Menko PMK Orasi di Wisuda UMM: Pendidikan Tinggi Penentu Kualitas Manusia Indonesia

Gelaran wisuda periode IV Tahun 2019 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dihadiri Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK RI) Prof. Dr. Muhadjir Effendi, M.AP, Sabtu (30/11). Muhadjir memberi orasi ilmiah di hadapan 1514 lulusan dari berbagai jenjang, yakni Program Pendidikan Doktor (S3), Program Pendidikan Magister (S2), Program Pendidikan Sarjana (S1), Program Pendidikan Diploma Tiga (D3), dan Program Pendidikan Profesi. Dalam kesempatan itu, Muhadjir secara khusus membahas fokus pemerintah Presiden Joko Widodo di periode kepemimpinannya yang kedua, terkhusus terkait amanah yang dibebankan kepada Muhadjir. Ia menegaskan hal yang menjadi tugas Kementerian yang dipimpinnya terdapat di antara 9 poin misi Presiden Indonesia 2019-2024. Yakni peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan yang merata dan berkeadilan, serta kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa. “Karena itu, indikator makro yang akan menjadi ukuran dari Kemenko PMK yaitu, pertama tentang memerangi kemiskinan. Kedua adalah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, dan yang ketiga adalah memperkecil Indeks Gini Rasio (satuan untuk mengukur tingkat ketimpangan, red.),” demikian diungkapkan Muhadjir, tugasnya ini tidak bisa dikerjakan secara maksimal jika hanya dibebankan kepada satu pihak. Berbagai pihak termasuk perguran tinggi juga musti turut andil. Disebut Muhadjir, Rektor Kampus Putih UMM Periode 2000 hingga 2016 ini,  berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2019, kondisi ketenagakerjaan nasional tercatat sebanyak 2,55 juta angkatan kerja baru. “Sumber daya manusia angkatan kerja kita adalah 57,54% berpendidikan SD dan SMP sederajat, dan 30% pendidikan SMA/SMK sederajat. Sedangkan prosentasi angkatan kerja pendidikan Diploma, Sarjana dan S2 dan S3 hanya 12,4% saja,” sebut Muhadjir. Disebutnya, lulusan UMM yang saat ini diwisuda  merupakan bagian dari 12,4% angkatan kerja yang sekarang ini akan siap memasuki dunia kerja. Adapun prosentase pengangguran terbuka saat ini adalah 5,28% atau 7,05%. “Jadi angka pengangguran terbuka kita cukup tinggi yaitu 7% lebih. Berdasarkan data tersebut dalam pendidikan ada dua hal yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. Yakni masih terbatasnya akses dan rendahnya kualitas pendidikan tinggi kita,” tutur Muhadjir dalam orasinya.  “Meski UMM saat ini sudah 12 tahun bertengger di puncak tertinggi untuk perguruan tinggi se-Jawa Timur. Tapi saya mohon untuk para pengelolanya tidak puas, harus terus mengejar ketertinggalan yang lain dan harus berada di depan. Kemudian yang lebih penting lagi adalah data ini menunjukkan bahwa pendidikan kita masih sangat perlu ditingkatkan dalam kaitannya dengan penguasaan sains teknologi engineering dan matematik atau yang biasa disebut STEM,” ungkap Muhadjir. Kehadiran Menteri Muhadjir juga sekaligus meninjau progres pembangunan unit bisnis baru milik UMM yakni Rayz Hotel Sengkaling. Seperti unit bisnis lainnya, Rayz Hotel Sengkaling sekaligus bakal dijadikan laboratorium terapan bagi civitas akademika Kampus Putih. Keberadaan Rayz Hotel Sengkaling menambah jumlah hotel yang dimiliki sebelumnya, yakni Kapal Garden Hotel di Taman Rekreasi Sengkaling UMM.  Ditargetkan, pembangunan bakal rampung keseluruhan bulan Februari tahun depan. Ketua Badan Pembina Harian yang sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI) Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc mengingatkan, penyelenggaraan wisuda kali ini bertepatan dengan bulan lahirnya Muhammadiyah yang ke-107. Perjalanan Muhammadiyah tentu saja, selama 107 tahun ini, yang menjadi titik fokus perhatian adalah pembangunan sumberdaya manusia, sumber daya umat. Hal ini sejalan dengan upaya yang tengah diikhtiarkan Menko PMK RI. BaPada hakikatnya, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah menempatkan posisi pembangunan sumberdaya manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan umat dan bangsa. “Oleh karena itu, saya berpesan kepada wisudan dan wisudawati yang dikukuhkan kesarjanaannya, jangan lupa mengembangkan pembangunan sumberdaya manusia untuk menyongsong masa depan yang begitu dinamis dengan segala perubahannya,” pesan Malik. Dengan menukil salah satu ayat al Quran, Malik kembali berpesan untuk senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif atau dalam bahasa Al Quran “khusnudzon”. “Itulah, modal yang sangat penting. Karena kalau kita mampu mengembangkan pikiran-pikiran positif, maka hidup kita menjadi produktif. Dan, Insya Allah, menjadi sehat wal ‘afiat dan selalu mengembangkan menabur kebajikan untuk kepentingan semua. Semoga gelar sarjana ini dapat melahirkan pikiran-pikiran lebih positif,” tandasnya. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan prestasi yang diperoleh UMM dalam kurun tiga bulan terakhir. Mulai September hingga November, ada 44 prestasi berbasis lomba yang telah diraih mahasiswa UMM. Enam jenis prestasi tingkat regional, 32 prestasi tingkat nasional, dan 6 prestasi tingkat internasional. Sementara secara institusional, berdasarkan penilaian Kemenristekdikti terhadap kinerja penelitian, UMM tetap bertahan dalam klaster Mandiri. Begitupula kinerja dalam pengabdian kepada masyarakat, UMM berada dalam klaster Unggul. Selain penyelenggaraan wisuda yang ke-94 kalinya ini, sebelumnya pada tanggal 26 November 2019 Fakultas Teknik (FT) telah mengukuhkan 7 orang lulusan Insinyur (Ir.). Serta, pada 23 Oktober 2019 Fakultas Kedokteran (FK) telah melaksanakan Pelantikan dan Sumpah Dokter kepada 68 orang Sarjana Kedokteran (S.Ked.) sebagai dokter (dr.). Sementara itu, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga telah meluluskan 872 orang dari Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG)  sebagai Guru (Gr.).(can/geng)

Sophia Mega Ajak Generasi Milenial Kenali Potensi Diri

Jadi influencer, youtuber atau admin media sosial barangkali jadi profesi yang kian digemari di era digital. Bagaimana tidak, beberapa profesi yang memanfaatkan platform digital ini tak perlu khawatir dengan tekanan dan terikat jam kerja. Generasi milenial, seperti halnya Sophia Mega Sabila, barangkali salah seorang anak muda tekun nan ulet yang mampumemanfaatkan berbagai kecanggihan platform digital seperti video blog (Vlog), Instagram, Twitter, atau YouTube untuk menjalankan profesi plus hobinya. Dara lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dikenal, jika tak berlebihan, sebagai salah satu influencer yang cukup diperhitungkan. Mega, sapaan akrabnya, punya sejumlah saluran khusus untuk menyuarakan kegelisahan, minat dan hasil pembelajarannya selama menempuh perkuliahan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Hari ini, Sabtu (30/11), Mega duduk dideretan kursi istimewa bersama dengan lulusan terbaik lainnya dengan raihan indeks kumulatif (IPK) 3,85. Selain aktif di dunia digital, ia juga aktif sebagai pegiat gerakan literasi non-daring. Hal itu berawal dari dirinya yang tak mengerti memilih dan memilah buku yang seharusnya dibaca untuk menggali pengetahuan. Namun, semenjak Mega aktif menjadi Booktuber (saluran reviewer buku di Youtube), ia sering bertemu orang-orang yang gemar pula membaca dan mengulas buku. “Merekalah yang memberi tahu aku buku mana yang direkomendasikan untuk dibaca dan mana yang tidak,” ungkapnya. Mega aktif menulis di beberapa platform media, terutama buku kompilasi. Awal tahun 2019 ia menelurkan karya anyar pribadinya yaitu “Lo Ngerti Siapa Gue: Membangun Personal Branding melalui Media Sosial Tanpa Perlu Jadi Selebgram”. Mega mengajak untuk mengenal diri.  “Aku nangkap fenomena, banyak anak setelah lulus nggak semuanya tahu dia harus ngapain,” jelasnya. Padahal, sambung pemilik akun @personadiri ini, setiap orang sebenarnya bisa menemukan potensi pada dirinya. Selain itu, di buku setebal 159 halaman itu juga turut menjelaskan tentang media sosial bukan tentang seberapa banyak follower atau menjadi selebgram. Meskipun pada kenyataannya pikiran untuk menjadi yang terbanyak pengikutnya selalu muncul. Namun, ada alternatif lain dalam menggunakan media sosial, yaitu menciptakan personal branding yang memberi manfaat dalam kehidupan kita. Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu dituntut untuk menjadi orang lain. Mega mengaku merasa lebih nyaman untuk berkegiatan di luar seperti membuat media sendiri, ikut event ataupun mencari pengalaman kerja. Ketika ditanya tentang bagaimana menyeimbangkan kegiatan di luar kampus dan kewajiban akademik, ia mengaku menyiasatinya dengan mengerjakan berbagai kewajiban tugas kampus dengan baik. “Ditambah aktif memperluas wawasan dan banyak baca di luar dari bahan bacaan yang diwajibkan di kelas,” kata alumni Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang ini. Menurut pendiri kanal kapankamunikah.com ini, ketika memilih aktif di luar kampus diperlukan konsistensi yang bagus. “Dilurusin niatnya, sering banget anak yang berkegiatan banyak di luar itu menegasikan kuliah,” ujarnya. Padahal, lanjutnya, kuliah itu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, melalui kuliah juga sebenarnya dapat menjadi akses memperluas jaringan hingga ilmu-ilmu baru. Intinya menurut Mega, kuliah harus diniatkan demi mempersiapkan bekal hidup di masa mendatang. Mega memang merupakan salah satu mahasiswa berprestasi kepunyaan Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Ia beberapa kali mendapatkan juara pertama di berbagai ajang lomba Public Relations tingkat nasional. Salah satunya di bulan Oktober 2017, yakni lomba Marketing Public Relations yang digelar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). “Dari awal aku kuliah, aku sudah memutuskan kalau tempatku bukan di dalam kampus,” ungkap putri dari pasangan bapak Syamsul Arifin dan ibu Nur Hasanah ini. (mir/can)

Cinta Al Quran, Hafidzah Ini Sabet Gelar Wisudawan Terbaik

Menyeimbangkan sisi akademis dan spiritualitas merupakan hal yang tidak mudah, khususnya bagi kalangan remaja. Namun tidak bagi Dewi Nur Diana, mahasiswa  Fakultas Ilmu Agama Islam Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode IV Tahun 2019 ini berhasil membuktikan bahwa kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan. Selain meraih IPK nyaris sempurna 3.97, Diana, demikian panggilan akrabnya juga berhasil menghafal 30 juz Al Qur’an. Hafidzah putri dari bapak Aimadudin dan ibu Mukhlisah ini juga telah mengikuti berbagai perlombaan dalam bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Ia pun meraih beberapa prestasi, salah satunya Juara I dalam Festival Al-Qur’an Perguruan Tinggi Muhammadiyah – Aisyiyah Tingkat Nasional. Menurut Diana, mengikuti perlombaan sejenis MTQ menjadi salah satu resep untuk menjaga hafalannya. “Selain itu, setiap harinya muroja’ah setengah juz setelah shalat subuh dan shalat magrib. Sebulan sekali saya juga ikut kegiatan sema’an yang ada di Kota Malang dan muroja’ah di UKM MTQ,”. Kecintaan Diana pada Al Quran diakuinya tidak muncul begitu saja. Kisah ini bermula saat dirinya berusia 12 tahun dan mulai  bersekolah di pesantren tahfidz SMP IT Ibnu Abbas Klaten, Jawa Tengah. Sang ayah menginginkan putri ke tiga dari lima bersaudara ini, menjadi penghafal Al-Quran. Namun sayang, Diana tidak memiliki ketertarikan yang sama. “Sebelumnya saya hanya ingin masuk pesantren saja, tidak ada keinginan untuk menghafal. Akan tetapi, karena disana diwajibkan untuk menghafal, akhirnya saya memaksa diri. Ternyata enjoy dan mampu menyelesaikan hingga akhir,” tutur Diana. Tidak sedikit bagi para penghafal Al-qur’an merasakan sulitnya berkomitmen untuk menjaga hafalan. Hal ini juga diakui Diana. Menurutnya,menjaga hafalan, tidak bisa hanya sesekali saja tanpa diulang-ulang. Semua juga harus diamalkan. Selain itu, manajemen waktu dan kemampuan menyeimbangkan ritme aktivitas sehari-hari juga menjadi kunci, agar aspek lain seperti dunia akademik misalnya,  tidak terbengkalai. “Berbagai cara harus dilakukan,” tambah Diana yang juga kerap diminta menjadi juri dalam berbagai perlombaan tahfidz. Usai menyelesaikan studi strata 1, Diana berharap bisa segera meneruskan ke jenjang Strata 2 Jurusan Keguruan Bahasa Arab. Ia juga ingin ilmu yang dimilikinya segera dapat diamalkan segera dengan maksimal. Kelak suatu hari, ia pun berkeinginan untuk menjadi Direktur Sebuah Pondok Tahfidz. “Setidaknya jadi istri direktur pondok. Punya yayasan, lalu mengembangkannya seperti Ayah. Ayah sendiri mengelola Yayasan Rahmatan lil Alamin, dari PAUD IT, TK IT, sama SD IT Cinta Islam. Saya sekarang sevisi sama ayah, kalau di dalam Al Quran, ini jalanku untuk menyeru kepada Allah. Terutama ketika melihat lingkungan rumah. Saya dan ayah ingin mendidik lingkungan sekitar kami dengan Al Quran,” pungkasnya. (bel/can/sil)