Kaji Kontribusi Masyarakat Pedesaan Melawan Covid-19

su kontribusi pada pencegahan covid-19 masih menjadi fokus perhatian FISIP UMM dalam Webinar Sosiologi dalam Seminar Nasional yang digelar oleh FISIP Unsri pada hari ini, Selasa (7/7) melalui aplikasi zoom. Pakar gerakan sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Oman Sukmana, M.Si, didapuk menjadi salah satu pembicara utama dalam webinar tersebut. Kaprodi Kesejahteraan Sosial tersebut membawakan topik Gerakan Sosial Masyarakat Pedesaan dalam Melawan Covid-19. Diikuti oleh sekitar 110 peserta dari seluruh Indonesia, Oman memaparkan bagaimana gerakan sosial berkontribusi dalam melawan covid-19. Ada banyak jenis gerakan sosial. Tidak selamanya gerakan sosial itu berperspektif negatif, misalnya identik dengan perlawanan atau pemberontakan tentang suatu hal. Gerakan sosial berbasis kesadaran, peduli pada orang lain, adalah ciri khas new social movement. Sedangkan gerakan sosial yang cenderung dalam konteks melawan atau memberontak, adalah tipe gerakan sosial yang lama alias old social movement. Di sisi lain perilaku kolektif yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tidak selalu merupakan sebuah gerakan sosial, faktor pembedanya adalah masalah durasi. Jika aksi tersebut bertahan lama itu adalah sebuah gerakan sosial, jika sementara bisa jadi itu hanya perilaku kolektif. Sebagai bagian dari masyarakat, masyarakat pedesaan ternyata juga memiliki peran penting dalam melawan penyebaran covid-19. Jamak kita ketahui, melalui pemberitaan media sosial, banyak desa yang kemudian membatasi akses masuk desa dan mengkarantina pendatang. Bahkan tingkat kewaspadaan terhadap orang lain menjadi meningkat selama masa pandemi ini. Dalam konteks melawan Covid-19, apakah masyarakat pedesaan tersebut melakukan gerakan sosial atau hanya sekedar perilaku kolektif? Menurut Oman, gerakan sosial masyarakat pedesaan sudah melebih perilaku kolektif karena diorganisir, ada pertimbangan masyarakat untuk melakukan sesuatu dan bertahan lama. Ini sesuai dengan ciri khas gerakan sosial. “Masyarakat pedesaan melakukan aksi bersama dalam melawan covid-19 sebenarnya bisa dipahami dalam berbagai perspektif teoritik, mobilisisasi sumber daya dan new social movement theory berbasis teori identitas. Jika kita ingin aksi kolektif masyarakat menjadi sebuah gerakan sosial yang berhasil, ada sejumlah faktor determinan yang harus dikuatkan,” ungkap Oman Sukmana. Ia menyebut harus ada tindakan pengorganisasian gerakan sosial, harus ada leader atau aktor, juga harus ada mobilisasi sumber daya misalnya finansial juga aspek pengetahuan dan hal-hal yang mendukung gerakan. Selain itu juga harus ada partisipasi dari partisipan gerakan. Selain faktor determinan tersebut juga perlu memperhatikan aspek identitas kolektif, solidaritas dan komitmen dari masyarakat pedesaan. Selama ini kan ada indikasi masyarakat yang merasa sehat itu tidak terlalu peduli dan cenderung merasa dirinya baik-baik saja. Ini menunjukkan solidaritas di kalangan masyarakat yang kurang maksimal, khususnya masyarakat yang merasa sehat untuk membangun solidaritas pada masyarakat lain,” imbuhnya. Namun Oman mengkritik, meski tindakan aksi masyarakat pedesaan ini sudah menjadi sebuah gerakan sosial, namun kesadaran kolektif masyarakat masih kurang sehingga perlu dimaksimalkan. (wnd/can)
UMM Fasilitasi Siswa SMA Trik Raih Skor Tinggi Tes Bahasa Inggris

Meraih skor tinggi dalam tes kemampuan bahasa Inggris merupakan kompetensi yang menjanjikan. Pasalnya, beberapa instansi pendidikan dan funding beasiswa mensyaratkan pelamar untuk memiliki skor setara 500 dalam tes TOEFL. Inilah yang menjadi perhatian Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM menyelenggarakan kelas virtual (virtual class) untuk memfasilitasi siswa SMA trik meraih skor tinggi tes Bahasa Inggris. Dimoderatori oleh Riski Lestiono, M.A, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang acara bertajuk ‘Powerful Ingredient to Score a Language Test’ ini diikuti oleh siswa SMA (7/7/2020). Memulai acara, Hastirin Widi Astuti, pemateri kunci pada virtual class ini menjelaskan materi tentang simple tense, modal verbs, expletive construction, dan gerund. Selain itu, Widi juga memaparkan penggunaan teori yang disampaikan ke dalam contoh konteks penggunaannya. Selanjutnya, Widi, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa tidak semua 16 tenses akan muncul pada soal TOEFL, melainkan hanya beberapa saja. Ada tiga tenses yang sering muncul pada tes TOEFL di antaranya simple present tense, yakni untuk mengetahui test takers berasal dari berbagai latar belakang keilmuan. Kedua, past tense, yaitu soal terkait dengan histori yang pernah terjadi di Amerika atau Canada. Ketiga, present perfect, yaitu kegiatan yang masih terjadi sampai sekarang. Widi, alumnus University of Queensland Australia itu menekankan bahwa untuk tenses seperti present continues jarang sekali dijumpai di tes ETS (lembaga resmi TOEFL). “Untuk itu peserta tes tidak perlu mengafal dan mempelajari semua tenses,” papar dosen Universitas Negeri Malang itu. Pada praktiknya, saat masa persiapan, peserta tes tidak perlu menghafal semua gramatika bahasa Inggris, cukup sering membaca saja. Menurutnya, dengan sering membaca, seseorang akan lebih mudah mengenal dan memahami teori. Ia pun menyarankan bagi peserta tes agar setidaknya melakukan persiapan sekitar tiga atau empat bulan sebelum mengambil test. Bagaimanapun, hal itu tergantung dengan nilai tes awal seorang peserta. Memotivasi peserta virtual class, Widi menggaris bawahi bahwa faktor suksesnya seseorang berhasil mendapatkan nilai tinggi pada tes TOEFL tak hanya karena faktor guru atau instruktur, melainkan motivasi seseorang untuk sukses meraih apa yang ingin ia capai. Acara ini disambut positif oleh salah satu peserta atas nama Pratiwi Bahar. “Kedepan saya berharap virtual class diikuti dengan latihan mengerjakan soal,” papar perempuan asal Mamuju, Sulawesi Barat itu. (*can)