UMM Bagi Kisah Kiprah Perempuan di Bidang Industri

Siapa bilang perempuan punya ruang terbatas di masyarakat. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa perempuan punya kesempatan yang sama untuk sukses dan berkarir. Dalam gelaran webinar Inspirasi Teknologi Rekayasa melalui Zoom (Intermezo) Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membagikan kisah inspiratif para perempuan karir di bidang industri. Intermezo yang mengusung semangat perempuan berkarya di bidang teknik ini, turut mengundang dua perempuan hebat di balik kejayaan perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia dan luar negeri. Mereka adalah Esther Gayatri Saleh yang merupakan Chief Test Pilot PT Dirgantara Indonesia dan Imelda Mayasari Iriyono yang menjabat sebagai Factory Manager Multinational Company di Vietnam. Kisah-kisah inspiratif para perempuan ini diawali dengan kisah awal mula mereka memutuskan untuk terjun di bidang teknik mesin, di mana bidang ini didominasi oleh pria. Diskusi yang berlangsung santai selama sembilan puluh menit ini banyak membahas bagaimana menjadi seorang perempuan yang tidak lupa akan fitrahnya dalam membersamai keluarga sekaligus bekerja untuk membuat diri menjadi lebih berdaya dan bermanfaat bagi orang lain. Hal menarik lain yang yang dapat dipetik dari kegiatan ini adalah peran penting perempuan di industri ini. Peran penting tersebut katakan oleh Imelda adalah soft-skill yang dimiliki oleh para perempuan belum tentu dimiliki oleh para pria yang bekerja di bidang yang sama. “Kita sebagai perempuan jelas memiliki soft-skill yang mungkin tidak banyak pria miliki, salah satunya teknik berkomunikasi yang diplomatis” tutur Imelda. Kisah Esther Gayatri Saleh yang merupakan satu-satunya Test Pilot perempuan di dunia menjadi hal yang sangat menarik untuk diungkap lebih jauh pada sesi Intermezo spesial hari Kartini. Esther memaparkan bahwa untuk menjadi engineer kita perlu belajar banyak dari pengalaman. “Secara khusus, di dunia penerbangan kita dituntut harus memiliki kemampuan mengekplorasi diri walau dari latang belakang pendidikan berbeda,” tandas Eshter. Lebih lanjut, Esther menjelaskan meskipun latar belakang pendidikan yang ia miliki sangat bertolak belakang dari bidang yang ia geluti saat ini, beliau dituntut mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang bersifat teknik dan non-teknik. “Selain itu, menjadi engineer harus punya kemampuan melakukan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan atau multi-tasking, memiliki management waktu yang baik, kemapuan memecahkan masalah. Hal tersebut akhirnya dapat mematahkan kiraan orang bahwa pilot ya harus laki-laki,” papar Esther. Selanjutnya, Imelda juga menjelaskan bagaimana cara menjadi lebih prfesional dan mahir di bidnag teknik. Ada dua hal penting yang harus para perempuan perhatikan untuk meningkat kualitas diri di bidang teknik yaitu functional dan soft-skill. “Pertama, functional skill bearti kita harus meningkatan kemahiran dan keahlian kita pada satu bidang yang kita geluti. Kedua, soft-skill yang lebih berfokus pada bagaimana kemampuan kita dalam berkomunikasi,” papar Imelda. Imelda Mayasari juga mengimbuhkan bahwa perempuan memiliki peran segitiga tidak sama sisi. Di satu sisi, perempuan harus berperan sebagai seorang karyawan di tempat dia bekerja, sebagai ibu yang harus mengasuh anak-anaknya dan seorang istri yang harus mendampingi suami. “Sisi dari segitiga itu bisa berbeda-beda panjangnya tergantung prioritas yang sedang dihadapi. Jadi kita harus bisa memainkan peran yang sangat baik untuk ketiga peran tersebut,” pungkas Imelda. (nis/can)
Alumni UMM Populerkan Cara Mengajar Daring Kreatif lewat Media Corona

Pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 memberi berbagai tantangan bagi guru. Bagaimana tidak? Kondisi yang serba terbatas dan dibatasi ini tidak menyurutkan tuntutan akan profesionalitas guru dalam pembelajaran. Maka, guru harus terus bersemangat, terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal itu dibedah dalam Webinar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) yang bertema “Menjadi Guru Kreatif dan Inovatif di Masa Pandemi”, Rabu (20/5). Webinar yang berlangsung selama 3 jam ini menghadirkan Dr.Sugiarti, M.Si. dan Nariyanto, M.Pd. sebagai pemateri. Salah satu kreativitas dan inovasi yang dapat diterapkan guru adalah melalui penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan kompetensi siswa. Media pembelajaran ini, menurut Nariyanto, haruslah yang mudah didapat, aman, ekonomis, dan ramah lingkungan. “Di sekitar kita ada berbagai hal yang bisa dimanfaatkan. Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Di sekitar kita sudah tersedia. Jika kita sebagai guru bisa melihatnya, bisa memanfaatkannya, justru itu yang membanggakan,” ujar alumni Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia tersebut beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, Nariyanto kemudian menjelaskan ‘Media Corona’ sebagai media inovatif pembelajaran di masa pandemi ini. Media Corona adalah singkatan dari Corat-coret Romantika Bermakna. Penggunaan media ini hanya membutuhkan kertas dan alat tulis. Selanjutnya, ia menjelaskan empat langkah penerapan media Corona. Caranya, guru menetapkan tema terlebih dahulu. Misalnya temanya binatang. Guru kemudian meminta siswa membuat coretan yang tidak beraturan di atas kertas yang sudah disediakan. Kemudian, guru menentukan sudut pandang sesuai tema. Kita bisa minta siswa untuk memutar kertas ke kiri atau membaliknya sehingga ada pengalaman baru, ada hal yang terduga yang kita hadirkan. “Terakhir, guru meminta siswa menebalkan bagian yang terpakai serta menghilangkan yang tidak digunakan sesuai tema. Dengan begitu, insyaAllah anak-anak akan merasa senang dan lebih kreatif. InsyaAllah nggak ada lagi gambar dua gunung, sawah, dan jalan lagi,” terangnya pada 510 peserta webinar sambil mempraktikkannya di atas kertas. Tak hanya Media Corona, guru yang sudah 9 kali memenangkan berbagai kompetisi guru inovatif sejak tahun 2014 ini mengajukan dua media lain yakni Media Tambang Berantai dan Media Sikamin. Media Tambang Berantai bertujuan untuk melatih komunikasi anak. Penerapannya adalah dengan meminta anak membuat kelompok kecil dengan sesama siswa yang rumahnya dekat untuk belajar bersama dan menyelesaikan tugas komunikasi bersama secara berantai. Tentu, pada praktiknya tetap dengan mengindahkan aturan social distancing. Adapun ‘Media Sikamin’ atau Aksi Media Beraksi di Kamar Bercermin bertujuan untuk bekerja sama dengan anggota keluarga. Penerapannya yakni dengan meminta siswa melaksanakan instruksi guru di depan cermin dengan divideo oleh anggota keluarga lain. Sejalan dengan itu, pada kesempatan sebelumnya, Dr. Sugiarti, M.Si juga mengungkap bahwa pengajaran kreatif di rumah dapat dilakukan melalui tiga cara yakni menggunakan video pembelajaran, merekam kegiatan anak di rumah, dan membuat proyek di rumah. Dari sini terlihat sekali bahwa pembelajaran yang dilaksanakan secara daring menuntut penggunaan teknologi dan peran serta orang tua. Meski demikian, guru tidak akan pernah tergantikan. “Video pembelajaran, fitur-fitur pembelajaran daring itu memang merupakan teknologi. Kita dimudahkan oleh adanya teknologi. Namun, guru tidak akan tergantikan oleh teknologi. Mengapa? karena ada proses pembentukan kepribadian dalam pembelajaran. Teknologi tidak akan sampai pada ranah penanaman pendidikan karakter. Demikian juga orang tua. Ada keterbatasan-keterbatasan,” tambahnya. Lebih lanjut, problematika yang terjadi di lapangan adalah bahwa tidak semua teknologi yang canggih dengan berbagai macam fiturnya itu dapat dijangkau oleh siswa dan orang tua. Oleh sebab itu, dalam pandangan Dr. Sugiarti, guru dapat memanfaatkan media yang mudah dijangkau seperti WhatsApp. “Kita memang dihadapkan pada persoalan sarana prasarana teknologi. Sejauh ini yang paling mudah WA, yasudah, kita pakai WA. Kita tidak harus pakai Zoom, tidak harus pakai Edmodo, atau fitur-fitur yang lain yang menyulitkan. Kita fokus saja pada penguasaan kompetensi anak,” terang Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM ini. Melalui kegiatan webinar ini, diharapkan guru-guru mendapatkan inspirasi pembelajaran inovatif di masa pandemi. Lebih dari itu, guru-guru mendapatkan energi baru dalam mengemban amanah profesinya. (*/can)
Bionic Family Project Tingkatkan Ketahanan Pangan Keluarga di Masa Pandemi

Melalui Seminar Agro Online Pangandaru (Pendampingan Pangan dari Rumah) Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska–PB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Mahasisawa Relawan Siaga Bencana Maharesigana mengajak masyarakat untuk membuat projek keluarga (18-20/5). Family Project di masa krisis pandemi Covid-19 sangatlah dibutuhkan. Selain sebagai wahana rekreasi keluarga di rumah, namun juga diharapkan mampu memberikan dampak positif pada perekonomian keluarga. Menghadirkan Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si., Prof. Dr. Wahyudi, M.Pd., dan Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Si., sejumlah 300 orang peserta belajar untuk memenuhi kebutuhan pangan berbasis pertanian dan perikanan melalui aplikasi telekonferensi. Peserta mampu melihat langsung contoh projek keluarga yaitu bionic (Bionic Family Project) yang merupakan kombinasi dari budidaya BIONA dan Aquaponic. Bionic sering dikenal dengan budidaya ikan dan tanaman sayuran secara bersamaan di lahan terbatas yang sering ditemukan di daerah perumahan perkotaan. “Masyarakat harus segera beradaptasi dengan The New Normal saat dan pasca terlewatinya masa krisis pandemi Covid-19. Masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga secara mandiri, sehingga pembelajaran budidaya ikan dan bertani di rumah perlu dimaksimalkan,” jelas Prof. Jabal selaku Guru Besar Fakultas Pertanian dan Perikanan (FPP) UMM tersebut. Selain itu, salah satu dosen pengajar FPP-UMM, Riza menjelaskan bahwa setiap keluarga dapat membuat projek bionic dalam bentuk One House One Pond (OHOP) dimana setidaknya setiap rumah memiliki satu bak yang digunakan untuk menanam sayur dan membudidayakan ikan. Selama berada di rumah, OHOP dapat meningkatkan kemandirian pangan keluarga, menjadi aktifitas yang menyenangkan bersama keluarga, dan wahana belajar anak. (*/can)