UMM Salurkan Ribuan Paket Sembako

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (22/4), membagikan lebih kurang 2000 paket sembako kepada masyarakat di lingkungan Kampus I, II dan III UMM. Koordinator pengadaan dan pendistribusian sembako, Hasim, A.Md. menyatakan UMM secara aktif turut serta membantu masyarakat untuk menanggulangi dampak pandemik Covid-19. Di tahap pertama, pembagian paket sembako dilakukan di Auditorium BAU dengan protokol kesehatan yang sesuai standar Pemerintah. “Sebagai bentuk tanggungjawab sosial kita di bawah naungan Muhammadiyah, kegiatan ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat terdampak Covid-19,” jelas Hasim. Sasaran dibagikannya paket sembako ini antara lain ke juru parkir, petugas cleaning service, pensiunan UMM yang membutuhkan, sopir mikrolet, terlebih warga dan mahasiswa yang tinggal di sekitar lingkungan UMM yang membutuhkan. “Hari ini kami membagikan 600 paket ke perwakilan kelompok penerima manfaat. Selebihnya akan dibagi ke sejumlah lokasi seperti ke Tlogomas, Tegalgondo, Mulyoagung, Sumber Sari dan sejumlah wilayah lainnya di sekitar ketiga Kampus UMM,” kata Hasim. Senada dengan Hasim, penanggungjawab pendistribusian paket sembako Rahmat Pulung Sudibyo, S.P., MP. menyampaikan bahwa total sembako akan didistribusikan dalam empat kloter selama bulan Ramadan. Model pendistribusian ini dibuat mengacu pada skema protokol kesehatan. “Pembagian sembako ini dibagi menjadi empat kloter bertujuan untuk menghindari kerumunan atau penumpukan warga penerima paket sembako,” imbuh Pulung. Tak hanya membagikan pada warga, UMM Peduli juga telah menyiapkan skema pembagian paket sembako untuk mahasiswa UMM yang masih tinggal di Malang. “Paket sembako ini tidak hanya akan didistribusikan kepada warga terdampak pandemik, namun juga pada mahasiswa UMM yang masih bertahan di Malang,” tambah Pulung. Penyaluran paket sembako kloter pertama tersebut diberikan kepada cleaning service yang merupakan pekerja harian di lingkungan UMM. Salah satu penerima penyaluran paket sembako, Humairah Luthfiah menyatakan bahwa kegiatan ini sangat membantunya di tengah perekonomian yang sedang tidak stabil akibat pandemik ini. “Secara pribadi saya sangat bersyukur dengan program UMM Peduli ini. Sangat membantu perekonomian saya sebagai salah satu orang yang terdampak ini,” jelasnya. (nis/can)

Rektor Fauzan: Ramadhan Momentum Tingkatkan Ketakwaan

Sambut bulan ramadhan 1441 H, Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pengajian dengan Pembicara, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Kamis (23/4) melalui media daring. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM dalam sambutannya mengajak kepada umat Islam untuk memaknai puasa ramadan secara substantif. Ia menguraikan bahwa, ramadan yang datang setahun sekali tidak boleh hanya lewat begitu saja dan hanya dirasakan secara seremonial. Melainkan bulan suci ramadan harus dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan. “Kita tahu bahwa Al Qur’an menyampaikan pesan bahwa pada hakikatnya puasa ramadan yaitu mengejar sebuah derajat ketaqwaan. Derajat ketaqwaan juga harusnya mampu diimplementasikan dalam kehidupan,” tuturnya. Sehingga antara kehidupan sehari-hari seorang muslim bukan menjadi suatu yang parsial dengan keimanan yang dimiliki. Karena seharusnya sikap dan perilaku keseharian seorang muslim adalah cerminan dari keimanannya. Selain sebagai bulan untuk meningkatkan ketaqwaan, bulan ramadan oleh seorang muslim harus juga menjadi ajang untuk bermuhasabah diri. Karena kemungkinan di bulan lain, kaum muslimin kerap kali dalam menjalankan kehidupannya lepas dari kontrol iman. “Dalam kesempatan ramadan kali ini kita mencoba untuk mengendalikan diri kita, kita mencoba untuk menjadikan iman kita sebagai kontrol dalam kehidupan. Kalau itu bisa kita lakukan adalah indikator yang sangat sederhana adalah perubahan dari perilaku yang kruang baik menjadi perilaku yang baik,” urainya. Perilaku baik atau dalam bahasa agama adalah akhlakul karimah, menurut Fauzan jika muslimin mampu berakhlakul karimah maka ini adalah indikasi dari seorang muslim yang perilakunya dikontrol oleh keimanan. Khususnya kepada civitas akademika UMM, “kampus putih” yang mengemban amanah dakwah sudah seyogyanya bukan hanya mengurusi pendidikan semata. Melainkan keberadaannya juga sebagai roll model pendidikan atau uswah khasanah. Ditekankan kepada civitas akademik, bahwa dalam setiap mengerjakan sesuatu tidak boleh lepas dari kontrol keimanan. “Jangan sampai kita ini berpuasa tapi sama sekali tidak mengubah esensi kehidupan kita,” tambahnya. Sehingga puasa yang dijalankan oleh seroang muslim harusnya memberikan dampak signifikan pada perubahan baik kepada akhlak. Namun jika setelah melaksanakan puasa akan tetapi sikapnya tetap buruk, maka sama saja hanya menjalankan puasa secara lahirian, bukan merepasi dan menemukan ruh puasa itu sendiri. (SM/can)