Rempah Empire, Kembalikan Kejayaan Rempah Indonesia

Rempah adalah komoditas yang seksi, yang mampu membuai banyak negara lain terpikat datang ke Indonesia dan menjadikannya komoditas tinggi di pasar dunia. Sebuah potensi melimpah di Indonesia yang sayangnya banyak dari masyarakat kita belum sadar betapa kayanya kita sebenarnya. Sebuah pekerjaan rumah besar terutama untuk generasi muda agar lebih mengenal rempah dan memanfaatkannya secara maksimal. Berawal dari keprihatinan inilah maka dua orang dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni Novin Farid Styo Wibowo, M.Si dan Eka Khadarpa Utama Dewayani, MM. berkolaborasi dengan alumni (Wahyu Pratomo) dan beberapa mahasiswa membuat bisnis kuliner berbahan dasar rempah rempah khas Indonesia dengan nama Rempah Empire. “Nama Rempah Empire sebenarnya agar lebih mudah dikenal, sih. Karena terlebih dahulu kita sudah sering dengar istilah Sunda Empire yang katanya ingin mengembalikan tatanan dunia. Rempah Empire cita-citanya ingin mengembalikan harkat rempah Indonesia menjadi komoditas yang dihargai dan dihormati oleh bangsanya sendiri,” sebut Novin, Senin (15/6). Konsep Rempah Empire menggabungkan konsep kedai minuman rempah, makanan tradisional, alam, edukasi dan budaya. Berada di lahan 3000 m2, Rempah Empire tidak hanya kedai, namun juga terdapat lahan kebun dengan tanaman aneka rempah, “empon-empon” dan sayur organik dimana sebagian besar minuman rempah dan produk makanan diambil dari kebun langsung “raw material”. Selain lahan kebun juga disediakan ruang untuk kegiatan komunitas, outbound dan panggung budaya. Beberapa produk minuman rempah diberi nama-nama unik seperti Rempon (Rempah Empon-Empon) yang merupakan gabungan berbagai rempah dan empon-empon untuk imunitas tubuh, kemudian Ande-ande Lumut yang berbahan dasar lemon, jahe, daun mint, sereh, cengkeh, madu dan lain-lain untuk recharge tubuh dan detoksifikasi. Produk minuman lain juga mempunyai nama yang unik, seperti Brama Kumbara, Mantili, Ayu Mandira, Jaka Sembung dan sebagainya. Semua resep minuman ini sudah melalui tahap percobaan berkali-kali hingga menemukan padu padan racikan yang pas. Jika di bisnis kopi dikenal istilah Barista sebagai peracik kopi, maka untuk rempah dikenal istilah Acaraki sebagai peracik rempah/jamu. “Secara bisnis kami coba mencari ceruk pasar (market nicher, red.) spesifik dan akhirnya kami memutuskan minuman rempah ini. Karena belakangan ini semua fokus di bisnis kopi, nampaknya pasar mulai jenuh dan mencari sensasi minuman lain yang menarik. Minuman rempah ini tidak hanya bergerak di rasa, bau dan warna namun lebih dari itu, ada proses storytelling dan edukasi dari setiap produk minuman yang disajikan, sehingga membuat nilainya jauh lebih tinggi dari produknya itu sendiri,” sambung Eka Khadarpa. Rempah Empire yang berada di Beji, Kota Batu mulai buka sejak pertengahan April lalu, sempat berhenti karena peraturan pemerintah akibat wabah covid 19. Saat ini Rempah Empire kembali buka dengan menerapkan protokol kesehatan. Pembukaan Rempah Empire Sabtu (13/6) lalu, terasa istimewa dikarenakan dikunjungi tamu kehormatan dari rombongan Keraton Solo dipimpin Kanjeng Pangeran Edi Wirabumi dan istri. Rombongan dan pangeran kemudian mencoba beberapa menu minuman rempah dan memberikan apresiasi yang tinggi atas produk minuman rempah ini. Selain itu, beberapa kalangan dari Pemerintahan kota Malang dan Batu, komunitas, konservator, budayawan, mahasiswa dan beberapa influencer juga turut hadir dan menikmati berbagai minuman rempah di Rempah Empire. “Kami berharap Rempah Empire ini menjadi wadah bagi siapa saja yang ingin belajar rempah, termasuk wadah bagi inkubasi mahasiswa UMM yang ingin belajar bisnis dengan praktek yang lebih riil di sektor kuliner dan edukasi rempah,” tandas Novin. (*/can)

Pecah Rekor Bikin 10 Buku Sekali Terbit

PROGRAM STUDI (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam waktu dekat akan merilis 10 judul buku. Yang berbeda dari proyek penulisan buku sebelumnya, pada tahun 2020 ini berhasil memecahkan rekor penerbitan buku terbanyak yakni sepuluh buku. Kesepuluh buku ini merupakan proyek tugas akhir dari mata kuliah Media dan Masyarakat yang diampu dosen Ilmu Komunikasi Nurudin, M.Si. Ceritanya, setiap mengawali perkuliahan, Nurudin selalu menawarkan kepada mahasiswa yang diajarnya untuk membuat proyek kepenulisan. Tidak melulu menerbitkan buku. Tradisi literasi ini sudah dimulainya sejak tahun 2009. “Pokoknya harus ada publikasi. Kuliah jalan, nilai didapat, publikasi kampus juga ada. Pulang tidak hanya membawa ijasah tetapi juga kenang-kenangan buku,” terang Nurudin via daring. Tahun 2020 ini, dosen yang dikenal sebagai provokator menulis ini memberikan opsi menulis buku atau kuliah biasa saja. Empat kelas yang dia ampu memilih membuat buku, sementara sisanya memilih kuliah biasa. “Karena pandemi Covid-19, yang milih kuliah biasa saya sarankan tugas UAS-nya menulis di media. Boleh media cetak, online atau paling ringan nulis di blog,” kata dosen yang telah menerbitkan puluhan buku ini. Penentuan tugas akhir apa yang diambil pun dilakukan secara demokratis. Dimusyawarahkan oleh seluruh mahasiswanya di kelas. Kemudian mereka voting, lewat Line atau langsung memutuskan di kelas. “Saat memilih buku tentu saya, kan, harus memenuhi keinginan mereka. Lagian, itu sesuatu yang sangat baru bagi mereka. Ternyata mereka antusias dan bisa menulis,” ungkap Nurudin, Senin (15/6) siang. “Ternyata setelah mereka menulis dan diterbitkan jadi kecanduan. Yang nulis buku semangat ingin nulis lagi. Yang tugas nulis di media ingin juga menulis lagi. Setidaknya data ini saya dapatkan dari komentar mereka saat saya tanya bagaimana kesan setelah membuat tulisan,” ungkap mantan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM yang baru-baru ini kembali menerbitkan buku berjudul “Agama Saya adalah Uang” ini. Menerbitkan tulisan punya tempat tersendiri bagi Nurudin. Dengan menulis lantas menerbitkanya, justru punya hasil yang konkrit yakni karya. “Kalau tidak untuk apa? paling naskah tulis itu dikumpulkan ke dosen, selesai. Kalau menerbitkan buku, kan ada manfaatnya. Lalu setelah mereka menulis di media, saya minta untuk mention akun twitter saya dan Prodi komunikasi UMM. Tugas saya me-retweetnya,” ujar Nurudin. Sejak tradisi literasi ini pertama kali digulirkan pada tahun 2009, jumlah buku yang diterbitkan beragam. “Tidak tentu karena harus saya polling dulu saat pertamakali masuk kelas. Tahun 2019 ada 10 judul buku. Ini prestasi paling banyak  jika dilihat dari jumlah judul. Tahun 2020 ada 9 judul buku. Juga artikel mahasiswa 3 kelas. Jika rata-rata per kelas 50 orang akan ada publikasi 50 judul tulisan di media,” ungkap Nurudin. Dari segi kualitas tulisan, Nurudin tak begitu mempermasalahkannya. Ia selalu mengapresiasi setiap mahasiswanya yang berani memulai memiliki karya. Dalam bentuk apapun. “Menurut saya tulisannya bagus. Tentu dengan kemampuan mereka sebagai mahasiswa. Tentu saya tidak bisa memakai tolok ukur diri saya sendiri. Produk mahasiswa dan dosen itu kan karya? Menulis buku salah satunya,” tegas Nurudin. Karya terbaik menurutnya terbitan awal, yakni tahun 2009. “Merintisnya waktu itu susah sekali. Saya serahkan ke mahasiswa untuk diterbitkan. Nggak jalan. Akhirnya saya harus naik bis waktu itu ke Yogyakarta untuk mencari penerbit. Setelah diterbitkan akhirnya bisa dilaunching. Launching itu banyak diliput media. Setelah itu, memotivasi mahasiswa menulis buku lebih mudah karena sudah ada contohnya,” lanjutnya. Lebih jauh, memotivasi mahasiswanya untuk menulis akan terus dilakukannya. “Mungkin ini yang bisa saya lakukan. Minimal memaksimalkan kemampuan diri saya karena punya keahlian menulis. Sudah saatnya saya memberikan atmosfer menulis di tempat saya bekerja. Buku memang bukan pilihan satu-satunya. Tetapi sivitas akademika dituntut untuk punya karya, buku hanya salah satu pilihan,” tandasnya. (can)