Jadi Mawapres karena Gandrungi Karya Ilmiah

Kompetisi dan karya ilmiah memang seolah melekat erat dalam diri Siti Mubasiroh. Pasalnya, juara 2 ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini begitu menyukai karya ilmiah. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi ini dinobatkan sebagai juara Mawapres baru-baru ini (5/6). Hal lain yang mendorongnya untuk rajin mengikuti kompetisi berbasis karya ilmiah, menurut gadis kelahiran Jombang 21 tahun silam ini, adalah kesempatan bertemu dengan delegasi dari kampus lain yang idenya sangat beragam dan menarik. “Saya menyukai karya ilmiah. Itu yang membuat suka ikut lomba karya tulis ilmiah. Dalam kompetisi-kompetisi itu, saya bertemu dengan delegasi dari berbagai kampus yang idenya macam-macam dan menarik. Kami sharing banyak hal. Itu membawa energi positif ke saya untuk bisa terus belajar dan berkarya,” ucapnya. Beberapa kompetisi yang ia juarai di antaranya Lomba Karya Tulis Al-Quran Universitas Negeri Jakarta Tahun 2018, Lomba Karya Tulis Ilmiah 2019 di STIKI Malang, Call For Papper Indonesian Student Researcher Festival (ISRF) Tahun 2018 dan Tahun 2019, serta lomba essay Science Education Fair (SEF) Universitas Sebelas Maret Tahun 2019. Prestasi Siti diapresiasi oleh Ketua Prodi Pendidikan Biologi, Dr. Iin Hindun, M.Kes. Dalam kacamata Dr. Iin Hindun, Siti Mubasiroh memang mahasiswa yang istimewa. Dia adalah mahasiswa yang penuh semangat dan rajin mencari informasi lomba. Membanggakannya, dalam setiap perlombaan yang dia ikuti, dia selalu menang. “Dia aktif mencari informasi lomba dan selalu berkomunikasi dengan Prodi. Prodi tentu menyambut baik dan memberikan fasilitasi pembimbingan. Dan Alhamdulillah dia selalu menang di setiap lomba tersebut. Itu ajeg dilakukan dari semester ke semester, sehingga prestasi yang diperoleh memang kumpulan dari waktu ke waktu yang tidak diperoleh secara instan,” terang Dr. Iin Hindun. Kepada Siti, Dr. Iin Hindun berpesan untuk terus memiliki motivasi berprestasi. “Untuk Siti Mubasiroh, kemengan ini semoga dapat menjaga stamina dan lebih memotivasi untuk memperoleh prestasi-prestasi berikutnya. Ini adalah awal yang baik untuk mengukir prestasi berikutnya,” tutupnya. Lantas, apa yang ia suguhkan hingga akhirnya terpilih meraih juara 2 Mawapres? Di hadapan tiga juri, ia memaparkan karya ilmiah tentang desain pembelajaran IPA menggunakan miniatur sebagai model dan disertai audio yang berisi materi pembelajaran untuk memudahkan siswa SD dalam memahami materi dan memicu minat belajar siswa. (fp/can)
Pentingnya Materi Energi Baru Terbarukan Masuk Kurikulum Sekolah

AGAR pengetahuan tentang Energi Baru Terbarukan (EBT) terdiseminasikan ke masyarakat dengan baik, tidak cukup dikampanyekan tanpa aksi konkrit. Demikian ditekankan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si. bahwa perlunya memasukkan materi energi terbarukan ke kurikulum sekolah. Hal itu disampaikan Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Matematika UMM ini dalam webinar Saintek Unimuda Sorong, Rabu (17/6) siang via Zoom. “Isu energi terbarukan memang belum digencarkan secara maksimal oleh Indonesia. Padahal, di beberapa negara maju, energi terbarukan bahkan masuk dalam kurikulum,” sebut Prof. Yus. Ketertarikan Prof. Yus dalam isu energi terbarukan mendorongnya melakukan riset di tahun 2014. Risetnya ini telah membuahkan puluhan media pembelajaran Solar Cell. Hingga saat ini sejumlah sekolah negeri di Kota Malang dan beberapa sekolah di luar Kota Malang sudah memanfaatkan temuan dosen FKIP UMM ini. “Kalau di Kota Malang media pembelajaran ini sudah dikerjasamakan dengan SMP Sabilillah, SMPN 14, SMPN 21 dan SMPN 24. Dan sebagian lagi digunakan juga di beberapa sekolah di luar kota seperti di Jogjakarta dan Semarang,” urai Prof. Yus, dalam webinar bertajuk “Edukasi Energi Terbarukan di Era New Normal” yang juga turut menghadirkan dosen Teknik Sipil Fakultas Sains dan Teknologi Unimuda Sorong Ir. Eko Tavip Maryanto, M.T. Webinar diikuti berbagai lapisan masyarakat, mulai mahasiswa hingga pengajar. Media pembelajaran Solar Cell adalah sebuah prototype Solar Cell. Alat ini bisa menjelaskan bagaimana cara kerja Solar Cell dalam menangkap energi matahari. Hingga energi itu bisa dimanfaatkan lebih untuk berbagai kebutuhan. Yang dibuatnya ini adalah perangkat yang dilengkapi dinamo dan lampu. Jadi siswa-siswi dapat langsung mempraktikkan sendiri bagaimana Solar Cell bekerja. “Jadi saat pelajaran soal energi, mereka bisa langsung memakai media pembelajaran Solar Cell ini sebagai media pembelajaran,” terangnya. Beberapa tahun terakhir, Prof. Yus memang tengah getol pada kajian pendidikan berbasis energi terbarukan. Semua berawal dari tantangan penelitian terkait isu energi dari kampus. Ia menggagas riset optimalisasi energi surya sebagai bagian dari energi terbarukan. Ia kemudian membuat kurikulum energi terbarukan dan prototype solar cell sebagai media pembelajaran berkelanjutan di sekolah. Ia berpikir generasi pelajar inilah yang harus ditanamkan pemikiran bahwa energi terbarukan adalah masa depan. Dan media pembelajaran Solar Cell, sambung Prof. Yus, adalah salah satu cara paling efektif dalam menerapkan energi terbarukan dalam dunia pendidikan. Sebab masyarakat Indonesia sejauh ini masih cenderung terpaku pada energi yang umum digunakan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), gas dan batu bara. “Padahal, energi tersebut suatu saat dipastikan akan habis, karena jumlahnya yang terbatas. Sedang manusia menggunakan energi tersebut secara terus menerus,” sambungnya menjelaskan. Sebenarnya banyak energi terbarukan di sekitar manusia yang sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Seperti halnya sinar matahari, angin hingga gelombang dan arus air. “Waktu ke Jepang (saat melakukan riset,red) saya diledek, karena saya berasal dari negara tropis yang melimpah akan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Tapi kenapa tidak memanfaatkan itu sebagai energi terbarukan,” papar Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM ini. Untuk tahun 2020, ia berencana menggagas kelas mandiri energi. Ia akan mengajak sekolah untuk memiliki satu ruang kelas khusus yang memiliki energi mandiri. Kelas tersebut nantinya akan digunakan sekaligus untuk pembelajaran energi terbarukan. “Satu kelas saja yang memiliki energi mandiri, tapi itu bisa digunakan sepanjang tahun, tidak seperti listrik PLN yang masih iuran setiap bulannya,” papar suami dari Meinarni Susilowati. Estimasi pendirian untuk kelas mandiri energi adalah sekitar Rp. 10 juta. Dana tersebut hanya dikeluarkan pada awal instalasi solar cell, dan dapat digunakan sepanjang tahun. Mungkin beberapa kali membutuhkan biaya perawatan, atau pergantian accu sekitar dua tahun sekali. “Kalau kita hitung-hitungan, menggunakan solar cell ini hanya besar biaya di awal. Kita gagas digunakan di kelas karena penggunaan listrik optimalnya siang. Jadi cocok dengan energi solar cell ini, yang optimal di siang hari,” tukasnya. (can)
FIKES Gelar Pelatihan NVivo dan AI

Dalam rangka meningkatkan kemampuan akademis para dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan “Workshop Nvivo 12 Plus dan Artificial Intelegence (AI)”. Kegiatan ini diikuti sekitar 15 peserta yang terdiri atas pengelola jurnal di setiap program studi (Prodi). Acara yang diselenggarakan di aula kampus II UMM berlangsung dari tanggal 15-17 Juni 2020. “Tujuan kegiatan kali ini untuk meyakinkan para dosen bahwa kemampuan dalam menghasilkan karya ilmiah itu harus ditingkatkan, walaupun dalam keadaan sedang pandemi. Kami berharap workshop ini bisa membuat para dosen menjadi produktif,” ujar Dekan FIKES UMM Faqih Ruhyanudin, M.Kep, Sp.Kep. MB, pagi tadi. Menurut Faqih Ruhyanudin dalam sambutannya mengatakan workshop ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademis para dosen FIKES UMM dalam bidang karya ilmiah, karena saat ini masa pandemi Covid-19 dosen harus mampu menghasilkan karya ilmiah dalam bentuk jurnal, apalagi dengan adanya Nvivo 12 diyakini bisa membantu para dosen untuk menghasilkan jurnal nasional dan internasional. Bahkan, lanjut Faqih Ruhyanudin para dosen bisa mempublikasikan pada jurnal nasional dan internasional terindeks. Jika indikator tidak tercapai maka bisa merugikan FIKES dan bahkan UMM sendiri. Oleh sebab itu para dosen dari 3 prodi FIKES harus dapat menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan pada jurnal nasional maupun jurnal internasional yang tidak terindeks. Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan Edy Purwantoro, mengungkapkan membuat karya ilmiah diharuskan ada sumber referensi, jadi untuk dosen sendiri tidak perlu bingung mencari referensi karena fakultas sudah menyediakan. Edy Purwantoro memberikan arahan kepada para peserta workshop agar dapat meningkatkan produktivitas, dan kualitas para dosen dalam hal membuat publikasi dalam jurnal ilmiah dengan menerapkan meta analisisnya. Itu sebabnya dosen FIKES UMM peserta workshop ini agar betul-betul dapat menstimulasi, memotivasi dan memfasilitasi dosen lainnya dalam menghasilkan karya ilmiah dan dapat dipublikasikan oleh jurnal yang dituju. Bukan itu saja, tambah Edy Purwantoro, agenda ini juga diharapkan dapat terjalin komunikasi antar dosen pembimbing ketika membuat karya ilmiah khususnya di lingkup FIKES UMM. “Kami berharap sama seperti tujuan awal kami, dengan diadakannya acara ini membuat dosen menjadi produktif, kami ingin para dosen juga bisa membimbing mahasiswa membuahkan hasil karya ilmiah. Jika semua sudah mencapai target, ke depan kami akan adakan workshop penguatan lagi. Workshop ini menjawab permasalahan para dosen yang tidak kunjung produktif menghasilkan karya ilmiah di tengah pandemi,” akunya. (fikes/can)