Genjot Ekonomi Desa, Mahasiswa UMM Dampingi Warga Jambesari Bisnis Online

Kelompok Kelompok Kerja Nyata 07 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). mengadakan seminar dan Workshop Kewirausahaan. Agenda tersebut merupakan bentuk pemberdayaan terhadap masyarakat desa tentang cara memaksimalkan potensi desa sebagai aktivitas ekonomi yang menjadi usaha unggulan desa. Agenda yang bertempat di balai desa tersebut, mendapatkan antusiasme dari para peserta workshop. Luluk, selaku ketua PKK desa Jambersari mengatakan, ini merupakan pengalaman pertama dan berharga bagi para ibu-ibu desa. Jambersari dikenal sebagai sentra penghasil susu sapi perah. Bahkan susu dijadikan ikon desa tersebut. Namun kebanyakan warga masih belum mampu memanfaatkan susu segar secara maksimal. “Dikarenakan selama ini mereka masih menjual susu segar tanpa pengolahan,” ungkap Luluk. Kegiatan yang diinisiasi oleh divisi ekonomi dan kewirausahaan diharapkan dapat mengedukasi masyarakat tentang cara pengolahan susu sapi secara maksimal agar bernilai ekonomi tinggi. “Kedepannya kami berharap dengan terlaksananya agenda ini dapat mengedukasi masyarakat tentang pengolahan sumber daya alam terutama di bidang pengolahan susu secara maksimal,” ujar Hidayat selaku ketua divisi ekonomi dan kewirausahaan KKN 07. Sementara, Amirul Mukminin selaku pemateri sekaligus owner Pukid Bundani yang memberikan pelatihan menjelaskan, masyarakat Jambersari bisa belajar dari desa Pujon Kidul. Dulunya merupakan desa tertinggal di Malang, namun atas inisiatif masyarakat desa, sehingga terciptalah desa wisata Pujon Kidul yang menjadikan susu sapi perah sebagai sumber perekonomian desa. Dan secara langsung mengangkat taraf perekonomian desa maupun masyarakatnya. Amirul bersama istrinya Ani, melatih peserta workshop secara langsung. Mereka mengajarkan cara membuat Susu Pasteurisasi dan Permen menggunakan susu sapi perah. Bu Ulyana sebagai peserta sekaligus pelaku bisnis susu sapi perah mengatakan, dengan belajar cara pengelolaan ini, akan menjadi modal baginya untuk menjual kreasi susu olahan di acara Sunday Market, salah satu program kecamatan Poncokusumo bagi masyarakat untuk menjual beragam produk lokal. (*/can)

Respon Perubahan, Universitas Sahid Jakarta Belajar ke UMM

Merespon berbagai perubahan yang tengah terjadi saat ini, terutama dengan adanya perkembangan signifikan dari revolusi industri 4.0, Universitas Sahid Jakarta (Usahid) melakukan lawatan ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (3/2). “Karena perubahan seperti ini perlu kita hadapi dengan gerak cepat, sehingga kita mampu melewati secara bersama-sama,” ujar Dr. Ir. Iman Basriman, M.Si Selaku Wakil Rektor 1 (WR 1) Usahid Jakarta dalam kunjungannya di Ruang Sidang Rektor UMM. UMM, sambung Iman, merupakan partner perguruan tinggi yang mampu membawa Usahid untuk merespon segala perubahan. Lawatan rombongan Usahid untuk kali kedua ini juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan kerjasama yang mungkin dilakukan oleh dua universitas. Diskusi tata kelola perguruan tinggi sendiri dibagi menjadi 3 kelompok. Ketiga kelompok itu dipandu ke Biro Administrasi Akademik (BAA) UMM untuk membicarakan mengenai Pembelajaran Kreatif dan Ekuivalensi, kelompok kedua membicarakan tentang Produk Inovasi dan Hilirisasi yang dipandu Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM-UMM), dan kelompok ketiga bersama tim Humas dan Protokoler UMM untuk membicarakan tentang Image Building. “Sekadar mempertegas bahwa, sering kami sampaikan ketika ada kunjungan orang melihat UMM itu dari jauh, yang dilihat secara makroskopik adalah gelegarnya (kebesarannya). Tetapi jika kita melihat secara mikroskopik maka yang terjadi nanti adalah kolaborasi,” ungkap Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si Wakil Rektor 1 UMM. Dilanjutkan Syamsul, banyak produk yang dihasilkan oleh UMM telah diberi reward. Misalnya mahasiswa dibebaskan skripsi serta berbagai kemudahan sebagai bentuk rekognisi dan ekuivalensi terhadap karya kreatif dan inovatif mahasiswa. “Kita sebenarnya harus kulakan atau barter informasi dalam kaitannya dengan kepangkatan. Seperti kepenulisan karya ilmiah, terutama sitasi yang menjadi kebutuhan semua dosen. Kalau pembelajaran inovatif saya kira masih di back up regulasinya oleh mas Menteri (Mendikbud). Kita perlu cari objek kerjasama yang menjadi leading bersama,” ujar Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM dalam sambutannya. Lebih jauh Fauzan berharap, kolaborasi ini tidak hanya sekedar institusi, tetapi harus juga memanfaatkan kolaborasi jaringan institusi. “Bahkan saya kira kedepannya akan ada konteks bussines plan agar memiliki pengalaman. Sehingga jika kita ingin melakukan kerjasama harus menyeluruh, jangan menggunakan sistem kredit saja. Tinggal identifikasi potensi, “ tandas Fauzan. (riz/can)