Fakultas Psikologi Siap Selenggarakan Kelas Internasional

MEMASUKI tahun ajaran baru 2020/2021 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan menyelenggarakan program kelas Internasional. Saat dikonfirmasi di ruang kerjanya (21/7), Dekan Fakultas Psikologi, M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D menyatakan bahwa kuota mahasiswa program kelas Internasional Fakultas Psikologi sudah terpenuhi dan akan segera dijalankan. “Di luar dugaan antusiasme khalayak ternyata tinggi. Calon mahasiswa tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Insya Allah, kita siap selenggarakan program tersebut di tahun ajaran baru ini,” ujarnya. Program kelas Internasional yang digagas oleh Fakultas Psikologi UMM telah didesain untuk menjadikan mahasiswanya punya daya saing secara global, mampu berkontribusi secara nyata, dan tetap mengakar pada nilai dan moralitas. “Psikologi itu harus diaplikasikan. Di Psikologi UMM kita akan banyak belajar mengenai psikologi terapan untuk menjawab persoalan manusia. Itu sesuai dengan prinsip kita, Applying Psychology Welfaring Humanity, yaitu ketika keilmuan psikologi diejewantahkan untuk mensejahterakan kehidupan manusia”, ujar Salis. Salah seorang calon mahasiswa baru program kelas Internasional asal Brunei Darussalam, Daffa Rabbani, juga menyampaikan hal serupa bahwa Ia tertarik untuk mendaftarkan diri dikarenakan visi mensejahterakan manusia.  Yakni dengan mengaplikasikan konsep-konsep psikologi juga disertai nafas Islam yang egaliter telah menarik minatnya untuk belajar di program kelas internasional Fakultas Psikologi UMM. “Selama satu dekade Fakultas Psikologi UMM mampu mempertahankan akreditasi A dari BAN-PT. Saat ini kami juga telah memproses akreditasi internasional AUN-QA, tenaga pengajar dan kurikulum di Fakultas juga sudah siap untuk tantangan internasionalisasi,” tambah Salis. (fth/can)

Sivitas Bisa Belajar ke Eropa lewat Beasiswa Erasmus+

FIRDAUS Faraj Ba-Gharib tak pernah bermimpi bisa lolos beasiswa bergengsi untuk berkuliah S1 di Eropa. Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini diterima International Credit Mobility Programme Beasiswa Erasmus+. Beasiswa ini adalah program Uni Eropa (UE) bidang pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga termasuk beasiswa khusus untuk mahasiswa, staf, kandidat doktor dan dosen yang berminat melanjutkan studi, mengajar atau melakukan penelitian di Eropa. Faraj, begitu ia disapa, sebetulnya punya mimpi untuk melanjutkan sekolah magisternya (S2) di luar negeri. Tidak untuk S1. “Lah, kok Allah ngasihnya lain. Dan lebih dari yang Faraj inginkan. Berawal dari nyari info beasiswa dari jaman mahasiswa baru, tanya-tanya ke sini-ke situ tentang beasiswa mahasiswa berprestasi, ataupun beasiswa lainnya di kampus. Sampai akhirnya pas Faraj jadi buddy mahasiswa dan dosen-dosen asing UMM, Faraj tahu tentang beasiswa kuliah di Eropa,” ungkapnya. Melalui kantor kerjasama luar negeri milik UMM, International Relations Office (IRO), Faraj mengaku dimotivasi dan diberi semangat bahwa siapa saja bisa mengakses beasiswa ini. “Pas nyari-nyari info, disemangatin dan diyakinkan bahwa siapa saja bisa dan jangan takut buat mencoba. Terimakasih banget buat IRO UMM. Big thanks, buat mereka semua,” kata mahasiswa semester 5 ini. Selama enam hingga satu tahun Faraj bakal mengkonversi mata kuliah di Warsaw School of Economics (SGH) Polandia. Di kampus, putri dari Faraj Fuad Ba-Gharib dan Satin Semitha ini, terbilang mahasiswa yang aktif dan berprestasi. Hal itu ditunjukkan melalui keaktifannya di banyak organisasi kemahasiswaan. Seperti BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis, International Buddy UMM, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), Relawan Pajak DJP Pajak, Putra-Putri Kampus, serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FEB UMM. “Jangan sia-siakan kesempatan kita saat menjadi mahasiswa,” pesan perempuan kelahiran tahun 1999 ini. Untuk dosen, mahasiswa dan staf Kampus Putih yang ingin mendaftar beasiswa Erasmus+ ini, beberapa persyaratan yang harus dilengkapi meliputi pengisian application form, CV Europass, Copy of passport/ ID Card, melampirkan English Language Test berupa TAEP (minimal skro 301) atau TOEFL ITP (minimal skor 500) atau IELTS (minimal skor 5.5), Motivation Letter (maksimal 1 halaman), Teaching Mobility Agreement, Proof of Registration at home university, serta Work Plan. Ada 25 sivitas akademika yang terdiri dari dosen, mahasiswa dan staf yang dinyatakan lolos beasiswa Erasmus+ melalui program Student, Teaching and Training Staff Mobility di berbagai universitas di Eropa. Secara bergilir, mahasiwa yang lolos sebagai Awardee Erasmus+ bakal diberangkatkan antara bulan September 2020 hingga Februari 2021. “Untuk dosen dan staf, jadwal pemberangkatan menunggu informasi dari host university,” terang Dimas A. Prassetyo, Erasmus+ Programme Coordinator (22/7). (can)

Perjuangan Literasi Zulyamin Kimo: Dari UMM hingga Raja Ampat

SEMANGAT cinta tanah air yang ada pada diri generasi muda bangsa harus terus digelorakan. Ketika banyak orang yang menyorot kehidupan hedonis pada generasi muda, cerita inspirastif Zulyamin Kimo, alumni Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) menjadi kabar baik. Kimo atau Kim, begitu ia akrab dipanggil, adalah salah satu bukti bahwa proses Pendidikan yang baik akan menghasilkan banyak alumni berkualitas. Ia adalah salah satu bukti bahwa masih banyak generasi muda kita yang rela meninggalkan kemapanan dan kenyamanan kota untuk mewujudkan baktinya kepada Sang Merah Putih. Zulyamin Kimo, lahir di Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Sebagai anak pulau, sejak kecil dia sudah terbiasa dengan tantangan dan petualangan. Saat banyak orang yang takut melihat laut dan ombak, sejak kecil Kimo sudah pandai berenang. Ia begitu mencintai laut, pantai, alam, dan masyarakat pesisir. Bahkan, aktivitas snorkling bisa berjam-jam ia lakukan. Tak heran bila novel-novel karya Andrea Hirata, menjadi bacaan favoritnya, sebab banyak mengangkat isu-isu Pendidikan dan daerah-daerah terpencil dengan kebersahajaannya di dalam setiap bukunya. “Berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang adalah sejarah hidup yang sangat luar biasa bagi saya. Pilihan yang benar-benar tepat, sehingga mewarnai pola pikir, semangat, dan perjuangan saya hingga hari ini. Pada saat Yudisium FKIP-UMM, saya mendapatkan penghargaan Mahasiswa Berprestasi di bidang kepemudaan dan kepemimpinan (Non IPK). Ini luar biasa menurut saya. Saya bertekad untuk terus mewujudkan dan mengabdikan diri untuk masyarakat,” ujar pria kelahiran 1 Maret 1995 ini. “Setelah lulus dari Pendidikan Biologi, FKIP-UMM pada Februari 2017, sebulan setelahnya, saya lolos seleksi nasional beasiswa Teaching Clinic yang diadakan oleh Global English. Awal tahun 2018 setelah melewati berbagai rangkaian seleksi program Indonesia Mengajar, Kim dinyatalan lolos bersama 32 pengajar muda lainnya. “Kami harus bersaing dengan 6500 pendaftar lainnya,” tegas pria yang pernah mengabdi menjadi fasilitator Pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan ini. Ia menceritakan, sebelum diberangkatkan ke daerah penugasan masing-masing, mereka dikarantina selama hampir dua bulan untuk pembekalan. Pembekalan meliputi proses pelatihan pedagogi, pelibatan masyarakat, pendekatan ke pemangku kebijakan di dunia Pendidikan, dan pengenalan daerah. Kim ditugaskan sebagai Guru SD di SDN Baru dan Fasilitator Pendidikan di pedalaman Kalimantan selama setahun. Masyarakat di daerah penugasannya adalah mayoritas berasal dari suku Banjar yang hidup di bantaran sungai Nagara. Hal menarik selama penugasan yang Kim rasakan adalah belajar bahasa daerah. Di tempat penugasannya, hampir seluruh masyarakat menggunakan bahasa Banjar baik untuk komunikasi dan belajar-mengajar di sekolah. “Mau tidak mau, saya harus bisa beradaptasi. Dalam waktu kurang lebih 3 bulan, saya sudah bisa belajar bahasa daerah. Walau belum terlalu fasih. Ini cukup membantu untuk proses belajar-mengajar di dalam kelas,” ungkapnya. Tinggal di desa yang kaya akan potensi alamnya, sangat memungkinkan untuk belajar dari alam. Tidak jarang, Kim selalu membawa murid-muridnya keluar kelas (outdoor learning), salah satu metode yang ia dapatkan saat menempuh kuliah di Pendidikan Biologi FKIP UMM di semester 4. Apalagi saat ini pembelajaran tematik, sangat bisa diterapkan. “Selain itu, ketika menjadi fasilitator dalam kegiatan-kegiatan pelatihan guru-guru di tingkat kecamatan bahkan kabupaten, dan kegiatan kerelawanan di sekolah-sekolah SD, seringnya juga menggunakan berbagai media belajar dan metode pembelajaran kreatif. Tentu ini tidak terlepas dari pengalaman selama kuliah dulu,” imbuh mantan Asisten Laboratorium Biologi UMM tersebut. Bulan Juli 2019 hingga saat ini, Zulyamin Kimo bekerja sebagai Fasilitator atau Project Coordinator di Taman Bacaan Pelangi (TBP), sebuah yayasan pendidikan/literasi yang telah berdiri sejak 2009, yang fokus pada peningkatan minat baca anak-anak di wilayah Indonesia Timur. Hingga saat ini, Yayasan Taman Bacaan Pelangi telah bekerjasama dengan 131 Sekolah Mitra yang tersebar di 18 Pulau di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papuan Barat. Sebagai fasilitator atau project coordinator, Kim bertugas untuk mengelola pelatihan guru-guru dalam kegiatan literasi melalui pengelolan perpustakaan sekolah, pendampingan pembelajaran kontekstual di daerah Indonesia Timur, dan pendampingan pelatihan kegiatan membaca bersama komunitas-komunitas Taman Baca Masyarakat di daerah TBP, serta melakukan dukungan dan evaluasi (support monitoring) untuk sekolah-sekolah yang telah selesai program. “Dalam setahun ini, saya telah berkesempatan belajar bersama Guru-guru dan juga masyarakat di Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Alor, Pulau Timor, Pulau Banda,” tutur fasilitator yang sejak Desember 2019 ditugaskan untuk pendampingan sekolah-sekolah di Pulau Raja Ampat dan Kabupaten Sorong, Papua Barat. Kim menegaskan, bangsa ini membutuhkan pejuang-pejuang literasi yang tangguh, terlebih daerah-daerah Indonesia Timur. Anak-anak muda, fresh graduate, dan para sarjana harus berkontribusi untuk mencerahkan masyarakat. “Bangsa ini membutuhkan kita untuk menyukseskan gerakan literasi hingga ke semua penjuru negeri,” pungkas pemuda yang mengaku terinspirasi dari Mars Muhammadiyah “Sang Surya” ini. (fid/can)