Kemenag Pesankan Ini Kepada Lulusan PPG UMM

“Dari yang saya lihat saat masuk keruangan ini yang terpancar adalah kebahagiaan, tentu anda sudah tahu perjuangan dan tugas berat para guru. Program Profesi Guru (PPG) ini merupakan salah satu instrumen dalam meningkatkan mutu guru,” ujar Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. selaku Direktur Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI (Kemenag RI) pada sambutannya dalam Gelar Kelulusan dan penyerahan sertifikat PPG Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Saya berani mengatakan apakah guru yang sudah ikut PPG, kemudian kalian bisa menjamin dirinya sudah bermutu?” lanjut Suyitno. Bermutu itu adalah sebuah proses, bermutu itu never ending, never stoping. Jadi PPG ini hanyalah proses. Karena ke depan akan ada Program Keprofesian Berkelanjutan (PKB) meliputi pengembangan diri serta karya inovatif dan lain sebagainya. “Masih banyak yang harus dilakukan. Jadi proses panjang tidak hanya dilalui melalui PPG. Jadi ini adalah satu bentuk rehat dan refresh setelah sekian lama melakukan pengajaran di sekolah. Dimana kita mendapatkan pengayaan info baru, pengayaan pembelajaran dan siswa kita butuh itu, butuh hal-hal baru,” sambung Suyitno di Teater Dome UMM. Sabtu (22/2). Pada gelar kelulusan dan penyerahan sertifikat pendidik PPG Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM periode 4 berasal dari Program Studi (Prodi) Matematika, Biologi, B. Indonesia, Bahasa Inggris, PPKN, dan PGSD. Dengan PPG Dalam Jabatan (Daljab) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejumlah 308 Mahasiswa, terdiri dari Prodi Matematika berjumlah 57 Mahasiswa, Biologi 26 mahasiswa, Bahasa Indonesia 67 Mahasiswa, Bahasa Inggris 91 mahasiswa, serta PGSD 67 Mahasiswa. Adapun PPG Dalam Jabatan (Daljab) Kementerian Agama (Kemenag) sebanyak 108 mahasiswa yakni 28 orang dari Pendidikan Bahasa Indonesia, 25 orang Pendidikan Kewarganegaran, 55 orang Pendidikan Bahasa Inggris dan berasal dari 11 provinsi, 26 Kabupaten Kota. Dengan jumlah total sebanyak 416 mahasiswa, yakni 105 (25%) Laki-laki dan 311 (75%) Perempuan. Salah satu guru Program Profesi Guru (PPG) turut berbagi cerita saat mengikuti PPG, “Tidak hanya disini saja, selama tiga bulan kami di Labuhan Bajo harus bolak-balik ke kota untuk mengikuti pembelajaran Daring (pembelajaran online), bahkan saya awalnya tidak tahu caranya memakai komputer, laptop, serta bagaimana menyetel proyektor di kelas,” ungkap Kamsin S.Pd. Gr salah satu peserta Kelulusan PPG UMM. “Namun, ketika sampai di sini saya mempelajari itu semua. Sehingga guru yang awalnya biasa saja sekarang harus lebih profesional, harus tahu materi apa yang di sampaikan, teori apa yang disampaikan, indikator apa yang akan dilakukan. Ada banyak manfaat yang kami dapat di PPG. Ini menunjukan bahwa kepedulian pemerintah terhadap pendidikan itu sangat tinggi,” lanjut pria asal SMPN Satu Atap Pulau Messah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTT) ini. “Untuk menjadi guru itu, harus siap kerja cerdas. Tidak hanya menyiapkan RPP saja. Lalu kerja mawas yakni dengan ikhtiar, berdoa dan tawakal. Sehingga tidak hanya bekerja dengan hati-hati saja. Kemudian harus kerja tuntas. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah kerja ikhlas. Dan harus diimbangi dengan kerja keras. Dengan begitu mudah-mudahan akan membawa keberkahan di masa yang akan datang,” jelas Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd Dekan FKIP UMM. “Saya mencoba mentabulasi diksi yang dipakai oleh pak Dekan, diksi itu adalah ultimate atau puncak yang akan kita gapai yaitu bahagia, happines, sa’adah. Menekuni profesi sebagai guru itu harus kita maknai untuk menapaki kebahagiaan karena guru itu adalah seorang inspirator alih-alih menjadi motivator,” jelas Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor 1 (WR 1) UMM. Karena motivator dan inspirator itu adalah dua diksi yang berbeda, sambung Syamsul, karena jika menjadi motivator harus pintar merangkai kata, menjadi suatu kalimat yang menggugah dan harus pintar melafadzkan rangkaian kata menarik. Tetapi sebagai seorang inspirator, tidak perlu melihat wajahnya, tampilannya, tetapi apa yang dia lakukan itu bisa menginspirasi dan bisa menggugah. “Menjadi guru itu sesuatu yang luar biasa, meskipun resikonya juga luar biasa. Karena ketika menjadi guru, kita harus menyediakan pundak kita sebagai titik tumpu bagi para murid untuk melihat dunia, melihat cakrawala. Maka dari itulah peran kita membahagiakan dan kita harus enjoy menikmati profesi itu,” tandas Syamsul dalam sambutannya. (riz/can)
Nobar Film Jejak 2 Ulama Momentum Junjung Persamaan Muhammadiyah dan NU

Film ‘Jejak Langkah 2 Ulama’ besutan Sutradara Sigit Ariansyah diputar dalam agenda Nonton Bareng Bioskop Keliling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Hellypad (22/2). Film ini mengangkat kisah perjalanan dua orang tokoh pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia (Muhammadiyah dan NU), KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Menurut Presiden Mahasiswa, Abdul Aziz Pranatha, inisiatif digelarnya nobar film ini adalah sebagai sarana nostalgia pada masa beberapa tahun silam, dimana sering sekali diadakan hiburan rakyat di kampung-kampung, salah satunya layar tancap. “Kita hidup di malang, tidak pernah pulang kampung, sehingga kita bisa bernostalgia merasakan hangatnya malam dengan menonton layar tancap ini,” sebut Aziz. Selain itu sebut Aziz, film yang diangkat untuk ditayangkan kali ini memiliki nilai yang dapat diambil oleh masyarakat. Selain kedua tokoh dalam film ini merupakan tokoh yang sangat inspiratif bagi umat islam, tentunya lanjut Aziz, dalam film ini terdapat syiar yang dituangkan. “Kedua tokoh ulama tersebut pernah berjuang pada masa dahulu. KH Hasyim Asy’ari dengan revolusi jihad yang disampaikan dan diturunkan kepada santrinya. Kemudian pendidikan karakter yang oleh KH Ahmad Dahlan diajarkan kepada santirnya,” sebut Aziz. Bagaimana dalam film ini memang menunjukkan kedua sahabat karib tersebut menapaki langkah perjuangan menghadapi tantangan berdakwah pada tempat dan kondisi yang berbeda. Film ini juga berisi kebersamaan antar dua tokoh memperdalam ilmu agama pada guru besar yang sama. Alif, salah satu penonton mengungkapkan apresiasinya kepada film tersebut. Film menurutnya, mengembalikan kisah sejarah 2 ormas islam yang sebenarnya selalu berdampingan. Meskipun menurutnya memiliki perbedaan dalam berdakwah, namun memiliki banyak persamaan. “Orang selalu membicarakan perbedaannya NU dan Muhammadiyah saja, harusnya yang terpenting kita junjung adalah persamaannya,” sebut Alif Film ini sendiri diketahui merupakan karya kolaborasi antara Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah dengan Pondok Pesantren Tebuireng, jombang. (bel/can)
LPPI UMM Dampingi Dosen Muda Naikkan Akreditasi Jurnal Baru TBI

Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Workshop Editor Jurnal Baru Terbitan Berkala Ilmiah (TBI), Jumat (21/2). “Gelaran ini merupakan ikhtiar membawa 20an jurnal baru UMM yang belum terakreditasi pada tahun 2019, untuk terakreditasi di Sinta 3-6 pada tahun 2020,” ungkap Zulfatman, M.Eng., Ph.D. Sekretaris LPPI UMM. Dilanjutkan Zulfatman, LPPI UMM memfasilitasi para editor mengelola jurnal-jurnal baru agar mendapatkan akreditasi jurnal nasional pada tahun 2020, serta indeksasi internasional. Jurnal baru TBI merupakan kategori jurnal yang sudah dipublikasikan selama dua tahun lamanya. Untuk bisa terakreditasi SINTA, jurnal baru harus sudah menerbitkan 4 nomor, memiliki OJS yang lengkap, dan mempunyai substansi konten jurnal yang kredibel dan memadai. “Kami menargetkan untuk lebih dulu terindeks SINTA level 3-6. Karena jika kategori 1-2, biasanya jurnal tersebut sudah menuntut kualitas substansi artikel yang tinggi. Apalagi yang Sinta 1 biasanya sudah terindeks di Scopus,” terang Zulfatman. Workshop ini lebih fokus memberikan pengetahuan tentang bagaimana ketentuan akreditasi nasional dan apa saja yang harus dipenuhi dalam aspek manajemen dan substansi agar terakreditasi pada Sinta 3-6. Disamping itu juga diberikan bagaimana cara mempromosikan jurnal baru TBI untuk mendapatkan penulis, reviewer, dan editor. Agenda ini menghadirkankan enam pemateri yang merupakan 6 editor jurnal yang handal dari internal UMM, yaitu M. Sri Wahyudi S. ME, Agus Eko M., M.Kom, Wahyu Andhyka K., M.Kom, Husamah M.Pd, Arif Setiawan M.Pd, serta Dana Marsetiya U., M.T. Salah satu pemateri, Agus Eko Minarno, M.Kom menjelaskan, ada berapa hal yang harus dipenuhi jurnal baru dari sisi manajemen agar dapat terakreditasi di Sinta. “Di antaranya kualitas editor dan reviewer, sebaran penulis, jumlah kunjungan unik, indeksasi, ketersediaan publication ethics, dan lain-lain” terangnya. Dalam kegiatan ini, Zulfatman yang juga merupakan Ketua Penyelenggara menghimbau agar dosen dosen muda, aktif menjadi pengelola jurnal, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan dan performa nantinya saat menulis artikel jurnal. (yas/can)