Satu-satunya Perwakilan Swasta, UMM Targetkan Juara Bertahan di KJI dan KBGI Jakarta

SETELAH berjaya di gelaran Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) di Politeknik Negeri Ujung Pandang tahun 2018 yakni dengan masing-masing mendapat juara 1 dan juara 3, Surya Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap unjuk gigi dan menargetkan dominasi kemenangan di KJI dan KBGI XI tahun 2019 di Politeknik Negeri Jakarta. Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI tahun ini nampaknya, bakal berjalan cukup kompetitif. Empat tim di bawah bimbingan Ir. Moh. Abdul, ST., MT., IPM selaku pembina berhasil lolos di partai final 10 besar, mengalahkan saingan perguruan tinggi (PT) lain se-indonesia. UMM menjadi satu-satunya perwakilan PT Swasta. Keempat tim yakni Gajendra, Maheswara Team, Great Apollo, dan Dandelion Diamond yang proposalnya berhasil lolos bersaing dengan 50 proposal lainnya. Sepuluh finalis akan presentasi proposalnya di Jakarta. “Hanya UMM yang menjadi kampus swasta yang berhasil lolos, bersanding dengan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, UB, Politeknik Negeri Bandung, UI dan PTN lain di Indonesia.” tambah Abdul. “Kegiatan ini sangat dibanggakan oleh Rektor, juga kesempatan yang baik untuk menorehkan prestasi kembali dan dapat menjembatani ilmu yang didapat dengan konsentrasi akademis yang memang kalian tempuh. Dalam ajang ini juga dapat membentuk nama baik kalian sebagai finalis dan fakultas teknik,” ujar Dr. Ir. Samin, MT. selaku Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM dalam sambutannya di hadapan finalis. Di tahun 2014, UMM merupakan tuan rumah penyelenggaraan KJI yang ke-10 dan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan, keduanya selalu diadakan di kampus negeri. UMM menjadi tuan rumah pertama dari kalangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di ajang itu, tak sekedar menjadi tuan rumah, UMM berhasil menggeser dominasi kemenangan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, dan PTN lainnya. Para finalis juga mempertontonkan bentuk realisasi miniatur jembatan dan bangunan dari setiap tim, sehingga para mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana proses persiapan para tim. Mulai dari pemotongan bahan, pemasangan ornamen, finishing dengan percobaan pemberian beban, diuji dengan goyangan dan sebagainya, sehingga nanti pada presentasi di Jakarta sudah mengetahui ketahanan miniatur. (*)

Tindaklanjuti Mandat KLHK, UMM Bakal Jadikan KHDTK sebagai Agropark

PASCA menerima mandat sebagai pengelola Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa bulan lalu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menindaklanjuti mandat itu dengan melakukan survei penentuan lokasi pembangunan sarana dan prasarana ke depan. Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., bahwa keleluasaan sebagai pengelola kawasan hutan ini akan menjadi energi baru bagi UMM dalam pendampingan pada masyarakat. Selain itu, hutan KHDTK juga akan menjadi laboratorium lapangan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh elemen civitas akademika Kampus Putih UMM. “Saya rasa menjadikan tempat ini sebagai kawasan Agropark sangat cocok. Selain untuk kawasan pertanian-peternakan terpadu yang sekaligus sebagai pusat laboratorium FPP, bisa juga digunakan oleh jurusan lain. Umpamanya saat kita ingin mengembangkan pusat tanaman herbal,” ungkap Fauzan, saat survey lapangan. Melibatkan Biro Perlengkapan, Biro Perencanaan dan beberapa tim yang berasal dari Program Studi (Prodi) Kehutanan hingga Ketua Tim Teknis PLTMH UMM. “Setelah kegiatan survei ini, nanti baru kita tentukan lokasi mana saja yang akan dibangun,” ujar  Tatag Muttaqin S.Hut., M.Sc., IPM., Ketua Prodi Kehutanan UMM, Rabu (23/10). Berada pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung Perum Perhutani petak 43A, 44I, 44K-1, 44K-2, 44L dan BE BKPH Pujon KPH Malang dengan luas total 75.09 Ha. “Sesuai dengan fungsi hutan lindung untuk melindungi kawasan, tanaman yang ada di lahannya meliputi suren, eukaliptus, mahoni, hingga tanaman buah,” lanjutnya. Pada hutan produksi UMM terdapat damar dan pinus, dengan luas hutan produksi 20 Ha, selebihnya hutan lindung. Adapun yang mendapat tugas untuk membantu mengelola hutan hingga saat ini ialah Prodi Kehutanan salah satunya sebagai tempat praktik umum seperti manajemen hutan, penentuan fungsi hingga hidrologi. (Riz/Can)

Lembaga Kebudayaan UMM Kemas Batik Tembus Pasar Milenial

LEMBAGA Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM), Jum’at (25/10) siang, menyelenggarakan Workshop Marketing Batik bagi para pelaku batik di Jawa Timur. Pelatihan ini diikuti oleh 62 peserta yang berasal dari  unsur pengrajin, pengusaha, dan start up dari Malang Raya dan sekitarnya. Mengusung tema “Batik Lokal menembus pasar Milenial” LK UMM mengundang para pakar di bidangnya yang menunjang pengembangan marketing batik. Eggy Andalas selaku penanggung jawab workshop menuturkan antusias pelaku batik tinggi begitu sosialisasi workshop dihelat oleh panitia dari LK UMM. “Awalnya kami hanya menyediakan quota untuk 50 orang saja. Namun karena permintaan yang tinggi kami menambahkan sejumlah kursi lagi. Mereka datang dari Kota Malang, Kepanjen, Batu, dan ada yang dari luar kota misalnya dari Jombang.” Jelas Eggy di temuai di sela acara di Auditorium Biro Administrasi Umum UMM. Menurut Eggy materi yang dirancang LK UMM menjadi salah satu daya tarik peserta. Misalnya ada materi Fotografi Produk Batik yang akan disampaikan oleh seorang fotografer profesional, Afifah Rachmawati mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, pendiri Vhee Design ini dikenal sebagai fotografer spesialis produk. Selain Fifi dengan materi fotografi, peserta Workshop akan dikenalkan lebih dalam dengan materi Bisnis Batik Online oleh Didiet Trismawan, praktisi Digital dan fasilitator Gapura Digital. Tidak lupa sebagai mitra LK UMM, Soendari Batik and Art berbagi pengalaman melalui materi Mengelola Bisnis Batik di era milenial. Melengkapi workshop yang akan digelar sehari penuh, LK UMM juga mengundang perwakilan Bank Jatim untuk melakukan sosialisasi komitmen Bank Jatim terhadap geliat perdagangan dan industri kreatif bagi peserta workshop. Event ini sekaligus menghadirkan semua elemen untuk mengarus utamakan batik sebagai fasion. (*)

Lembaga Kebudayaan UMM Persembahkan Motif Batik Khas KWJ

Rangkaian merayakan hari Peduli Batik Nasional digelar Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah (LK-UMM) dengan berbagai kegiatan. Mengambil tema, “Batik Menembus Ruang dan Waktu” pada Jum’at (25/10) hari ini, LK UMM mengundang 62 orang pelaku batik yang terdiri dari pengrajin, pengusaha, dan start up untuk mengikuti workshop Marketing Batik menyongsong Era Milenial. Keesokan harinya, Sabtu (26/10) siang, kegiatan dilanjutkan dengan launching Batik Motif, kerjasama dengan Sundari Batik and Art, yang dibuat khas Kampung Warna-Warni Jodipan, kampung tematik garapan mahasiswa praktikum Ilmu Komunikasi UMM, serta lomba mewarnai motif batik untuk anak setingkat Taman Kanak-Kanak, dan Lomba Fashion Show Busana Batik untuk siswa SMA se Malang Raya. “Batik menembus Ruang dan Waktu bermakna batik pantas untuk berbagai golongan sosial dan generasi. Generasi Tua maupun generasi muda, orang desa maupun orang kota, budaya tradisional maupun modern, golongan sosial miskin maupun kaya, mereka yang berpendidikan tinggi maupun rendah, profesional maupun pekerja serabutan,” jelas Dr Daroe Iswatiningsih Msi, Kepala LK UMM. LK UMM sejak lama menaruh perhatian khusus pada Batik. Beberapa kali sudah menggelar even serupa. Mulai dari seminar, pameran, riset desain batik motif daerah Jawa Timur, dan pelatihan membatik. Semua dilakukan sebagai wujud rasa cinta dan bangga pada warisan leluhur. “Disamping batik memiliki nilai filosofi dan bisa sebagai media pembentukan karakter bangsa,” sambung Daroe. “LK UMM bekerjasama dengan Sundari Batik and Art ingin menambahkan sedikit konstribusi dengan mempersembahkan motif batik khas Kampung Warna-Warni Jodipan. Sehingga selain pengecetan rumah juga jembatan kaca yang didesain oleh Fakultas Teknik, motif batik khas KWJ juga diharapkan menambah daya tarik,” kata Rahmawati Khadijah Maro, M.PEd, ketua pelaksana Festival Batik 2019. Kata Fida Pangesti selaku penanggung jawab launching, event akan diiringi oleh kegiatan fasion show. “LK UMM mengundang mahasiswa asing yang tergabung dalam program BIPA – Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing- dari berbagai negara untuk berlenggak lenggok di catwalk dengan mengenakan busana batik rancangan siswa-siswi SMK 3 Kota Malang,” tuturnya dengan bangga di sela workshop. Berdasarkan daftar nama yang ada, akan dihadirkan sekitar 20-an mahasiswa asing yang bakal terlibat dalam Launching. Fashion show menampilkan mahasiswa dari Jepang, Korea selatan, Thailand, dan Azerbaijan. Pengunjung juga dihibur oleh permainan alat musik angklung yang dimainkan mahasiswa BIPA UMM dari Jepang, Hongaria, Palestina, Afganistan, Vietnam, Serra Leone, Thailand, dan Mesir. (*)