UMM Genjot Percepatan Peningkatan Guru Besar

Direktur Karir dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kemenristekdikti, Prof. Dr. Benyamin Maftuh, M.Pd., menghadiri acara silaturahmi dengan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (17/12). Kegiatan yang diikuti 140 dosen tetap berkualifikasi doktor/Ph.D ini sebagai strategi peningkatan jabatan akademik dosen menuju guru besar/profesor. Dalam sambutannya, Prof. Syamsul Arifin mendorong agar dosen dapat meningkatkan kualitasnya. Salah satunya dengan memenuhi syarat berupa publikasi, baik artikel maupun penelitian yang merupakan syarat dalam pengajuan guru besar. Menurutnya, di UMM sendiri selalu mengapresiasi segala kegiatan yang dilakukan oleh dosen, terutama dalam hal publikasi. Lebih lanjut, Syamsul berharap dengan adanya kegiatan ini dosen dapat terus menapaki jenjang karir yang semakin meningkat. Dengan meningkatnya karir dosen, sehingga peninngkatan kualitas akademik secara umum terpenuhi. “Guru besar itu bukan hanya untuk kepentingan kita, akan tetapi guru besar itu untuk kepentingan lembaga, untuk meningkatkan performa lembaga,” sebut Syamsul. Sementara itu, Benyamin menyebutkan terdapat beberapa skema yang perlu dilalui oleh lektor kepala menuju profesor, diantaranya, telah memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan, memiliki karya ilmiah yang dipublikasisan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi sebagai penulis pertama, sertifikasi dosen, serta memiliki kinerja, integritas, etika dan tata krama dan tanggungjawab. “Jika dosen ingin melakukan kenaikan jabatan akademik atau loncat jabatan ke profesor dapat dipenuhi dengan persyaratan menulis empat tulisan di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama dan memenuhi persyaratan lain untuk menduduki jabatan tersebut,” sebut Benyamin. Dalam paparannya, Benyamin mengatakan hanya terdapat 2,4% saja dari sekitar 280 ribuan jumlah dosen di Indonesia yang sudah menjadi guru besar. Itu artinya, jabatan fungsional guru besar di Indonesia sangat elite. Oleh karena itu, kata Benyamin, Kemenristekdikti akan terus bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk memotivasi para dosen agar terdorong hingga menempuh jenjang profesor. (can/bel)

Prodi Bahasa Inggris UMM Gelar Pameran Inovatif Media Pembelajaran

Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar English Learning Media Expo 2019 di lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama I, Rabu (18/12). Pameran media pembelajaran ini merupakan rangkaian akhir dari mata kuliah Sumber dan Media Belajar semester 3 dengan dosen pengampu Laela Hikmah Nurbatra, MA., M. EdLead dan Rahmawati Khadijah Maro, S.Pd, M.P.Ed. Dengan mengusung tema, “When Media Meets Creatiyity” Laela memaparkan, event ini digelar sebagai wadah mahasiswa dalam berkreativitas dan memberi ruang pada pembuat media yang menaruh perhatian dalam IT. Tetapi tidak menuntut kemungkinan, lanjut Laela, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa yang minat pada media pembelajaran lainnya, seperti boardgames dan pop up book. “Ini sebagai jembatan kepada mahasiswa yang memiliki digital skill yang bagus, dan juga memiliki kreativitas serta inovasi agar menjadikan media pembelajaran lebih menarik dan lebih bisa diterima oleh generasi milenial,” sambung Laela. Sebanyak 54 kelompok memamerkan media pembalajaran yang sesuai dengan target pembelajar yang diinginkan. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk menentukan alat serta materi apa yang akan disajikan dalam media pembelajaran tersebut berdasarkan silabus yang digunakan target pembelajar. “Yang terpenting, selain harus menarik juga harus dapat menunjang proses belajar mengajar di kelas nantinya. Gunanya untuk membantu mahasiswa atau pembelajar tingkat sd, smp, sma, bahkan universitas dalam belajar bahasa inggris,” sebut Laela. Variasi media pembelajarannya sangat banyak, mulai dari bentuk kerajinan, boneka, software aplikasi komputer juga gawai, video animasi, hologram hingga Augmented Reality. Yang menarik misalnya, media pembelajaran yang dibuat Ajeng, Hamdan dan Ardiansyah yang membuat media pembelajaran Hologram. Media ini dapat melihat sekaligus  mendengar gambar visual secara 3 dimensi. Objek gambar bergerak yang umumnya terlihat dua dimensi, melalui inovasi ini terlihat seperti sungguhan. “Diharapkan, media pembejaran digital ini mampu membuat anak-anak antusias mengikuti pembelajaran,” kata Ajeng. Sementara itu, Rahmawati mengapresiasi hasil karya mahasiswa sangat kreatif dalam mengaplikasikan materi Bahasa Inggris dan penggunaan teknologi. Sehingga media pembelajaran yang dipamerkan sangat beragam dan melebihi ekspektasinya. “Harapan ke depannya, Expo ini dapat dihadiri oleh guru pengajar di Kota Malang. Sehingga beliau dapat menambah referensi dalam penggunanaan media pembelajaran yang nantinya akan digunakan dalam pengajaran di kelas. Karena ini berdasarkan –pre-learning objective, mahasiswa eksplore kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran di kelas,” pungkas Rahmawati. (can/bel)

BAZNAS Diseminasikan Hasil Penelitian di UMM

Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Puskas Baznas) menggelar Seminar Nasional Zakatnomics dan Public Expose 2019, Kamis (19/12). Seminar bekerjasama dengan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI-UMM) ini mendiseminasi setidaknya lima dari tujuh belas produk penelitian yang dihasilkan sepanjang tahun 2019. Seminar nasional ini mengangkat tema “Penguatan Pilar-Pilar Riset Zakat Menyongsong Renstra BAZNAS 2020”. “Dalam rangka meningkatkan implementasi pendistribusian dan pendayagunaan zakat, BAZNAS memandang sangat penting program-program tersebut bisa berdasarkan riset-riset dan kajian. Karena kita ingin sekali program-program yang kita implementasikan di lapangan bisa terus-menerus kita kembangkan berdasarkan hal-hal yang kita temukan di lapangan,” terang Muhammad Hasbi Zaenal, Ph.D, selaku Kepala Puskas BAZNAS dalam sambutannya. Untuk mewujudkannya, BAZNAS sejak tahun 2017 sudah mengembangkannya melalui lembaga program Pusat Kajian Strategis BAZNAS. Selama kurun waktu dua tahun belakangan ini, sudah banyak kajian-kajian yang dihasilkan yang segera diimplementasikan dalam setiap program yang dimiliki, serta diaplikasikan ke cabang BAZNAS seluruh Indonesia. Hasil-hasil penelitian tersebut di diseminasi dengan menghadirkan para dosen UMM sebagai panelis di tiap sesi. Agenda seminar sehari ini, dilanjutkan Hasbi, juga sekaligus ikhtiar dalam pengarusutamaan konsep ekonomi Zakatnomics, yang didefinisikan sebagai kesadaran untuk membangun tatanan ekonomi baru untuk mencapai kebahagiaan, keseimbangan kehidupan dan kemuliaan hakiki manusia yang didasari dari semangat produktifitas, semangat berekonomi sedekah (secara halal) serta semangat mengejawantahkan zakat, infak sedekah dan wakaf dalam praktik kehidupan. BAZNAS telah meletakkan ajaran suci zakat sebagai inspirasi peradaban dalam bidang ekonomi. BAZNAS mengajak para ekonom agar menempatkan zakat menjadi sebuah sistem yang holistik.  “Dana zakat dan intermediasinya adalah social finance, tapi ajaran ekonomi zakat sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 60, mengandung sekurang-kurangnya 4 pilar perjuangan yaitu tauhid, produktivitas, muamalah yang halal, dan implementasi ekonomi berbagai,” terang Hasbi. Pilar pertama Zakatnomicss adalah Tauhid yang berarti bahwa Tuhan dari Aktivitas ekonomi adalah uang. Apa yang dikejar dan dicari dari aktivitas ekonomi adalah keimanan yang kuat terhadap Allah Maha Pemberi Rizki. “Ketaatan kepada Allah sebagai Tuhan dari perilaku ekonomi ini menjadi landasan pokok ekonomi Zakat,” ungkap Hasbi di hadapan civitas akademika Kampus Putih dan ratusan peserta yang berasal dari undangan yang hadir. Pilar kedua Zakatnomics adalah produktivitas, di sini zakat berfungsi memberdayakan, mengajari dan mendorong masyarakat untuk hidup sebagai insan yang produktif. Menurut Hasbi, produktivitas bukan diukur dari seberapa besar hasil yang didapat dan membandingkannya dengan upaya yang dilakukan. Konsep produktivitas adalah semangat memproduksi gagasan kerja dan hal-hal positif dari seorang manusia untuk dapat mempersembahkan karya peradaban. Pilar ketiga Zakatnomics adalah ekonomi syariah. Pilar ekonomi dan syariah ini adalah pengaplikasian ekonomi secara halal dan toyib. “Kitab muamalah harusnya menginspirasi bahwa dalam berkehidupan ini tidak boleh riba, ghoror, mencuri, mengurangi timbangan, adil membayar upah selagi keringatnya belum kering, dan lain sebagainya. Hal demikian, sebagaimana diajarkan oleh Rosulullah dan Sahabat serta orang-orang shaleh,” katanya. Pilar terakhir atau keempat Zakatnomics adalah mengaplikasikan zakat, infak sedekah dan wakaf. Karena peradaban dermawan ini harus dipraktikan. “Dimana, orang kaya para muzakki mengeluarkan dana zakatnya. Amil mengelolanya, mustahik kaum dhuafa berdaya dan asnaf lainnya bangkit dan kuat dengan dana zakat yang diterimanya. Keempat pilar perjuangan ini harusnya bisa melandasi seluruh jiwa ekonomi, inilah konsep Zakatnomic,” tutur Hazbi. Selain diseminasi hasil riset 2019, diharapkan syiar zakat melalui hasil riset Puskas BAZNAS selama tahun 2019 ini dapat dirasakan manfaatnya oleh berbagai lapisan masyarakat secara luas, kegiatan ini menjadi ajang penajaman konsep Zakatnomics dan menghasilkan resolusi penting pengembangan riset zakat dalam rangka mendukung pencapaian target-target Renstra BAZNAS tahun 2020 bersama para peneliti, praktisi, akademisi zakat, media dan masyarakat umum. Rektor UMM Dr. Fauzan, MPd. saat didapuk membuka acara mengungkapkan bahwa dunia zakat adalah dunia pragmatis yang didasari oleh suatu keyakinan teologinya tinggi. Sehingga, trust atau kepercayaan atas dijalankannya manajemen perzakatan juga musti tinggi. “Maka, selain dibutuhkan pengelolaan atau manajemen zakat yang baik, dibutuhkan juga orang-orang yang punya komitmen untuk mampu mengelola zakat agar terkelola maksimal,” ungapnya. (can)