Menteri Kesehatan Terawan Dikukuhkan Jadi Keluarga Kehormatan UMM

Kehadiran Menteri Kesehatan Republik Indonesia Letjen TNI (Pur.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI di gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode I UMM Tahun 2020 merupakan salah satu upaya melanjutkan tradisi akademik Kampus Putih dengan mendatangkan tokoh bangsa pada gelaran-gelaran penting universitas, sebagai sumber informasi bagi sivitas akademika dan keluarganya. Setiap tokoh yang hadir, sivitas akademika UMM selalu memberi penghormatan dengan menjadikannya keluarga kehormatan Kampus Putih, UMM. Hal ini ditandai dengan dipakaikannya almamater kebanggaan UMM kepada Menteri Kesehatan Terawan. Penyematan ini dilakukan sebelum Menteri Terawan memberi orasi ilmiah bertajuk “Mewujudkan Indonesia Maju melalui Percepatan Penurunan Angka Stunting”. “Di tengah kesibukkannya, beliau sempatkan hadir untuk berbagi ilmu agar kita memahami khususnya adalah isu-isu kesehatan yang saat ini sedang marak,” ungkap Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd saat menyambut kehadiran Menteri Terawan. Fauzan lantas menaruh harap kepada 977 wisudawan untuk menjadi manusia yang bermanfaat terhadap siapa saja. Namun, tidak lupa juga kepada orang tua. “Kami yakin, dengan bekal pengalaman yang saudara peroleh selama saudara studi di kampus ini. Saudara akan mampu memasuki dunia kompetisi, dalam berbagai bidang kehidupan. Keterlibatan saudara dalam tradisi hidup berkompetisi selama saudara menjadi mahasiswa UMM sangat berarti sebagai dasar untuk mengembangkan diri yang mandiri,” pesan Rektor Fauzan. Sebelumnya, pada Jumat (28/2) Menteri Kesehatan Terawan juga menghadiri kegiatan pemerikasaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan Pemerikasaan Payudara Klinis (SADANIS) di Rumah Sakit Umum UMM. Kegiatan ini diinisiasi Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Indonesia Maju Bidang 2, yang peduli dengan peningkatan kualitas kesehatan wanita, bekerjasama dengan Rumah Sakit UMM. (riz/bel/can)

Harapan Menteri Kesehatan Terawan untuk Wisudawan UMM

Secara khusus, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Letjen TNI (Pur.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI menaruh harap kepada 977 wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diwisuda pada periode I Tahun 2020. Utamanya dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Pertama, dari segi pendidikan UMM diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang siap pakai. “Jangan pernah berhenti belajar, meskipun sudah diwisuda jangan berhenti belajar. Terus menimba ilmu supaya kita menjadi lulusan yang siap pakai, berkualitas dan berkarakter,” ungkap Terawan. Yang kedua dari segi penelitian dan pengembangan. Lulusan UMM diharapkan dapat menghasilkan penelitian dan pengembangan yang mendukung percepatan untuk mencapai tujuan pembangunan. “Harus ingat, terus melakukan riset penelitian dan pengembangan. Saya masih melakukan. Saya masih membuat jurnal internasional terus-menerus. Karena itu saya yakin, lulusan wisudawan yang baru masih terus ingin mengembangkan ilmunya, meneliti. Selalu jeli melihat peluang untuk bisa diteliti,” ujar Terawan. Dan yang terakhir dari segi pengabdian kepada masyarakat. Lulusan UMM juga diharapkan dapat menggerakkan pemberdayaan masyarakat untuk mengoptimalkan upaya preventif dan promotif dalam mengendalikan penyakit, melalui gerakan masyarakat hidup sehat. “Jadi ingat, begitu diwisuda, kalian adalah pelayan masyarakat. Dengan segala macam kedudukan yang kalian dapatkan, dari segala pekerjaan yang saudara emban. Saudara sekalian adalah menjaadi pelayan masyarakat yang akan mengabdikan diri kepada masyarakat,” tegas Terawan yang pada kesempatan itu juga dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM. Menkes Terawan lantas memberi selamat kepada para wisudawan. Demoga ilmu yang didapat bisa digunakan dan diaplikasikan untuk kesejahteraan dan kesehatan masyarakat Indonesia. “Semoga upaya yang kita jalani untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif, membangun sumber daya manusia yang unggul menuju ke sumber daya yang maju tercapai,” tandasnya. (riz/bel/can)

Menteri Kesehatan Terawan Bicara Stunting di Wisuda UMM

World Bank mengeluarkan suatu pengukuran baru menggantikan Indeks Pembangunan Manusia yang dinamakan Indeks Modal Manusia atau Human Capital Indeks, yaitu suatu pengukuran investasi suatu negara bagi modal pembangunan manusianya. Pengukuran ini digunakakan sebagai penentuan status pembangunan suatu negara. Ada tiga pilar utama penyusun modal manusia generasi mendatang, dimana kesehatan merupakan salah satu pilar yang menilai ada tidaknya stunting, apakah anak-anak menyelesaikan sekolah dengan kesehatan yang baik, dan siap untuk tingkat pendidikan selanjutnya dan/atau bekerja. Untuk itulah, dalam rangka mewujudkan Indonesia masuk ke dalam kategori negara maju maka isu stunting menjadi prioritas. Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad. (K) RI. saat memberi orasi ilmiah di gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode I tahun 2020, Sabtu (29/2). Ia memaparkan orasi bertajuk “Mewujudkan Indonesia Maju melalui Percepatan Penurunan Angka Stunting” di hadapan 977 wisudawan. Lebih jauh Terawan menyampaikan, stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, dampak kedepannya menghambat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan. Tingkat kecerdasan anak Indonesia berada di urutan 64 terendah dari 65 negara. Dilanjutkan Terawan, dari pengukuran angka HCI Indonesia saat ini adalah 0.53. Nilai 0,53 artinya, berdasarkan capaian pendidikan dan status kesehatan saat ini diperkirakan anak-anak Indonesia yang lahir saat ini 18 tahun kemudian hanya dapat mencapai 53% dari potensi produktivitas maksimumnya. Saat ini HCI Indonesia berada di peringkat 87 dari 157 negara di dunia. Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh kembang pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak  lebih pendek  untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir tetapi baru tampak setelah anak berusia 2 tahun. “Kekurangan gizi selain disebabkan oleh masalah pangan, diperberat oleh adanya infeksi penyakit, baik menular maupun tidak menular, kemudian sanitasi yang buruk, ketersediaan air minum yang layak, serta pola asuh keluarga,” ungkap Terawan yang pada kesempatan itu juga dikukuhkan sebagai Kegiatan upaya pencegahan terjadinya stunting harus dilakukan pada seribu hari pertama kehidupan yang dimulai sejak ibu hamil sampai dengan anak berusia 2 tahun yang merupakan Golden Periode, periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan balita. “Dengan penanganan yang tepat pada 1000 hari pertama kehidupan, maka akan lahir dan tumbuh bayi yang terhindar dari gangguan gizi serta berkembang secara optimal,” tandas Terawan. (bel/riz/can)