, peningkatan hasil pangan tersebut tidak dapat menyaingi tingkat pertumbuhan populasi penduduk setiap tahunnya. Oleh karena itu, dikhawatirkan pada masa mendatang, akan mengalami kekurangan pangan. Berbagai cara dilakukan untuk menunjang ketahanan pangan. Salah satunya dengan inovasi teknologi untuk memecahkan kekurangan pangan, yaitu melalui bioteknologi. U.S. Embassy Jakarta bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar “Biotechnology Youth Outreach” di Aula Biro Administrasi UMM (18/09). Prof. Bambang Sugiharto, Director of Indonesian Biotechnology Information Centre dalam presentasinya membahas mengenai Agricultural Biotechnology. Ia mengungkapkan, keuntungan bioteknologi tanaman tersebut tidak hanya untuk menyediakan kesediaan pangan yang lebih banyak. “Pengembangan bioteknologi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, serta kualitas dan nilai nutrisi pada makanan. Bioteknologi sendiri juga sejalan dan mendukung pelestarian lingkungan. Sehingga Bioteknologi bisa sebagai solusi ketahanan pangan,” sebut Bambang. Sejalan dengan Bambang, Dr. Aris Winaya, M.Si, dosen Peternakan UMM mempresentasikan pemanfaatan bioteknologi dalam upaya konservasi hewan ternak. Tujuannya agar masyarakat dapat mempertahankan plasma nutfah agar tidak punah. Untuk memproteksi hewan lokal yang menjadi potensi di Indonesia, bisa dilakukan degan mengidentifikasi, mengkarakterisasi serta memonitor hewan-hewan lokal yang dirasa terancam punah. Selain itu, penggunaan dari ternak lokal harus dilakukan secara berlanjut, dan tidak berhenti sehingga gen tetap tersedia dalam jangka waktu yang lama. Material sampel genetik harus cukup untuk disimpan dalam rangka memastikan keamanan gen unik lokal yang terancam punah. “Kita juga perlu mengembangkan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang mendukung perlindungan genetik sebagai strategi untuk tetap menjaga keunikan genetik hewan-hewan lokal,” ujar Aris. Menurut Aris, kearifan lokal merupakan strategi yang cukup jitu untuk menjaga genetik dikarenakan Indonesia yang masih menghormati kearifan lokal yang digagas oleh leluhur mereka. Dengan begitu penjagaan genetik dilakukan oleh segala penjuru masyarakat. (bel/can)
Sensasi Asik Berkebun Ala Agribisnis Corner UMM

Pilihan tempat untuk berwisata telah banyak tersedia di berbagai tempat. Berkunjung ke Air Terjun hingga wahana permainan ekstrem mungkin sudah biasa. Tapi, berkebun mungkin menjadi salah satu alternatif yang unik. Selain dapat belajar bercocok tanam, juga dapat belajar menjaga dan merawat bumi. Prodi Agribisnis Fakultas Ilmu Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya Wisata Sayur Sehat. Dikelola di bawah naungan Agribisnis Corner, Wisata Sayur Sehat dapat dikunjungi pada hari Selasa, Rabu dan Jumat oleh civitas akademik dan umum. Para pengunjung dapat merasakan sensasi memanen berbagai macam sayuran. Di antaranya Sawi Daging, Okra, Terong, Brokoli Hijau dan Kacang Panjang. “Jangan khawatir, nanti akan kami ajari cara memetiknya,” tutur Ary Bakhtiar, SP. MSi, Ketua Agribisnis Corner. Suasana sejuk alam perkebunan, menambah asiknya kegiatan berkebun. Setelah memetik, sayur-sayuran akan ditimbang dan dikemas apik untuk dibawa pulang. Selain memetik sendiri, pengunjung juga dapat memilih sayuran yang sudah dikemas. “Harganya sangat terjangkau,” jelas Ary. Wisata yang berdiri satu bulan terakhir sejak akhir Agustus ini juga akan mengajarkan pengunjung cara merawat tanaman sayuran. Satu bulan terakhir saja, sudah begitu banyak wisatawan dari luar Kota Malang yang berkunjung. Sebagiannya adalah para pengunjung yang sedang studi banding ke UMM. “Maka sekalian wisatanya ke Sayur Sehat,” kata Ary. Ary tidak menjalankan Wisata Sayur Sehat ini sendirian. Ia dibantu oleh para mahasiswa Prodi Agribisnis untuk perawatan. Menurutnya, mahasiswa perlu berpraktek nyata. Maka dari itu, perlu banyak kesempatan yang diberikan pada para mahasiswa. Bagi pria kelahiran Banyuwangi ini, mahasiswa Agribisnis sangat kurang jika hanya belajar memasarkan produk pertanian saja. Wisata Sayur Sehat ini jadi laboratorium terapan mahasiswa UMM untuk berpraktik. (mir/can)
Harapan Lulusan PPG UMM yang Mengajar di Pelosok Negeri

Menjadi seorang tenaga pendidik tentu merupakan sebuah cita-cita yang mulia, demi membangun bangsa yang berkemajuan. Hal ini juga dilakukan oleh Valensius Sugiharto yang telah mendedikasikan diri untuk mengajar di SDN Wongkol Torok Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Mengajar di sekolah yang terletak di tempat dengan kategori sebagai desa tertinggal, ada banyak kendala yang dihadapi. Seperti sarana dan prasarana yang belum mendukung, media pembelajaran yang digunakan kurang, fasilitas gedung sekolah pun belum mendukung sehingga ada begitu banyak kendala,” ujar Valensius saat ditemui di Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tak hanya itu saja, kendala yang Valensius hadapi yakni memang sekolah tempat Ia mengajar itu di lingkungan yang notabene profesinya bercocok tanam, dengan tingkat pendidikan orang tua yang kebanyakan putus sekolah. “Saat lulus SD banyak yang tidak melanjutkan sekolah untuk membantu perekonomian orang tua,” jelasnya, Rabu (18/9). Perjuangan pria yang masih berstatus guru honorer inipun patut diacungi jempol dalam menangani 160 siswa yang ada di SDN Wongkol Torok. Dengan jarak dari rumah sejauh 3 kilometer dan jalan berbatu, Valensius rela-bersusah-susah, demi memperjuangkan perbaikan pendidikan bagi para siswanya. “Selain itu kendalanya adalah meskipun saya memiliki kendaraan, namun saat musim hujan di sekolah kami itu lumpur semua. Sehingga guru dan siswa itu tidak ada yang menggunakan sepatu dan saya harus berjalan kaki untuk menuju sekolah,” sambungnya. Pria Lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini, berhasil menjadi salah satu peserta Program Profesi Guru (PPG) Daerah Khusus (Dasus) yang diprogramkan oleh pemerintah sebagai perwakilan dari sekolah yang terletak pada tempat yang dikategorikan sebagai desa tertinggal lewat Pretest Uji Kompetensi Guru (UKG). “Sedari awal itu memang berdasarkan Pretest UKG, sehingga saat di konfirmasi tempo hari oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) saya dan seorang rekan yang berasal dari Manggarai Barat berhak mengikuti pendidikan PPG selama 3 bulan di UMM,” ujar Valensius. Dalam perjalanan waktu selama tiga bulan itu, pelaksanaan kegiatan PPG 8 hari di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) lalu dilanjutkan dengan kegiatan pendidikan di UMM selama dua bulan dan setelah itu, praktek lapangan selama tiga minggu. “Saya harap kedepannya, kesejahteraan para pendidik ataupun para guru honorer terus diperhatikan oleh pemerintah,” pungkasnya dalam gelaran kelulusan dan penyerahan sertifikat pendidik Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Periode II Tahun 2019 dengan jumlah lulusan sebanyak 380 orang terdiri dari 112 atau 29% laki-laki dan 268 atau 71% perempuan. PPG Dalam Jabatan (Daljab) sebanyak 291 orang. Terdiri dari 260 lulusan yang berada di dalam naungan Kemenristek Dikti dan 31 lulusan di bawah naungan Kementerian Agama. PPG Pra Jabatan sebanyak 81 orang, dan PPG SM3T sebanyak 8 orang. “Saya harap dengan hadirnya kalian di tengah-tengah masyarakat sebagai seorang tenaga pendidik, itu nanti bisa menjadi tonggak kecerahan masa depan bangsa di masa yang akan datang,” tandas Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd selaku Dekan FKIP UMM. (riz/can)