Alumnus UMM Bagi Pengalaman Hampir Mati Saat Meliput Gempa Nepal

Menjadi jurnalis televisi adalah impian David Bahtiyar Rizal, alumni Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2007, sejak kecil. Konon, jika anak kecil sebelum berangkat sekolah nonton kartun dulu, hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh reporter dan produser Liputan 6 SCTV ini. ‘Sarapan’nya setiap pagi sebelum berangkat sekolah adalah nonton berita di TV. Sejak kecil orang tua David memang ingin sekali David bisa menjadi news presenter seperti Bayu Setiono, news presenter favorit ibu David. Kisah impian David ini terungkap saat Alumni Sharing Session bertajuk ‘The Perks of Being Broadcaster’ yang diadakan Prodi Ilmu Komunikasi pada Selasa,12 Mei 2020 lalu. Karir David sebagai reporter SCTV dimulai dari SCTV Goes To Campus yang ia ikuti saat semester 8. Tapi sayang, saat itu ia hanya mendapat posisi juara dua. Kecewa, pasti. Sebab yang bisa menjadi lolos ke Jakarta dan menjadi presenter adalah yang juara pertama. “Tapi ternyata waktu itu juara pertama mengundurkan diri karena setelah lulus kuliah dia mau nikah. Akhirnya mas Jeremy Teti kontak saya dan meminta saya untuk siap ke Jakarta. Saat itu saya lagi skripsi, akhirnya yang awalnya santai-santai, jadi ngebut mengerjakan. Alhamdulillah,lulus sih,”ungkapnya sambil tertawa. David Rizal terkenal sebagai jurnalis bencana. Namanya selalu menjadi pilihan pertama di redaksi ketika ada peristiwa bencana. Bahkan saat ada gempa Ia mengaku semua bencana besar sudah pernah ia liput, mulai dari gempa dan tsunami di Palu, jatuhnya pesawat Lion Air, gempa di Pidi Jaya, dll. Bahkan ketika ia harus meliput gempa di Nepal tahun 2015, ia hampir kehilangan nyawa. Dia menginap di sebuah hotel yang hampir rubuh ketika terjadi gempa susulan. Efek trauma terhadap getaran gempa masih ia rasakan hinggasekarang. Namun baginya itu adalah resiko profesi. Dalam meliput berita bencana juga ada beberapa patokan yang ia pegang teguh, yang pertama adalah humanisme. Misalnya saat memberitakan covid-19, ada beberapa do and don’t yang menjadi patokan. Salah satunya adalah tidak boleh mengeksploitasi kesedihan. Cukup men-twist anglenya menjadi human interest yang menimbulkan empati tanpa mengeksplotasi kesedihan korban. Dalam sesi ini sejumlah peserta sharing session juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung. Adinda, salah satu peserta, menanyakan bagaimana tips untuk menghindari filler word saat berbicara di depan publik. Menurut David, penguasaanknowledge sebelum berbicara sangat penting untuk menghindari filler word. Olivia Anisa, peserta yang lain juga menanyakan bagaimana ritme kegiatan jurnalis televisi. “Saya memulai aktivitas sejak jam 3 pagi karena jadwal saya siaran pagi sampai jam 5 sore. Tidak hanya sekedar siaran namun juga melakukan aktivitas dubbing, motong video liputan, dll. Capek sih tapi asyik sekali apalagi kalau sudah turun lapangan. Hal yang menyenangkan bagi jurnalis adalah saat liputan di lapangan, bisa bertemu banyak orang dan hal-hal baru,”tutur pria asal Bondowoso ini. Banyak pengalaman menarik yang terjadi saat ia menjadi news presenter. Tak hanya pengalaman serius saja tapi juga pengalaman konyol. Yang paling ia ingat adalah saat tiba-tiba ngeblank lupa nama sendiri. “Itu gara-gara saya datang lima menit sebelum on air, waduh tak terlupakan,”imbuhnya. (wnd/can)
Srikandi FKIP UMM Tebar Inspirasi Penilaian Peserta Didik Berbasis Daring

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Webinar Nasional yang dikemas Ngobrol Bergizi Bareng Srikandi bertema “Asesmen ramah saat belajar di/dari rumah”, Jumat (15/5/2020). Acara ini diikuti oleh kurang lebih 550 peserta dari seluruh Indonesia, dari Papua hingga Aceh. Peserta berlatar belakang guru, orang tua, dosen, pemerhati pendidikan, dan mahasiswa. Acara berlangsung selama 4 jam. Acara dibuka dengan pengantar dari Poncojari Wahyono, anggota BSNP sekaligus juga Dekan FKIP UMM. Poncojari Wahyono mengungkapkan bahwa pemilihan tema webinar ini didasarkan pada banyaknya permintaan dari khalayak akan perlunya diskusi dan pencerahan terkait bagaimana asesmen atau penilaian yang ideal dalam pembelajaran daring. Masalahnya, seringkali guru dan sekolah tidak memiliki pilihan yang tepat bagaimana menilai peserta didik karena mereka tidak siap dan kurang memiliki pengalaman. Pandemi Covid-19 menuntut guru melakukan penilaian yang benar, otentik, dan valid, namun tetap menghargai usaha peseta didik dan berbagai kendala yang dihadapi para orang tua dan siswa. “FKIP UMM memiliki pakar-pakar asesmen otentik, bahkan mereka sudah berpengalaman internasional. Kebetulan kebanyakan adalah perempuan, maka kami menyebutnya sebagai para srikandi asesmen” ujar Poncojari Wahyono. Empat srikandi ahli asesmen atau penilaian bergelar doktor dari FKIP UMM bergantian memaparkan inspirasi dan solusi mereka. Keempat srikandi tersebut adalah Endang Poerwanti dengan paparan berjudul Asesmen mendasar Untuk level sekolah dasar, Ribut Wahyu Erliyanti dengan paparan berjudul Ragam Asesmen ramah dalam Pembelajaran Bahasa dan Sosial di Rumah, Fardini Sabilah menyajikan paparan berjudul Asesment Pembelajaran Bahasa Inggris: Mudah Guys!; dan Trisakti Handayani menyajikan paparan berjudul Bedah Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dan Asesmen di Rumah. Salah satu pembicara, Endang Poerwanti dalam paparannya menegaskan bahwa seharusnya penilaian yang dilakukan guru tidak lupa dari satu kaidah bahwa saat ini adalah kondisi darurat atau pandemi. Kondisi ini pun mungkin baru saja dialami dunia pendidikan modern, khususnya di Indonesia. Oleh karenanya, guru tidak boleh terlalu kaku. “Ada banyak teknik, pilihan cara, dan pendekatan penilaian yang dapat dilakukan guru. Teknologi sudah sangat membantu. Tetapi ingat, jangan sampai malah menyusahkan peserta didik dan orang tuanya. Atau malah karena terlalu susah, atau melenceng dari kaidah, maka melenceng. Misalnya, malah orang tuanya yang mengerjakan tugas. Kenyataannya banyak orang tua yang saat ini mengeluh dan protes. Tagihan atau tugas yang diberikan guru tidak logis, tugas diberikan tiap hari, waktu mengerjakan singkat, dan tidak sesuai level umur peserta didik”, ujar dosen senior Prodi PGSD UMM itu. Senada dengan itu, Trisakti Handayani yang merupakan Kaprodi PPG UMM menuturkan bahwa orang tua di masa pandemi ini memiliki peran strategis dalam menjamin kesuksesan pembelajaran daring yang melibatkan anaknya. Orang tua haruslah tanggap dan peka serta selalu aktif melakukan komunikasi dengan guru. Tidak hanya menjadi penyedia teknologi pendukung pembelajaran, mereka akan menjadi pengganti guru di rumah. “Peran edukator harus benar-benar dilakukan orang tua. Dalam hal ini, yang saya maksud sebagai orang tua bukan hanya salah satu, tapi semuanya. Bukan hanya ibu, tapi juga ayah. Semua harus kompak, terlibat dan konstruktif. Jangan sampai ketidakpedulian orang tua, atau keselahan mereka dalam berperan malah akan membebani dan semakin membuat stress anak.” tutur Trisakti. Sementara itu, Fardini Sabilah yang juga dosen senior dari Prodi Bahasa Inggris UMM dan Ribut Wahyu Erliyanti dosen senior Prodi Bahasa Indonesia UMM banyak membagikan tips dan contoh riil dalam bidang pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Berbagai contoh bentuk penilaian diuraikan secara mendalam sehingga diharapkan memberikan banyak alternatif bagi guru-guru yang membutuhkan. (*/can)