Fresh Ijtihad CMM UMM untuk Tuntaskan Persoalan Kebangsaan

Perubahan sosial di Indonesia terlalu berlangsung cepat, terutama perubahan tren keagamaan, dan apa yang Muhammadiyah bisa lakukan atasnya. Ada pertanyaan besar, yakni bagaimana memadukan akal dan kalbu sebagai kekuatan untuk melakukan penetrasi terhadap kehidupan keberagamaan. “Bagaimana cara kita menerjemahkan semangat pencerahan itu pada dimensi ekonomi-politik?” demikian Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Nazaruddin Malik bertanya saat membuka diskusi bertajuk “Fresh Ijtihad dari Muhammadiyah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan”. Dr. Nazaruddin Malik dipanel seorang filsuf, ilmuwan, pakar hermeneutika dan cendekiawan muslim Indonesia Prof. M. Amin Abdullah pada gelaran Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan Muda Muhammadiyah di Sengkaling Convention Hall UMM, Jumat (6/3). Menurut Nazaruddin, Muhammadiyah belum punya rumusan untuk melakukan penetrasi ekonomi untuk mengatasi ketimpangan di masyarakat atau memengaruhi kebijakan ekonomi nasional. Memang ada perbincangan tentang bagaimana membangun institusi-institusi ekonomi seperti perbankan syari’ah, tapi tidak ada rumusan strategis untuk menghentikan akumulasi kapital di satu lokasi, sehingga meniadakan kemerataan di tengah umat. Istilah yang dikemukakan Nazaruddin adalah price discrimination. Menurutnya, peran wasathiyah Muhammadiyah harus diterjemahkan ke dalam konteks nation welfare. Ia mengkhawatirkan kemelempeman majelis-majelis ekonomi dalam menafsirkan pencerahan ekonomi. “Cendekiawan muda harus punya sumbangsih pada rumusan-rumusan strategis tersebut,” tandasnya. Di sesi kedua, Prof. Dr. M. Amin Abdullah menjelaskan apa itu fresh Ijtihad. “Ijtihad, kan, sudah biasa. Tapi setelah seratus tahun, ijtihad Muhammadiyah tidak terdengar lagi. Maka harus disegarkan,” kata beliau. Ada tiga alasan, menurutnya. Pertama, dunia Islam tampak involutif, yakni terdapat kemunduran-kemunduran dalam keberagamaan. Kedua, dunia Islam juga mengalami stagnansi metodologis. Ketiga, karena dua konteks di atas, harus ada takamul ‘ulum, yakni interdisipliner dalam memahami Islam. Al-Azhar baru-baru ini mengajak pada tajdid pemikiran, karena dakwah-dakwah digital yang menafikan metodologi dalam memahami Islam. Sementara, menurutnya, hambatan utama dalam tajdid adalah pembagian qat’i dan zanni, sesuatu yang bila umat berkutat di sana hanya akan menimbulkan stagnansi lagi. “Solusi-solusi yang dirumuskan al-Azhar sudah digarap oleh Muhammadiyah 50 sampai 100 tahun yang lalu, termasuk keputusan tidak mengakui adanya negara agama. Jangan sampai kita yang di sini malah menjadi lebih mundur,” ungkap Amin. Menurut Prof. Dr. M. Amin Abdullah, solusi utama adalah kembali membaca literatur dengan telaten. “Tidak ada cara lain. Bila hanya mengandalkan grup-grup Whatsapp, tidak akan ada hasilnya,” tambahnya. Di Indonesia, muwathonah (citizenship) belum selesai karena involutif dan stagnansi itu. Banyak minoritas yang masih menjadi korban, dan persoalan-persoalan lain yang menunjukkan bahwa masyarakat masih berpikir di level lower order of thinking. Sesi ini diperkuat dengan semangat yang diwariskan oleh para pembicara pada para cendekiawan muda yang hadir dalam Kolokium Nasional ini. Dalam dua puluh tahun ke depan, menurut para pembicara, yang akan mengemban Muhammadiyah dan Negara Indonesia adalah anak-anak muda, bukan yang lain. Karena itulah anak-anak muda Muhammadiyah harus punya kemampuan menelaah literatur secara kuat, juga punya kemampuan multi languages. “Strategi-strategi yang harus dikeluarkan oleh Muktamar adalah strategi untuk mendukung itu, misalnya, membeasiswai anak-anak muda Muhammadiyah untuk belajar bahasa Arab dan Inggris dan mengirim mereka ke negara-negara berbahasa asing itu selama satu tahun, agar bahasanya kuat,” tandas Amin. (*/Can)

Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM Sambut Muktamar Muhammadiyah

Muhammadiyah yang lahir 1912, memiliki pengalaman yang lebih lama dibandingkan dengan negara Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Moh. Hatta pada 1945. Dengan pengalaman yang penting itu pula, Muhammadiyah memiliki tradisi demokrasi (musyawarah, tanwir dan muktamar) yang sangat substansial. Lebih dari itu, tradisi demokrasi Muhammadiyah terinspirasi dari ajaran Islam Berkemajuan yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Sunnah, yang mengandung nilai-nilai profetisme Islam yang mulia. Oleh karena itu, hingga saat ini, Muhammadiyah telah menyelenggarakan kongres nasional lima tahunan (Muktamar) 47 kali. Sebanyak itu pula, Muhammadiyah mempraktikkan dan menempa nilai-nilai inti berdemokrasi seperti kemerdekaan (liberty), keadilan (justice), kesetaraan (equality) dan persaudaraan (fraternity). Karena itu, dalam konteks pembangunan kebangsaan dan demokratisasi yang sedang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia, Muhammadiyah memiliki dan menjadi (having and becoming) bagian dari Indonesia itu sendiri. Dengan kata lain, Muhammadiyah adalah aktor penggerak pembangunan peradaban Indonesia yang memiliki peran penting. Lebih dari itu, Muhammadiyah pada Muktamar yang ke 47 di Makassar pada 2015 lalu, mempromosikan gagasan Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahd wa al-Syahadah. Gagasan tersebut menegaskan bahwa Indonesia harus dipandang sebagai “negara kesepakatan” (dar al-ahd) di antara seluruh anak bangsa, sekaligus “negara persaksian” (dar al-syahadah) sebagai tempat di mana anak-anak bangsa ini mengabdi, berjuang dan berkontribusi secara partisipatoris dalam proses pembangunan. “Peran-peran penting Muhammadiyah harus terus diupayakan dan menjangkau seluruh aspek pembangunan nasional meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan filantropisme, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan, serta aspek-aspek lainnya, yang bersifat interdisipliner,” demikian dikatakan Hasnan Bachtiar, S.HI., MIMWAdv., anggota Cendekiawan Muda Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rangka merealisasi hal tersebut, Muhammadiyah berkhidmat memperjuangkan gagasan Islam yang berkemajuan, – sekaligus mengimplementasikan Dar al-Ahd wa alSyahadah – demi terwujudnya Indonesia yang berkemajuan. “Karena itu, kami Cendekiawan Muda Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Malang  berupaya memberikan sumbangsih intelektualnya dalam hal pembangunan peradaban Indonesia yang berkemajuan. Berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan penting ini, maka CMM UMM menyelenggarakan “Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan Muda Muhammadiyah” dengan tema “Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”,” ungkap Hasnan, selaku ketua pelaksana kegiatan. Kegiatan ini diadakan Jum’at – Sabtu, 6-7 Maret 2020 berlokasi di Sengkaling Convention Hall, UMM. Diikuti para Cendekiawan Muda Muhammadiyah (CMM), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), perwakilan PTM se-Indonesia, utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur, para pimpinan ortom Muhammadiyah di tingkat pusat dan wilayah (atau daerah), dosen muda UMM, serta para aktivis dan pegiat literasi Muhammadiyah. Selain sebagai ajang silaturrahmi (sambung-rasa) dan silatulfikri (sambung-fikir) Cendekiawan Muda Muhammadiyah untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan dewasa ini, juga dalam rangka Konsolidasi dan memperkuat jejaring Cendikawan Muda Muhammadiyah di seluruh Indonesia. “Tak kalah penting, agenda utama dari kolokium ini untuk merumuskan policy brief yang bisa digunakan sebagai pertimbangan bagi para pihak yang berkepentingan dalam rangka mendorong pembangunan Indonesia yang berkemajuan. Serta, berkontribusi secara ilmiah dalam menyambut pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo 2020,” tandas Hasnan. Hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammmadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir M.Si. turut hadir memberi sambutan sekaligus membuka acara, juga Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P. yang didapuk sebagai keynote speaker. (*/Can)

Urun Pemikiran Kaum Muda Muhammadiyah UMM untuk Indonesia Berkemajuan

Jaringan Intelektual Muda MuhammadiyahUniversitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Cendekiwan Muda Muhammadiyah (CMM) menggelar Kolokium Nasional Interdisipliner, Jumat (6/3). Acara yang dikerjasamakan dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) ini dihelat di Sengkaling Convention Hall UMM, 6-7 Maret 2020.  Gelaran menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-48 ini bertajuk “Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”. Dalam sambutannya Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. berpendapat bahwa Cendekiawan Muda Muhammadiyah harus punya resonansi dan tanggungjawab nasional. “Bukan hanya pandai berpikir dan menggagas, tapi harus pandai mengeksekusi ide-ide brilian itu. Kolokium ini hanya awal,” ujarnya. Ia berharap cendekiawan muda mampu mengawal Muhammadiyah untuk terus berkebaruan. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. yang sekaligus membuka acara mengapresiasi agenda dalam rangka berkontribusi secara ilmiah dalam menyambut pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo tahun 2020 ini. “Saya memberi apresiasi terhadap acara ini karena saya yakin cendekiawan Muhammadiyah punya peran strategis untuk membawa Muhammadiyah bertahan dan berkiprah di masa depan,” kata Haedar. Haedar berpendapat bahwa cendekiawan Muhammadiyah harus mampu menelurkan tawaran-tawaran alternatif, yang baru dan substantif, yang bisa memandu jalannya kehidupan manusia. Konteks yang Haedar tegaskan adalah persoalan kebangsaan dan ke-bhineka-an, yang oleh Muhammadiyah direspon dengan gagasan Darul Ahdi Was Syahadah. “Cendekiawan Muhammadiyah harus memperkaya dimensi alternatif bagaimana mengisi cita-cita pendiri bangsa dengan Islam tanpa mengancam keberadaan ‘yang lain’. Untuk itu, anda harus memperkaya bacaan dan memperluas pergaulan, muhasabah terus menerus,” pesan Haedar. Acara diselingi dengan launching dan penyerahan secara simbolis buku “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”, yang diserahkan oleh Wakil Rektor II UMM Dr. Nazarudin Malik, M.Si. pada Ketua Umum Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Buku ini adalah versi buku dari jurnal Muhammadiyah Studies. Kuliah umum berikutnya, sekaligus sebagai pembuka acara, disampaikan oleh Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. “Di kalangan Muhammadiyah sudah ada anak muda yang mencoba meluruskan keadaan, dengan penelitian dan laporan-laporan indepth. Ini bagus sekali. Sebab di luar sana ada tren ke-tidak tekun-an. Banyak juga anak muda Muhammadiyah yang ingin panen praktis dengan cara berpolitik. Tapi yang hadir di sini, Insyaallah, tidak seperti itu,” ungkap Muhadjir. Menurut Muhadjir, di kalangan anak muda terdapat ketimpangan struktural dan spasial, sehingga harus pula ada pemetaan ketimpangan di kalangan anak muda Muhammadiyah. Jangan sampai, mayoritas anak muda Muhammadiyah masih mengalami ketimpangan. Peserta yang menghadiri acara pembukaan tidak kurang dari 200 orang. Peserta Kolokium Nasional ini adalah delegasi dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Papua. Variasi kepesertaan ini penting untuk menciptakan jejaring cendekiawan dan memelihara persebaran kecendekiaan di tubuh Muhammadiyah. (*/Can)