Konjen RI Kinabalu Malaysia Terima Kedatangan Mahasiswa KKN UMM

Sebanyak 26 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tiba di Malaysia. Para mahasiswa KKN yang datang bersama Kepala Divisi KKN Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM) Ir. Alik Anshori Alamsyah, MT., disambut oleh Konsulat Jenderal Kinabalu Sabah, Malaysia Khrisna Djelani. Dalam sambutannya, Khrisna mengungkapkan, Malaysia siap menerima pengabdian mahasiswa KKN UMM dengan program-program yang sudah dirancang termasuk bidang pendidikan. “Menjalani program pengabdian masyarakat melalui KKN ini, nantinya kalian akan turut aktif membantu proses pembelajaran di sekolah-sekolah CLC (Community Learning Center) yang membina anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sabah, Malaysia. Juga mendapat banyak pembelajaran, pengalaman dan kesan tersendiri dalam memaknai ‘nasionalisme’ di luar negeri. Jaga diri dengan baik dan harumkan nama Indonesia, selalu membawa paspor selama berada di luar negeri (Sabah, Malaysia),” pesan Khrisna. Di kota pusat pemerintahan untuk Pantai Barat negeri Sabah ini diperkirakan ada lebih dari 600 ribu Warga Negara Indonesia (WNI). Jumlah ini baru perkiraan dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kinabalu, Malaysia. “Yang tercatat di kantor kami hanya 151 ribu orang,” ujar Cahyono Rustam, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya KJRI, Kota Kinabalu saat memberi kuliah umum pada agenda Pengarahan dan Pelepasan KKN UMM semester genap 2019/2020, Senin (6/1). Rata-rata para WNI yang datang ke Kinabalu untuk bekerja. Ada yang legal, memiliki majikan dan surat izin kerja. Adapula yang ilegal melalui berbagai jalan tikus. “Tiap bulan, kami memfasilitasi pemulangan WNI oleh Malaysia. Jumlahnya sekitar 300-an orang,” tuturnya. Pekerja Migran Indonesia (PMI), sebutan pengganti TKI, tidak hanya bekerja. Ada juga yang menikah lalu memiliki anak. Anak-anak yang lahir dari hasil pernikahan para PMI ini mayoritas tidak memiliki surat keterangan resmi seperti akta kelahiran. Mereka menikah hanya dengan syarat agama. Dalam hal ini KJRI bertugas mengusahakan untuk membuatkan berbagai surat keterangan sepadan untuk anak-anak para PMI. Untuk pendidikan, anak-anak PMI tidak dapat bersekolah di sekolah negeri Malaysia. Hal ini terkait dengan undang-undang yang dimiliki Malaysia. “Bagi orang asing yang memiliki pendapatan di bawah 5.000 ringgit Malaysia, anak-anaknya tidak dapat disekolahkan di sekolah negeri,” ucapnya. Keadaan ini membuat pemerintah melalui KJRI Kota Kinabalu menginisiasi berbagai metode demi pendidikan anak-anak PMI agar tetap mendapatkan asupan pengetahuan. Indonesia melakukan negosiasi dengan pemerintahan Malaysia untuk mendirikan sekolah-sekolah alternatif. Negosiasi ini pun berhasil, Indonesia mendapatkan izin untuk mendirikan sekolah alternatif. Antusias WNI begitu besar, pada saat awal berdirinya saja ada 1000-an murid yang belajar. “Saya kira program ini harus terus ber-keberlanjutan. Alhamdulillah, dari pihak konjen juga menyambut dengan baik kegiatan ini. Apalagi tujuan kita di sini untuk mendidik anak-anak Indonesia. Adapun untuk fokusnya tetap di bidang pendidikan dengan penempatan di CLC,” ungkap Ketua Divisi KKN DPPM UMM Ir. Alik Anshori Alamsyah, MT. (riz/can)
Mobil KaCa UMM Terapkan Pendidikan Karakter lewat Meneladani Kisah Nabi

Pendidikan karakter perlu diajarkan dan ditanamkan sejak dini. Salah satu yang bisa dilakukan yakni dengan menceritakan kisah-kisah keteladanan para nabi. Seperti yang dilakukan mobil pintar Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menyambangi Rumah Dakwah “Sang Surya” di Perumahan IKIP Tegalgondo, Malang, Kamis (16/1). Sebagai salah satu badan asuhan di bawah Pimpinan Ranting Muhamadiyah (PRM), Rumah Dakwah Sang Surya berperan penting dalam melatih pendidikan karakter anak sejak dini. “Pembentukan karakter dapat membentuk kepribadian anak di kemudian hari. Melalui kisah-kisah yang disampaikan, anak-anak diajarkan tentang akhlaq. Berkiblat dengan cerita-cerita nabi dan Rasul diharapkan anak-anak dapat mengamalkan sesuai dengan ajaran agama Islam,” ucap Ustadzah Nurul, sang story teller. Rumah Dakwah juga menerapkan konsep program kegiatan belajar luar kelas, seperti outbound guna merangsang kepekaan anak didik terhadap alam. Sejalan dengan konsep tersebut, kegiatan Mobil KaCa UMM juga dikemas dengan materi berbentuk games. Menggandeng dua pemateri dari mahasiswa UMM, mengajarkan “Tebak Gaya Kartu Bergambar” oleh Dewi Nur Diana dari Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan Terjemah Nama Hewan oleh Johan Achmad dari Jusurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Menurut Syamsuddin, Kepala Sekolah Rumah Dakwah Sang Surya, kegiatan Mobil KaCa ini sebagai salah satu inovasi pembelajaran karakter yang tidak membosankan. “Alhamdulillah, metode tebak gaya kartu bergambar sangat cocok untuk anak didik dari usia 5 sampai 15 tahun. Selain itu, materi yang disampaikan dalam visual seperti mencontoh gaya tokoh kartu, bisa sangat cepat untuk dihafal anak didik kami,” katanya dengan hangat. Agenda lantas dilanjutkan dengan kegiatan literasi. Anak anak sangat antusias dalam memilih koleksi buku Mobil KaCa yang berhubungan dengan cerita kisah Nabi dan Rasul. “Berhubung anak-anak masih memilih buku berdasarkan visual buku, buku dengan konsep story telling menjadi incaran anak-anak kami,” tambah Syamsuddin. Sembari itu, kegiatan membaca buku tersebut juga dibantu oleh guru asuh dan mahasiswa dalam menceritakan serta menyampaikan hikmah yang dapat dipetik dari mencontoh perilaku Nabi dan Rasul dalam penerapan kehidupan karakter anak. Rumah dakwah Sang Surya sangat mengapresiasi dan mengaku membutuhkan tenaga pendidik muda yang berkompeten dalam mendidik anak anak. Karena, sambung ustadzah Nurul, tidak semua tenaga pendidik dapat melakukan tugasnya dalam mengasah karakter anak. Metode yang diberikan cenderung membosankan. Dibutuhkan metode pembelajaran yang dikemas dengan inovasi terbaru dan perlakuan khusus untuk anak seperti yang dilakukan tim mobil KaCa UMM ini. (yas/can)
Gelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Instruktur, UMM Siap Dirikan Lembaga Pelatihan Kerja

Difasilitasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Lembaga Pelatihan Kerja Universitas Merdeka Malang (LPK-Unmer), Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) menggelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Instruktur di Kampus III UMM. Kegiatan yang diikuti oleh 40 tenaga pendidik di UMM ini dilakukan selama tiga hari, mulai dari hari Jumat-Minggu (10-13/20). Menurut Dr. Praptining Sukowati, SH., M.Si., selaku ketua LPK-Unmer menyatakan, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM sudah menjadi barometer tenaga kerja yang kompeten. Jika tenaga pendidik dari UMM berhasil mendapatkan sertifikasi instruktur, selain LSP yang sudah terlebih dahulu berdiri, UMM akan siap untuk mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) sendiri. Ada 500 pilihan kualifikasi kompetensi teknis yang dapat diambil oleh peserta. Dalam sambutannya, Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan Dr. Sidiq Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum., menghimbau kepada para calon instruktur agar lulusan UMM mempunyai banyak kompetensi. “Kompetensi yang banyak dan terverifikasi akan dapat memperluas kesempatan dalam bidang profesi, baik profesi yang sejalur dengan program studi yang ditempuh selama di UMM maupun di luar program studi,” ungkapnya. Sebagaimana yang sering terjadi, sambung Sidiq, banyak lulusan jenjang S1 yang mendapat pekerjaan tidak linear dengan pendidikan yang ditempuh. Dengan adanya uji kompetensi instruktur ini, diharapkan kompetensi pendampingan profesi nantinya akan sesuai dengan realita yang ada di masyarakat. “Banyak sekali kompetensi yang nantinya akan dipelajari selama kegiatan ini berlangsung. Mulai dari tata cara kelola keuangan, membuat laporan pertanggungjawaban, monitoring evaluasi yang nantinya akan dibutuhkan untuk kepentingan bangsa,” tambah Sidiq. Instruktur yang juga menjadi pemateri, Juli Suprianta dalam materinya mengatakan bahwa faktor internal dan eksternal dapat mempengaruhi proses belajar dan mengajar. “Siswa yang berangkat dari latar belakang yang berbeda harus ditangani dengan metode pembelajaran yang bervariatif pula, lingkungan pembelajaran yang nyaman juga merupakan faktor dari kesuksesan tenaga pendidik di Indonesia,” ungkapnya. (yas/can)