Buku Tulisan Bersama Dosen UMM Diapresiasi Wapres RI

WAKIL Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin melaunching buku Pandemi Corona: Virus Deglobalisasi (13/7). Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. turut berkontribusi di dalamnya. Buku yang diinisiasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini merupakan pesan dari para ahli cendekia di berbagai bidang baik ekonomi, sosial, budaya, agama, bahkan juga kesehatan yang menceritakan kegelisahan terkait Covid-19. “Pertama saya ingin mengucapkan terimakasih, karena saya tidak menduga artikel saya yang dimuat di harian cetak Republika, yang sebenarnya artikel ringan yang biasa saya tulis habis subuh, bisa ditulis di buku bergengsi ini.Terimakasih kepada INDEF dan kita semua,” ungkap Syamsul yang merupakan Wakil Rektor I yang membidangi Akademik dan Pengembangan al-Islam-Kemuhammadiyahan ini. Dalam tulisannya, Syamsul menyoroti perbedaan sikap terhadap krisis di masa pandemi Covid-19. “Tulisan saya di buku ini tentang sikap ke pengingkaran (denial) masyarakat pada awalnya, kemudian kemarahan (anger) yang memunculkan depresi (depression). Karena pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, lebih-lebih juga kepada dampak ekonomi. sekarang ini banyak orang yang depresi mengahadpi pandemi tetapi juga mau tidak mau kita harus maju ke tahapan acceptance (harus menerima) dan sudah muncul suatu konsep yang disebut New Normal,” demikian dijelaskan Syamsul. Disebutkan Syamsul yang merupakan pakar di bidang Sosiologi Agama tersebut, krisis ini sebagai krisis dimensional yang mungkin lebih mengerikan dibandingkan krisis tahun 1998 atau 2008. “Kami yang di perguruan tinggi swasta merasakan sekarang dampaknya. “Ada persoalan yang kami hadapi akhir-akhir ini, yang pertama adalah menswitch pembelajaran yang semula itu luar jaringan, face to face, menjadi dalam jaringan karena kita ingin mengurangi penyebaran Covid 19 ini,” pungkas Syamsul. Wapres RI Ma’ruf Amin dalam penyampaiannya menyatakan bahwa pandemi Covid 19 ini, tidak mungkin ditangani sendiri oleh pemerintah. Ia mengaku sangat menghargai inisiatif INDEF dalam menerbitkan buku ini. Dinilai Ma’ruf, buku ini sangat lengkap sebagai panduan untuk pemerintah dan masyarakat, karena merupakan kumpulan pemikrian banyak pakar ekonomi, sosial dan budaya yang secara bersama-sama menyampaikan gagasan dari proses bersama penanganan pandemi Covid 19. “Saya juga menilai berbagai rekomendasi yang dibawakan buku ini sejalan dengan apa yang dilakukan pemerintah saat ini. Artinya saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Saya meyakini buku ini bermanfaat bagi banyak pihak, terutama bagi para pengambil kebijakan yang sedang bergulat dalam mengakhiri pandemi. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadi kontributor buku ini, semoga semua ikhtiar yang dilakukan mendapat ridho Allah SWT,” ungkapnya. (riz/can)

Dosen Ilmu Komunikasi Terbitkan Buku ke-21

DOSEN Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurudin, M.Si. baru saja menerbitkan bukunya yang ke-21. Buku setebal 214 halaman ini diberi judul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus. Buku yang dibandrol penerbit Prenada seharga Rp 60.000 ini bisa dibeli di toko buku terkemuka di seluruh Indonesia dan dapat juga dibeli secara online. Menurut Nurudin, buku ini berbeda karena banyak menyoroti kebijakan pemerintah. “Saya itu konsisten sejak menulis tahun 1991. Konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah. Sejak dahulu. Saya yakin pasti ada kekurangannya. Saya kadang tak peduli dianggap haters. Tetapi saya tetap konsisten. Ini bukan soal kubu-kubuan. Tidak ada hubungannya. Boleh dilihat tulisan-tulisan saya dahulu. Sebab dimanapun dan kapanpun pemerintah membutuhkan kritik,” ungkapnya. Kritik ini menurut Nurudin adalah sebuah masukan, karena tanpa menilai kritik sebagai masukan, kritik selamanya akan dianggap sebagai rongrongan. “Kritik tetaplah kritik yang punya takdirnya sendiri,” imbuhnya. Tak hanya menulis buku, ia juga kerap ‘memprovokasi’ mahasiswa untuk semangat menuliskan karyanya. Pada Kamis (16/7) nanti, ia bahkan akan melaunching 10 buku karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi hasil “provokasi’’-nya. Judul bukunya yang unik ini, Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus, punya latar belakang tersendiri. Buku ini sebenarnya adalah hasil pengamatan Nurudin atas fenomena komunikasi politik yang selama ini terjadi. Ia menilai, seperti ada ketidaktulusan dalam berkomunikasi. Tidak tulus ini tidak hanya terjadi di masyarakat, tetapi juga pemerintah. Misal, masyarakat saling caci, kubu-kubuan. Seolah kelompok dirinyalah yang paling benar. Buntutnya saling menyalahkan. Menurutnya, itu adalah bentuk komunikasi tidak tulus. Lalu ia juga menilai, pemerintah juga tidak tulus. Misalnya membuat kebijakan tidak tegas. “Lihat kasus covid-19. Betapa karut-marutnya komunikasi pemerintah sejak awal muncul. Tak ada sinkroniasi antar lembaga. Ini kan tidak baik bagi proses kebijakan. Hasilnya? Saat negara lain sudah turun yang terkena wabah, kita masuk melaju,” kritiknya. Dikenal sebagai dosen yang sangat produktif menulis, bukan berarti ia tak menemukan kebosanan dalam membuat karya. Sebab diakuinya menulis itu capek dan membutuhkan konsentrasi tinggi, juga monoton. Dia membagi tips bagaimana melawan kebosanan tersebut. Ia menyarankan untuk menulis dengan cara mencicil, tidak perlu sekaligus. Saat sibuk, ia biasakan untuk menulis satu halaman. Biasanya ia menuliskannya di handphone. Penting baginya untuk tetap menulis. Pokoknya menulis, begitu prinsipnya. Sebab ia meyakini bahwa setiap tulisan punya pasar pembaca sendiri-sendiri. Ia juga meyakini bahwa dengan menulis adalah cara untuk menebar kemanfaatan. “Karena saya mampunya menulis, jadi saya berusaha konsisten untuk menulis. Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa dengan menulis saya bisa membantu mengenalkan tak hanya keilmuan komunikasi namun juga mempromosikan kampus ke khalayak luas,” tuturnya. (wnd/can)

UMM Tholabul Ilmi ke Pondok Gus Baha

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) punya tradisi tholabul ‘ilmi ke sejumlah tokoh, cendekiawan, negawaran hingga ulama di Indonesia. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharismatik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha yang merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah. UMM mengirimkan dosen dan karyawan untuk mengikuti pengajian di pesantren yang diasuh Gus Baha di Narukan, Kragan, Rembang ini. Kedatangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk tholabul ilmi juga untuk mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMMTube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton lebih dari 20 ribu kali. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memimpin langsung rombongan. “Silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi. Biasanya kami mengundang, tapi juga biasanya bersilaturahmi. Alhamdulillah, pagi ini kita bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menambah wawasan keilmuan kita, khususnya adalah memperbaiki cara beragama kita. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan. Pengajian Gus Baha selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi Gus Baha juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha dikagumi oleh banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi. Selain itu melalui uraian di setiap pengajian Gus Baha, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi ulama nusantara ini juga banyak diselipkan humor-humor cerdasnya. Tak heran Ia dikagumi oleh masyarakat Islam dari lintas organisasi. Kehadiran Gus Baha menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya da’i atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam. Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas menyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak hanya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama. “Akan tetapi agama ini diturunkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya. Dalam pengajiannya, Gus Baha menyebut belakangan ini banyak dai yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Tetapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri. “Saya ini termasuk kiayi yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiayi, asal Islam jalan saya senang. Karena nggak penting yang popular saya itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya. Gus Baha dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemahsyuran ulama-ulama Nusantara terdahulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru dianggap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Mereka, berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Al Quran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran Agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasulan Nabi. “Allah itu pasti bikin ulama yang tidak produk arab. Itu pasti ada. Kalau orang arab jadi ulama itu wajar. Bahasanya Arab, domisilinya di arab. Tapi Allah akan selalu bikin ulama yang tidak bangsa Arab. Kenapa, kata Mbah Mun, manusia ini semua kena khitabnya Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama Islam ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah bikin ulama non-arab,” ceritanya. Karena, sambung Gus Baha, Allah ingin memaklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam yang alimnya tidak kalah dengan orang Arab. “Ini pekerjaan rumah kita bersama. Bagaimana agar orang Arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” harapan Gus Baha. (can)