Lulus Skripsi di Semester 6 Berkat Studi Ekskursi di Bangkok

MESKI dalam situasi pandemi Covid-19, Program Studi Pendidikan Guru Sekoah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tetap menggelar ujian skripsi, Senin (15/6). Menariknya, ujian skripsi ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir seperti pada umumnya, tetapi juga diikuti oleh mahasiswa yang baru berada di semester 6. Adalah Senja Richmasari, mahasiswa istimewa yang berhasil merampungkan skripsi berjudul “Pengembangan Media Interaktif The Math CAPPYFAM (Cartoon Happy Family) dengan Menggunakan Aplikasi Adobe Flash pada Materi Keliling dan Luas Bangun Datar Kelas 4 Sekolah Dasar” pada semester 6 berkat kegiatan Studi Ekskursi Luar Negeri (SE LN) di Bangkok, Thailand. Pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2019, Senja mengikuti SE LN di Bangkok. Pelaksanaan SE LN pada tanggal yang sudah ditentukan ini merupakan rangkaian dari proses seleksi tingkat Prodi PGSD UMM. Setiap mahasiswa yang akan mengikuti SE LN akan mendapat pembimbing skripsi terlebih dahulu. Sehingga pada saat pelaksanaan di Bangkok, mahasiswa sekaligus mengambil data penelitian skripsi di Sekolah Indonesia Bangkok. “Setelah menyelesaikan kegiatan tersebut, saya menyusun laporan SE LN yang juga merupakan hasil penelitian dari skripsi saya. Oleh karenanya, tahapan akhir SE LN yang mengantarkan terselesaikannya skripsi saya di semester 6 ini,” terang mahasiswa asal Sidoarjo ini. SE LN merupakan bagian dari program inovatif SAL-Experience (Student Active Learning Experience) yang dikembangkan Prodi PGSD UMM. Program ini dibuat dalam rangka mewujudkan belajar yang inovatif, kreatif, bermakna, dan menyenangkan bagi para mahasiswa di setiap mata kuliah. Selain itu, program SAL-experience ini juga untuk mewujudkan program universitas yaitu KTW (Kelulusan Tepat Waktu). “Universitas memiliki program Kelulusan Tepat Waktu (KTW). Program ini kemudian diterjemahkan ke dalam program SAL-Experince ini yang berfokus pada optimalisasi proses dan output perkuliahan. Dengan kata lain, Program KTW ini diinisiasi dengan adanya kebiasaan budaya ilmiah di kalangan mahasiswa pada saat perkuliahan,” ungkap Kaprodi PGSD UMM, Dyah Worowirastri, S.Pd.,M.Pd. Banyak manfaat yang diperoleh Senja dari program SE LN. Seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, Senja tidak hanya menyelesaikan program SE LN, tetapi juga mendapatkan pengalaman internasional dan menjadi lulusan pertama pada angkatan 2017. “Program SE-LN, memberikan berbagai pengalaman di kancah internasional. Saya mendapat kesempatan untuk mengajar, meneliti di sekolah Indonesia Bangkok merupakan pengalaman yang berharga dalam hidup saya. Bimbingan skripsi dan Ujian Skripsi bisa diselesaikan dalam sekali kegiatan. Hingga mengantarkan saya untuk menjadi mahasiswa pertama angkatan 2017 yang sudah Ujian Skripsi. Kali ini saya tinggal menyelesaikan dua mata kuliah lagi di semester 7 untuk bisa lulus sarjana,” tutur mahasiswa yang meraih IPK 3,93 ini. Dalam beberapa bulan ke depan, tak kurang dari 35 mahasiswa siap menyusul Senja untuk lulus lebih cepat berkat SAL-Experince dengan produk yang beragam seperti publikasi ilmiah, buku ber-ISBN, HKI, dan konten Youtube. Ini menjadi bukti nyata inovasi-inovasi Prodi PGSD UM mampu mendorong mahasiswa untuk terus berkarya dan mempercepat masa studinya. (fid/can)
Tawarkan Geodiplomasi sebagai Internasionalisasi Bahasa

LEMBAGA Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tawarkan manajeman kelembagaan dan geodiplomasi dalam perwujudan internasionalisasi bahasa. Hal tersebut diulas dalam seminar Daring yang diselenggarakan UPT BIPA UMM pada Jumat (26/6) dengan tajuk “Penguatan Diplomasi Bahasa dan Kebudayaan melalui Pemberdayaan Pengelolaan Kelembagan BIPA”. Dalam seminar tersebut turut hadir sebagai pemateri Philippe Grange, Atase Kerjasama Linguistik Institut Francais Indonesia. Philippe menyampaikan bahwa citra Indonesia di Prancis tidak semua bagus. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai kesaksian orang Prancis yang masih beranggapan bahwa Indonesia itu mencekam dan masih tertinggal. Citra tersebut hadir ditengarai beberapa karya yang ditulis dan beredar di Eropa Barat menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal, seperti cerita perjalanan yang ditulis dalam buku Autour Du Monde yang menceritakan bahwa di Jawa buaya dapat memakan perahu serta negara yang banyak memiliki binatang buas. Oleh sebab itu, Philipe juga mengajak masyarakat Indonesia untuk memikirkan strategi jitu untuk mencitrakan ekostisme dan keindahan Indonesia dimata dunia. Bahkan Phillipe mengilustrasikan kenapa K-Pop dapat membius dunia. “Apakah kita, Indonesia, tidak bisa membuat sesuatu yang bagus seperti I-Pop misalnya,” ungkapnya. Uraian tersebut terlontar secara emosianal dengan kata “Kita” karena Philipe merasa dirinya sebagai orang Indonesia dan mencintai Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak warga negara Prancis yang mengenal Indonesia. Bahkan mereka lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia. Hal itu juga menjadi bukti nyata bahwa pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian dan lembaga BIPA mengupayakan strategi jitu untuk dapat meningkatkan citra Indonesia di mata dunia. Tidak hanya itu dalam seminar tersebut juga dibahas bagaimana bentuk diplomasi yang efektif untuk meningkatkan minat pemelajar asing untuk belajar bahasa Indonesia. Dalam hal ini Nurul Sofia sebagai kasubid Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri juga membeberkan bebarapa langkah diplomasi budaya yang pernah dilakukan ketika menjadi Pensosbud di KBRI Sofia Bulgaria. Kegiatan diplomasi budaya dapat dijadikan langkah produktif dalam diplomasi, dikarenakan lebih cair serta memiliki peluang untuk membuka kerjasama di bidang lainnya. Mengadakan kegiatan seperti pameran busana, pertunjukan budaya serta pemberian beasiswa memiliki dampak yang luar biasa terhadap citra Indonesia di mata dunia. Mengakomodir hal tersebut Kepala Divisi Internasionalisasi Program Faizin membebrkan fakta bahwa sudah selayaknya lembaga BIPA memiliki manajemen ke-BIPA-an untuk mengukur serta mengevaluasi berbagai kegiatan yang dilakukan. Selama ini, BIPA lebih cenderung membahas spesifikasi terhadap proses pembelajaran sedangkan dalam pelaksanaan proses tersebut sangat dibutuhkan manajemen sebagai alokasi ukuran keberhasilan serta mengembangkan BIPA itu sendiri. Dalam hal ini Faizin menawarkan lima hal yang harus dilakukan dalam pelaksanaan proses ke-BIPA-an meliputi perancangan, struktur serta pembagian tugas, komunikasi, pengawasan, dan pemecahan masalah. Dalam hal komunikasi, Faizin juga membeberkan perlunya penentuan strategi yang harus digunakan untuk sarana komunikasi atau promosi terhadap pihak luar. “Kita perlu memilih strategi dalam hal ini apakah kita akan menggunakan geodiplomasi atau geostrategi dalam rangka mencapai citra positif Indonesia” ujar Faizin. Geo sebagai wujud takaran bahwa ada sesuatu yang dilihat yakni dari aspek geografi untuk mengukur serta melihat iklim sosial negara tersebut. Dengan demikian diplomasi yang kita lakukan memiliki ukuran serta kejelasan capaian yang valid karena direkayasa dengan strategi yang baik pula. (fai/can)
Sinergi UMM-Pertamina Bikin 32 UMKM Peternak di Malang Naik Kelas

PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus menyalurkan bantuan modal usaha Program Kemitraan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mendukung UMKM naik kelas. Bantuan modal yang disalurkan adalah sebesar Rp 850 juta kepada 32 mitra UMKM di wilayah Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Program Kemitraan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri sekaligus memberikan multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah operasi Pertamina. Program ini memberikan pinjaman modal kepada UMKM, dengan menawarkan jasa administrasi yang rendah, yaitu 3% saldo menurun setiap tahun dan maksimal pinjaman selama tiga tahun sejak awal tahun peminjaman. “Pertamina bermitra dengan Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Studi Ekonomi Pembangunan untuk menyeleksi pelaku UMKM yang bergerak di bidang peternakan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dengan menjadi mitra binaan Pertamina,” ungkap Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji, Senin (22/6). Peranan lembaga akademi yang dalam hal ini adalah prodi ekonomi pembangunan UMM untuk menjalankan program pendampingan usaha secara intensif dan melekat, mulai dari penyiapan rencana usaha, pemanfaatan modal untuk lahan dan bibit ternak, hingga pengelolaan dan pembuatan laporan keuangan. Pendampingan menyeluruh terkait manajemen bisnis usaha ternak yang terintegrasi hulu dan hilir “Kami berharap, selain dapat meningkatkan pendapatan peternak yang menjadi mitra binaan Pertamina, Program Kemitraan ini juga mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada pendanaan dari lembaga non perbankan seperti rentenir,” tambah Rustam. Hendra Kusuma, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM menyampaikan bahwa kondisi pandemi tidak boleh menjadikan para peternak untuk berhenti dan menyerah. “UMM bersama Pertamina berupaya membuat peternak mitra binaan Pertamina menjadi tahan krisis, dan menjadi UMKM yang unggul, hal ini yang menjadi target kami dengan penyuluhan oleh praktisi dari UMM agar para peternak dapat mengimplementasikan inovasi-inovasi baru dalam bidang peternakan,” ujar Hendra. Hendra menjelaskan, konsep yg dibangun di Ampelgading adalah penggemukan kambing domba dengan konsep komunal dan terintegrasi dengan sistem pemasaran. Selain pendampingan, pihak UMM juga memfasilitasi pemasarannya dengan menghubungan peternak ke pengusaha karkas (daging siap jual). Peran bidang industri UMKM sangat membantu dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan bergeraknya ekonomi daerah. Sebelumnya, di wilayah Jawa Timur sendiri, Pertamina telah menyalurkan dana sebesar Rp 29 Miliar dari Tahun 2018 hingga Mei 2020. Adapun dana tersebut disalurkan kepada lebih dari 400 mitra binaan yang terdaftar di Pertamina MOR V dalam tiga tahun terakhir. Menambahkan, Setyo Wahyu Sulistyono selaku tim pendampingan yang merupakan dosen Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, bentuk integrasi manajemen bisnis ini merupakan penguatan ekonomi sektor primer dari hulu dan hilir. Sehingga produk pertanian mampu memiliki daya saing hingga tingkat nasional yang disediakan oleh regional. “Dengan semangat local wisdom in global thinking, daya saing daerah menjadi hal yang diperhitungkan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” ujar Setyo. (*can)
RSU UMM Bagikan Faceshield untuk Pedagang Pasar

TIM Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat Satgas Covid-19 Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan aksi pembagian face shield kepada para pedagang di pasar sekitar RSU UMM, Sabtu (27/6). Aksi yang dipimpin oleh Ketua Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat, dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS, ini membagikan sebanyak 250 buah face shield di tiga pasar, yaitu Pasar Dinoyo, Pasar Landungsari, dan Pasar Karangploso. “Jelang era New Normal ini, dikhawatirkan masyarakat akan beraktivitas seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. Maka dari itu, tim kami melakukan edukasi kepada masyarakat agar dalam kegiatan sehari-harinya masyarakat tetap mengikuti protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan salah satunya menggunakan face shield juga,” ungkap dr. Viva ketika ditanya mengenai tujuan dari pemberian face shield untuk pedagang pasar. Face shield sendiri bertujuan untuk melindungi baik pedagang maupun pembeli yang ada di pasar dari droplet atau percikan air ludah, ketika bertransaksi jual-beli. Aksi bagi-bagi face shield kepada pedagang ini merupakan aksi pertama yang dilakukan oleh Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat Satgas Covid-19 RSU UMM dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan edukasi agar masyarakat tetap sehat dan mengikuti protokol kesehatan pemerintah jelang era new normal. Menurut dr. Viva sebagian besar pengunjung dari RSU UMM merupakan masyarakat dari ketiga pasar dari daerah tersebut. Dipilihnya ketiga pasar tersebut, karena dinilai beresiko terjadinya penularan. Terlebih belum banyaknya masyarakat yang sadar. Serta, harapan ke depannya, Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat Satgas Covid-19 RSU UMM akan tetap melakukan kegiatan edukasi rutin untuk masyarakat dengan menggunakan media lainnya. Di Pasar Dinoyo sendiri, aksi bagi-bagi faceshield merupakan yang pertama kali dilakukan. Aksi ini pun disambut positif. “Ini merupakan yang pertama kali di sini. Sebelumnya itu hanya sosialisasi saja melalui pengeras suara (paging) yang ada di kantor, dan pernah ada yang melakukan bagi-bagi masker saja. Semoga bisa ada kegiatan seperti ini lagi, karena lebih efektif ketika menggunakan face shield juga sebenarnya, ya,” ungkap Purnomo selaku Kepala Pasar Terpadu Dinoyo. (*can)