Sukses Kembangkan Padi 400 Bulir Per Batang

KETAHANAN pangan keluarga di masa pandemi COVID-19 menjadi perhatian khusus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen dan mahasiswa berkolaborasi mengembangkan produk unggulan untuk menjawab tantangan ini. Salah satunya dengan mengembangkan padi unggulan dengan 400 bulir padi per batang. Lazimnya, satu batang pohon padi hanya 125-200 bulir saja. Namun, melalui teknologi yang dikembangkan tim Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), satu batang bisa sampai 400 bulir padi. Uji perdana sukses. UMM memberi nama varietas padinya dengan UM2-400. Padi varietas baru dengan kode UM2-400 ini merupakan silangan dari beberapa padi varietas lokal di Jawa Timur. UM2-400 adalah varietas lokal yang dikembangkan FPP dengan menggunakan teknologi khusus. Pengembangan ini dipelopori Dr. Ir. David Hermawan, Dr. Ir. Wahono, dan mahasiswa. April lalu sudah panen perdana. “Mulai dari pembibitan benih x, pengolahan tanah seperti pupuk yang digunakan juga organik. Kemudian, supporting karena tidak pakai pestisida, penyemprotannya memakai teknologi drone,” jelas David Hermawan yang merupakan Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan UMM. Namun, David memilih tidak menjawab jika ditanya terkait dengan jenis varietas beras yang disilangkan. Namun, dia menyebut bibit hasil dari kawin silang 4 varietas padi. “Kalau jenis apa sama apa, rahasia dong,” ungkapnya di sela-sela wawancara. Dia juga mengatakan bahwa bibit yang mereka kembangkan adalah bibit unggul yang tahan hama. Selain itu, batangnya juga kuat dan tahan angin. “Kan sering tuh, banyak gagal panen karena padi yang ambruk. Jadi, kami coba kembangkan kearah itu. Selain itu, bulir yang kami kembangkan rata-rata di atas 400. Jumlah ini lebih banyak dari varietas padi lainnya yang hanya 125-200 bulir per batang. Kini kami mengembangkan 600 bulir juga 700 bulir,” ujar dia. David juga membeberkan, untuk menghasilkan beras kualitas bagus, tak hanya diperlukan pembibitan yang baik. Juga diperlukan pula pengolahan lahan dan pupuk yang bagus. “Kami memakai pupuk cair, juga pupuk kandang yang dibuat oleh para mahasiswa yang praktikum,” sebutnya. Beras varietas unggul yang dikembangkan FPP itu ditanam di areal persawahan milik UMM yang ada di daerah Tegalgondo, Kabupaten Malang. Dia menjelaskan, kelebihan dari varietas ini adalah produksinya yang dapat lebih banyak dari produksi pada umumnya. Sementara untuk masa panen sama: sekitar 105 hari. “Ini bisa sampai 2-3 kali produksi dari jenis biasa. Kalau nasional kan biasanya standar 5.1 ton per hektare, kalau pakai varietas ini bisa 12 ton per hektare, dengan biaya produksi lebih murah, Rp 15 juta per hektare, kalau pertanian konvensional rata-rata Rp 20 jutaan per hektare,” jelasnya. Sehingga dia berharap nantinya varietas ini bisa menunjang swasembada pangan. “Jadi kalau pemerintah mau, tidak perlu impor beras dan mengurangi devisa negara. Jadi, kita bisa menghasilkan produk produktivitas tinggi dan sehat karena tidak menggunakan pupuk kimia,” ungkapnya. Menurut pengamatannya, apabila varietas ini dipakai di Malang Raya saja, maka kebutuhan akan beras akan tercukupi, bahkan lebih. “Kalau dari pengamatan saya, kita punya sekitar 70.000 hektare. Kalau misal 70.000 hektare kali rata-rata 10 ton saja, berarti ada 700.000 ton lebih. Saya kira sebenarnya sangat cukup memenuhi kebutuhan pangan se Malang Raya,” ujar dosen yang juga ketua pokja ketahanan pangan Kabupaten Malang itu. (*/can)

Buat Inovasi APD Bagi Relawan Kalimantan Selatan

EDDY WIBOWO, Koordinator Kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Pandulangan, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan menyampaikan di tengah keprihatinan dan upaya pencegahan penularan pandemi COVID-19, pihaknya pun ikut berkontribusi. Mahasiswa angkatan 2017 ini mengatakan, kontribusi tersebut dilakukan dengan berinovasi untuk pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) berupa face shield atau pelindung wajah, yang peruntukannya untuk para relawan COVID-19. “Untuk alat dan bahan pembuatan face shield ini sangat sederhana, hanya membutuhkan busa, karet, plastik mica dan alat seperti guting, lem tembak, serta penggaris dan cutter,” katanya, Senin (15/6) siang. Dijelaskan dia, proses pembuatan APD ini diawasi dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Mohammad Jufri, diharapkan melalui kontribusi lewat memproduksi APD ini dapat membantu relawan COVID-19 di Desa Pandulangan, yang bertugas di garda depan menangani pencegahan kasus COVID-19. Produksi APD ini juga dilatar belakangi membantu perjuangan tenaga medis serta relawan COVID-19 di Indonesia dalam merawat pasien positif virus Corona, maupun menangani pasien yang telah memiliki gejalanya, semakin terasa berat dengan kurangnya Alat Pelindung Diri (APD). Salah satu APD yang vital adalah pelindung wajah atau face shield, dan dengan melihat kondisi tersebut, muncul inisiatif dari mahasiswa PMM di Desa Pandulangan, untuk membuat face shield, yang dapat membantu para relawan COVID-19 di desa. “Di tengah merebaknya virus Corona, alat ini sangat disarankan untuk orang-orang yang kerap melakukan interaksi dengan masyarakat luas apalagi bagi mereka yang bertugas memberikan layanan publik,” katanya. Menurut dia, tak hanya Tenaga Kesehatan(Nakes) serta petugas yang melayani masyarakat umum, orang-orang yang dalam aktivitasnya berkecimpung dengan banyak manusia juga perlu menggunakan pelindung muka, termasuk para relawan COVID-19 karena sangat rentan terpapar virus. Lonjakan jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Kalimantan Selatan(Kalsel) akhir-akhir ini meningkat tajam, Kalsel termasuk dalam tiga provinsi dengan penambahan pasien positif Covid-19 paling signifikan dalam sepekan terakhir, selain Jawa Timur, dan Sumatera Selatan. Adapun dari total pasien positif COVID-19 di Kalimantan Selatan, sebanyak 68 persen atau masih mayoritas berasal dari Cluster Gowa, atau dari jemaah yang pulang dari mengikuti kegiatan Ijtima Ulama di Gowa, Sulawasi Selatan. (*/can)