Buka INCLAR FH UMM, Syamsul Arifin: Islam dan Demokrasi Harus Bersinergi

Digelar selama dua hari (24-25/9) di Hotel Purnama Kota Batu, International Confrence on Law Reform (INCLAR) Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibuka oleh Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Di hadapan profesor dari berbagai negara Syamsul mengatakan, di masa mendatang Islam dan demokrasi harus bersinergi. Berkaca dari konflik pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilihan Presiden tahun 2019 Syamsul mengatakan bahwa sikap elit politik mencerminkan bahwa demokrasi di Indonesia hanyalah prosedural. Syamsul lantas mengutip konsep demokrasi ideal yang dikemukakan oleh Larry Diamond bahwa demokrasi memiliki empat konsep dasar. “Pertama, kompetisi untuk kekuasaan, dimana pemerintah dipilih dan digantikan melalui pemilihan yang adil dan gratis,” jelas Syamsul. Kedua, Rakyat berpartisipasi sebagai warga negara dalam kehidupan politik dan sipil. Ketiga, hak asasi manusia seluruh warga negara dilindungi oleh negara. Terakhir, hukum yang diberlakukan tidak pandang bulu, berlaku secara merata untuk semua. Menurut Syamsul, perilaku elit politik tidak mencerminkan negara demokrasi yang menggunakan ujaran kebencian untuk mendukung kepentingan salah satu pihak. Demokrasi seharusnya menghargai pilihan orang lain dan melindungi pilihan orang lain. Tidak malah memanaskan tensi yang sudah panas sejak pemilihan gubernur DKI Jakarta. Para elit menggunakan konsep populisme untuk menjalankan kepentingannya. Di mana mereka menyatukan banyak organisasi Islam dengan background tertentu dengan menyebut sebagai kepentingan agama untuk mengusung kepentingan orang tertentu. Maka rakyat, elit dan pemerintah semakin terpecah belah. “Gerakan Islam yang mengendarai populisme harus disertai dengan demokrasi yang sehat,” tegas Syamsul. Sampai sekarang, menurut Syamsul wacana populis dan bentuk aksinya masih terjebak dalam isu-isu primordial yang masih sering muncul dalam kepentingan kontestasi elektoral politik. Seharusnya, sambung Syamsul, para elit politik membawa wacana populis ditujukan untuk membawa kesadaran kepada masyarakat bahwa agenda utama dari reformasi adalah penegakan hukum, hak asasi manusia, pemberantasan korupsi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (Usa/Can)
UMM dan Singapore Polytechnic Dampingi UKM Pasarkan Produk

Keterbatasan Usaha Kecil Menengah (UKM) memasarkan produk menjadi perhatian sekelompok anak muda ini untuk melakukan pendampingan khusus. Sebanyak 45 pemuda yang merupakan gabungan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan siswa Singapore Polytechnic (SP) membantu membuat strategi pemasaran ke sejumlah UKM. Mereka menyasar UKM berkomoditas sambal, keju, dan bayam. Proyek inovasi sosial ini dikerjasamakan antara Tamasek Foundation International-Specialist Community Action and Leadership Exchange (TFI-SCALE) dan Learning Express (LeX). UMM dan SP sendiri sudah 4 tahun menjalin kerjasama dan dijalankan melalui proyek inovasi sosial berbeda. “TFI-SCALE dan LeX merupakan satu program rangkaian bagian dari kerjasama,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP. “Aksi ini bertujuan untuk melihat proses dan situasi bagaimana usaha kecil menengah dapat memasarkan produknya. Selain itu, mencari beberapa masalah ketidakefektifan yang dialami untuk ditemukan solusi dan inovasi yang dapat dikembangkan dalam beberapa hal, seperti model pemasaran dan packaging produk,” jelas Dr.Ir. Listiari Hendraningsih, selaku sekretaris Internasional Relation Office (IRO) UMM (24/09). Program ini terdiri dari 22 mahasiswa UMM dan 23 siswa SP. Terbagi dalam tiga grup yang masing masing diisi oleh 8 orang dari UMM dan 7 orang dari SP. Terdapat 6 orang fasilitator dan 2 koordinator dari UMM, serta 2 fasilitator dan 1 koordinator dari SP. Dilanjutkan dengan LeX, selama 2 minggu di Indonesia, khususnya di UMM sebagai bentuk implementasi kegiatan yang sudah didapat selama di Singapura. Dilanjutkan Listiari, terdapat 5 acuan langkah yang dipakai, yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. Acuan ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang pembuatannya. Pada saat closing ceremony program acara akan ada output berupa rekomendasi model pemasaran yang akan diperlihatkan pada para pelaku usaha. TFI-SCALE sendiri sebetulnya juga sudah dilakukan di Singapura selama 3 minggu. “Kami mempelajari banyak hal mulai dari analisis Statistika, Ibco Spotfire dan Microsoft Power BI guna menganalisis pola konsumsi masyarakat ASEAN. Sementara di akhir kegiatan membuat kampanye green consumption untuk mengajak masyarakat ramah lingkungan” ujar Ayu, salah satu mahasiswa UMM yang menjadi peserta LeX. (yas/can)