Bagaimana Seharusnya Engineer Berkontribusi Selama Covid-19?

Terbatasnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas medis menggugah simpati dan empati banyak pihak,termasuk dari kalangan akademisi untuk mencipkan inovasi baru.Program Studi Teknik Mesin UMM melalui webinar Inspirasi Teknologi Rekayasa Melalui Zoom (Intermezo) mendatangkan langsung dua narasumber yang pakar untuk mengupas tuntas bagaimana cara menciptakan APD yang compatable. Para calon inovator yang mengikuti Intermezo kali ini (22/5) berasal dari kalangan dosen, mahasiswa dari semua Jurusan dari lingkungan fakultas UMM, Poltek Negeri Malang, Poltek Madiun, IAIN Jember dan calon mahasiswa baru. Sebagai narasumber pertama Assist. Prof. Wahyu Caesarendra, ST., Meng, PhD, penemu Tangan abionk, Adaptor untuk APD dan temuan lainnya memaparkan bahwa para engineer harus memiliki 3 kemampuaan skill yakni innovation dan Entrepreneurship; Flugal Innovation dan Flugal Engineering, dan; Product Design Engineering. Inovation dan enterpreneurship, yakni engineer mampu menghasilkan sesuatu yang baru berdasarkan ide yang didapatkan. “Namun, dalam prosesnya tidak mudah, karena perlu mempertimbangkan banyak aspek sehingga didapatkan produk yg ideal. Oleh karena itu engineer perlu dibekali oleh kemampuan entrepreneurship,” ungkap Wahyu. Kedua, flugal engineering. Skill ini diperlukan seorang engineer karena dalam membuat produk salah satu pertimbangannya adalah biaya. Melalui flugal engineering, kompleksitas produksi dapat dikurangi sehingga dapat menekan biaya tersebut. Simplifikasi ini juga ditunjang oleh pengetahuan alam yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Product Design Engineering (PDE). PDE adalah pengembangan dan penyempurnaan produk yang sudah ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan danlebih sustainable. Sehingga lebih bisa diterima di masyarakat baik dari aspek fisik, ergonomi, biologis, dan lainnya. Tidak kalah menariknya pemateri Ir, Sudarman, MT., dengan segudang pengalamannya sebagai engineering memaparkan tahapan-tahapan desain yang harus dimiliki oleh seorang inovator teknologi sehingga produk yang dihasilkan fleksibel bisa digunakan di segala kondisi. Bahkan beliau memaparkan data-data lengkap dari 800 ribu sarjana Teknik termasuk sarjana computer dan pertanian/peternakan yang praktek keinsinyuran hanya sekitar 10 ribu orang. Lebih lanjut sudarman memaparkan bahwa profesi insinyur merupakan salah satu profesi penting yang akan selalu dibutuhkan untuk membangun dan mengembangkan negara.Ada beberapa faktormengapa profesi insinyur kurang karena ketidakmengertian bahwa ainsinyur diperlukandan secara literasi masih sangat kurang. Ada beberapa Point penting yang disampaikan bahwa sebagai engineering harus cepat beradaptasi dengan kondisi pandemi. Kedua, produk yang dikembangkan harus bisa dipergunakan semua orang. Ketiga, sebagai engineering bisa menata ulang paska pandemik yaitu era baru yang bisa mengubah pola hidup kita. Keempat, perlu memikirkan inovasi pasca pandemi. Terakhir,harus memiliki fungsional skill yang mumpuni sehingga menjadi seorang master di bidangnya. Sebagai pengampu mata kuliah Konsep Desain, Sudarman bersama dosen dan mahasiswa Teknik Mesin UMM mewujudkan hasil desain dan inovasinya berupa APD misalnya helm pelindung tenaga medis, masker, wastafel anti-Covid-19, box pelindung tenaga medis (safety chamber) dan lain-lain. (can)
Kisah Dosen Jadi Penyintas Covid-19 Akibat Pasien Bohong

Pengetahuannya terkait Covid-19 nyatanya tidak cukup bagi Dr. Joko Widodo, M.Si terbebas dari virus yang telah merenggut banyak nyawa ini. Meski mengaku intens berdiskusi dengan anaknya yang merupakan seorang dokter, ia tak bisa menolak agar virus tak bersarang di tubuhnya. Cerita Joko tertular Covid-19 dimulai akibat salah seorang pasien berbohong yang ditangani anaknya di sebuah rumah sakit di Malang. Joko Bukan tertular dari rekan kerjanya di UMM. Di UMM tak ada yang positif Covid-19. Pasca dinyatakan sembuh, Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini membagi kisahnya di serial podcast UMMTalk, tentang bagaimana dirinya bertarung melawan Covid-19 dan stigma negatif masyarakat. “Awalnya anak saya yang merasakan ketidakberesan di badannya. Seperti flu biasa saja. Barulah dia berkesimpulan bahwa itu gejala Covid-19. Setelah beberapa hari, saya juga merasakan gejala yang sama. Akhirnya saya dirujuk ke rumah sakit penanganan Covid-19,” ungkap Joko, Selasa (9/6) siang. Diakui dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini, gejala yang dialaminya tidak lebih berat ketimbang stigma yang diterimanya dari tetangga sekitar rumahnya. Rumahnya bahkan sampai harus dipagari dengan maksud warga agar tidak menulari masyarakat kompleks perumahan tempatnya tinggal. Padahal, selama ini Joko orang yang aktif mensosialisasikan bahaya Covid-19 di perumahannya. Ia sempat sakit hati. Tapi Joko hanya cukup berlapang dada. Ia berpikir bahwa perlakuan masyarakat terhadap dirinya hanyalah bentuk ketidaktahuan semata. Joko memang punya jiwa petarung. Ia merasa tidak boleh kalang dengan virus ini. Selalu berpikir positif dan optimis diakui Joko membuatnya cepat sembuh. Dukungan keluarga, juga energi positif dari orang-orang lingkaran pergaulannya punya kekuatan tersendiri untuk membuatnya segera sembuh. “Setelah terkena Covid-19 saya merasa hidup kembali. Justru, setelah menjadi pasien Covid-19, kok, badan saya merasa lebih bugar dari biasanya. Saya juga jadi lebih perhatian dengan kesehatan badan saya,” kata Joko. Joko lantas mengajak seluruh masyarakat untuk lebih menjaga diri dan mengindahkan segala himbauan kesehatan Pemerintah tentang Covid-19. “Cukup dengan menjaga jarak, tetap di rumah, dan rajin mencuci tangan. Yang lebih penting, jangan terjebak berita bohong,” tandas Joko. (can)