Mahasiswa UMM Buat Aplikasi Agar Masyarakat Melek Obat-obatan

Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan di Indonesia harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, beberapa obat-obatan resmi yang dijual bebas di pasaran masih memiliki informasi yang kurang. Beberapa di antaranya sudah terdapat informasi namun jarang penggunanya yang membaca komposisinya. Hal ini dilatari beberapa alasan, seperti tulisan informasi berukuran terlalu kecil sehingga sulit untuk dibaca. Hal ini pun direspon mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat aplikasi SIPINO (SIstem Pintar INformasi Obat), sebuah sistem translator informasi obat hanya dengan memindai gambar kemasan (scan packaging). Aplikasi berbasis android besutan Oktario Aldila Fachri, Kharisma Muzaki Ghufron, dan Rahmah Hutami Ramadhani ini dibuat untuk mendukung masyarakat melek literasi kesehatan. “Teknologi untuk menunjang pembuatan aplikasi ini adalah pada proses penangkapan citra gambar dengan menggunakan teknologi Optical Character Recognition (OCR) yang kemudian diterapkan pada perangkat ponsel pintar Android melalui Tensorflow, sebuah perangkat lunak kerangka bantu untuk pengolahan gambar dari hasil penangkapan citra yang didapat dari perangkat ponsel,” jelas Oktario. Dijelaskan Oktario, literasi kesehatan umumnya dikaitkan dengan kemampuan membaca dan memahami resep obat. Sementara hasil penelitian yang mereka temukan menyebutkan bahwa tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah. Dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah, masyarakat cenderung sembarangan mengkonsumsi obat-obatan tanpa tahu efek yang bakal ditimbulkan. “Untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan dan produk-produk terkait obatan-obatan di Indonesia, dapat dilakukan dengan penyampaian informasi secara mudah dan cepat menggunakan menggunakan informasi yang sudah didapatkan melalui web resmi milik lembaga negara yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan. Aplikasi kami mempermudahnya,” ungkap Oktario saat diwawancarai Sabtu (21/12 siang. Secara umum, kata Oktario, di situs pom.go.id terdapat beberapa atribut yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi mengenai obat berdasarkan nama produk. Beberapa atribut yang ada yaitu komposisi beserta deskripsinya, bentuk kesediaan, masa berlaku dan tanggal terbit. Di substansi komposisi terdapat informasi detail mengenai informasi komposisi. Dari sinilah informasi yang akan ditampilkan pengguna. “Banyak sekali orang-orang telah menggunakan smartphone sebagai alat yang membantu kehidupan sehari-hari. Ini adalah peluang untuk mengembangankan informasi terkait obat-obatan agar mudah diakses oleh masyarakat dengan mengintegrasikan sistem informasi online milik BPOM yang dapat diakses secara publik dengan smartphone,” ungkap mahasiswa Program Studi Teknik Informatika ini. “Selain menginformasikan jenis, komposisi, dan efek obat, aplikasi ini juga memastikan apakah produk obat-obatan yang sudah dijual bebas di pasaran sudah mengantongi izin dari BPOM. Harapannya, melalui sistem yang dibangun ini dapat meningkatkan literasi kesehatan di Indonesia yang bisa digunakan oleh masyarakat dengan mudah,” ungkapnya menjelaskan karya yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa ini. (can)

Jaga Ekosistem Sungai Brantas: Dari Tanam Pohon hingga Tebar Benih Ikan

Aksi bersih-bersih sungai atas kepedulian terhadap sampah, membuat berbagai elemen terjun ke lapangan. Aksi ini dilakukan sekelompok massa yang tergabung dalam Gerakan Kesadaran Alamku Hijau. Sinergitas lintas batas ini terdiri dari unsur TNI-Polri, Akademisi, Lembaga, Ormas dan Media se-Malang Raya. Berlokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Lapangan Parkir Barat Pemandian Sengkaling. “Tujuan kami selain untuk penghijauan tentu agar TNI dan Rakyat bisa membaur dan bersatu terutama dalam menghijaukan serta membersihkan kembali sepanjang aliran sungai ini. Ketika kita jaga alam maka alam akan jaga kita,” ungkap Pratu Catur Slamet Riyanto Staf Teritorial Satuan Resimen Artileri Medan 1, Minggu (22/12). Dengan menjaga kebersihan sungai, lanjut Catur, terutama letak DAS Brantas yang berada di Sengkaling merupakan bagian vital karena berada di hulu sungai. Dilakukan penanaman pohon di sepanjang aliran sungai bersama TNI, masyarakat, komunitas serta keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Kalau hulunya nanti sudah bersih, tentulah hilirnya akan mengikuti. Apalagi sengkaling ini selain bagian vital atau hulunya Brantas, kan juga daerah wisata tentu kita akan menjadi pusat perhatian masyarakat. Kalau kawasannya bersih tentu akan menjadi percontohan. Maka dari itu kita bersihkan dulu hulunya, barulah setelah itu kita bersihkan perlahan-lahan ke hilir,” jelas Catur saat di temui sela-sela kegiatan. Selain penanaman pohon, dilakukan juga penaburan benih-benih hewan Endemik. “Ini adalah penghijauan sepanjang bantaran Kali Brantas yang ada di desa Mulyo Agung atau Sengkaling dengan radius 2 KM. Juga dilakukan penebaran benih ikan yakni mujaer, wader, tawes yang nantinya saat ikan-ikan ini besar bisa dinikmati oleh warga,” ucap Dwi Rubini Ketua RW 8 Dukuh Sengkaling Desa Mulyo Agung. Diikuti oleh puluhan peserta, melalui kegiatan ini diharapkan agar seluruh elemen masyarakat tetap sadar akan pentingnya buang sampah pada tempatnya. Selain buang sampah perlu juga dilakukan penghijauan dan pemeliharaan hewan endemik, sehingga berkesinambungan antara mahluk hidup dan juga alamnya. (riz/can)

LSP UMM Gelar Workshop Harmonisasi Tata Kelola Sertifikasi Kompetensi

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Harmonisasi Tata Kelola Sertifikasi Kompetensi yang dihadiri oleh Kepala Laboratorium, Ketua Program Studi (Kaprodi) serta segenap Civitas Akademika UMM. Berlangsung di Aula GKB IV lt. 4 UMM Kampus III. Sabtu (21/12). Membahas harmonisasi skema sertifikasi kompetensi. “Di UMM setidaknya dari 65 skema yang telah ada, 100% lahir dari Prodi. Karena Prodilah yang tau mereka mengajarkan apa dan skema yang perlu dibuat apa,” jelas Ihyaul Ulum Ketua LSP UMM. Workshop ini juga sekaligus membuat Model Standar Kompetensi, SOP sistem industri, serta kurikulum dan asessmen untuk memastikan pertautan antara industri dan pendidikan. “Saya kira ada dua hal yang tekait dengan keberadaan dari LSP itu sendiri, yang pertama adalah tuntutan industri terhadap para lulusan agar siap kerja sesuai bidangnya.  Karena hingga saat ini, industri masih merasa perlu membuat manajemen training karena lulusan belum siap terjun kelapangan. Sehingga industri kadang harus menggaji mereka yg notabene belum siap terjun,” ungkap Ir. Surono. MPhil., P.G.D sebagai pemateri acara Workshop LSP UMM. “Adapun yang kedua adalah harus berkompeten, berintegritas, attitude baik, produktivitas tinggi, serta profesional. Saya rasa inilah hal yang diperlukan oleh industri saat ini,” sambung Surono. “Selain itu, sebenarnya ada 2 persyaratan yang tengah kita review salah satunya yakni memastikan bahwa Akreditas Prodi di UMM ini mendapatkan nilai minimal 3,25. Serta jumlah publikasi terutama, baik itu berupa jurnal nasional maupun internasional agar bisa mencapai nilai tersebut. Sehingga kompetensi para lulusan juga bisa siap atau tidak diterjunkan” tandas Prof. Dr. Syamsul Arifin. M.Si selaku Wakil Rektor 1 UMM. (riz/can)

Prodi Peternakan UMM Ajarkan Teknik Pakan Biogas ke Siswa Kejuruan Se Malang Raya

Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP-UMM) mengadakan Pelatihan Tematik Teknologi Pakan Ternak Berbasis Biofarm untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) wilayah Malang dan Batu. Pelatihan yang mengajarkan teknik penghijauan Silase ini digelar di Laboraorium Peternakan (21/12). Mengundang Ali Mahmud, S.Pt, M.Pt sebagai pemateri sekaligus Direktur Utama CV. Dwi Tunggal Mandiri yang mengenalkan Silase sebagai salah satu  pkan ternak berkualitas dengan teknik fermentasi penghijauan. Keunggulan teknik ini dapat menghasilkan pakan ternak dengan kadar air hingga lebih dari 70%. “Di Indonesia, olahan pakan ternak masih bergantung pada impor luar negeri. Karena keterbatasan teknologi yang dipakai. Dengan menggunakan teknik silase, bahan untuk pakan dapat mudah sekali dicari, seperti rumput gajah (pennisetum Purpureum), rumput kalonjono (Panicum Mulicum) dan tanaman jagung (Zea Mays),” jelas Ali. Terdapat tiga kelompok atau komponen bahan, yakni klompok bahan pakan hijauan yang menjadi bahan utama, bahan pakan konsentrat dan bahan pakan aditif. “Selain rerumputan sebagai bahan pakan hijauan, terdapat sisa-sisa limbah dari jerami, ampas tapioka sebagai bahan pakan konsentrat, juga butuh nutrisi mineral dari campuran urea dan mineral sebagai bahan pakan aditif,” tambah Ali. Dengan permasalahan iklim di Indonesia yang tidak menentu, menjadi ketakutan para peternak, khususnya dalam hal pakan yang menggunakan pakan hijau. Metode fermentasi silase menjadi pilihan yang tepat karena hasil fermentasi dapat disimpan dalam waktu yang lama tanpa dikhawatirkan nutrisi pakan ternak akan menurun kadarnya. Kegiatan yang diikuti oleh SMK Muhamadiyah 1 Batu, SMKN 1 Pujon dan Sekolah Pertanian Wiyata Bakti ini nantinya akan dilanjutkan dengan praktek ke Laboratrium Terpadu UMM. Mereka diajarkan seputar pembuatan pakan ternak silase dengan dicobakan langsung kepada hewan ternak, seperti sapi perah, ayam, domba, dan lainnya. (yas/can)

Mahasiswa UMM Pamerkan Ratusan Karya Inovasi Bisnis Berbasis Teknologi

Sebanyak 137 tenant berpartisipasi dalam pameran inovasi bisnis dan teknologi Young Tech Expo 2019 Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka merupakan mahasiswa semester 3 dan 5 yang memiliki inovasi yang diimplementasikan dalam bentuk inovasi produk, jasa, hingga yang baru berupa prototype. Digelar di Kantin Teknik UMM, Sabtu (21/12) pagi. Yang menarik misalnya aplikasi kesehatan bernama SIPINO, sebuah sistem translator informasi obat hanya dengan memindai gambar kemasan (scan packaging).  Aplikasi berbasis android buatan Oktario Aldila Fachri, Kharisma Muzaki ghufron, dan Rahmah Hutami Ramadhani ini dibuat untuk mendukung masyarakat melek literasi kesehatan, secara khusus mengetahui peruntukkan, efek dan komposisi obat. Dijelaskan Oktario, literasi kesehatan umumnya dikaitkan dengan kemampuan membaca dan memahami resep obat. Sementara hasil penelitian yang mereka temukan menyebut bahwa tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah. Dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah, masyarakat cenderung sembarangan mengkonsumsi obat-obatan tanpa tahu efek yang bakal ditimbulkan. “Untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan dan produk-produk terkait obatan-obatan di Indonesia, dapat dilakukan dengan penyampaian informasi secara mudah dan cepat menggunakan menggunakan informasi yang sudah didapatkan melalui web resmi milik lembaga negara yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan. Aplikasi kami mempermudahnya.” ungkap Oktario saat diwawancarai di booth milik kelompoknya. Tak kalah canggih teknologi besutan Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana yakni Integrated Forest Fire Management System atau sistem pinter yang memanfaatkan Artificial Intelligence yang digunakan untuk mendeteksi kebakaran hutan. “Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ungkap Billy. Inputan yang didapatkan dari sistem ini berupa temperatur suhu dan nyala api. “Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran. Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun dengan menggunakan teknologi pemanen embun menggunakan jaring atau Fog Harvesting. Pameran ini berangkat dari integrasi 4 mata kuliah yakni Kewirausahaan Berbasis Teknologi, Penulisan Ilmiah, Etika dan Profesi, dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Selain pameran, kegiatan juga diisi seminar dengan menghadirkan 2 pembicara, yakni Nur Putri Hidayah yang membawakan materi “How to Create a Labour Contract” dan Arini Rahmawati R. yang membawakan “How do People Work Remotely”. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menyatakan, pameran ini merupakan model pembelajaran di UMM. Bahwa belajar tidak harus di kelas, melainkan juga terjun langsung untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. “Apa yang dilakukan hari ini, bagian dari menyiapkan sejak dini untuk memasuki persaingan di dunia usaha dan industry,” tegasnya saat hadiri pameran. (can)