Diskursus Pancasila Musti Dihidupkan secara Proporsional dan Kontekstual

DOSEN Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurbani Yusuf, menggarisbawahi pentingnya menghidupkan kembali diskursus tentang Pancasila secara proporsional dan kontekstual dengan semangat zaman. Pasalnya, terjadi penurunan kepercayaan publik terhadap ideologi Pancasila. Pada tahun 2005 publik yang pro-Pancasila angkanya mencapai 85,2%, tahun 2010 angkanya menurun menjadi 79,4%, tahun 2015 angkanya menjadi 79,4%, dan di tahun 2018 berada di anka 75,3%. “Dalam waktu 13 tahun, publik yang pro-Pancasila mengalami penurunan sebanyak 10%,” disampaikan Nurbani dalam sidang terbuka doktor yang digelar secara daring (30/7). Nurbani berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Restorasi Ideologi Pancasila Dalam Pemikiran Tokoh Nasional(Studi Hermeneutika Fenomenologi Terhadap Ahmad Syafii Ma’arif, Yudi Latif, dan Yudian Wahyudi)” di hadapanpara Dewan Penguji. Lebih lanjut, Nurbani menjelaskan secara gamblang bagaimana implikasi yang diberikan para tokoh nasional terhadap ideologi Pancasila. Menurutnya, tokoh-tokoh nasional yang ditelitinya memiliki empat dimensi penting dalam dirinya yang membuat ideologi Pancasila dapat memelihara relevansinya di tengah perkembangan aspirasi masyarakatnya dan tuntutan perubahan zaman. Dimensi tersebut yakni Dimensi Idealitas, Dimensi Fleksibelitas, Dimensi Realistas, dan Dimensi Relatif-Spekulatif. Baca juga: Lab Experimental Farm Beri Solusi Berkurban di Tengah Pandemi Dimensi idealitas maksudnya adalah suatu ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dimensi fleksibilitas mengacu pada ideologi yang demokratis, yang meletakkan kekuatannya pada keberhasilannya merangsang masyarakat untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru tentang nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. “Melalui pemikiran-pemikiran baru tentang dirinya ideologi itu mempersegar dirinya, memelihara dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu. Dari situ kita barang kali dapat menyimpulkan bahwa suatu ideologi terbuka, karena bersifat demokratis, memiliki apa yang mungkin dapat kita sebut sebagai dinamika internal yang mengundang dan merangsang mereka yang meyakininya untk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru tentang dirinya tanpa khawatir atau menaruh curiga akan kehilangan hakekat dirinya,” terang Nurbani di tengah presentasinya di depan dewan penguji. Selanjutnya, dimensi realita maksudnya adalah ideologi itu memiliki nilai-nilai dasar yang bersumber dari nilai-nilai yang riil hidup di dalam masyarakatnya, terutama pada waktu ideologi tersebut lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama. Baca juga: UMM Berdayakan Masyarakat Parangargo Lewat Budidaya Ikan Sistem Biona Adapun dimensi Relatif-Spekulatif merupakan intepretasi yang dilakukan oleh para tokoh berdasarkan hasil perenungan panjang dalam pengalamannya dalam rangka memberikan solusi atas pertanyaan-pertanyaan atau kegelisahan yang dihadapi oleh masyarakat pada ideologi yang telah disepakatinya. Atas temuan-temuan dalam disertasinya tersebut, para dewan penguji memberikan apresiasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan penelitian yang dilakukan oleh Nurbani sangat relevan bila disandingkan dengan keadaan kontektual kekinian seperti kegaduhan beberapa waktu lalu yang menyoal urgensitas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila. “Penelitian yang dilakukan oleh Pak Nurbani ini bagus sekali. Mengapa? Karena penelitian ini sangat relevan bila disandingkan dengan keadaan kontektual kekinian seperti kegaduhan beberapa waktu lalu menyoal urgensitas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila,” ucap Dr. Tri Suryaningsih. (fid/can)

Lab Experimental Farm Beri Solusi Berkurban di Tengah Pandemi

LABORATORIUM Experimental Farm di bawah naungan Edupark, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyediakan hewan kurban untuk Idul Adha 1441 H dengan fasilitas “full services”. Tidak hanya penjualan hewan kurban saja, tapi juga menyediakan fasilitas pemotongan, pencacahan dan pengemasan bahkan penyaluran dagingnya. Menurut Ali Mahmud, SPt. MPt selaku Kepala Laboratorium Experimental Farm, yang juga praktisi domba kambing dan pengurus Asosiasi Peternak Domba-Kambing Indonesia menyatakan bahwa ternak yang dijual diberikan pemeliharaan yang khusus dengan pakan berupa silase dan komplit feed. “Tahun ini kami menyediakan 3 ekor sapi terdiri dari 1 Limosin dan 2 jantan PFH, 18 ekor kambing, dan 38 ekor domba. Untuk sapi dan domba terjual semua, sedangkan kambing tersisa. Mayoritas pembeli dari dosen, karyawan UMM, dan masyarakat umum,” ujar Ali. Selama proses pemeliharaan dan pra penyembelihan, hewan kurban diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan sekaligus dosen jurusan Peternakan, FPP UMM, Prof. Dr. drh. Lily Zalizar, M.Kes. Selain itu dibantu juga oleh Dr. Ari Prima, SPt., MSi yang ahli pada bidang ilmu ternak ruminansia kecil. Proses penyembelihan pun mengikuti Biosecurity dan SOP Experimental Farm. Alat Pelindung Diri (APD) selama pemotongan dan penyembelihan pun dipakai seperti kacamata atau faceshield, tutup kepala, masker, sarung tangan karet, baju, celemek, dan sepatu boot. Ada dua tempat pemotongan yang terpisah yakni out door untuk penyembelihan dan indoor untuk pengulitan, pencacahan, sampai packing. Sebelum pemotongan, para juru sembelih masuk ruang penyemprotan desinfektan. Respon positif dari pembeli hewan kurban pun dilontarkan. “Hewan kurban yang disediakan bersih dan gemuk-gemuk dengan harga terjangkau. Apalagi dengan adanya fasilitas pemotongan dan pencacahan yang sesuai protokol kesehatan, sangat memudahkan untuk berkurban di masa pandemi ini,” ujar salah satu pembeli. (*/can)

Berdayakan Masyarakat Parangargo Lewat Budidaya Ikan Sistem Biona

Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melakukan pemberdayaan masyarakat melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Desa Parangargo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Program yang didanai Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia memberdayakan masyarakat Parangargo melalui budidaya ikan sistem Biona “Sistem Biona yaitu sistem budidaya lele menggunakan kolam terpal dengan merekayasa lingkungan perairan di kolam budidaya agar kondisinya mirip dengan lingkungan perairan di habitat aslinya, sehingga ikan lele bisa hidup nyaman di kolam tersebut,” ungkap Riza Rahman Hakim S.PI. M.Sc (30/7), pakar budidaya Biona yang merupakan dosen jurusan perikanan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM ini. Menurut Riza, dibandingkan dengan budidaya tradisional atau konvensional, sistem Biona ini memiliki banyak kelebihan, yaitu bisa padat tebar tinggi. Jika biasanya pada budidaya tradisional per satu meter kubik kolamnya rata-rata hanya di isi 200 ekor lele, dengan sistem Biona kolam bisa di isi 500-1000 ekor lele per satu meter kubik. Keunggulan lainnya adalah air tidak perlu di ganti sampai ikan lele dipanen. Penyajian materi sangat lengkap dengan mengupas permasalahan, teori dan implementasi cara budidaya ikan dengan sistem Biona. Pelatihan ini membekali masyarakat mengembangkan budidaya ikan dengan cara sederhana yaitu tidak harus memiliki lahan luas. Melalui sistem Biona masyarakat bisa melakukannya di rumah dengan memanfaatkan lahan yang ada, meski lahan yang dimiliki sempit. Ketua pengabdi, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si menyatakan, masih banyak aktifitas lanjutan yang nantinya akan dilakukan diantaranya kolam lele juga akan dibuat berbantuan solar cell guna mengurangi beban listrik akibat pemanfaatan sistem aerasi (penambahan oksigen) kolam. Program jangka panjangnya, juga perlu pengelolaan pasca panen serta pembuatan pakan pelet dalam mendukung program ini secara utuh. Pelatihan budidaya ikan lele, pembuatan kolam dan tebar benih ikan lele adalah bagian kegiatan pengabdian yang dilakukan di Fish Edu Park UMM ini. Tim UMM telah menyiapkan lima kolam masing-masing berdiamater dua meter yang ditebar 8000 bibit ikan lele dan 500 ikan nila merah. Pelaksanaan kegiatan tersebut bersinergi dengan program masyarakat Parangargo yang mendapat dukungan penuh dari desa. (afi/can)