D3 Keperawatan UMM Raih Akreditasi A

Setelah Program Studi (Prodi) Magister Agribisnis berhasil mempertahankan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk periode 2019-2024, kini giliran Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memperoleh akreditasi A (sangat baik). “Uji kompetensi kita mengikuti ukuran standar nasional. Dimulai dari Try Out, Uji OSCE (Objective Structured Clinical Examination) dan sebagainya. Mengenai uji kompetensi, rata-rata kita sudah mencapai 85% ke atas di tiap tahunnya. Serta optimis dalam mendapatkan nilai A,” ungkap Kaprodi Reni Ilmiasih, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp. Kep.An. Melihat kinerja dan kualitas yang ditampilkan dengan maksimal, maka berdasarkan rapat acara Pleno Majelis Akreditasi No . 009/LAM-PTKes/BAAkr/IX/2019 tanggal 29 September 2019 memutuskan Prodi D3 Keperawatan UMM berhasil meraih Akreditasi A dengan nilai 367. Sebelumnya, untuk periode 2014-2019 prodi ini berakreditasi B. “Kita harus mempersiapkan segala sesuatu, agar kualitas tetap menjadi yang utama. Dari jauh-jauh hari kita telah menyiapkan tim yang benar-benar memiliki kualitas. Sehingga dokumen-dokumen tertata, kemudian kita juga familiar dalam membuat nilai dan mengupayakan agar mahasiswa menjadi lebih kompeten,” lanjut Reni. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, Prodi ini mengoptimalkan bimbingan akreditasi dari kantor akreditasi UMM. “Sehingga kita upayakan pelaporan dilakukan sedetail mungkin. Kita telah compare dengan Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA). Artinya persiapan telah kita buat matang,” ujar Reni (14/10). Setelah mendapat akreditasi A, Reni merasa Prodi yang dipimpinnya memiliki tanggung jawab kian besar. Saat ini yang menjadi tantangannya maupun output ke depan adalah dalam bidang karir. “Karena lebih banyak profesi yang mengutamakan S1, sehingga harus mengedepankan mobilitas untuk persiapan ke dunia kerja,” tandasnya. (riz/can)

Tim LSLC FKIP UMM Siap Dampingi Sejumlah SMP di KWB

SEMANGAT mengimplementasikan kurikulum 2013 mendapatkan angin segar dan gairah baru dengan akan segera diimplementasikannya program Pendampingan Lesson Study for Learning Community (LSLC) oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke beberapa SMP di Malang Raya. Program ini bersinergi dengan pembinaan profesi, penjaminan mutu internal dan penguatan inovasi pembelajaran di sekolah dalam menjawab tantangan pembelajaran abad 21. Pendampingan LSLC merupakan program yang dibidani Dra. Ninik Purwaning Setyarini, M.A, Kasubdit Kurikulum Direktorat PSMP Kemendikbud RI dan team kerja yang berasal dari staf direktorat serta  24 dosen alumni STOLS Japan dari berbagai perguruan tinggi. Melalui program, 64 SMP yang tersebar di 8 Zona (Padang, Bengkulu, Bogor, Jogja, Gresik, Malang, Kediri dan Lombok) akan mulai melakukan lokakarya, open plan, open class dan refleksi pembelajaran mulai bulan November 2019. Semangat menggalakkan kembali Lesson Study (LS) yang sudah berkembang menjadi Lesson Study for Learning Community ini didorong oleh keinginan pemerintah untuk membangun budaya belajar secara mandiri baik pada guru maupun siswa. “Sementara itu tumbuh dan berkembangnya budaya belajar mandiri merupakan karakter dan kompetensi yang diperlukan untuk mengarungi dan memenangkan hidup pada abad 21 yang semakin desruptif ini,” ungkap Drs. Nurwidodo, M.Kes., penanggungjawab LSLC. Program pendampingan LSLC berbasis zonasi ini, maka untuk zona Malang, tertunjuk sebagai implementor adalah sejumlah SMP di Kota Wisata Batu. Team konsultan LSLC di Zona Malang digawangi oleh tim LSLC FKIP UMM ditambah dari UM. Team LSLC FKIP UMM terpilih sebagai pendamping sekolah tidak dapat dilepaskan dari reputasi tim FKIP yang telah melakukan inisiasi LSLC di Malang Raya sejak tahun 2012. Tim LSLC FKIP juga telah mendampingi implementasi LSLC di sekolah, bahkan mempromosikan karya tulis guru berbasis LSLC sampai ke dalam publikasi tereputasi. “Konsistensi dalam pembinaan LSLC di sekolah se Malang Raya selama lebih dari 7 tahun tersebut, menjadikan FKIP UMM mendapatkan kepercayaan sebagai konsultan sekaligus pendamping sekolah untuk implementasi LSLC ini,” terang Nurwidodo, dosen Pendidikan Biologi UMM. Implementasi LSLC akan dimulai dengan kegiatan workshop, open plan, open class, refleksi dan penyusunan RTL. Pada tanggal 13 sd 15 November di Zona Malang akan melaksanakan kegiatan tersebut dan menghadirkan SMPM 8 untuk melaksanakan open lesson dan akan dihadiri oleh 55 orang observer yang berasal dari Direktorat PSMP, LPMP Jatim, Dinas Pendidikan Kota, beberapa Kepala Sekolah dan Guru Mapel yang terundang. “Program pendampingan LSLC ini dikembangkan di atas landasan filsafat sekolah sebagai taman terbuka, sekolah sbg tempat penyemai keunggulan dan sekolah sebagai pelayan hak hak anak. Ujung ujungnya program ini didedikasikan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di SMP,” ungkap Nurwidodo (15/10). Pendampingan LSLC yang telah memilih beberapa SMP sebagai piloting di Zona Malang harus disambut dengan antusias karena sangat bersinergi dengan penjaminan mutu internal (SPMI) pada aspek pembelajaran dan pembinaan profesi guru (double helix) di sekolah. “Sudah cukup lama program ini kita impikan dan kini pemerintah telah memberikan dukungan sangat signifikan,” tandasnya. (*/Can)